Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Hukuman Untuk Asten


__ADS_3

Amel dan Monic saling menoleh ketakutan, lalu tatapan mereka tampak melayang ke arah Asten.


Asten menatapnya dengan tatapan sinis penuh ancaman, seolah mengatakan kalau mereka harus berbohong.


“Awas saja mereka, kalau mereka sampai mengungkapkan kebenarannya aku tidak akan segan membunuh keduanya!” gumam Asten dalam hati.


“Kalian berdua, cepat katakan yang sejujurnya! Jangan takut, aku di sini bersama kalian!” tegas Baker.


Amel dan Monic kembali saling bertatapan. Keringat dingin tampak bermunulan di dahi keduanya, pun tangan mereka yang mengepal erat rok seragam yang dipakainya. Keduanya sangat ketakutan. Diluput dengan kebingungan, antara harus jujur atau lebih baik berbohong demi menyelematkan diri dari kekejaman Asten. Tapi, jika mereka berbohong imbasnya mungkin Baker akan memecat mereka.


Amel dan Monic saling beradu sikut.


“B-baik, Tuan, saya akan jujur sesuai dengan apa yang te-terjadi ma-malam itu,” ungkap Amel benar-benar gugup dan takut.


“Sialan! Beraninya bocah ini berbicara seperti itu!” batin Asten, kedua mata Asten semakin melotot sempurna, membuat Amel dan Monic yang melihatnya semakin ketakutan seperti melihat setan.


“J-jadi, malam itu ... Nyonya Asten menyuruh saya untuk menuangkan obat di semua makanan milik nona Shira. Ka-kata Nonya Asten itu adalah vitamin untuk orang hamil, ma-makanya saya langsung taburin obatnya di semua makanan milik nona Shira, t-tapi setelah kejadian tuan Jackson masuk rumah sakit, se-sepertinya i-itu bukan vitamin hamil, me-melainkan—” Ucapan Amel menggantung, ia bingung harus berkata apa, karena Amel pun tidak tahu kalau itu adalah obat penggugur kandungan. Ia tidak bisa menebaknya begitu saja, karena ia bukanlah orang yang bisa tahu soal obat-obatan begitu saja.


“Melainkan apa hah?! Apa kau mau memfitnah saya?!” teriak Asten begitu kesal.


“Maaf, Nyonya, s-saya dan teman saya bukan bermaksud me-memfitnah, Anda, hanya saja bagaimana bisa makanan yang kami buat bersama jadi beracun hanya karena vitamin ibu hamil. Jika memang benar itu vitamin ibu hamil tidak mungkin tuan Jackson masuk rumah sakit,” ucap Monic membela Amel.


Asten semakin mengepalkan kedua tangannya. Ia begitu geram dengan kedua pelayan yang menurutnya sangat tidak tahu diri itu.


Asten menunjukkan botol obat yang dipegangnya. “Lihat ini! Apa kalian akan menyalahkan saya karena botol obat ini?! Cek saja sana ke apotik, obat ini itu vitamin hamil, bukan apa-apa, lagi pula mana mungkin saya tega menyakiti menantu saya sendiri!” sentak Asten semakin murka.


“Diam!” teriak Baker begitu emosi.

__ADS_1


“Sudah cukup, Asten! Jika memang benar kau yang memberikan botol obat ini kepada pelayan ini, berarti ini sudah membuktikan kalau kau memang bersalah!” tegas Bakar, memandang penuh amarah kepada Asten.


Asten tersentak mendengarnya. “Ke-kenapa kamu menyalahkanku, Suamiku?”


“Karena kau memang terbukti bersalah! Meski botol itu adalah botol dari vitamin ibu hamil, tapi isi di dalamnya bukanlah vitamin! Kau kira kau bisa membodohiku hah?!”


Asten semakin membeliakkan kedua matanya. Ternyata suaminya sudah lebih dulu mencari tahu isi di dalam botol obat tersebut.


“Tidak! Aku tidak membodohimu. Baiklah aku akui, aku memang iri kepada menantumu itu, tapi bukan berarti aku tega menyakitinya apalagi mencelakainya saat dia sedang hamil seperti itu. Kenapa kau gampang sekali menuduhku, Suamiku?! Apa kau tidak pernah berpikir, barangkali isi di dalam botol ini memang sudah kadaluarsa, atau mungkin ada orang lain yang sengaja ingin menjebakku dan memfitnahku?” ucap Asten memberikan argument yang cukup memuat Baker begitu muak mendengarnya.


“Siapa yang mau memfitnahmu hah?!” teriak Baker sambil mengangkat tangan ke dekat telinganya saking kesalnya. Bahkan tangan lelaki tua itu tampak sedikit gemetar akibat terlalu menahan emosi di dadanya.


Asten kembali menengok ke arah Monic dan Angel. “Kalian berdua sengaja ingin memfitnahku ‘kan?! Oh ya, saya tahu kalian berdua sangat membenci saya karena saya cerewet dan sering menyuruh-nyuruh kalian. Tapi, kenapa harus dengan cara kotor seperti ini kalian memfitnah saya?! Kalian memang benar-benar pelayan tidak tahu diri!” ucap Asten yang kini sudah tersenggukk menangis. Mendramatisir semua ini.


Amel dan Monic semakin panik dan ketakutan. “T-tidak seperti itu Nyonya, sumpah demi Tuhan, kami tidak pernah ada niatan sedikit pun untuk memfitnah Nyonya, apalagi sampai seperti ini,” ucap Amel, wanita ini pun tampak ketakutan sampai kedua matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang sejak tadi dipupuknya.


“Argh!!! Sudahlah! Jangan mendramatisir semua ini, Asten!” teriak Baker semakin kesal melihat drama murahan yang tengah dilakukan oleh istrinya itu.


“Kalian berdua, pergilah. Lanjutkan pekerjaan kalian! Saya benar-benar muak dengan orang-orang di rumah ini!” seru Baker, berkacak pinggang sambil mondar mandir dan sesekali mendongak saking capeknya berada di dalam situasi yang sering kali membuat dirinya jengkel.


Baker kembali berjalan mendekati Asten. “Ingat Asten! Mulai hari ini, aku akan mencabut segala fasilitasmu untuk satu bulan ke depan! Tidak ada shoping, tidak ada keluar rumah, tidak ada mobil, kartu kredit, belanja online atau apapun itu! Aku benar-benar menghukummu!”


“Apa!” Seketika air mata Asten terhenti begitu suaminya mengucapkan hal keramat yang kemungkinan bisa membuatnya terpuruk dan stress.


“Kau tidak bisa seenaknya seperti itu kepadaku, Suamiku!” teriaknya.


“Bisa! Karena aku yang menentukan peraturan di rumah ini. Dan ingat kau hanya istriku, aku hanya perlu menafkahimu secukupnya, tanpa harus memanjakanmu!” tegas Baker sambil menunjuk wajah Asten.

__ADS_1


Wanita itu terdiam bengong, menatap wajah suaminya yang tengah murka padanya.


“Tidak! Aku tidak mau! Memangnya kau mau aku menjadi gila di rumah ini karena laranganmu itu!” teriak Asten mulai tidak tahu diri dan menyolot.


“Lebih baik kau gila, dari pada hidup waras tapi otak tidak dipakai!”


“Sudahlah, malam ini aku tidak akan tidur di sini!” teriak Baker lalu keluar dari ruangan tersebut.


Asten masih terpaku di tempatnya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan gejolak emosi yang semakin membara di hatinya.


“Aish! Dasar, pelayan-pelayan sialan! Gara-gara mereka, aku jadi kehilangan fasilitasku!” geramnya menggigit gerahamnya dengan kuat. Hingga urat-urat di keningnya pun tampak timbul saking emosinya.


Baker yang tengah menuruni anak tangga, ia memanggil penjaga yang kebetulan dilewatinya.


“Penjaga!” teriaknya begitu keras, memekin di telinga para tiga penjaga yang tengah diam sigap di ruang tengah.


“Siap, Tuan.” Ketiga penjaga itu menghampiri Baker.


“Kunci rumah ini, jangan biarkan Asten keluar dari rumah ini, bahkan hanya sekedar menginjakkan kakinya di teras, jangan sampai dia lolos! Kalian paham?!” teriaknya masih penuh emosi.


“Siap, paham, Tuan!”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2