Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Syarat Atas Bawah


__ADS_3

Yang lagi puasa jangan baca ya, takut pikirannya kemana-mana haha.


Bab ini bukan area remaja. Rate 21++


***


"He he, suamiku bisa aja," jawab Shira malu-malu, padahal di hati sudah ada maksud lain.


Mendengar ucapan itu, Akash kembali melebarkan senyumannya, senyuman yang menggetarkan gelora jiwa.


Enggak ada angin enggak ada hujan, tapi perlakuan Shira malam ini padanya benar-benar membuat Akash senang bukan main. Dan ini adalah untuk yang pertama kalinya, hatinya dibuat berbunga-bunga oleh wanita. Dan untuk pertama kali juga ada wanita yang memijit tubuhnya.


"Oke, sepertinya ini waktu yang tepat untuk meminta bantuannya," gumam Shira dalam hati.


“Oh ya, Akash ....” Shira masih merasa ragu-ragu, detak jantungnya tidak terkontrol, pun telapak tangannya yang tiba-tiba berkeringat.


“Apa?” jawabnya singkat.


“Emh, begini.” Ia masih fokus memijat bahu Akash.


Akash menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Shira dengan serius.


“Emh, jadi begini ....” Perempuan itu masih sibuk berkutat dengan pikirannya.


“Begini apa?! Kalau bicara jangan sedikit-sedikit!”


Akash hendak berbalik menghadapnya, namun segera di tahan oleh kedua tangan Shira.


“Akash, tunggu! Jangan dulu berbalik.”


Tidak ingin dibuat penasaran, Akash tidak mematuhi perintah Shira ia malah sengaja berbalik dan kini duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan Shira.


"Kamu ini mau ngomong apa?" tanya Akash.


Shira menyengir malu. “Emh, begini, bi-bisakah ....”


Akash semakin menatapnya dengan serius.


Shira semakin gugup ditatapan dalam seperti itu oleh suaminya.


"Akash! Jangan menatapku seperti itu, aku 'kan, jadi gugup mau ngomong sama kamunya!" gerutu Shira sebagai alasan, padahal memang ia yang tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya.


Akash langsung memejamkan matanya, agar Shira bisa melanjutkan ucapannya. Akan tetapi, setelah beberapa detik, masih tidak ada kemajuan dari ucapan Shira.


"Bisakah ...." Shira menggigit bibir bawahnya ragu.


"Emh, bisakah ...."


Akash tidak tahan, ia kembali membuka matanya. “Astagaaaaa Shira!!!”


“Kau ini ingin berbicara apa sih! Bisakah, bisakah! ... Bisakah apa?!” seru Akash geregetan.


Shira dibuat kalang kabut. “Oke, oke. Jadi gini, emh ....”

__ADS_1


“Cepat bicara! Atau kau mau aku cium!” ancamnya.


Membuat kedua mata Shira langsung membelalak mendengarnya. Ia juga sedikit takut kalau sampai Akash beneran menciumnya. “Bisakah kamu memberiku pekerjaan?” ucapnya cepat, karena takut dicium.


Akash tercenung. “Pekerjaan?” Ia menautkan kedua alisnya.


“I-iya, pekerjaan untukku, eh maksudnya untuk Kalala—temanku,” ucapnya membenarkan.


Akash terdiam memandangnya heran. “Memangnya kenapa dengan temanmu itu?”


“Temanku ‘kan, kehilangan pekerjaannya gara-gara aku. Pas aku menggantikannya bekerja, kamu juga masih ingat bukan akan keributan di hotel waktu itu?”


“Ya terus?” Akash memandangnya bingung.


“Gak ada terusannya. Aku hanya ingin meminta bantuan darimu saja. Kamu ‘kan punya banyak uang, jadi ... bisakan kamu memberi dia pekerjaan? Kamu pasti punya perusahaan, toko atau hotel, yang membutuhkan pelayan 'kan?”


Akash mengangguk paham, ia menatapnya penuh maksud, seringai senyuman tampak tersemat di ujung bibirnya.


“Ya tentu saja aku punya semuanya,” jawabnya sedikit sombong.


“Kalau begitu, bisakah kamu memperkerjakan Kalala di perusahaanmu itu, aku yakin dia bisa bekerja dengan baik, please?” Shira memohon dengan ekspresi wajahnya yang memelas, tapi menggemaskan di mata Akash.


Akash menarik nafas pelan, melirik ke arah Shira. Namun, yang pasti lirikan itu tertuju bukan pada Shira semata, melainkan ada satu anggota tubuh Shira yang sedari tadi menarik perhatian Akash.


“Bisa, tapi tidak diperusahaan, melainkan di hotel milikku,” jawabnya.


“Benarkah?” tanyanya antusias kegirangan.


"He'em." Akash mengangguk. “Tapi ... ada syaratnya,” ucapnya sedikit berbisik lalu mencondongkan wajahnya ke dekat Shira.


“Yap.”


“Apa syaratnya?” Shira kembali bertanya penasaran.


“Kau ingin tahu syaratnya?” tanya Akash pelan, Shira mengangguk semangat.


“Ya sudah, kemari dulu, akan aku bisikan syaratnya apa,” ucap Akash pelan, penuh maksud.


Shira menggeser duudknya mendekati Akash. Lalu ia menyibakan rambutnya ke belakang telinga, bersiap untuk mendengarkan bisikan suaminya.


Akash tersenyum lebar, melihat kepolosan dari istrinya yang mau saja dibodohinya itu.


“Lebih dekat,” bisik Akash.


“Ini kan sudah dekat,” protes Shira sambil mencebik kesal, karena memang posisi mereka saat ini sangatlah dekat, apalagi saling berhadap-hadapan.


“Pilih lebih dekat, atau kamu aku cium!”


"Apaan sih, ancemannya cium-cium segala!" Tapi karena tidak ada pilihan lain, Shira mengalah lalu semakin mendekatkan dirinya dengan Akash.


Kaki Akash yang semula bersila, kini sudah terbuka lebar dengan kedua lutut yang di tekuk ke masing-masing sisi.


Saat tubuh Shira tepat ada di tengah-tengahnya, ia pun menarik lengan Shira agar lebih dekat. Alih-alih berbisik mengatakan persayaratannya. Akash malah mendekap dan memeluknya.

__ADS_1


Shira memberontak, ia sadar, Akash tengah mempermainkannya.


Kedua netra mereka saling beradu, dengan jarak wajah yang cukup dekat.


"Akash! Lepaskan, kamu mau membohingiku ya?!" gerutu Shira.


"Tidak, aku tidak membohongimu," sangkal Akash.


"Lalu, kenapa kau tidak mengatakan persayratannya?" seru Shira.


Akash tersenyum, lalu tiba-tiba.


Cup!


Ia mengecup bibir Shira sekilas. Masih dengan kedua tangan Shira yang dipegangnya, sehingga Shira tidak bisa menjauh darinya.


Shira langsung membeliakan kedua matanya saat mendapat kecupan singkat dari bibir suaminya itu. Netra keduanya saling terpaku memandang satu sama lain.


“Kau sekarang tahu bukan, syaratnya apa?” tanya Akash pelan, memandang wajah Shira yang beberapa centi ada di depannya.


Jantung Shira sudah tidak aman, debarannya semakin menguat menggetarkan jiwa. Ia tersipu malu saat mengerti akan maksud dari syarat yang diinginkan suaminya itu.


"T-tapi Akash, aku tidak bisa. Akubbb--"


Akash langsung membungkan mulut Shira dengan bibirnya. Membuat Shira kembali mebulatkan matanya dengan sempurna.


"Sebagai istri yang baik, kamu tidak boleh menolakku, Shira," ucap Akash setelah melepaskan ciumannya.


Detak jantung Shira semakin berdebar, hawa panas pun mulai menyerangnya. Entah kenapa, meski AC di kamar menyala, tapi kecupan yang diberikan Akash barusan, seketika membuat badannya terasa gerah.


"Bukan menolak Akash. Te-tetapi kamu tahu 'kan kalau aku sedang datang bulan," ucap Shira mengingatkan.


Senyuman di wajah Akash tidak menyurut sedikit pun. Ia kembali mendekatkan wajahnya, lalu berbisik di dekat daun telinga Shira. "Kalau yang bawah tidak bisa, kan masih ada yang atas," bisiknya membuat Shira merasa geli mendengarnya.


"Yang atas?" tanya Shira dengan polosnya.


Akash mengangguk tersenyum, lalu sebelah ibu jarinya mengusap pelan bibir Shira, seolah menyiratkan maksudnya.


"Kamu mengerti 'kan?" tanyanya. Lalu kembali memebenamkan bibirnya dengan bibir Shira, meneruskan keinginannya. Dan malam pun berlanjut dengan sebegitu syahdunya.


Jika ditanya apa yang terjadi di antara mereka. Dinding kamar lah yang menjadi saksi bisu atas dua insan yang tengah bergulat di atas kasur itu.


.


.


.


Bersambung...


Duh Akash, saking enggak kuatnya ya ha ha. Sabar beberapa hari lagi Shira beres kok datang bulannya wkwkwk.


Tabur votenya dong hehe :V

__ADS_1


 


 


__ADS_2