Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Profesi Akash Sebenarnya


__ADS_3

“Tuan Edwin, i-itu ....”


“Tenanglah, Nona. Jangan bersuara,” ucap Edwin mewanti-wanti, membuat jantung Shira semakin berdegup kencang, serta tangan dan kaki yang sudah mulai bergetar ketakutan.


Darah di bawah pintu yang dilewatinya tampak mengalir ke sisi dinding. Entah apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut, tapi Shira merasa kalau tempat ini tidak beres.


“Tuan Edwin, kita akan kemana?” tanya Shira.


“Kita akan menemui tuan Akash di lantai empat,” ucap Edwin. Lalu mereka pun masuk ke dalam lift yang ada di ujung lorong setelah melewati kamar-kamar yang cukup membuat penasaran.


Tempat ini tampak terlihat seperti sebuah hotel yang sudah tidak tepakai. Banyak pintu kamar yang kemungkinan di dalamnya menggunakan dinding kedap suara, sehingga suara-suara dari dalam kamar itu tidak bisa terdengar hingga keluar.


Ting ....


Pintu lift terbuka, kini mereka sudah sampai di lantai empat, yang masih menyajikan suasana seperti di lantai dua. Lorong yang di kanan dan kirinya dipenuhi pintu kamar yang berjajar.


“Tuan Edwin, tempat apa ini sebenarnya? Kenapa di sini sangat sunyi sekali?” tanya Shira, yang membuntuti Edwin dua langkah dari belakang, tidak ingin jauh-jauh.


Dan tiba-tiba, sebuah tangisan pelan terdengar dari salah satu kamar, yang baru saja di buka, namun kamar itu langsung ditutup kembali oleh seseorang yang baru ke luar dari dalam sana, memakai pakaian APD lengkap, bahkan dari wajahnya pun tidak dapat diketahui dia wanita atau pria.


Orang itu mendorong troley stainles yang di atasnya terdapat banyak obat-obatan dan alat suntik.


Orang itu menunduk segan saat melihat Edwin, dan saat mereka berpapasan, Shira sedikit menoleh ke arah troley tersebut.


“Apa ini sebuah rumah sakit?” gumamnya dalam hati.


Kini mereka berhenti di depan pintu di ujung lorong. Pintu berwarna cokelat yang terbuat dari jati. Dan saat Edwin mengetuk pintu tersebut, terdengar sahutan Akash dari dalam menyuruh mereka masuk.


Edwin pun membukakan pintu tersebut, dan mempersilakan Shira untuk masuk.


Shira sedikit terkejut saat mendapati Akash dan dua orang asing di dalam ruangan tersebut.


“Shira, masuklah,” ucap Akash, tersenyum tipis kepada istrinya itu.


Shira pun tersenyum sopan kepada dua orang asing yang berpenampilan sedikit lusuh itu. Mereka tampak seperti orang laur negri, lebih tepatnya seperti orang Timur Leste.


Shira pun mendekat ke arah Akash, lalu Akash menyeret kursi kerjanya, memberikan Shira tempat duduk.


“Duduklah dulu, aku ingin menyelesaikan urusanku dengan mereka,” ucap Akash, Shira pun mengangguk.

__ADS_1


Shira melihat-lihat ke sekeliling, kini matanya tertuju ke arah sebuah jas putih yang tergantung di hanger yang ada di dekatnya.


“Jas dokter?” gumam Shira dalam hati. Lalu menoleh ke arah Akash yang sedang menyerahkan lembaran kertas kepada dua orang pemuda itu.


Setelah selesai dengan urusannya, Akash menelepon seseorang dan lima menit kemudian, datanglah seseorang yang memakai perlengkapan APD datang hendak menjemput kedua pemuda itu.


Edwin pun pamit ke luar, saat Akash memberikan kode padanya lewat kedipan mata.


“Bagaiamana? Apa kuliahmu lancar?” tanya Akash mencoba mencairkan suasana.


Shira mengangguk mengiyakan, lalu ia pun berdiri dan kembali menoleh ke arah jas putih yang menggantung di hanger di sampingnya.


“Akash ... apa ini jas dokter?” tanya Shira ragu.


Akash tersenyum gugup, ia mengangguk. “Hm, itu jas milikku.”


Keduanya terdiam selama beberapa detik.


Hening ....


“Jadi, selama ini kau adalah seorang dokter?” tanya Shira.


Akash kembali mengangguk.


“Dokter apa?” tanya Shira penasaran.


“Dokter bedah,” jawab Akash ragu.


Shira pun tersenyum ke arah suaminya itu, ia merasa lega karena ternyata suaminya itu bukanlah orang jahat yang ia kira selama ini.


“Syukurlah, aku kira selama ini kau adalah seorang mafia,” ucap Shira terkekeh kecil. “Tapi ternyata, kau seorang dokter bedah.”


“Lalu, kalau kamu seorang dokter bedah, kenapa kamu enggak bilang saja dari awal?” tanya Shira mendekat ke arah Akash, lalu menyenderkan pinggangnya di sisi meja kerja milik suaminya itu.


Akash terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Antara ragu dan harus jujur, ia pun kebingungan dalam pikirannya sendiri.


Akash menghela nafasnya pelan, ia kembali meyakinkan dirinya untuk bisa jujur kepada Shira, karena bagaimana pun Shira berhak tahu akan siapa dirinya sebenarnya.


“Aku bukan dokter bedah bisa, Shira,” ucap Akash pelan.

__ADS_1


“Hah? Kamu bilang apa?” Shira kembali bertanya karena ia barusan tidak mendengar dengan jelas ucapan suaminya itu.


Akash kembali menarik nafasnya. “Aku bukan dokter bedah biasa,” ulang Akash, memperjelas.


Kedua alis Shira langsung bertautan. “Ma-maksud kamu apa?” tanyanya ragu.


“A-a-aku ....”


Shira masih menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Akash. Memperhatikannya dengan saksama.


“A-aku—”


“Kamu apa, Akash?”


Akash seolah berat untuk mengatakan semuanya, tapi ia harus jujur, ia tidak boleh menutupinya lagi.


“Shira, sebelum aku jujur padamu, aku ingin agar kau tidak membenci profesiku ini,” ucap Akash dengan tatapan sayu.


“Memangnya apa yang harus aku benci dari profesimu itu?” tanya Shira.


“Ja-jadi ....”


“Hm?”


“Jadi sebenarnya, aku—”


.


.


.


Bersambung....


Mau lanjut enggak nih?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2