Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Perusak Lipstik


__ADS_3

Pagi ini Shira tampak bergembira, terlihat dari gerak-geriknya yang sangat energik. Setelah sarapan pagi ia bersiap untuk pergi ke kampus. Akash memerhatikan tingkah istrinya yang seperti anak kecil itu sejak tadi.


“Nona Muda sangat baik dan periang ya, Tuan,” ucap Bi Shena yang kemarin sore membantu Shira memasak.


“Iya, Bi,” jawabnya tersenyum.


“Kemarin juga, Nona Muda sangat semangat sekali bikin masakan buat, Tuan, sampai-sampai nungguin bolak-balik ke teras,” adu Bi Shena.


“Benarkah?” Akash menoleh sedikit terkejut.


“Iya, semalam juga, Nona Shira setia nungguin, Tuan pulang. Bahkan sampai jam sepuluh malam, Nona Muda masih sibuk nyiapin makanan," lanjut Bi Shena menjelaskan.


Akash terdiam mengingat kejadian semalam, memang benar, semalam Nashira menunggunya di ruang makan. Akan tetapi, Akash pikir, Shira hanya menunggunya dari malam, tidak dari sore, bahkan tidak terpikir sampai bolak-balik menantikan kedatangannya.


Bi Shena pun bergegas mendorong troley makanan yang berisi piring-piring kotor yang akan dicuci. Dia pun pamit kepada Akash untuk kembali ke dapur.


Akash berjalan menaiki anak tangga, mengintip istrinya yang tengah sibuk merias wajah di depan cermin sana.


Akan tetapi, tiba-tiba pikirannya terbayang akan aktivitas Shira di kampus yang digandrungi oleh banyak mahasiswa-mahasiwa yang masih muda.


Akash berjalan dengan gayanya yang sok cool. Lalu duduk di tepi ranjang memerhatikan istrinya yang tengah mengaplikasikan liptint di bibirnya.


“Kalau dandan jangan terlalu berlebihan!” serunya tiba-tiba, membuat Shira langsung menolah ke arah Akash.


“Berlebihan apa! Aku hanya memakai liptint, bedak dan maskara saja, tidak ada yang ebrlebihan,” imbuhnya kembali fokus menatap dirinya di dalam pantulan cermin.


“Kamu mau ke kampus atau mau konser! Hapus lipstikmu itu!” titah Akash, yang merasa tidak suka jika Shira pergi ke kampus dengan dandanan cantik seperti itu.


Sebenarnya bukan tidak suka, hanya saja, bibir sexy istrinya itu terlalu berharga jika dilirik oleh lelaki lain, apalagi warna merah yang sedikit mencolok, pasti bisa membuat para lelaki tergila-gila hanya karena melihat bibirnya saja.


Akash jadi over thinking. Ia tidak ingin, kecantikan Shira dinikmati oleh lelaki lain selain dirinya.


“Shira ....” Akash memanggilnya dengan ketus.


Shira menoleh kesal. “Apa?”


“Hapus lipstikmu itu! Kamu tidak cocok memakai lipstik warna merah!” seru Akash melipat kedua tangannya.


Shira tidak memedulikan perintah suaminya itu. karena memang pada dasarnya Shiraa orang yang bandel dan keras kepala. Wanita itu malah sibuk memperbaiki tampilannya, mentouch-up bedak di wajahnya.


“Sudah terlanjur Akash, aku sudah memakainya, sayang sekali jika aku harus menghapusnya,” ucapnya mengakhiri riasannya, dan segera mengambil sling bag miliknya yang tergeletak di atas tempat tidur di samping Akash.


Sebelum kembali melangkah pergi, Shira tersenyum manja ke arah Akash. “Oh ya, makasih ya udah mau bantu aku. Dan terima kasih juga atas uang yang kamu berikan ke kartu debitku,” ucapnya malu-malu tapi menggemaskan.

__ADS_1


“Iya. Hapus tuh lipstikmu!” Akash masih kekeh akan keinginannya.


Akan tetapi, Shira juga kekeh dengan prinsipnya, ia tidak ingin riasan bibirnya itu dihapus begitu saja. Karena, setiap olesan dari liptint yang ia gunakan, itu sangatlah berharga baginya, tidak boleh sampai ada kata mubadzir di kamus kehidupannya.


“Gak mau!” Shira mengucapkannya dengan gayanya yang sok centil, sambil memonyongkan bibirnya, membuat Akash yang melihatnya ingin menerkam bibirnya sekarang juga.


"Mulai bandel ya?! ... Hapus gak? Kamu itu gak cocok pakai lipstik warna merah begitu!" tegas Akash.


"Mau cocok atau enggak, kalau sudah menempel di bibirku, aku tidak akan menghapusnya secara percuma," jawabnya.


Akash tampaknya geram karena kebandelan istirnya itu. "Hapus sekarang juga, atau kau aku cium?!" ancamnya, karena biasanya kalau sudah mengancam seperti ini, Shira pasti akan menurutinya.


Akan tetapi, ancaman kali ini ternyata ada di luar ekspetasi, Shira malah meledeknya, mengulangi perkataan ancaman itu sambil berbicara menye-menye.


"Cium, cium, ancemannya nyium mulu, wle!" ledek Shira.


Akash menatapnya kesal tapi di dalam hatinya ia sangatlah merasa gemas pada Shira. "Kau ini, benar-benar ya! Kemari kau, aku tidak akan main-main dengan ucapanku Shira!"


Shira mencoba kabur, ia berlari menuju pintu kamar, akan tetapi tangan Akash terlebih dahulu berhasil meraihnya, dan menarik tubuh Shira dengan kencang hingga Shira kewalahan dan tidak bisa mengimbanginya.


Shira terjatuh dalam dekapan hangat tubuh Akash. Dan kembali, kedua netra mereka saling bertautan dengan jarak yang cukup dekat.


Tiba-tiba ... cup!


Akash benar-benar menerapkan ancamannya yang tadi. Jika Shira tidak bisa menghapus pemerah bibirnya sendirian, maka bibir Akash lah yang siap menghapusnya sampai bersih.


Shira tidak bisa berbuat apa-apa, selain berpasrah menikmati ******* yang diberikan oleh suaminya pagi ini. Hingga Akash merasa sudah puas, lelaki itu melepaskan ciumannya secara perlahan, masih dengan kedua tangan yang memegang pipi Shira.


"Nah, warna alami kayak begini 'kan lebih bagus," ucap Akash tersenyum puas.


Sementara Shira, kini ia malah mencebik kesal, karena riasan bibirnya sudah dihapus oleh Akash dengan cara yang menyebalkan menurutnya.


"Ih ... Akash! Riasan bibirku jadi rusak!" gerutunya.


"Memangnya kenapa? Bukankah semalam kamu juga menyukai cara ini?" tanya Akash penuh maksud, mengingatkan Shira akan kejadian semalam yang benar-benar membuat dirinya diberi pengalam baru dalam soal pergulatan ranjang.


Mengingat kejadian semalam, sungguh membuat Shira merasa malu dan geli membayangkannya. Kedua pipinya sudah bersemu kemerahan, ia menunduk, lalu memukul pelan dada Akash.


"Sudah ah, aku mau berangkat ke kampus!" ucapnya tersipu malu, dan bergegas menuju pintu kamar.


Saat Shira membuka pintu kamar, lagi-lagi Akash menahannya.


“Kenapa?” tanya Shira begitu polos. Ia tidak menyadari bahwa mata elang yang ada di depannya tengah mengincar sesuatu di wajahnya.

__ADS_1


Keduanya terdiam, saling menatap. Dan tiba-tiba ....


Cup!


Akash kembali membenamkan bibirnya di bibir Shira, membuat wanita itu langsung membeliak terkejut akan perlakuan suaminya.


Shira takut, kalau ciuman mereka akan dilihat oleh orang lain, karena posisi mereka sekarang tepat berada di ambang pintu yang terbuka lebar.


"Akash, lepaskan," ucap Shira dengan suara yang tidak jelas karena terbungkam oleh bibir Akash.


Tenaga Shira terbuang sia-sia saat ia ingin mendorong Akash. Lelaki itu malah semakin mendekap tubuhnya, pun bibirnya yang ******* habis bibir Shira degan sangat lincah.


“Akash!” Shira berkata di tengah-tengah ciuman.


Pada akhiranya Akash pun melepaskannya. Mata Shira semakin membulat sempura, saat seorang gadis pelayan tiba-tiba muncul di luar pintu.


Pelayan itu terkejut melihat aktivitas panas dari Tuannya di pagi hari begini. “Maaf, Nona saya tidak sengaja,” ucap pelayan itu kemudian berlari menjauh dari mereka sambil membawa keranjang rotan.


Padahal niat pelayan itu hanyalah untuk mengambil baju kotor yang akan di cuci. Akan tetapi, karena dia shock melihat drama rumah tangga yang sangat hot sepagi ini, membuatnya tidak berani mengganggu dan memilih untuk kabur.


“Akash! Apa yang kau lakukan. Lihat! Pelayan tadi kabur gara-gara melihat kita,” gerutu Shira begitu kesal.


“Ya memangnya kenapa? Biarkan saja dia melihat kita. Biar dia tahu, kalau kita adalah suami istri sungguhan," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Lagi pula aku kan hanya membantumu saja,” lanjut Akash, memasang wajah tanpa dosa.


Shira mengernyit tidak mengerti. “Membantu? ... Membantu apa coba?!” gerutunya sambil mencebik kesal.


“Membantu menaikan libidomu,” bisiknya pelan sambil tersenyum miring lalu pergi keluar meninggalkan Shira.


Shira langsung membeliak tidak percaya. "Libido? Memangnya aku wanita apa, sepagi ini disuruh menaikan libidoku!" gerutunya kesal. "Dasar, laki-laki memang sama saja! Kalau urusan seperti itu, mereka selalu kurang asem!" umpatnya.


Shira menjejakan kakinya dengan keras, ia mengepalkan kedua tangannya merasa begitu geram pada Akash.


“Ya tuhan ... kenapa engkau ciptakan manusia seperti dia sih! Dasar suami menyebalkan!” Shira pun berlalu mengejar Akash, masih dengan bibirnya yang terus-terusan menggerutu tidak jelas, mengumpati suaminya yang sedikit error.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang udah kasih gift dan meramaikan kolom komentar, author sayang kalian. Dan makasih juga buat yang udah baca dan stay di novel ini, semoga rezekinya lancar terus ya. Jangan bosen-bosen ya baca novel ini. Love you pembacaku.


Eh iya buat kalian yang mau lihat karakter pemain dari novel ini kalian bisa cek di instagram aku @dela.delia25 di sana aku juga update seputar novel yang aku buat. Terima kasih.


__ADS_2