
“Mo-mobilnya sudah datang,” ucap Edwin begitu gugup, dan akward, membuat keadaan di antara keduanya jadi berubah canggung.
Kalala mengangguk pelan, menundukkan wajahnya, merasa malu.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan mereka. Namun, begitu sang penyetir keluar, ternyata itu bukanlah sopir yang mereka tunggu, melainkan itu adalah sesosok lelaki lain yang sudah tidak asing di mata mereka.
“Loh, Jackson!” pekik Edwin begitu terkejut.
Jackson berjalan mendekati mereka, mengerutkan dahinya menatap heran saat kedua matanya sekilas melirik ke arah dua koper yang cukup besar yang dipegang oleh Edwin.
“Kalian mau ke mana?” tanya Jackson penasaran.
Kalala dan Edwin saling beradu pandang sejenak.
“A-anu, aku mau pergi,” ucap Kalala gugup, ia bingung harus menjawab apa.
“Pergi ke mana?” tanya Jackson spontan.
“Pulang ke Surabaya,” jawab Edwin.
Kalala yang salah tingkah, ia menggaruk kepalanya pelan, sambil menyengir ke arah Jackson. “Hehe, i-iya maksudnya aku mau pulang ke Surabaya.”
Jackson menatapnya heran, kedua matanya sedikit menyipit, menatap Edwin dan Kalala secara gantian dengan penuh curiga.
“Benarkah?” tanya Jackson, untuk memastikan.
Kalala mengangguk penuh semangat. “Iya, bi-bibiku sakit, makanya aku harus buru-buru pulang. Eh, iya, k-kamu udah sembuh ya Jackson? Kapan pulang dari rumah sakit?” tanya Kalala mengalihkan pembicaraan. Lalu menoleh kepada Edwin sekilas.
Jackson terdiam sejenak, masih menatap Edwin dan Kalala dengan penuh selidik, karena ia merasa ada yang aneh di antara mereka berdua.
“Keadaanku sekarang sudah membaik, dan aku pulang kemarin sore bersama Akash.”
“Oh, iya ya, kemarin ‘kan Tuan Akash bilang mau mengantarmu pulang ke rumah, hehe aku lupa,” jawab Kalala sedikit gugup.
“T-tapi, syukurlah kalau kau sudah sehat, aku senang mendengarnya,” ucap Kalala. Yang langsung mendapat lirikan sinis dari Edwin.
“Duh, salah ngomong lagi,” gumam Kalala dalam hati, saat tatapan dari pacarnya itu seolah mengajak perang.
“Oh, senang ....” Edwin berucap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seolah meledek.
“Ya ... senang, masa orang sehat harus sedih,” jawab Kalala menyengir.
“Ouh, begitu ya ....” Edwin sepertinya semakin tidak suka mendengar jawabannya.
“Kalau mendengar kabar sehatku kau begitu senang, maka kedepannya setiap hari aku akan selalu mengabarimu, Kalala,” ucap Jackson, semakin sengaja membuat lelaki yang ada di sampingnya itu agar kepanasan.
__ADS_1
Kalala membeliakkan kedua matanya. “Hah? T-tidak perlu seperti itu, Jackson a—”
“Kau bilang apa? Mengabari Kalala setiap hari? Memang kau siapa?” tanya Edwin tidak santai.
Jackson menyeringai sinis. “Aku, siapa? ....”
“Aku adalah orang yang berusaha mengambil hati pacarmu,” ucap Jackson dengan entengnya.
Edwin yang tidak terima, ia langsung memajukan langkahnya, satu langkah lebih dekat dengan Jackson. Membusungkan dadanya, menatap tajam kedua manik Jackson.
Namun, buru-buru Kalala menahan Edwin, dan menjauhkannya dari Jackson.
“Edwin, jangan terpancing, ingat jangan sia-siakan malam kita ini,” ucap Kalala mencoba meluluhkan.
“Kau juga, Jackson! Jangan berbicara seperti itu kepada pacarku! Kau sudah tahu bukan hubungan kami, kenapa kau masih kukuh mendekatiku? Bukankah wanita cantik sangat banyak diluaran sana!”
“Yang cantik memang banyak, tapi yang menarik sepertimu tidak ada. Makanya, aku maunya kamu,” ucap Jackson begitu lugas. Membuat Kalala yang mendengarnya sedikit terkejut akan pengakuannya itu.
“Beraninya kau menggoda pacarku!” teriak Edwin semakin emosi.
“Edwin, sudah, jangan terpancing, udah, dia cuma ngomong doang kok. Lagi pula, aku ‘kan udah jadi milik kamu, tenanglah,” ucap Kalala mencoba menenangkan.
Jackson yang mendengarnya ia langsung membuang muka sambil tersenyum meledek. "Cih."
“Dasar, dia ini, semakin lama memang benar-benar samakin menarik. Tidak salah, ayahku mengincar dia sebagai calon menantunya,” batin Jackson.
Tiba-tiba, sinar mobil kembali menyilaukan pandangan mereka. Ternyata, mobil yang ditunggu oleh Kalala dan Edwin sejak tadi sudah sampai.
“Hey Edwin, apa kau yakin akan membiarkan Kalala pulang selarut malam ini ke Surabaya?” tanya Jackson, saat sopir di dalam mobil itu keluar dan menanyakan soal koper yang akan dibawa.
“Kenapa memangnya? Lagi pula aku yang akan menemaninya sampai dia selamat di rumahnya,” ucap Edwin, ikut membantu sopir utuk menaikkan koper ke bagasi mobil.
Bruk! Bagasi mobil pun tertutup.
“Lalu, Akash dan Shira kemana? Kemana mereka?” tanya Jackson, celingukkan melihat keadaan rumah yang sedikit tampak sepi dari biasanya.
Kalala dan Edwin kembali terlihat bingung. Kalala hanya diam tidak mau menjawab, lalu ia buru-buru masuk ke dalam mobil.
“Mereka pergi babymoon untuk dua minggu ke depan, jadi untuk beberapa hari ini, rumah akan sepi,” jawabnya.
“Babymoon? Ke mana?” tanya Jackson.
“Ke luar negri, bersama nyonya Tessa juga. Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk bicara denganmu, aku harus segera pergi.” Edwin pun masuk ke dalam mobil, dan saat ia hendak menarik pintu mobil, tiba-tiba Jackson menahan tangannya.
“Tunggu! Tapi, Ayah menyuruhku untuk memberikan surat ini kepada Akash,” ucap Jackson, mengelurkan satu amplop merah dari saku hoodienya.
__ADS_1
“Surat?”
“Baiklah, biar aku yang akan menyampaikannya,” ucap Edwin hendak meraih amplop merah tersebut, namun Jackson menjauhkannya.
“Bukannya kau bilang Akash sedang ke luar negri? Bagaimana caramu untuk mengantarkan ini padanya?” tanya Jackson curiga.
“Ya gampang, aku tinggal mendatanginya saja ke luar negri,” ucap Edwin, berbohong.
Jackson terdiam sejenak, sambil menatap waspada kepada Edwin.
“Kalau kau tidak percaya padaku, dan surat itu tidak begitu penting, aku akan pergi sekarang, minggir!” ucapnya menatap tajam ke arah tangan Jackson yang masih memegang lengannya.
Jackson berdecak. “Oke, baiklah. Ini.” Ia pun terpaksa memberikannya.
Dan setelah itu, Edwin langsung menutup pintu mobil dengan kencang.
“Jalan, Pak,” titahnya pada Pak Sopir yang duduk di depan.
Jackson terdiam, memandang heran mobil yang ditumpangi Kalala dan Edwin yang semakin menjauh dari pandangannya.
“Babymoon? Mendadak seperti ini? Bukankah tadi siang Akash masih datang menemui Ayah?” gumam Jackson dalam hati.
“Sebenarnya, surat apa yang diberikan ayah untuk Akash itu?” batinnya.
Tidak ingin peduli, Jackson pun kembali masuk ke dalam mobilnya, namun sebuah benda kecil mengejutkannya. Ia menepuk jidatnya saat melihat kotak berwarna hitam yang teronggok di kursi mobilnya.
“Astaga! Gelang untuk Kalala!” Jackson buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Kotak hitam itu berisi gelang yang dikhususkan untuk Kalala. Dan kedatangan Jackson ke rumah Akash, sebenarnya adalah atas perintah ayahnya. Selain memberikan surat kepada Akash, Jackson juga disuruh untuk memberikan gelang kepada Kalala. Entah apa tujuan dari Baker memebrikan itu kepada Kalala, namun, yang Jackson tahu ia harus menyampaikan amanah ini dengan baik.
“Bagaimana bisa aku melupakannya!” gerutunya, buru-buru menghidupkan mesin mobilnya. “Aku harus menyusulnya!” imbuhnya.
Vroom .... Dan mobil pun melaju cepat meninggalkan area rumah Akash.
.
.
.
Bersambung...
Waduh gimanan nih? Bang Jack malah mau nyusulin Kalala.
Maaf ya, baru bisa update lagi, jadi beberapa hari ini author lagi riweh banget, soalnya lagi ngurus suami, suami author lagi sakit, jadi harus bolak-balik ke rumah sakit untuk terapi syaraf.
__ADS_1
Mohon do'anya juga ya dari teman-teman semuanya semoga suami aku (Andre Adrian) bisa cepat sembuh dan diangkat dari segala macam penyakitnya aamiin.
Terima kasih yang sudah mendoakan.