
Setelah selesai memebrsihkan diri, Jackson pun keluar dari kamar mandi, mengambil satu paper bag yang tersimpan di atas meja bundar dekat sofa.
Itu adalah paper bag berisi pakaian baru, yang 15 menit lalu dipesan oleh Jackson dan menyuruh sekretarisnya untuk mengantarkannya ke hotel.
Ia pun segera berganti pakaian, dan setelah selesai ia menelepon bagian room service untuk membawakannya sarapan. Karena Jackson malas untuk pergi ke buffet.
Satu suap, dua suap, Jackson masih tengah asyik menikmati makanannya. Selagi menikmati sarapannya, Jackson jadi teringat akan kejadian semalam saat ia bersama pramu yang bernama Kalala itu.
Jackson merasa, Kalala adalah salah satu pramu yang palinga asyik di ajak mengobrol, kata-kata yang keluar dari mulut gaid itu, memang sedikit pedas, enggak disaring dan asal ceplos begitu saja. Tapi dengan begitu Jackson jadi tahu, kalau Kalala adalah orang yang jujur.
“Hm, sepertinya kapan-kapan dia bisa ku ajak ngobrol lagi kayaknya,” gumam Jackson yang tiba-tiba tersenyum membayangkannya.
***
Sementara itu, Edwin kini membelokkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji yang tidak jauh dari wilayah apartemennya.
“Loh, kok kita belok ke sini? Mau apa?” tanya Kalala kebingungan.
“Kau tidak lihat di depan itu bangunan apa?”
“Ya emang aku enggak lihat, emang di sana bangunan apa?”
Edwin baru ingat, kalau Kalala tidak memakai kacamata dan tidak memakai kontak lens. Apalagi dia rabun jauh, pasti tidak melihat plang nama restoran di depan sana.
“Sudah turun! Jangan banyak bertanya,” ucap Edwin ketus, langsung melepas seat belt miliknya dan keluar dari mobil begitu saja.
Edwin terus berjalan tanpa menghiraukan Kalala yang masih ada di dalam mobil. Edwin pun menghentikan langkahnya setelah setengah jalan hampir mendekati pintu restoran.
“Ck! Dia ini, kenapa selalu lama sih!” gumamnya kesal, dengan langkah yang panjang ia pun kembali menghampiri mobilnya.
Membuka pintu mobil untuk Kalala. Dan ternyata gadis itu masih sibuk untuk melepaskan seat belt yang terpasang di badannya.
“Kau ini lama sekali sih! Masa buka seat belt aja gak bisa?!” seru Edwin.
“Ya gimana, sabuk pengaman mobilmu yang macet!” jawab Kalala kesal.
Edwin baru sadar, ia memang belum membenarkan pengait sabuk pengaman mobilnya itu yang terkadang suka macet.
Edwin pun mendengus pelan lalu berjongkok, dan mencoba membantu Kalala untuk membuka sabuk pengaman itu.
“Sini, biar aku saja!” cetus Edwin menarik pengait sabuk pengaman itu dan mencoba membukanya.
__ADS_1
Namun, sepertinya dirinya pun sama seperti Kalala, ia kesulitan untuk membukanya. Dan pada akhirnya, Edwin pun membuka laci mobil dan mengambil gunting dan langsung saja ia memutuskan sabuk pengaman itu menggunakan gunting tersebut.
“Sudah, cepat keluar!” titah Edwin kembali memasukan gunting kecil tersebut ke laci mobil.
“Loh, kenapa harus sampai mengguntingnya?” tanya Kalala sedikit terkejut.
“Heh! Aku menyuruhmu untuk turun. Bukan bertanya!” ucap Edwin menatapnya sinis.
Kalala yang sedari tadi kena semprot ucapan Edwin, ia langsung menggeram kesal.
“Ish! Biasa aja kali, orang nanya baik-baik juga! Sensinya melebihi cewek lagi PMS!” seru Kalala keluar dari mobil Edwin langsung membanting pintu mobil itu dengan keras, hingga terdengar gubrakannya.
Edwin menatapnya kesal. “Heh! Bisa gak sih, kalau nutup pintu mobil itu enggak usah sekenceng gitu?!”
Kalala sadar, ia membanting pintu itu terlalu keras, ia pun hanya bisa tersenyum meringis sedikit tidak enak hati. “Hehe, iyaiya, maaf, aku kelepasan,” jawabnya sedikit malu.
“Kau ini ...” Edwin melengos begitu saja memasuki restoran tersebut. Dan buru-buru Kalala pun membuntutinya dari belakang.
Kini mereka berdua sudah duduk di salah satu meja yang tersedia di sana. Edwin memesan soto daging lengkap dengan nasi dan juga minumannya teh tawar anget. Sementara Kalala, ia memesan satu porsi nasi goreng cumi kesukaannya juga satu gelas jus jeruk anget.
Selagi menunggu makanannya datang, Edwin sibuk dengan ipadnya, menelaah beberapa laporan yang sudah dua hari ini ia abaikan karena sejak Akash berangkat honeymoon, Edwin menghandle segala maca pekerjaan yang seharusnya Akash lakukan. Sementara Kalala, ia hanya diam dan bengong sambil merasakan tubuhnya yang kian terasa tidak mengenakan. Terasa dingin padahal cuaca siang ini biasa saja tidak terlalu dingin.
“Hey, aku akan ke toilet dulu,” ucap Kalala, berpamitan, tapi Edwin sepertinya begitu sibuk dengan ipadnya, hingga tidak menghiraukan ucapan Kalala.
Kalala memasuki ruang toilet yang cukup besar itu, ia berdiri di depan westafel, merasakan tubuhnya yang terasa gemetar tidak karuan. Buru-buru ia membasuh wajahnya menggunakan air yang teralir dari keran westafel itu. Mengelapnya lalu menggunakan tisu yang tersedia di samping dinding, dan memandang wajahnya di cermin.
Kulit wajahnya tampak setingkat lebih memutih, pun bibirnya yang semakin memucat. Lagi dan lagi keringat dingin itu bermunculan di dahinya. Kalala merasakan pusing yang kian berdenyut dahsyat di kepalanya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia pun membenarkan ikat rambutnya, merapihkannya dan menguncirnya dengan kuncir kuda. Setelah itu ia pun bersiap untuk keluar dari toilet tersebut.
Namun, baru saja ia membalikan badannya, tiba-tiba sesosok wanita yang sudah tidak asing di matanya, tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Culun! Ngapain lo di sini?” tanya Luna yang kebetulan baru masuk ke toilet.
“Pikir aja, ini toilet! Ngapain nanya lagi,” jawab Kalala jutek.
Luna membeliakkan kedua matanya. “Hih, biasa aja kali jawabnya. Sendirian lo? Apa sama si miskin?”
“Si Miskin? Siapa orang yang lo maksud?” tanya Kalala.
“Ya siapa lagi, kalau bukan temen lo yang udah bangkrut itu.”
“Shira maksud lo?” tanya Kalala tidak santai.
__ADS_1
“Oh, pasti sendirian ya? Buktinya enggak ada siapa-siapa lagi di sini.” Luna mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, karena nyatanyata pintu-pintu WC yang berjajar itu semuanya terbuka, dan di sana hanya da Kalala seorang.
Kalala mendelik sebal. “Berhenti ya, bilang Shira miskin!”
“Loh, emangnya kenapa? Kan temen lo itu emang miskin!” jawab Luna sambil tersenyum sinis, memainkan ujung rambutnya dengan telunjuk.
Kalala tahu, kalau sudah begini, mau ngomong sampai tahun monyet pun, Luna pasti akan terus menjawabnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan dan memilih untuk segera pergi dari sana.
“Minggir!” ucap Kalala pelan sambil mendepak bahu Luna melewatinya.
Luna langsung menecebikkan bibirnya sambil mengepalkan kedua tangannya. “Huh dasar culun! Beraninya dia mendepakku seperti itu,” gerutunya kesal.
Kalala kembali ke mejanya, namun ternyata, Edwin sudah tidak ada di sana. Sementara di meja sudah terdapat makanan pesanan mereka.
Kalala langsung mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru. Mencari-cari keberadaan Edwin, tapi ia tidak menemukannya.
Dan tiba-tiba ada seseorang yang di meja sebelah mendekatinya.
“Mbak, di cariin suaminya tuh di luar,” ucap orang itu menepuk pundak Kalala. Kalala langsung menoleh ke arah pintu ke luar dan ternyata di sana ada Edwin yang menatapnya tajam.
“Suaminya dari tadi nyariin, Mbak,” ucap orang itu lagi.
“Eh, t-tapi dia bukan suami saya—” Belum sempat Kalala menjelaskan, orang tersebut sudah pergi begitu saja kembali ke kursinya.
Sementara itu, kini Edwin tampak tengah murka padanya, lelaki itu sepertinya sempat panik karena mencari keberadaan Kalala.
“Kau ini! Kenapa menghilang begitu saja hah! Bikin orang repot saja!” seru Edwin begitu ia sampai di depan Kalala, dengan mimik wajah yang ditekuk langsung mendudukan tubuhnya di atas kursi miliknya.
“T-tapi, tadi aku ‘kan—”
“Aku tidak menerima alasan apapun, sekarang kau duduk, makan dan jangan berbicara!” tegas Edwin begitu kesal.
Meski sebenarnya Kalala sangat dongkol sekali dengan lelaki yang ada di depannya itu, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan Edwin padanya.
Kalala pun mendudukan tubuhnya dengan kesal di atas kursi. Memandang Edwin dengan tatapan tajam seolahi ingin menusuknya. “Ish dasar! Padahal tadi aku udah izin sama dia mau ketoilet. Dia sendiri yang budeg! Enggak dengar perkataanku,” gerutu Kalala dalam hati, langsung menyantap makanannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Lanjutin gak nih? Lempar komen dan like nya dulu dong hehe...