
Hari ke hari berlalu begitu saja, gosip mengenai Shira, Haris dan Luna di kampus sudah mulai mereda dan jarang terdengar di telinga mereka.
Dan tepat hari ini, adalah hari terakhir masa berakhir hukuman mereka bertiga untuk membersihkan gudang perpustakaan. Dan sudah tujuh hari pula, sejak kejadian itu Luna tidak masuk ke kampus, dikarenakan ia malu akan rumornya yang hamil duluan oleh Haris.
Sementara itu, hubungan Haris dengan Luna pun masih belum ada kejelasan, karena sejak hari itu juga Luna sangat sulit untuk di hubungi. Padahal Haris ingin mengajak Luna ke dokter untuk memastikan kalau Luna itu benar hamil atau tidak.
“Ris! Bisa enggak sih kerjanya yang bener, jangan melamun terus!” seru Kalala dengan kesal, karena sudah 10 menit, Haris berdiri di depan patung manekin dan selama 10 menit itu pula Haris hanya fokus membersihkan debu di tangan manekin tersebut.
Seruan Kalala membuyarkan lamunannya. “Hah, oh iya, Kal. Sorry-sorry,” jawab Haris kembali fokus dengan pekerjaannya.
“Makanya, jadi cowok pemberani dong! Datengin langsung ke rumahnya si Luna, jangan cuma ngandelin lewat hape buat hubungin orangnya,” ucap Kalala yang tengah sibuk mengelap buku-buku berdebu.
“Lo kira gampang apa, masuk ke rumahnya dia! Kalau enggak ada izin dari orang dalem, ya satpamnya juga enggak bakalan ngizinin gue buat masuk!” seru Haris dengan kesal, karena merasa Kalala terlalu cerewet dan menggampangkan segalanya dengan omongan.
“Hm, lagian ribet banget sih jadi orang kaya!” balas Kalala mendecak.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 sore, dan kini mereka bertiga sudah selesai membersihkan gudang perpusatakaan tersebut.
Mereka pun bergegas pulang. Di tempat parkir, Haris berpamitan pulang terlebih dahulu menggunakan motor mogenya, sementara Shira dan Kalala, mereka berdua jalan kaki hingga ke pinggir jalan raya untuk mencegat taksi.
“Eh, Kal, hari ini mumpung kamu lagi libur kerja, temenin aku ke kafe yuk!” ajak Shira penuh semangat.
“Ke Kafe? Emang kamu udah izin sama suami kamu?”
Dengan enteng, Shira pun menjawab. “Ah, itu mah gampang, nanti aku telepon dia aja kalo kita udah nyampe di sana.”
“Te-tapi, Shir.” Kalala hendak menolak, karena ia tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu kembali terulang, saat mereka tengah pergi ke pameran malam di Aeon Mall.
Masih teringat jelas kejadian waktu itu saat Shira mengajaknya pergi untuk bermain ke sebuah mall ternama di daerah Serpong.
Flash back on.
“Tuan Jackson!” pekik Shira dan Kalala saat mereka tengah memasuki sebuah caffe yang ada di mall tersebut. Berbaris di depan tempat pemesanan.
Jackson langsung menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata ipar serta gadis si peramu hotel ada di belakangnya.
“Loh, kalian sedang apa di sini?” tanya Jackson terheran-heran.
“Emh ... kita sedang main aja sih, ini lagi nyari makan dulu,” jawab Shira, sementara Kalala, ia teramat sangat malu dengan lelaki yang ada di depannya kini, Kalala memilih untuk berlindung di baling punggung Shira, tidak ingin bertatap wajah dengan lelaki yang sudah salah paham dengannya.
“Kamu sendiri ke sini sedang apa? Kerja?” tanya Shira.
Jackson mengangguk. “Hm, baru selesai ketemu clientnya ayah. Ini lagi pesan minum,” jawab Jackson.
__ADS_1
Shira mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Akash juga datang ke sini bersamaku,” ucap Jackson memberi tahu.
“Benarkah?” tanya Shira langsung mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan suaminya tersebut.
“Hm, tapi barusan dia pergi bersama sekretarisnya. Memangnya dia tidak mengabarimu?” tanya Jackson.
Buru-buru Shira mengecek ponselnya dan ternyata ia lupa, kalau seharian ini ponselnya itu sengaja ia matikan. Pantas saja ia tidak mendengar dering apapun dari ponselnya itu, dan Shira pun segera menghidupkan kembali ponselnya.
Ternyata, begitu banyak pesan masuk yang datang dari nomor suaminya, menanyakan kegiatan Shira bahkan jam pulang serta apa yang tengah dilakukan Shira sekarang.
“Kal, aku misi ke sana dulu ya, kamu tolong pesenin makanannya ya, aku mau nelepon suamiku dulu,” ucap Shira, langsung pergi begitu saja meninggalkan Jackson dan Kalala di sana.
“Eh, Shir!” Shira terlanjur pergi, ia sudah tidak bisa kemaana-mana lagi. Dan kini, suasana di antara keduanya pun terasa sangat canggung, apalagi jika mengingat kesalah pahaman beberapa hari yang lalu.
Kalala memilih menunduk menunggu antriannya maju.
“Kalala,” ucap Jackson di tengah keheningan mereka berdua di antara sayup-sayup suara orang yang ada di caffe tesebut.
“Hm.” Kalala memebranikan diri untuk mendongak menatap lelaki tampan yang ada di hadapannya.
Kalau boleh jujur, rupa Jackson ini benar-benar sangatlah tampan, selain tampan ia juga memiliki senyum yang manis, wajahnya sungguh teduh jika di pandang, apalagi jika lelaki itu tersenyum menampilkan deretan giginya yang tampak imut, bahkan terlihat ada satu gingsul kecil membuat senyuman lelaki itu semakin menggetarkan hati.
“Oh ya, masalah waktu itu ....” Edwin tampak ragu untuk membahasnya.
Kalala masih setia menunggu kata-kata berikutnya yang akan keluar dari mulut Edwin.
“Masalah ayahku waktu itu ... a-apa kamu ....” Lagi, Jackson seolah tengah berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya, tapi rasa malu dan gengsinya seolah menutupinya.
“Apa?” tanya Kalala setelah sekian detik Jackson tidak melanjutkan ucapannya.
“Em... masalah ayahku waktu itu, apa kamu bisa menolongku?” tanya Jackson menatap penuh harap.
Kalala menautkan kedua alisnya. “Menolong? Maksud kamu?” tanya Kalala heran.
“Bisakah kamu pura-pura jadi calon istriku?” tanya Jackson terpaksa, meski berat sebenarnya ia mengatakan hal ini kepada wanita yang baru dikenalnya itu.
“Apa?!” Kalala tecengang dengan kedua mata yang membeliak sempurna.
“Aku bisa memberikanmu imbalan berapapun jika kau mau—”
“Kalala!” teriak Shira, membuat Kalala menoleh, dan Jackson menghentikan ucapannya.
__ADS_1
“Kalala ayo kemari!” ajak Shira yang berada di ujung sana, melambaikan tangannya memberi kode kepada sahabatnya itu untuk meninggalkan caffe tersebut.
“Maaf, Tuan. Sa-saya harus pergi,” ucap Kalala tidak enak hati, tanpa mengindahkan pertanyaan Jackson sebelumnya.
Jackson termangu, melihat kepergian Kalala setelah perbincangan canggung mereka terjadi.
Jackson menoleh ka arah antrian, yang empat orang lagi adalah gilirannya. Akan tetapi, kini pikirannya tengah berkutat, tidak ada pilihan lain dan ini adalah kesempatan emas baginya, bagaimana pun ia harus bisa membujuk Kalala untuk pura-pura menjadi calon istrinya, dan pada akhirnya Jackson pun memilih untuk mengejar Kalala yang saat itu tengah berjalan bersama Shira menuju ke caffe lain.
“Kalala, Shira! Tunggu!” teriak Jackson dari kejauhan, membuat kedua wanita itu langsung menoleh secara bersamaan.
“Shira, please bantuin aku dong, gimana ini? Dia barusan ngajak aku buat pura-pura jadi calon istrinya,” ucap Kalala memegang lengan Shira dengan erat, sambil melihat Jakcson yang tengah berjalan ke arahnya.
Shira langsung menoleh terkejut. “Serius?” tanya Shira. Kalala buru-buru menganggukkan kepalanya.
“Iya, gimana dong ini?” tanya Kalala tanpa menggerakan bibirnya.
Dan semakin dekat Jackson sampai padanya, semakin berdebar pula jantung Kalala dibuat tak nyaman atas kehadirannya.
“Shira, aku izin ingin berbicara dulu dengan—”
“Suamiku ....” Shira sengaja memotong ucapan Jackson, begitu ia melihat ada Akash dan Edwin yang tengah berjalan ke arahnya.
Jackson dan Kalala pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akash dan Edwin.
Sehira terus melambai-lambaikan tangannya seolah senang melihat kahadiran suaminya itu. Begitu pun dengan Akash, yang senyumannya terkembang di balik masker yang digunakannya, jadi tidak terlihat oleh siapa pun termasuk Shira. Hanya tampak kedua matanya yang sedikit menyipit, menandakan kalau suaminya itu tengah tersenyum ke arahnya.
“Tenang saja, ada Edwin di sini,” ucap Shira kepada Kalala tanpa menggerakan bibirnya.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1