Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Pertukaran Makanan


__ADS_3

“Gimana ini? Apa yang harus aku jawab?” Pikiran Kalala kini tengah sibuk untuk merangkai kata, ia tidak mungkin menolak langsung mentah-mentah tawaran dari Baker, karena ia sangat tahu siapa lelaki tua yang ada di depannya itu, dan seberapa penguasanya lelaki itu.


“Tenanglah, tenanglah, Kalala, atur strategimu. Jangan sampai kamu salah ucap,” batinnya mencoba terus berpikir mencari jawaban yang sekiranya tepat.


“Maaf, Tuan tapi saya mencintai pacar saya yang sekarang.”


“Eh, tidak, tidak, masa iya aku jawabnya begitu. Gimana ya?”


“Maaf, Tuan, tapi saya sudah punya calon suami.”


“Eh, tidak-tidak, Edwin ‘kan belum bilang kalau dia mau jadi suami aku.”


“Duh, terus aku harus jawab apa dong.” Kalala tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia bingung tidak tahu harus menolak dengan jawaban seperti apa. Ia tidak mungkin mengiyakan pertanyaan dari Baker.


Jackson melirik Kalala dengan bimbang. “Apa yang akan dia jawab. Kenapa dari tadi dia diam saja?” batin Jackson.


“Tenang saja, Putri Kalala, Anda tidak perlu menjawabnya sekarang. Biar anak saya yang meyakinkan hati kamu, antara kamu akan menolaknya atau menerimanya,” lanjut Baker, sedikit membuat Kalala bisa bernafas lega.


“Sayang, apa Ayah memang seserius itu kepada Kalala? Ingin menjadikan sahabatku ini sebagai istri dari Jackson?” bisik Shira pada Akash.


Akash mengangguk pelan. “Hm, kamu tahu sendiri bukan, Ayah orang yang seperti apa. Kalau ada sesuatu yang diinginkannya, Ayah pasti akan memperjuangkannya sampai Ayah mendapatkannya,” balas Akash dengan pelan.


“Ya ampun, apa jadinya kalau Kalala benar-benar menjadi menantu di keluarga ini,” batin Shira melirik ke arah Baker dan Jackson secara bergantian.


“Aku sih percaya aja kalau Ayah akan menyayangi menantunya dengan baik. Cuma, aku sangat takut kalau Nyonya Asten yang menjadi mertuanya Kalala, huft ....” Shira jadi teringat akan perkataan Boy, yang bilang kalau Jackson selalu disetir oleh ibunya.


“Ah iya, kemana Nyonya Asten? Kenapa belum kembali juga?” batin Shira, tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak.


Selagi diluput dalam keheningan, tiba-tiba para pelayan datang dari arah pintu mendorong troley yang di atasnya berisi makanan.


Dan Asten pun terlihat muncul di barisan paling belakang para pelayang itu. Kini semua pelayan tengah sibuk menyajikan makanan yang mereka bawa, mulai dari makanan pembuka, makanan berat dan makanan penutup serta minuman dan beberapa camilan.


Asten duduk di kursinya kembali. Matanya melirik sedikit ke arah seorang pelayan yang tengah menyajikan makanan di samping Shira.


Pelayan itu menyimpan puding khusus untuk Shira. “Silakan, Nona, puding coklat dan puding mangga ini, khusus untuk Anda yang sedang hamil,” ucap pelayan tersebut, yang dibalas oleh anggukkan sopan oleh Shira.


“Terima kasih,” ucap Shira.


Asten menyeringai, lalu ia pun kembali fokus akan seorang pelayang yang tengah menyajikan makanan di dekat Jackson.


Kalala yang terpaku melihat banyaknya makanan di atas meja, ia sampai melupakan kalau sejak tadi ia ingin mengabari Edwin soal ibunya Jackson. Untung saja, getaran di handphonenya menyadarkan Kalala.


Buru-buru ia membuka ponselnya, dan terlihat satu notif pesan yang datang dari nomor kekasihnya—Edwin.


Kalala menautkan kedua alisnya saat ia hendak membuka pesan itu, tapi sayang sekali pelayan yang berdiri di samping Jackson secara tidak sengaja menyenggol tangan Kalala, hingga ponsel yang tengah dipegang oleh Kalala pun jatuh ke bawah.


“Ah, maaf Nona, s-saya tidak sengaja,” ucap pelayan tersebut.


Kalala juga sebenarnya tidak enak hati, karena di saat seperti ini seharusnya ia tidak memainkan ponselnya. “T-tidak apa-apa,” ucap Kalala, hendak membungkuk untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di bawah kursinya.


Namun, terlebih dahulu Jackson mengambilkannya. “Ini, sepertinya ponselmu mati,” ucap Jackson.


Kalala menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih, tidak apa-apa, biar nanti saja aku ceknya,” jawab Kalala gugup.


Kini semua mata memandang ke arah Kalala, termasuk Asten yang sepertinya sejak tadi ia mengawasi wanita itu.


“Baiklah, sebelum makan malam dimulai, sebaiknya kita semua berdoa terlebih dahulu,” ucap Baker saat keadaan sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Kalala jadi tidak enak hati, ia melirik ke arah Shira yang duduk di sampingnya. Ingin rasanya ia berbisik kepada Shira, agar makanan antara dirinya dengan Shira ditukar saja.


Sedangkan Jackson, lelaki itu tiba-tiba menyodorkan piringnya kepada Kalala. Membuat semua orang memandang ke arahnya.


“A-ada apa Jackson?” tanya Kalala pelan.


“Tukarkan punyaku dengan punya Shira, dia sedang hamil tidak baik baginya untuk makan steak setengah matang,” ucap Jackson, karena ia sadar, ada sesuatu yang aneh dari gerak gerik ibunya.


“Hah?” Kalala malah cengo, lalu ia menoleh sejenak ke arah Shira.


“Shira, bagaimana?” tanya Kalala pelan.


Akash yang sadar akan kode dari Jackson, ia pun ikut bersuara. “Ambil dan tukar dengan punyamu. Jackson benar, wanita hamil tidak baik makan steak setengah matang. Lebih baik kamu tukar dengan steak milik Jackosn, steak punya dia terlihat lebih matang daripada milikmu,” ucap Akash, langsung mengambil piring milik Shira dan menyodorkannya kepada Kalala, menyuruh Kalala untuk menukarnya.


Dan pertukaran makanan pun terjadi. Baker yang melihatnya ia sedikit merasa heran dengan anak-anaknya itu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka. Namun, Baker tentunya lebih senang melihatnya, karena ternyata Jackson yang terbilang cuek dan tidak peduli, saat ini anak itu tengah menunjukkan perhatiannya sebagai adik ipar dari Shira.


“Ayah sangat bangga melihatmu, Jackson. Kau sekarang bisa lebih perhatian kepada anggota keluargamu,” ucap Baker tiba-tiba.


“Bangga?” batin Jackson. “Really? Ayah menyebutkan kalau dia bangga padaku?” Entah kenapa, pujian yang diberikan oleh Ayahnya barusan benar-benar membuat Jackson merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia rasakan.


Ada haru, sedih dan bahagia. Ia terpaku mematut menatap Ayahnya, dengan kedua netra yang tiba-tiba sudah berkaca-kaca.


“Apa aku tidak salah dengar, Ayah? Ayah bilang kalau Ayah—” Sebelum Jackson melanjutkan ucapannya, Baker memotongnya terlebih dahulu.


“Ya, Ayah bangga karena sekarang jati dirimu lebih terlihat, Ayah senang melihat perubahan di dalam dirimu,” lanjut Baker sambil tersenyum lalu ia pun segera meneguk air putih yang ada di dekatnya.


Jackson terdiam lalu menunduk dan tersenyum begitu lebar. Kalala yang yang berada persis di samping Jackson, ia dapat melihat sebuah haru kebahagiaan yang terpancar di senyuman Jackson.


Bahkan Kalala sedikit speachlees saat melihat ekspresi wajah Jakson yang jauh dari biasanya. Lelaki itu benar-benar tampak tengah berbahagia dengan perasaannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Jackson saat ini, tapi tiba-tiba melihat senyuman manis di bibir Jakcson, Kalala pun sangat senang melihatnya. Terlebih ia sangat tahu kepahitan yang Jackson rasakan, apalagi ia juga pernah melihat tangisan Jackson saat lelaki itu tengah frustrasi dengan masalahnya.


“Ternyata, bahagiamu sangat sederhana ya,” batin Kalala, ikut terharu melihatnya.


Tapi di antara mereka, ada satu orang yang tampak sangat murung, wajahnya ditekuk sejak Jackson menukar makanan tadi. Siapa lagi kalau bukan Asten si nenek sihir.


“Susah-susah aku bersembunyi dan merencakan semuanya, malah anakku sendiri yang menjadi penghancurnya. Kau memang tidak bisa diandalkan, Jackson! Kenapa kau malah menukar makananmu dengan makanan Shira sih! Apa harus seperti ini kau mencari muka di depan Ayahmu?” batin Asten tidak habis pikir kalau rencananya akan gagal begitu saja.


Padahal Asten sudah menyusun semuanya. Tapi, Asten tidak langsung kecewa, karena masih ada yang bisa ia harapkan yaitu, puding mangga dan puding coklat yang sudah ia campur dengan sedikit susu yang berisi obat penggugur kandungan.


Tapi sebenarnya, Asten juga sangat khawatir akan steak yang dimakan oleh anaknya saat ini, karena di dalam steak itu terdapat campuran obat pelancar haid.


“Ah, semoga saja, anakku tidak kenapa-napa. Salah dia juga, kenapa dia malah menukar makanannya dengan makanan punya Shira,” batin Asten.


Lalu setelah semua orang sudah menghabiskan menu utamanya, kini mereka lanjut memakan hidangan penutup yang diantaranya adalah puding dan kue.


Shira mengambil puding coklat yang sejak tadi ia inginkan. Puding coklat dengan lelehan vla  susu di atasnya benar-benar seolah melambai-lambai ingin segera dilahap oleh Shira.


Shira tidak langsung mengambil piring kecil berisi puding cokelat itu. Namun, lagi-lagi ada orang yang menahannya.


“Shira, makan punyaku saja, puding punyamu vla susunya sedikit, tukar denganku saja, bukannya kau suka vla susu yang banyak?” ucap Kalala menyodorkan puding miliknya pada Shira.


Sira menatapnya heran, karena sebenarnya, vla di puding miliknya maupun di puding milik Kalala, hampir sama saja, tidak ada bedanya. Tapi, saat melihat tatapan Kalala, Shira jadi paham akan sesuatu.


“Hm, baiklah.” Shira hendak mengambil pudding cokelat miliknya, namun tiba-tiba suara Asten mengejutkan semua orang yang ada di sana.


“Apakah makan malam ini khusus untuk bertukar makana? Permainan macam apa ini? Dan kau, kenapa kau bilang kalau vla susu punyamu lebih banyak dari miliknya Shira, apa kau ingin merendahkan koki di rumah ini, dengan mengatakan kalau takaran yang disajikannya tidak sama?”


Kini semua mata memandang ke arah Asten. Termasuk Baker, yang terheran-heran dengan sikap istrinya tersebut.

__ADS_1


“Asten, apa yang kau bicarakan?” tanya Baker begitu heran.


Asten menoleh kesal ke arah Baker. “Suamiku, apa kau lupa dengan adab dan peraturan di rumah ini? Bukankah kita seharusnya bisa lebih menghargai apa yang sudah disajikan di meja makan. Lalu kenapa anak-anak ini malah menukar makanannya? Bukankah itu tidak sopan?” tanya Asten.


Akash menilik Asten semakin merasa curiga. Sedangkan Baker, ia hanya bisa mendengus menarik nafasnya pelan. Terheran-heran dengan sikap istrinya.


Akash yang semakin paham soal keadaan ini, ia pun buru-buru memberi kode kepada Kalala dan Shira untuk segera menukar makanannya. Dan mereka pun menurutinya.


“Sudahlah, Asten, tidak apa-apa, dia hanya perhatian kepada Shira saja tidak bermaksud untuk tidak menghargai makanan di sini. Kau tidak perlu menanggapinya dengan seserius ini,” jawab Baker.


Asten tidak memedulikan ucapan suaminya, kedua matanya terlanjur melihat ke arah piring yang sudah di tukar oleh Kalala dan Shira.


“Kalian berdua memang tidak punya adab! Saya dengan suami saya sedang berbicara, kalian malah sibuk menukar makan kalian!” tegas Asten, cukup terlihat emosi.


Jackson yang muak dengan sikap Ibunya, ia akhirnya bangkit dari duduknya, lalu ia pun mengambil piring puding miliknya dan mengacaknya dan menukarnya dengan milik Kalala.


“Pertukaran makanan seperti ini memang sering dilakukan oleh anak-anak seusia kami, Bu. Apalagi, makan malam ini adalah perayaan atas kelulusannya Shira, bukankah itu tidak apa-apa? Lagi pula, ini bukan acara makan malam yang formal,” ucap Jackson langsung duduk kembali di kursinya, lalu melahap puding coklat itu sampai habis.


Kalala dan Asten benar-benar terkejut melihatnya. “Jackson! Hentikan!” seru Asten sedikit panik.


Jackson menatap Ibunya dengan sinis. “Kenapa, Bu? Apa Ibu menginginkan puding milik Shira juga? Apa Ibu ingin mengikuti permainan kami bertukar makanan?” tanya Jackson. Asten semakin murka mendengarnya.


“Hentikan, Jackson. Kau tidak boleh berbuat seperti itu! Makanlah makanan punyamu jangan punya orang lain!”


“Kenapa memangnya? Sama saja kok, punyaku hanya ditukar dengan punya Kalala, dan Kalala akan memakan puding punyaku,” jawab Jackson menyeringai, meski sebenarnya ia juga sedikit takut akan efek daripada kejahatan yang dilakukan ibunya, ia tidak tahu hal apa yang akan menimpanya setelah ia menghabiskan dua macam makanan yang seharusnya Shira makan.


Asten terdiam, ia menatap kedua bola mata Jackson dengan penuh kekesalan.


“Ya Tuhan, semoga saja hal buruk tidak menimpa Jackson. Seharusnya bagian yang puding ini aku yang memakannya, bukan dia,” batin Kalala.


Sementara Akash dan Shira, mereka juga takut akan hal tak terduga yang nantimnya akan menimpa Jackson.


“Bagaimana ini? Kenapa Jackson rela melakukan semua ini?” batin Shira khawatir.


Tiba-tiba, Akash mengeluarkan sebuah obat sachet dari dalam saku jasnya. Obat yang bisa dijadikan sebagai penangkal racun. Ia membukanya pelan, sambil mengawasi semua orang, lalu mengambil orang juice miliknya, ia menyimpannya ke bawah meja, lalu menaburkan obat yang dibawanya itu ke dalam orange juice tersebut.


“Jackson, kalau begitu, minumlah orange juice punyaku ini. Sejak tadi, kau hanya bertukar dengan Shira dan Kalala, belum denganku,” ucap Akash berdiri dari duduknya.


Jackson menoleh heran ke arah saudara tirinya itu. “Kenapa kau ingin bertukar denganku juga?” tanya Jackson heran, menatapnya waspada.


“Tidak apa-apa, bukankah ini akan menjadi lebih baik untuk kita?” Jawaban yang dilontarkan oleh Akash sebenarnya sedikit tidak nyambung, akan tetapi Jackson yang paham kode-kode seperti itu, akhirnya ia pun bangkit dari duduknya dan menukar minumannya dengan minuman milik Akash.


Lalu mereka berdua pun mengadukan kedua gelas mereka yang sudah ditukar, bersulang lalu meneguknya pelan hingga habis.


“Wah, makan malam yang sangat luar biasa!” pekik Baker yang ikut senang melihat kedua anaknya bersulang akur seperti itu.


“Kalau begitu, bisakah kita mengikuti permainan mereka, Asten?” tanya Baker memandang penuh maksud istrinya.


“Hah?” Asten tercengang.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa bantu vote, like dan ramaikan kolom komentarnya ya gengs. Makasih :)


__ADS_2