
Sepanjang perjalan pulang dari Surabaya ke Jakarta, Jackson terus memikirkan soal kekeliruan mengenai kepergian Kalala, yang ternyata ia sadar bahwa dirinya sudah dibohongi.
“Ke mana mereka pergi? Apa mungkin Kalala ikut babymoon dengan Shira dan Akash? Tapi, kemana perginya mereka? Dan kenapa waktu itu harus tengah malam mereka perginya?” gumam Jackson yang kini tengah melamun di dalam mobil.
“Aku harus menemui Edwin hari ini juga, aku juga harus mengecek rumah Akash, aku harus mencari tahu kemana perginya mereka hingga sudah lebih dari seminggu ini mereka tidak ada kabar,” gumamnya.
Tepat pukul 13.00 siang, Jackson sudah sampai di wilayah apartemen yang ditinggali oleh Haru—sekretarisnya.
“Besok, kau boleh libur,” ucap Jackson saat Haru turun dari mobilnya.
“Baik, Tuan. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sini,” jawabnya dengan sopan.
Jackson mengangguk, lalu menutup kaca mobil dan memerintahkan Pak Sopir untuk kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Jackson memandang heran ke area pekarangan rumahnya yang dipenuhi oleh beberapa mobil hitam yang tidak ia kenali.
“Mobil siapa ini? Apa di rumah sedang ada acara ya?” gumamnya begitu ia turun dari mobil.
Netranya masih berkekeliling mengamati setiap plat nomor mobil yang berjajar di halamannya itu.
Tiba-tiba suara keributan terdengar dari dalam rumah. Buru-buru Jakcson melangkahkan kaki panjangnya berlari memasuki rumahnya. Dan saat ia membuka pintu, lalu menoleh ke kiri di mana para tamu berada, ia begitu terkejut saat melihat salah satu bos mafia yang tengah mencengkeram erat kerah kemeja yang digunakan ayahnya.
“Ayah!” teriak Jackson begitu khawatir langsung berlari mendekati Baker. Namun tubuhnya langsung ditahan oleh beberapa lelaki berjas hitam yang menghadang di depannya.
“Maaf, Anda tidak boleh ikut campur masalah ini,” ucap salah satu anak buah bosa mafia itu.
“Beratahu saya sekarang juga di mana anakmu itu, Baker?!” teriak Marvel, salah satu bos mafia organ yang bisa berbahasa Indonesia.
“Aku tidak tahu!” jawab Baker dengan tegas.
Keduanya saling menatap begitu tajam, menilik netra masing-masing dengan gemuruh emosi yang semakin bergejolak di dalam dada.
“Katakan sekarang juga, Baker!!!” teriak Marvel semakin emosi. “Gara-gara anakmu, aku harus merugi raturan milyar!”
“Kau beri tahu dimana keberadaan anakmu, atau aku akan membunuhmu!” ancam Marvel.
Baker hanya diam tidak menjawab, lalu ia tersenyum sinis seolah meledek perkataan Marvel. “Bunuh saja jika kau bisa,” imbuh Baker begitu tegas.
“Hey keparat! Berani-beraninya kau mengancam Ayahku!” teriak Jackson sedetik saat ia mendengar percakapan berat antara bos mafia dengan ayahnya itu.
Marvel melirik tajam ke arah Jackson, perlahan kedua tangan yang meremas erat kerah Baker, ia lepaskan. Membuat Baker bisa kembali bernafas lega.
Namun, saat Marvel hendak beralih mendekati Jackson, tangan Baker menahan lengannya dengan erat, mencengkeramnya dengan penuh tenaga.
Marvel langsung berbalik, meihat lengannya yang tengah dicengkeram erat oleh Baker.
“Jangan libatkan dia. Dia tidak tahu apa-apa soal ini!” tegas Baker.
__ADS_1
“Oh ... jadi, ini anak bungsumu itu?” tanya Marvel sambil menepiskan lengannya dari genggaman Baker. Menatap Jackson dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Ayah! Ada apa ini, Ayah? Kenapa orang-orang ini sangat tidak sopan kepadamu?” tanya Jackson berteriak, masih berusaha untuk lepas dari genggaman dua orang mafia yang mencekal tubuhnya.
“Kau diam saja, Jackson! Urusan ini biar Ayah yang tangani. Kau tidak akan tahu apa-apa soal ini!” imbuh Baker, melirik serius ke arah Jackson.
Mendengar suara Jackson dan nama anaknya disebut-sebut oleh Baker, Asten yang sejak tadi diam di kamar tamu, ia tidak tahan, ia tidak bisa bersembunyi lagi ketika kehadiran anaknya diketahui oleh para mafia itu. Dan ia pun langsung keluar, dan betapa terkejutnya Asten saat melihat anaknya tengah dicekal oleh para mafia itu.
“Jackson!” teriak Asten hsiteris dari balik pintu. Semua orang langsung memandang ke arah Asten.
Kini Asten menjadi pusat perhatian mereka semua.
Baker mendengus kasar, saat tahu istrinya itu malah keluar dari kamar tersebut.
“Sial! Kenapa dia malah keluar,” gumam Baker dalam hati.
Karena jika urusannya sudah seperti ini, pasti yang diseret dan terlibat dengan masalah ini, bukan hanya Baker, tapi Jackson dan juga Asten akan menjadi taruhannya.
Asten berlari mendekati anak kesayangannya itu, ia mencoba melepaskan Jackson dari cekalan dua orang mafia itu.
“Lepaskan anakku! Kalian tidak boleh menyakitinya!” teriak Asten begitu histeris, berusaha menyingkirkan tangan dua pengawal itu dari lengan Jackson.
Jackson juga melepskan diri dair celakan kuat pria bertubuh besar itu. “Lepaskan aku!” seru Jackson menatap tajam kedua manik milik mafia berbadan besar yang masih mencekal lengannya dengan erat.
“Suruh anak buahmu itu melepaskan anakku sekarang juga, Marvel!” tegas Baker memelototkan kedua matanya.
“Lepaskan anakku sekarang juga, Marvel! Dia tidak tahu apa-apa soal ini!” teriak Baker semakin mempertegas ucapannya.
Melihat betapa marahnya Baker saat anaknya itu menjadi pancingannya, otak Marvel jadi semakin berputar. Dan ia sadar, kalau lelaki muda yang bernama Jackson itu, ternyata adalah bagian penting dari Baker. Bisa dilihat dari tadi, sebelum anak itu hadir, Baker menanggapi semua ancaman dan amarahnya dengan senyuman sinis, tapi berbeda saat istri dan anaknya itu yang menjadi incarannya.
“Bawa dia ke mobil,” ucap Marvel kepada anak buahnya itu. Yang dibalas anggukkan sigap oleh kedua lelaki bertubuh besar itu.
“Tidak!” teriak Asten semakin histeris, wanita setengah baya itu menghadang tubuh kedua lelaki berbadan besar itu. Sambil menangis melarang anaknya untuk dibawa oleh mereka.
“Tidak ada yang boleh membawa anakku!” teriaknya semakin menjadi.
Baker yang melihat air mata serta teriakkan istrinya itu, ia semakin tidak tega. Gejolak emosi yang sejak tadi ditahannya, kini harus diluapkannya.
Jika sudah dipancing seperti ini, ia tidak bisa tinggal diam.
“Pengawal!!!” teriak Baker mengeluarkan suaranya yang sangat besar menggelegar dan memekik di telinga semua orang.
Bahkan Marvel sangat tercengang mendengar teriakan luar biasa dari mulut Baker. Lelaki yang saat ini menjadi lawannya.
“Jaga di depan!” lanjutnya berteriak kencang.
Dan breg! Semua pengawal yang sejak tadi diam di titik darurat, semuanya berkumpul dan diam di depan teras rumah, bahkan sebagiannya lagi berjaga di titik pintu-pintu darurat.
__ADS_1
Semua pengawal Baker langsung mengeluarkan pistol revolver dari sakunya masing-masing. Lalu mengarahkannya ke dua orang anak mafia yang hendak menyeret Jackson keluar dari rumah itu.
“Stop!” seru Marvel saat pistol-pistol itu dihadangkan ke anak buahnya.
“Lepaskan Jackson sekarang juga!” teriak Asten masih berusaha, wanita itu terus memaksa agar lenga pria berotot itu melepaskan cekalannya dari lengan Jackson. Jackson pun sama ia berusaha agar dirinya bisa lepas, tapi ternyata tenaganya sangat jauh dari dua pria berbadan besar itu.
“Plan B!” teriak Marvel, yang membuat kening Baker langsung mengerung.
Dan seketika itu pula, salah satu dari anak buah Marvel melepaskan lengan Jackson, namun salah satunya lagi langsung menarik kedua tangan Jakcson ke belakang, dan ia menghadangkan sebuah pisau yang baru ia keluarkan dari sakunya.
Asten yang melihatnya semakin berteriak ketakutan, ia semakin berteriak dan menangis histeris saat leher anaknya dihadang oleh sebuah pisau tajam.
“Tidak!!! Jangan sakiti anakku!” teriaknya dengan tubuh yang terasa lemas dan gemetar.
Baker yang meliaht tindakan dari anak buahnya Marvel ia langsung menarik erat kerah kemeja yang dipakai Marvel.
“Brengsek! Beraninya kau!” serunya penuh penekanan, dengan tangan yang semakin erat mengepal kerah kemeja Marvel dan tangannya yang mulai bergetar karena takut Jackson akan disakiti oleh pisau tajam itu.
“Lepaskan anakku sekarang juga, Marvel! Atau aku akan membunuh kau dan anak buah baji*nganmu itu!” teriaknya semakin emosi.
Marvel malah tersenyum sinis, mengikuti gaya Baker yang tadi sempat menyepelekan ancamannya. “Lakukan saja jika kau bisa,” ucapnya pelan tersenyum sinis, merendahkan.
Seketika itu pula Baker langsung mendorong keras tubuh Marvel, menghempaskannya dengan keras.
“Sialan!” teriaknya, langsung menonjok wajah Marvel sekeras mungkin.
Bugh! Satu kepalan itu melayang tepat di hidung Marvel, membuat hidung Marvel langsung mengeluarkan darah, pun rasa pusing yang menyerang kepalanya.
Dan saat kepalan tangan itu hendak kembali Baker layangkan di wajah Marvel, teriakkan Asten menghentikannya.
“Tidak!!! Jangan bunuh anakku!” teriak Asten saat pisau itu menyentuh sedikit kulit leher Jackson, hingga leher Jackson sedikit mengeluarkan darah.”
Baker yang melihatnya ia begitu shock dan semakin emosi. Ia sudah masuk ke dalam perangkap Marvel.
“Sialan! Beraninya kalian menyentuh Jacksonku!” teriak Baker, melangkahkan kakinya menghampri dua orang itu.
“Satu langkah lagi kau maju, leher anakmu akan putus!” seru Marvel, langsung membuat langkah Baker terhenti seketika itu pula.
.
.
.
Bersambung...
Waduh konfliknya udah mulai ke puncak nih, hayo ada yang bisa tebak, kelanjutannya bakalan gimana? Kira-kira siapa yang akan menjadi korban di novel ini haha?
__ADS_1
Ramaikan kolom komentarnya ya, jangan lupa like dan votenya juga biar author makin semangat nulisnya hehe. Makasih.