
Keadaan jalanan malam ini cukup sepi. Taksi yang membawa Edwin dan juga Kalala, melaju cepat menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, keduanya langsung turun dari taksi tersebut, tidak lupa Kalala memberikan beberpa lembar uang kepada sopir taksi tersebut, lalu mereka pun langsung masuk ke ruang unit gawat darurat (UGD).
“Dok, tolong bantu teman saya, Dok, matanya kena sambel, Dok,” ucap Kalala begitu panik, kepada Dokter yang melewat di sana, baru memeriksa pasien lainnya.
“Baiklah, mari ikut saya,” ajak Dokter tersebut.
Kalala pun menuntun Edwin memasuki ruang khusus pemeriksaan yang ada di dekat ruang labolatorium.
Setelah di cek semuanya, Dokter pun meresepkan beberapa obat dan salep untuk Edwin. Serta dokter pun tadi sudah meneteskan obat ke mata kanan Edwin yang terkena semprotan sambel itu.
“Sudah tidak apa-apa, mungkin untuk beberapa jam ini, mata Tuan akan sedikit terasa panas dan sakit, serta akan mengeluarkan air mata yang berlebih. Tapi itu semua tidak akan beresiko besar, cukup istirahatkan saja, dan jangan lupa diminum obatnya ya, dalam dua hari juga akan normal kembali,” ucap Sang Dokter sambil tersenyum.
“Syukurlah, makasih ya, Dok,” ucap Kalala penuh syukur kepada Dokter tersebut. Karena sebelumnya, Kalala begitu panik, ia takut kalau Edwin akan buta karenanya. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan dari dokter, Kalala sedikit bisa bernafas lega, meski rasa bersalah pada Edwin masih menyelimuti hati dan pikirannya.
“Iya, semoga suami Nyonya cepat sembuh ya,” ucap Dokter tersebut.
Kalala sejenak terpaku mendengarnya. “Ah, sudahlah, tidak perlu disangkal, lagi pula tidak penting ini,” batinnya, lalu segera membawa Edwin keluar dari ruangan tersebut.
“Kamu tunggulah di sini, aku akan menyerahkan kertas obat ini ke bagian Farmasi dulu,” ucap Kalala setelah membantu Edwin untuk duduk di kursi tunggu.
Edwin mengangguk. “Hm, cepatlah, aku ingin segera pulang,” ucapnya.
Kalala langsung berlari, menyerahkan resep itu kebagian farmasi. Lalu menyerahkan nota pembayaran ke bagian kasir. Dan setelah selama 10 menit, dan nama Edwin pun kembali dipanggil, buru-buru, Kalala kembali menghampiri loket pengambilan obat.
Setelah menerima obatnya, Kalala kembali menghampiri Edwin yang masih setia duduk menunggunya di tempat tadi.
“Sudah, ayo kita pulang,” ajak Kalala.
Kalala memapah Edwin, membawanya keluar dari rumah sakit tersebut. Dan di depan jalan raya, mereka pun berdiri untuk mencegat taksi. Namun, setelah 10 menit menunggu, taksi kosong tidak kunjung melewat, yang melewat hanya taksi-taksi yang sudah berisi penumpang.
“Pesan taksi online saja,” titah Edwin.
“Baiklah.” Kalala merogoh sling bagnya, akan tetapi ponselnya tidak ada.
“T-tapi, Tuan. Ponselku tertinggal di rumah Shira, aku tida—”
“Pakai ponselku,” ucap Edwin memotong perkataan Kalala, sambil menyerahkan ponsel yang baru ia keluarkan dari saku celananya kepada Kalala.
Kalala mengambil alih dengan hati-hati. Lalu ia pun menghidupkannya.
“T-tapi, passwordnya, Tuan?”
“741414.”
Kalala pun menekan tombol pin sesuai arahan Edwin. Lalu ia pun segera mencari aplikasi taksi onlen. Dan setelah memesannya, ia pun mengembalikannya kepada Edwin.
Hening ....
Kalala masih begitu tidak enak hati kepada Edwin, mengingat kejadian satu jam lalu yang benar-benar membuatnya merasa bersalah.
Jadi saat Edwin dan Kalala tengah asyik menikmati bakso itu. Kalala baru teringat, kalau ia belum menuangkan sambel ke baksonya. Kalala pun mengambilnya di meja bar, dan ternyata benar, satu kantung kecil sambel masih tersimpan di sana.
Ia pun kembali ke meja makannya. Lalu menggigit ujung kantong sambel tersebut, hendak menuangkannya ke mangkuknya.
__ADS_1
“Tuan Edwin, kau mau?” tanya Kalala, setelah ia berhasil menuangkan sedikit sambel ke mangkuknya.
Edwin menatapnya sejenak. “Emh, boleh. Kemarikan,” ucapnya.
“Tidak apa-apa, biar aku saja,” sangkal Kalala. Lalu ia pun mencondongkan tubuhnya ke arah mangkuk Edwin.
Lalu memencet kantung sambel tersebut dengan pelan. Tapi sambel tidak juga keluar, karena tertahan oleh biji cabai di bagian lubangnya. Ia pun kembali memencet kantung sambel tersebut dengan kuat, namun siapa sangka, sebuah kecelakaan kecil pun terjadi pada lelaki yang ada di depannya.
Bukannya tertuang ke mangkuk, tapi sambel itu malah nyemport ke mata kanan Edwin, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan dan berlari menuju wasbak untuk membasuk matanya.
“Ya ampun, Tuan Edwin, maaf, aku tidak sengaja,” ucap Kalala mengejar Edwin yang tengah membungkukan kepalanya di depan wasbak.
“Ah, mataku ....” Edwin masih meringis kesakitan.
Kalala jadi serba salah, ia bingung harus melakukan apa. Ia hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tuan, ki-kita kerumah sakit saja ya.”
***
Kalala dan Edwin sudah sampai di kediaman, Akash. Shira dan Akash sudah menanti mereka di ruang tengah.
“Gimana? Kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Akash cukup panik, karena bagaimana pun, jikalau sesuatu terjadi pada sekretarisnya itu, kemungkinan sebagian pekerjaannya pun akan terhambat.
“Baik-baik saja, Tuan. Hanya sedikit perih saja,” jawab Edwin, sok tegar, padahal matanya kini masih merasakan sakit dan panas yang luar biasa.
“Syukurlah, kalau begitu, kau tidurlah di sini, dan biar Kalala yang menemani dan merawatmu,” ucap Akash dengan entengnya.
“A-aku?” tanya Kalala gugup.
“Ya iyalah, kau! Kalau bukan kau, siapa lagi. Kau juga ‘kan yang menyebabkan Edwin seperti itu.” Akash berbicara sedikit kasar.
Kalala hanya bisa menunduk, mengakui kesalahannya. “Hm, baiklah, Tuan. Saya akan menemani dan merawatnya,” jawab Kalala tidak bisa menolak.
Kalala dan Edwin kini sudah berada di kamar khusus yang sering ditempati Edwin sebelumnya, atau bisa dibilang kamar nomor 3.
Edwin merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, masih memegangi sebelah tangannya dengan di tutup oleh tisu. Karena sampai saat ini pun, matanya masih mengeluarkan air mata.
“Tuan Edwin, apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Kalala pelan, mendekati.
“Berikan obatnya,” ucap Edwin yang masih terbaring, menghadap langit-langit kamar.
Kalala pun mengambil tasnya dan mengeluarkan obat milik Edwin. Lalu, ia juga menuangkan air dari dalam dispenser yang tersedia di sana.
“Ini, Tuan.”
Edwin bangun, lalu meraih segelas air yang diberikan Kalala padanya. Dan segera meminum obat yang sudah dibukakan oleh Kalala, meneguknya hingga habis.
“Mana salepnya?” tanya Edwin setelah ia menaruh gelas itu ke atas nakas.
“Untuk salep dan obat tetesnya, sama saya saja Tuan,” ucap Kalala menawarkan.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolaknya.
“Tidak, Tuan. Biar saya saja, akan susah kalau Tuan Edwin yang netesin sendiri ke mata, Tuan.”
__ADS_1
Edwin berpikir sejenak, ucapan gadis yang ada di sampingnya itu ada benarnya juga. “Ya, sudah, cepat,” titahnya.
Edwin menengadahkan wajahnya ke atas, mengangkat kepalanya menatap langit-langit kamar.
“Tu-Tuan, apa sebaiknya Tuan berbaring saja, biar lebih mudah saja,” ucap Kalala.
Lagi, Edwin hanya bisa berpasrah. Ia pun kembali membaringkan tubuhnya di tengah ranjang. Lalu Kalala pun duduk di tepi ranjang, tepat di samping Edwin.
Meski jantung Kalala kini sudah tidak stabil, berdebar kencang tidak karuan, akan tetapi bagaimana pun ia harus tetap bertanggung jawab, karena yang membuat lelaki yang ada di sampingnya seperti itu, tidak lain adalah karena ulahnya sendiri.
Kalala membuka penutup obat tetes itu, sementara Edwin, pria itu sudah bersiap untuk diobati oleh Kalala.
“Ya ampun, jantung, tolong kondisikan dong, jangan deg-deg-an gini,” batin Kalala.
Perlahan Kalala pun mulai mendekat, wajah antara dirinya dengan wajah Edwin cukuplah terlihat sangat dekat.
“Tu-Tuan, buka matanya,” ucap Kalala pelan mulai mendekatkan obat tetes itu ke arah mata Edwin.
Edwin pun membukanya, ia cukup terhenyak saat melihat wajah Kalala yang cukup dekat dengannya. Dan tiba-tiba, jantung Edwin pun berdebar kencang.
Kalala mencoba membuka sebelah mata Edwin yang sulit terbuka itu. “Tu-Tuan, buka pelan-pelan ya,” ucapnya sangat pelan.
Edwin hanya bisa pasrah, ditambah dengan jantung dan hatinya yang semakin kalut tidak karuan, antara canggung, senang dan gengsi, semua bercampur aduk menjadi satu.
Keadaan pun semakin terasa semakin akward, apalagi saat Kalala mulai menyentuh dan membuka matanya. Edwin merasakan tetesan air itu jatuh ke dalam netranya. Ia ingin mengaduh karena merasakan sakit yang cukup perih, tapi itu tidak mungkin ia lakukan jika jarak diantara mereka sangat sedekat ini.
Kalala yang terkejut melihat air mata Edwin semakin banyak keluar dari mata kanannya itu, buru-buru ia mengambil tisu dan menghapus air mata itu dari wajah Edwin secara pelan. Setelahnya ia pun mengoleskan salep dingin yang membuat mata Edwin cukup lengket tapi terasa adem.
“Sudah. Tuan bisa beristirahat sekarang,” ucap Kalala dengan kedua pipi yang tampak bersemu kemerahan.
Kalala pun langsung berdiri, namun tiba-tiba, Edwin menarik tangannya.
Dan saat merasakan sentuhan di tangannya, jantungnya pun semakin berdisko kencang. Terasa jedak-jeduk yang semakin dahsyat.
“Apa ini? Kenapa dia menahan tanganku?” batin Kalala deg-degan tidak karuan.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1