Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Obati Saja Sendiri


__ADS_3

Silakan baca dulu bab sebelumnya ya, soalnya kemarin author update double naskah. Maaf ya, hehe....


****


Kalala baru saja keluar dari kamar Shira, setelah Tessa meminta Kalala untuk menelepon dokter. Dan setelah menelepon dokter di ruang tengah, Kalala melihat seorang pelayan yang hendak mengantarkan sarapan ke kamar Edwin. Ia pun buru-buru mendekati pelayan tersebut.


"Mbak, sarapan buat Tuan Edwin 'kan?" tanyanya. Pelayan itu pun mengangguk mengiyakan.


"Kemari, biar saya saja yang mengantarkan, sekalian saya mau mengobatinya," ucap Kalala. Pelayan itu pun menyerahkan baki yang berisi sup ayam serta satu gelas air minum kepada Kalala.


Setelahnya, Kalala pun bergeges pergi ke kamar Edwin untuk mengantarkan sarapan tersebut. Setidaknya dengan adanya sarapan ini, ia tidak akan terlalu canggung datang untuk mengobatinya.


Langkah Kalala terhenti di depan pintu. Jantungnya kembali tidak terkontrol, dengan perasaan yang berubah kalut tidak karuan.


Ia melipat bibirnya ke dalam, menarik nafas panjang mengatur pikiran dan perasaannya agar tetap tenang dan tampak biasa saja.


“Oke, tenanglah Kalala, santai saja....” Setelah meyakinkan diri, ia pun mengetuk pintu kamar, namun tidak ada sahutan dari dalam.


Perlahan Kalala pun memutar gagang pintunya, dan ternyata pintu tidak ditutup. Kalala pun melonggokkan kepalanya ke dalam kamar, melihat ke sekitar, begitu sepi tidak ada siapa-siapa.


“Kemana dia?” gumamnya. Ia pun masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu perlahan. Menyimpan nampan berisi satu piring sup ayam serta ai minum.


“Kau sedang apa?” Tiba-tiba suara Edwin mengejutkannya.


Kalala langsung berbalik, dan betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang ada di depannya.


Dada bidang, serta perut bergaris seperti roti sobek, rambut hitam yang terlihat basah, pun handuk putih yang melilit di pinggangnya.


“Astaga!” Kalala langsung berbalik, membelakangi Edwin.


Blush! Kedua pipi Kalala bersemu kemerahan bagaikan tomat, jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Ia mengepal rok pendek yang digunakannya, menahan dirinya agar tidak nervouse.


“Kenapa membelakangiku? Apa kau guggup melihat penampilanku?” tanya Edwin seolah meremehkan.


“Sial! Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu.”

__ADS_1


“Tidak! Siapa yang gugup, saya hanya menghargai privasi Anda saja, Tuan.”


“Privasi?” Ia menyunggingkan sudut bibirnya. “Privasi tapi masuk kamar orang kok sembarangan,” jawab Edwin sambil meraih kaos hitam yang ada di tepi ranjang.


Sudut mata Kalala masih dapat menangkap bayangan tubuh Edwin, ia pun merubah posisi tubuhnya, sebisa mungkin agar tidak melihat Edwin.


“Maaf, sebelumnya saya sudah mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada sahutan. Saya kiran, Tuan sedang berada di luar kamar.”


“Masa?” balasnya.


Kalala berdecak kesal, ia paling tidak suka, saat ia berkata jujur, tapi orang meragukannya. Kalal pun berbalik, dan saat berbalik, ia pun tersentak langsung memundurkan tubuhnya, karena Edwin sudah tepat berada satu langkah di depannya.


“Aish! Bisa gak sih enggak usah deket-deket!” gerutu Kalala kesal, sambil mencebikkan bibir imutnya.


Jantungnya semakin berdebar kencang, saat melihat tampilan Edwin yang hanya mengenakan kaos oblong hitam, serta bokser pendek satu jengkal di atas lutut. Dan yang lebih parah dan semakin membuat jantung Kalala hampir copot dari tempatnya yaitu, saat ia melihat Edwin tengah mengacak rambut basahnya menggunakan handuk kecil, menatapnya dengan santai seolah tidak ada dosa. Sungguh, tampilan Edwin yang seperti ini membuat perasaan Kalala jadi kalut tidak karuan. Antara, malu, resah dan gelisah semua bercampur aduk menjadi satu.


Edwin hanya tersenyum simpul, tidak menjawab ucapan Kalala.


“Nih.” Ia melemparkan handuk kecil itu kepada gadis polos yang ada di depannya.


“Ayo, obati mataku,” ucapnya berbalik langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Kalala merasa ragu, jantung dan perasaannya kini sedang tidak aman.


“Tidak, aku tidak bisa jika nervouse seperti ini,” batinnya.


Edwin kembali melirik Kalala. “Kenapa masih diam di situ? Cepat, obati aku,” titahnya.


Kalala yang tampak kebingungan pun ia hanya mengangguk pelan, lalu menggantungkan terlebih dahulu handuk basah itu ke hanger yang ada di dekat pintu kamar mandi.


“Sungguh sangat terlihat sekali,” batin Edwin kembali menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


Kalala pun mendekati Edwin, ia meraih obat yang ada di atas nakas, lalu mendudukan tubuhnya di samping Edwin.


“Ngobatinnya pelan-pelan,” ucap Edwin pelan.

__ADS_1


Namun, keraguan di dalam hati Kalala semakin terasa. Apalagi saat lelaki yang ada di sampingnya itu mempermasalahkan wajahnya.


“Kenapa wajahmu, kok merah begitu?” tanya Edwin sengaja.


“Siapa? Wajahku enggak merah kok,” sangkal Kalala, semakin gugup dan salah tingkah.


“Apa kau nervouse karena akan mengobatiku?” tanyanya seolah memancing.


Kalala langsung membeliakakan kedua matanya. “Dih apaan! Enggak! Ngapain aku nervouse ngobatin kamu!"


"Terus?"


Entah kenapa, bawaan Kalala kalau ada di dekat Edwin selalu saja ada bibit-bibit emosi. "Udah ah, kamu obatin aja matamu sendiri!” seru Kalala, mencebik kesal, seraya menyimpan kembali obat itu ke atas nakas, langsung berdiri hendak meninggalkan Edwin sendirian.


Namun, lagi-lagi tangan Edwin lebih cepat menahannya pergelangan tangan Kalala.


“Tunggu!”


.


.


.


Bersambung...


Duh Bang Edwin main tunggu-tunggu mulu, haha.


Lanjut enggak nih?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2