Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Kenangan Memalukan


__ADS_3

Tepat pukul 10.00 pagi waktu Paris. Shira dan Akash kini tengah menikmati indahnya berjalan di atas lantai kaca, dengan  ketinggian 57 meter, berada di lantai pertama menara Eifel.


Setelah kejadian semalam yang membuat Shira uring-uringan dan Akash tidak mendapatkan jatah kelonan. Akhirnya pagi ini, setelah makan bersama di hotel, Akash mengajak istrinya itu berkeliling menikmati keindahan menara Eifel di kota Paris.


“Bagaimana, apa kau suka?” tanya Akash, yang berjalan beriringan, menggandeng Shira yang sepertinya tengah was-was ketakutan berjalan di lantai kaca itu.


“Hm, aku sangat-sangat suka, Akash, hanya saja, aku takut untuk melihat ke bawah sana, terlalu menakutkan,” ucapnya memeluk lengan Akash seerat mungkin, karena jika sampai lengannya itu terlepas, bisa-bisa lututnya tremor.


Akash tersenyum mendengarnya. Kini wanitanya itu sudah tidak lagi bersikap dingin padanya. Padahal semalam, sikap Shira benar-benar jauh dari biasanya, dan sampai sekarang pun Akash tidak tahu menahu, alasan istirnya itu hingga bisa bersikap seperti itu padanya.


Mereka terus berjalan mengitari lantai kaca itu, Akash juga dapat melihat dengan jelas, orang-orang yang berlalu lalang di kolong menara Eilfel itu, tampak terlihat seukuran anak-anak kucing, sangat terlihat kecil saking jauhnya jarak pandangnya ke bawah sana.


“Lihatlah ke bawah sana Shira. Orang-orang jadi seperti kerdil, kecil-kecil sekali,” ucap Akash.


Namun, Shira yang memang penakut akan ketinggian, ia tidak berani, ia lebih memilih untuk menatap ke atar atau lurus ke depan, asal tidak melihat ke bawah.


“Tidak, aku tidak mau melihatnya.”


“Kamu ini, untuk apa jauh-jauh naik ke sini kalau kamu gak bisa menikmati pemandangan di bawah sana.”


“Tapi, aku takut, Akash ....” Shira mendongakkan wajahnya dengan gemas ke arah Akash.


Akash yang memang memiliki sifat jahil, ia pun tersenyum mesem, dan tiba-tiba Akash melepaskan pelukan Shira dari lengannya dan berlari kecil sedikit menjauh dari istrinya tersebut.


Seketika itu pula, tubuh Shira terasa melemas, lututnya seolah tidak kuat menopang tubuhnya. Ia menjerit memanggil nama suaminya itu karena saking keatkutannya.


“Akash!” Ia memejamkan matanya sambil merengek seolah ingin menanngis. Tapi tentu saja ia tidak mungkin nangis layaknya seperti anak kecil, di tempat itu terlalu banyak orang, jadi tidak mungkin ia melakukannya, meskipun rasa takutnya kini tengah memuncak parah.


Akash terbahak melihat istrinya yang tengah ketakutan tersebut. Bukannya segera di bantu untuk menenangkannya, Akash masih berdiri dua meter di depan Shira.


Dan Shira yang begitu gugup, akhirnya ia pun menunduk ke bawah, dan saat melihat betapa tingginya jarak ia berdiri saat ini, kakinya langsung bergetar.


Dan saat ada seorang lelaki yang entah siapa itu lewat tepat di sampingnya, tanpa rasa malu, Shira langsung memeluk lengan lelaki itu, memohon bantuan pada lelaki asing tersebut sambil memejamkan mata, karena begitu takut.


“Please, help me!” rengeknya.


Dan seketika itu pula, lelaki bule yang memang orang asli Paris, itu terkejut dengan pelukan yang ia dapat dari wanita yang tidak dikenalnya itu.


Lelaki bule itu pun memegang kedua bahu Shira, mencoba menenangkannya meski sebenarnya ia juga merasa seidkit bingung.


Akash yang melihat lelaki itu menyentuh Shira, ia sadar kalau istrinya itu sudah melanggar peraturan keluarganya. Ia ingat, kalau menantu di keluarganya dilarang bersentuhan dengan lelaki lain selain dirinya.


“Shira!” Akash pun mendekat dan menyingkirkan lelaki itu dari pelukan Shira. Shira yang masih memejamkan matanya, ia langsung beralih memeluk Akash dengan erat.


“Sorry, She is my wife,” ucap Akash pada lelaki bule tersebut.


Lelaki itu pun menjawab. “Oh, okay.” Dan pergi melanjutkan langkahnya untuk bergegas naik ke lantai selanjutnya.


“Shira, kenapa kamu malah memeluk lelaki tadi?! Kau lupa akan peraturan keluaraga kita?” seru Aksah karena tidak suka.


Shira langsung membuka matanya, kini tatapannya tampak begitu serius dan tajam. “Peraturan-peraturan! Kau sendiri yang meninggalkanku sendirian di tenagh-tengah ini. Kalau kau tidak meninggalkanku seperti tadi, tidak mungkin juga aku memeluk lelaki asing itu! Lagi pula aku terpaksa melakukannya. Kau juga sih, kenapa kau malah menakut-nakutiku! Dasar suami macam apa kau ini, bisanya menyalahkan! Huh dasar menyebalkan!” cerocos Shira yang berkata tanpa jeda sedikit pun.


Akash tercenung mendengarnya. Ia juga seharusnya tidak melakukan hal itu kepada Shira. Ia juga sadar, kalau ia melupakan kewajibannya untuk menjaga Shira agar tidak melakukan pelanggaran aturan keluarga. Ia pun hanya bisa meringis.


“I-iya, baiklah, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Akash meminta maaf.


Dan kencan romantis pun kini berubah jadi kencan yang terasa canggung gara-gara kejadian tersebut. Jujur saja, Shira paling tidak suka jika dirinya dijahili seperti tadi, karena jahilnya Akash tadi itu, sudah termasuk mengganggu ke detak jantungnya yang terasa hampir mau copot dari tempatnya saking takutnya.


***


Dan kini, mereka sudah naik ke atas menara, di lantai paling ujung, setinggi 324 meter dari atas permukaan tanah. Tentu saja di puncak menara Eilfel ini, Shira dan Akash semakin dibuat terpesona dengan keindahannya, yang memannjakan kedua mata mereka, sekaligus bisa menikmati indahnya Kota Paris seluas 360 derajad, dengan pemandangan indah yang menampilkan 28 kawasan ternama di Paris.


“Akash, aku mau foto di sini,” ucap Shira, mengeluarkan ponselnya meminta Akash untuk memotret dirinya.

__ADS_1


“Oke, boleh.” Akash mengambil ponsel itu dari tangan Shira.


“Baiklah, ayo bergaya,” ucap Akash, sedang memposisikan handphone Shira dengan posisi terbaik.


“Satu, dua, tiga.” Cekrek!


Shira yang tampak sangat bahagia itu, ia bergaya dengan pose yang berbeda-beda beberapa kali. Dan Akash memfotonya juga dengan senang hati.


Sementara itu, di sisi lain, Beni dan Bella yang sejak tadi mengawasi mereka dari jarak lima meter, mereka hanya bisa bisik-bisik saja melihat tingkah laku dari Tuan dan Nyonya mudanya itu.


“Tuan Ben, apa tidak sebaiknya kita menawarkan diri untuk mempotret mereka,” bisik Bella pada Beni.


“Hm, boleh saja sih, tapi lebih baik, kau saja lah yang menawarkannya, aku tidak ingin mengganggu kesenangan mereka.”


“Kira-kira, kalau aku menawarkan diri untuk memotret mereka, Tuan Muda akan marah enggak ya?”


Beni terdiam masih memandangi tuan dan nyonyanya itu. “Sepertinya tidak akan. Malah, sepertinya akan jadi lebih baik. Karena aku lihat mereka dari tadi, tidak pernah berfoto.”


“Hm, benar juga ya. Ya sudah, ayo antar aku mendekati mereka,” ucap Bella menarik lengan bodyguarad itu dan kini mereka pun sudah berdiri satu meter di belakang Akash.


Akash menoleh ke belakang saat tahu kalau pelayan dan pengawalnya itu mendekatinya.


“Ada apa?” tanya Akash. Shira juga ikut berhenti dari gaya posenya, lalu mendekat ke arah mereka.


“Maaf, Tuan jika saya lancang. Tapi, jika Tuan dan Nyonya mengizinkan, biar saya bantu untuk memotret kalian di sini,” ucap Bella menawarkan diri.


“Benar, Tuan. Barangkali Tuan dan Nyonya mau mengambil foto untuk kenang-kenangan bulan madu kalian, biar kami yang bantu ambilkan fotonya,” ucap Beni membantu menawarkan.


Shira sebenarnya merasa tidak enak hati. “Emh, tidak apa-apa, lagi pula—”


“Boleh, ayo!” Belum sempat Shira menyelesaikan ucapannya, Akash memotongnya terlebih dahulu. Dan langsung merangkul Shira mengajaknya untuk berpose di salah satu spot foto yang cukup bagus.


“Ini, kalian foto kami menggunakan ponselku saja,” ucap Akash, mengeluarkan ponselnya yang paling anti di berikan kepada orang lain selain kepada Edwin.


Beni tahu, ia harus hati-hati dan teliti dalam menggunakan ponsel tuannya ini.


“Tuan, tapi passwordnya?” tanya Beni dengan sopan.


“Ponselku tidak memakai password, lagi pula, tidak ada yang berani menyentuhnya kecuali aku sendiri,” jawab Akash menjelaskan.


Dan benar saja, saat  Beni menghidupkan ponsel tersebut, tidak perlu memakai pin atau pun password lainnya. Dan kini Beni pun memulai untuk memotret mereka berdua.


Bella masih mengawasinya, memerhatikan angel foto bagus yang diposisikan oleh Beni.


“Tuan Beni, sepertinya ada yang sedikit kurang bagus,” bisik Bella.


“Apa?” tanya Beni menoleh.


“Lihat lah, jarak foto antara Tuan Muda dengan Nona Muda sedikit renggang, seperti tidak ada keharmonisan,” bisik Bella memberi tahu.


“Ah, sudahlah, meungkin mereka malu berpose terlalu intin di depan kita,” jawab Beni.


Bella si perfeksionis, itu ternyata tidak tahan jika melihat sesuatu yang menurutnya kurang srek atau kurang rapi. Dan pada akhirnya, Bella pun angkat bicara.


“Tuan, maaf. Tapi, bisakah Tuan dan Nyonya lebih dekat lagi? Di foto ini tampak ada celah renggang di antara kalian,” ucap Bella dengan sopan.


Kedua mata Shira langsung membeliak mendengarnya. Dan saat mendengar arahan dari Bella, Akash langsung merangkul Shira ke dalam dekapan tubuhnya.


Shira sebenarnya kurang nyaman, jika harus bersikap seintim ini di tempat umum, apalagi di depan pelayan dan pengawalnya.


“Akash jangan terlalu dekat, aku malu dilihat mereka,” bisik Shira kepada Akash.


“Jangan banyak protes, sudah senyum sana liat kamera,” balas Akash berbicara tanpa menggerakan bibirnya.

__ADS_1


Kini Beni pun berhasil mengambil beberapa potret foto majikannya itu dengan berbagai pose yang cukup bagus dari pada sebelumnya.


“Hm, sepertinya kurang sweet deh,” ucap Bella di dekat Beni.


“Apalagi?” tanya Beni tidak enak hati.


Bella pun kembali mengarahkan tuan dan nyonya-nya itu dengan sopan dan hati-hati. Bella menyuruh agar Akash dan Shira berhadapan saling berpegangan tangan.


Akash menuruti arahan dari Bella, sementara Shira, sepertinya wanita itu ingin segera mengakhiri kegiatan foto-foto ini.


“Oke, satu, dua, tiga.”


Cekrek! Foto berhasil diambil.


“Oke, terakhir, boleh ganti gaya, satu, dua tiga.”


Cup, Akash mencium bibir Shira begitu saja, saat di hitungan ke tiga. Membuat Beni dan Bella yang tengah fokus ke arah ponsel untuk memotret mereka langsung terkejut bukan main melihatnya.


Bahkan Beni pun,, hampir saja menjatuhkan ponsel di tangannya itu.


“Akash!” Buru-buru Shira memundurkan tubuhnya menjauh dari Akash, langsung menunduk malu dengan wajah yang sudah bersemu kemerahan.


Keadaan di antara mereka berempat tiba-tiba terasa semakin canggung. Beni buru-buru menyerahkan ponsel itu kepada Akash.


Akash pun segera melihat hasil-hasil fotonya itu, dan sepanjang ia melihat foto-foto itu, bibirnya tidak pernah surut. Terus mengembang menebarkan pesona senyuman manisnya.


Ia pun mengklik foto terakhir, saat ia berpose mencium bibir Shira sambil memegang tangan istirnya itu dengan sebegitu romantisnya.


“Aku akan menjadikan foto ini sebagai wallpaperku,” ucapnya, langsung di setel sebagai tampilan wallpaper dan layar kunci di ponselnya.


“Ternyata, Tuan kita bisa sebucin itu ya sama istrinya,” bisik Bella di dekat daun telinga Beni.


“Kau ini, terus saja berkomentar! Biarkan saja, mereka kan suami istri,” jawab Beni dengan dingin.


“Duh, jadi pengen juga di sun kayak begitu, hihi.”


“Heh! Kau ini. Jaga sikapmu, kita disini sedang mengawal mereka.”


Bella berdecak kesal, sambil melirik sinis kepada lelaki yang berdiri di sampingnya. “Ish, baper dikit engga apa-apa kali!” cetusnya sambil sedikit menyenggol bahu Beni dengan bahunya.


“Ya Tuhan, harus aku taruh di mana wajahku ini. Bisa-bisanya dia menciumku di tempat umum seperti ini. Mana dilihat sama mereka berdua lagi,” gumam Shira dalam hati, menggelengkan kepala sambil memijitnya padahal tidak pusing.


“Ya sudah,  ayo kita mau berfoto di mana lagi?” ajak Akash dengan penuh semangat.


“Emh, kita pulang saja, Akash. Sepertinya aku kecapekan, aku ingin beristirahat,” ucap Shira, padahal yang sebenarnya ia tengah dirundung rasa malu dan canggung. Ingin rasanya ia menghilang saat itu juga, tapi sayang, dia bukanlah jin iprit yang bisa menghilang kapan saja.


“Loh, bukannya kamu bilang mau keliling ke—”


“Sudah, sudah, ayo kita pulang saja,” jawab Shira menarik lengan Akash menuntunnya untuk pulang.


“Aneh! Nanti sampai di hotel ngerengek lagi mau ke luar,” batin Akash menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran wanitanya itu.


Bersambung...


Jangan lupa bantu vote dan ramaikan like serta kolom komennya ya. Author sayanggggggg kalian, hehe.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2