Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Kekecewaan Terdalam Bagi Jackson


__ADS_3

“Argh! Sialan!”


Prang!


Semua benda yang ada di atas meja hias, disapu oleh habis oleh kedua tangan Jackson hingga barang-barang antik itu terjatuh dan sebagian pecah berserakan di lantai.


Sepagi ini, dan baru bangun dari tidurnya, Jackson harus menerima kabar tidak mengenakan. Darah di dalam tubuh lelaki itu seolah langsung naik bergejolak.


“Dasar, anak tidak becus! Bagaimana bisa dia kehilangan Akash dan Shira di hotel itu,” teriaknya penuh amarah.


“Dan kemana menghilangnya mereka! Argh!” Kedua mata Jackson seolah menampilkan api membara, ia begitu murka atas berita yang baru saja ia terima dari anak buahnya yang bernama Boy.


“Tidak! ... Tidak mungkin mereka berpindah tempat dari apa yang sudah aku sediakan untuknya,” ucapnya tidak ingin berburuk sangka. Ia berpikir berbagai macam kemungkinan, jika mereka benar-benar pindah dari hotel yang sudah ia pesankan.


Lalu, kenapa di hotel itu yang check in adalah anggota keluarga Atkinson. “Jadi, siapa yang menempati kamar itu?” gumamnya bingung. Ia pun mengacak rambutnya merasa frustrasi.


“Aku harus menanyakan ini kepada ayah. Ayah juga pasti akan marah kalau sampai tahu Akash dan Shira tidak ada di hotel yang sudah di pesannya.”


Buru-buru Jakcson melangkah pergi untuk membukakan pintu kamarnya. Namun, saat ia berhasil membuka pintu kamar miliknya, tiba-tiba Baker sudah mematung di hadapannya.


Kedua mata Jackson langsung membeliak, terkejut melihat kehadiran ayahnya di sana.


“A-Ayah,” ucapnya gugup.


Baker sejenak melihat ke belakang Jackson, di mana di kamarnya itu banyak sekali barang-barang hancur yang berserakan di lantai marmer itu.


Lalu, kembali Baker memfokuskan tatapannya kepada anak bungsunya itu.


“Sialan! Mati aku kalau Ayah sampai bertanya soal barang-barang yang pecah itu,” batin Jackson menunduk sedikit ketakutan.


“Kenapa?” tanya Baker dengan tatapan dingin sekaligus serius.


Jackson mendongak pelan. “Maaf Ayah, aku membuat keributan sepagi ini,” ucapnya tanpa menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.


“Ayah tanya, kenapa?!” tegasnya kembali mengajukan pertanyaannya yang belum terjawab.


Jackson menunduk takut, karena meski ia termasuk orang pemberani di luar sana, akan tetapi jika sudah berurusan dengan ayahnya, mau itu Jackson atau pun Akash, mereka berdua pasti akan tunduk.


“A-Aku hanya merasa frustrasi, Ayah,” ucapnya.


Jawaban itu masih belum bisa menjawab pertanyaan dari Baker. Baker masih diam terpaku menatap tajam ke arah anaknya itu.


“Aku takut kalau Ayah akan marah, jika tahu permasalahan ini,” sambungnya lagi sambil menatap sendu kedua bola mata ayahnya itu.

__ADS_1


“Apa?” tanya Baker begitu dingin.


“Akash dan Shira, hilang, Ayah,” ucapnya.


Namun, saat melihat ekspresi dari wajah Ayahnya, Jackson terdiam seribu bahasanya, bibirnya terkatup rapat dengan tatapannya yang terheran-heran merasa bingung dan aneh.


“Kenapa tidak ada ekspresi keterkejutan atau kecemasan di wajah ayah?” batinnya.


“Ayah, Akash dan Shira hilang, mereka tidak ada di kamar hotelnya,” lanjut Akash lagi, berharap kalau Ayahnya akan berekspresi terkejut atau semacamnya, akan tetapi tetap saja, wajah Ayahnya itu terlihat datar, tidak berekspresi apa-apa.


“Lalu, apa kau mencemaskan mereka?” tanya Baker masih dengan tatapannya yang dingin.


Jackson langsung mengangguk semangat. “Tentu saja, Ayah. Aku yang sudah membooking dan mengurus semua hal untuk mereka di  sana. Dan tiba-tiba mereka menghilang begitu saja, jadi tentu aku mencemaskannya, bahkan sangat cemas, Ayah.”


“Hm, baguslah kalau kau mencemaskan mereka.”


Baker hendak berbalik menyudahi perbincangan mereka akan tetapi, Jackson kembali memanggilnya.


“Ayah!” Baker menoleh. “Apa lagi?”


“Ayah, apa Ayah tidak terkejut mendengar berita ini?” tanya Jackson dengan heran.


Baker menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya dingin seolah tidak berperasaan.


“Bagaimana bisa?” gumamnya Jackson terheran-heran dalam hati.


“Mereka sudah besar, jika mereka ingin memilih tempat lain, biarkan saja. Kau tidak perlu mencemaskan mereka secara berlebihan seperti itu. Sekarang sudah mau jam sembilan, lebih baik kau segera turun, kita akan sarapan bersama sesegera mungkin,” ucap Baker, kemudian berlalu meninggalkan Jackson sendirian di sana.


Wajah Jackson tampak memucat. Lelaki itu benar-benar tidak percaya atas respon yang diberikan oleh ayahnya itu. Karena yang selama ini Jackson tahu, jika ada hal-hal aneh yang menimpa saudara tirinya itu, Baker pasti akan kelimpungan dan mencari sebab akibatnya. Tapi, melihat responnya kali ini, Jackson dibuat berpikir keras.


“Apa jangan-jangan Ayah sudah tahu semuanya?” batinnya begitu shock.


Tiba-tiba, entah kenapa ia merasa dirinya begitu kecewa, ada sesak yang menggunung di dadanya, begitu pikirannya melanglang buana, memikirkan berbagai macam kemungkinan kenapa ayahnya bisa merespon seperti itu.


“Benar kata ibu. Aku memang bukan prioritas ayah,” lirihnya tersenyum getir, merasa semakin kecewa dan menyesakkan dada, karena di saat seperti ini, ia baru bisa menyadarinya. Hingga kedua matanya pun tiba-tiba berkaca-kaca.


“Haha, aku sungguh tidak menyangkaa, lelaki tua ini ternyata, tega mengkhianatiku!" lirihnya dengan bibir yang sedikit bergetar. "Dia yang menyuruhku untuk mengurus semuanya, dan sekarang dia pula yang mengecewakan aku, saat aku ingin menjalankan rencanaku,” ucapnya semakin berat seolah tidak kuat, sungguh meski ia termasuk orang yang licik tapi sedari dulu ia selalu mempercayai ayah dan ibunya itu, hanya saja untuk kali ini kekecewaan yang diberikan ayahnya sangatlah teramat dalam, ia mengempalkan kedua tangannya dengan erat, dengan rahang yang sudah mengeras pun tatapannya yang berlinang air mata.


“Argh!” amuknya mengacak rambut.


Brag!


Pintu kamar ditutup sekencang mungkin hingga menimbulkan suara gebrakan yang sangat keras.

__ADS_1


“Kenapa argh! Kenapa semua orang tidak ada yang memihakku?!” teriaknya kencang menarik selimut di atas tempat tidur melemparkan sembarang dan mengacaknya sambil melemparkan bantal-bantal itu dengan penuh emosi ke lantai.


Bugh! Bugh! Bugh!


Sengaja ia menonjokkan kedua tangannya ke tembok kamarnya, membuat ujung kepalan tangannya tampak memerah dan sedikit berdarah.


Ini untuk pertama kalinya, Jackson benar-benar merasakan sangat-sangat dikecewakan oleh ayahnya. Meski sebenarnya kekecewaan Jackson kepada Baker sudah sering terjadi, tapi entah kenapa, kebohongan dan rahasia yang ditutupi oleh ayahnya saat ini benar-benar mengiris hatinya, membuat rasa kecewa di dadanya semakin mendalam.


“Bagimana bisa ayah mengecewakanku seperti ini, kenapa dia merahasiakannya hah?” batinnya. Ia terduduk lemas di sisi ranjang, memeluk lututnya yang ditekuk oleh kedua tangannya.


Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya itu melepaskan nafasnya yang naik turun tidak beraturan. Ia benar-benar frustrasi, kecewa, marah dan kesal, semua bercampur menjadi satu.


Kini ia semakin kehilangan harapan. Ia kehilangan kepercayaan, dan ia semakin yakin, kalau ayahnya itu tidak pernah menyayanginya.


Air matanya semakin deras berjatuhan, seiring dengan sesak di dadanya yang semakin memberat, bahkan hanya sekedar untuk menghirup oksigen saja, rasanya susah, tenggororkannya seolah tercekat oleh rasa pilu yang dialaminya saat ini.


Sungguh begitu malang lelaki muda ini. Dia memang mengesalkan, tapi sebenarnya di rumah ini dia lah yang batinnya paling tersiksa.


Ia melepasakan semua emosinya dengan tangisannya yang kian mendalam.


Ia kembali mengingat bagaimana perlakuan ayahnya dalam membedakan dirinya dengan Akash. Padahal semala ini, Jackson selalu sering mengalah dan masih berusaha percaya kalau ayahnya juga sama menyayanginya, tapi untuk kali ini kepercayaan Jackson kepada ayahnya itu tiba-tiba menghilang.


“Baiklah Jackson, masih ada ibumu yang akan selalu mendukungmu. Hilangkan hati nuranimu terhadap ayahmu itu,” gumamnya sambil menghapus air matanya, mengeringkan pipinya yang basah itu. “Maksudku, aku akan menghilangkan rasa belas kasihanku kepada lelaki tua bangka itu,” ralatnya saking kesal.


“Dan mulai detik ini juga, targetku bukan hanya ingin menguasai kekayaan pria tua bangka itu, aku juga akan menghancurkan kehidupannya, aku akan menghancurkan kehidupan anak kesayangannya, dan aku tidak akan membiarkan diriku direndahkan seperti ini lagi, aku tidak akan pernah membiarkan diriku disepelekan lagi olehnya. Ingat itu, ayah brengsek! Aku tidak akan segan lagi kepadamu!” gumamnya dalam hati seolah ingin berteriak, dan sorot tatap mata yang penuh kebencian kini semakin tampak di wajah Jackson.


"Jika Ayah tidak bisa membahagiakanku, maka kali ini aku yang akan memberikan penderitaan untukmu, Ayah."


.


.


.


Bersambung...


Waduh-waduh, kalau udah kecewa begini makin ngeri juga ya?


Tapi di sisi lain, kalian ngerasa kasian enggak sih sama Jackson?


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2