
“Tu-Tuan, sa-saya harus bagaimana?” Pak Bram semakin ketakutan, bahkan pria tua yang sedikit gendut dan dipenuhi brewok di wajahnya itu, ia malah menangis.
Sementara Baker, pria itu masih terlihat tetap tenang seperti tengah memperhitungkan sesuatu.
Tiba-tiba ....
Crack!
Seseorang di luar sana melemparkan batu ke jendela mobil, tepat di samping Baker. Membuat Bram dan Baker terkejut dibuatnya. Namun, karena kaca mobli tersebut sudah dilapisi dengan pelindung yang sangat kuat, maka lemparan batu tersebut tidak ada apa-apanya, hanya menimbulkan sebuah retakan kecil saja.
“Woy, buka sekarang juga!” teriak penjahat itu dari luar.
“Ampun ... ampun.” Bram tampak menunduk lalu melepaskan seat beltnya dan mringkuk di bawah setir, saking takutnya.
Orang diluar pun kembali mengetuk pintu kaca mobil di samping Baker. “Hey pria tua, buka sekarang juga atau aku akan memecahkan mobilmu ini menggunakan kapak besar ini hah!” ancamnya.
Baker menarik nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
Satu detik, dua detik, hingga seputuh detik berakhir, Baker masih berdiam di posisinya. Membuat si penjahat di luar sangat begitu kesal dan murka. Dan sedetik kemudian, karena tidak tahan, penjahat di luar itu pun langsung menancapkan kapak besar yang dipegangnya itu ke kaca mobil, tepat di samping Bram.
Bram yang tengah meringkuk ketakutan langsung bangkit dan langsung melompat ke kursi belakang, di mana Tuannya ada di situ.
“Tuan, maafkan saya, tapi saya benar-benar takut,” ucapnya dengan tangan yang sudah bergetar hebat. Bahkan ia tidak berani duduk, ia berjongkok tepat di atas kursi mobil tersebut.
Satu kali, dua kali, hingga pukulan yang ketiga kali, barulah kaca tersebut pecah belah dan menimbulkan lubang yang sangat besar.
“Sial! Beraninya kalian meruksak mobilku!” teriak Baker begitu emosi. Ia pun langsung membalikkan badannya ke belakang, mengambil sesuatu di jaring kursi mobil. Lalu langsung menodongkannya ke dua orang yang masih berusaha membobol kunci mobilnya. Karena kunci mobil ada di dalam saku Bram.
“Sial! Bos, dia bawa pistol!” pekik salah satu penjahat yang tengah membobol kunci menggunakan kawat.
Baker masih menodongkan pistol yang ada di tangannya itu ke pada empat penjahat tersebut. Masih dengan perasaan was-was, karena Baker tahu, pistolnya ini hanya memiliki satu peluru, sedangkan ancaman yang harus ia lewati adalah empat orang. Tidak mungkin ia menghabisi mereka hanya dnegan bergulat, apalagi si usianya yang sudah tidak muda lagi. Tentunya tenaganya akan habis melawan empat pembegal itu.
“Kalau berani, keluar kau pria tua!” salah satu penjahat mencoba memancing emosi Baker. Sebenarnya mereka juga takut, jika senjata yang harus mereka lawan adalah pistol, tapi mereka eprcaya diri, karena mereka berkeml0ompok semuanya ada empat orang.
Dan mereka pun bukan orang bodoh yang bisa takut dengan pistol begitu saja. Untuk memastikan pistol tersebut mengandung peluru atau tidak, kemungkinan mereka akan mengorbankan salah satu di antara teman-temannya itu.
__ADS_1
“Diamlah, biar saya yang keluar,” ucap Baker langsung membuka pintu mobil dan keluar menghadapi dua penjahat itu. Sementara Bram, pria tua itu masih meringkuk ketakutan di dalam mobil.
Saat Bram menfgeluarkan ponselnay untuk menghubungi polisi, tiba-tiba salah satu dari keempat penajhat itu meerebut ponselnya.
“Berani lapo polis, nyawamu akan melayang sekang juga!” pekiknya, membuat Bram yang ketakutan langsung ngompol saat itu juga.
“A-ampun ... ampun.”
Baker kini sudah berdiri siaga di luar, sambil tetap menodongkan pistolnya itu ke arah tiga penjahat yang mengepungnya.
Dua diantaranya sangat ketakutan, tetapi sepertinya salah satu dari komplotan penjahat yang memakai topeng badut itu, dia masih berdiam tenang di belakang dua anak buahnya.
“Kalau ada yang berani mendekatiku, bersiaplah peluru ini akan menancap ditubuh kalian!” seru Baker begitu menakutkan.
Satu orang lagi melangkah mundur, karena takut dengan ancaman yang baru saja Baker katakan. Pria dengan tubuh yang paling kecil di antara pencajaht yang lainnya itu, dia sepertinya masih anak baru di komplotan tersebut.
Dan tanpa di duga, pria bertopeng badut yang dimungkinakan adalah bos diantara mereka tiba-tibas aja mendorong ank buahnya yang bertubuh lebih kecil darinya.
Dan, duar! Satu peluru langsung menancap tepat di betis lekai itu, bahkan kepulan asap dari pistol masih terlihat menguap ke udara.
“Arghhhh kakiku!” teriak pria tersebut keaskitan, langsung berguling-guling di atas aspal menahan nyeri di kakinya. “Arghhhh ....”
Tapi, sebagai penjahat yang sudah profesional, sepertinya pria bertopeng itu tahu kalau peluru di pistol yang lawannya pegang itu sudah kosong.
“Lawan dia!” serunya kepada anak buahnya yang membawa kapak.
“T-tapi, Bos,” pria itu tampak ragu.
Sementara Bram, pria itu kini sudah jatuh terkapar di dalam mobil setelah ia ebnar-beanr ketakuatn akibat ancaman dan todongan pisau dari salah satu penajahat tadi.
“Lawan sekarang juga!” seru pria bertopeng badut itu, sambil mendorong tubuh anak buahnya itu.
“Hiyaaaaa!!!” Kapak itu tampak melayang di udara, dan dalan sekali kibasan kapak itu mendarat tepat di samping bahu Baker, namun untungnya dengan gerakan secepat kilat, Baker bisa menghindar dari kapak tajam tersebut.
Keadaan semakin etrasa mencekam, Baker kebingungan karena jika harus bekerkelahi mungkin ia akan kehabisan tenaga dalam waktu 10 menit pertama, dan lawannya masih ada tiga orang lagi.
__ADS_1
Baker yang mempunyai ide, ia berniat untuk memberikan jurus lemparannya kepada pria berkapak itu.
“Ahahaha! Ternyata benar, kau sudah kehabisan pelurumu itu pria tua!” teriak penjahat bertopeng badut, sambil terbahak kerasa begitu puas.
“Kau belum tahu siapa aku, badut pecundang!” seru Baker menoleh sekilas kepada lelaki itu.
Baker pun langsung berlari kencang dalam jarak beberapa meter, yang langsung dikejar oleh pria yang membawa kapak besar di tangannya, sementara pria yanfg tadi mengancam Bram, lelaki itu kini sudah mendapatkan kunci mobilnya.
“Bos, kuncinya sudah dapat.”
“Hm, bagus! Tapi tunggu dulu, sepertinya memainkan pria tua keras kepala itu mengasyikan juga,” ucap pria bertopeng badut tersebut.
Baker dan pria itu masih lari kejar-kejaran, namun setelah sekitar 100 meter berlari. Tiba-tiba Baker menghentikan langkahnya, lasngsung ancang-ancang dan berbalik melemparkan pistol ke arah pria berkapak itu dengan sangat kuat, dengan jurus lemparannya yang sangat laur biasa.
Dan brak! Pistol yang melayang itu pun terlempar tepat menegnai hidung si penajahat. Dan kapak yang ada di tangannya itu langsung terjatuh begitu saja. Penajhat itu langsung memegang hidungnya yang sudah berdarah, serta merakan sakit yang begitu menyeruak karena kemungkinan pestol tersebut sudah melukai batang hidungnya juga./
“Hidungku” pekiknya melihat darah yang keluar dari hidungnya begitu derah mengalir, hingga membuatnya langsung pingsan tidak sadarkan diri.
Pria bertopeng badut itu, tampak terkejut melihatnya, karena ia tidak menyangka kalau pria tua itu mempunyai taktik yang sangat diluar dugaannya, ia kira pria tua itu akan kabur untuk menghindarinya tapi ternyata ia salah, pria tua itu mengambil alih kapak yang teronggok di atas aspal, lalu kembali mendekati mereka untuk mengajaknya berduel.
Pria bertopeng badut itu langsung masuk ke dalam mobil dan meminta anak buahnya untuk segera menjalankan mobil curiannya tersebut.
Namun, baru saja mereka masuk dan menyalakan mesin mobil, kapak yang dipegang Baker terlebih dahulu menancap keras di depan kaca sopir. Membuat pria yang memegang pisau itu hampir kehilangan naywanya, akrena saking terkejutnya.
“Aish Aki-Aki sialan! Pria yang duduk di atas kursi kemudi itu tampaknya begitu emosi, ia hendak melawan, dan turun dari mobil tersebut.
Lalu ia pun mengeluarkan pisaunya lagi, menghunuskannya kepada Baker, namun dengan gerakan tanagnnya yang sangat cepat, Baker bisa menahan tangan pria yang hendak menusuknay tersebut.
Dan tiba-tiba ....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
hayooo kira-kira lanjutannya gimana nih? Tuan Baker bakalan selamat atau enggak ya?