
Matahari mulai terbenam, Akash tak kunjung melihat Shira. Ia mulai kesal, beberapa kali ia mencoba menelepon tapi tidak diangkat.
“Kemana wanita ini!” geramnya sambil mengotak-atik ponsel kembali mencoba menelepon Nashira.
Meski semalam mereka berperang dingin, tapi di saat seperti ini, Akash tentu selalu mengkhawatirkannya.
Dan Shira termasuk orang yang ceroboh, meninggalkan ponselnya begitu saja di dalam tas, di ruang ganti. Hal tersebut lah yang membuat telepon dari Akash tak kunjung dijawab.
Akash mondar-mandir di depan teras rumah. Ia sudah tidak tahan lagi, ia pun memutuskan untuk melacak keberadaan istirnya tersebut.
“Hotel Alexandria? Sedang apa dia di sana?” Keningnya berkerut. Menutup ponsel lalu berlari masuk ke dalam mobilnya. Dan tanpa berlama-lama, ia langsung menancap pedal gas mobilnya menuju hotel, mengikuti arah GPS, untuk memastikan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya di luar sana.
Mobilnya kini terhenti di depan hotel. Ia kembali memastikan GPS-nya bahwa hotel yang ditunjukkan adalah benar. Hatinya sedikit kesal, ia berharap tidak akan ada kejadian sebagaimana kejadian antara dirinya dengan Shira waktu itu. Akash berpikir, bisa saja Shira yang ceroboh di permainkan kembali oleh orang-orang yang membencinya.
Ia berjalan melangkah, namun karena tidak sabar, ia merasa langkahnya sangatlah lambat. Ia benar-benar tidak tenang, bahkan pikiran-pikiran negatif mulai menyerang di benaknya.
Seorang petugas keamanan, berlari mendekat untuk mengambil kunci mobil milik Akash.
Begitu Akash memasuki lobby hotel, kehadirannya menyita banyak perhatian. Semua mata kini tertuju pada lelaki bertubuh jangkung dan kekar itu. Wajah tampannya tertutup oleh kacamata hitam. Hidung bangirnya bagai perosotan, pun kulitnya yang bening dan bersih seolah memancarkan cahaya keindahan.
"Wah ... siapa lelaki itu, tampan sekali dia."
"Iya, dia benar-benar tampan."
"Daebak! Udah kayak Emanurios aja gantengnya."
Begitulah, para wanita yang sebagian adalah pelayan hotel di sana. Mereka benar-benar dibuat terpesona oleh seorang Akash.
Akash melangkah leluasa, tidak ada satu pun petugas hotel yang berani menghadangnya. Padahal tamu-tamu lain yang masuk ke ballroom hotel tentulah harus menyertakan undangan resminya.
***
__ADS_1
Sementara itu, Shira masih memainkan perannya sebagai pelayan. Ia berbaur bersama orang-orang yang semakin lama semakin memenuhi aula.
Shira tersenyum kecut, mengingat beberapa waktu lalu ia juga pernah menjadi tamu di acara mewah seperti ini. Tetapi sekarang, di sini ia bukanlah menjadi tamu cantik yang berpakaian mewah dan membawa tas branded, melainkan hanya sebagai pelayan yang menjamu dan membawakan minum untuk orang-orang. Sungguh, takdir yang sangat lucu.
Shira termasuk orang yang suka melamun, tidak fokus dengan pekerjaannya dan tentunya ia adalah orang yang pelupa.
Saat sedang asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, mengingat memori dirinya yang masih bergelimang harta. Tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang berseru, “hei, bisa minggir gak? Kau menghalangi jalanku!”
“Maaf,” jawab Shira, membungkuk, langsung memiringkan badan memberi jalan untuk tamu tersebut. Akan tetapi saat ia menoleh, ia begitu terkejut saat mendapati Luna dan anggota gengnya yang tengah berjalan di dekatnya.
Mereka bertiga langsung pura-pura terkejut melihat kehadiran Shira di sana.
“Ya ampun, Shira! Kau bekerja di sini?” pekik Luna, terkejut dengan lebay.
Shira menunduk malu, menyembunyikan wajahnya dari pandangan Luna dan kedua temannya. Tapi, memang dasar Luna yang selalu mencari celah. Wanita itu tidak segan mengangkat dagu Shira dengan tangannya, sehingga membuat dirinya bisa leluasa memandang wajah yang bersemu merah dari Shira.
“Ya ampun, benar ini kau.” Luna menatapnya rendah. Sambil menyengir jijik ke arah Kea dan Sherly.
“Shira, apa semiskin ini dirimu sekarang, sampai-sampai, kau rela bekerja sebagai pelayan,” ledek Luna menampilkan mimik wajahnya yang seolah sedih melihat teman sekelasnya bekerja seperti itu.
Luna melipat kedua tangannya di dada dengan gemulai. “Oh ... jadi kau bekerja di sini menggantikan babumu itu ya?"
“Ha ha ha, kasihan banget sih. Pasti nyesek ya lihat kita-kita yang dandan cantik dan mewah seperti ini, sedangkan kamu hanya menjadi pelayan buat tamu-tamu di sini,” cerca Kea sambil terbahak.
“Kenapa diam saja? Apa kau malu bertemu dengan kami?” tanya Sherly merendahkan.
Shira masih bergeming di tempatnya, ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan olok-olokan mereka. Tetapi, ia juga tidak mungkin berkata kasar pada mereka. Rasanya ingin sekali Shira melemparkan gelas-gelas yang berisi air di atas nampan yang dibawanya itu. Tetapi ia sadar, kalau dirinya saat ini harus bersikap baik. Dia menggunakan nama Kalala di sini, ada tanggung jawab besar dan nama lain yang harus ia pertahankan.
Kalau ia melawan mereka, otomatis hal ini akan berimbas pada Kalala, bisa saja Kalala kehilangan pekerjaannya akibat dari perbuatannya ini.
“Maaf, aku tidak bisa mengobrol dengan kalian, aku di sini sedang bekerja,” ucapnya dingin.
__ADS_1
“Bekerja? Sebagai pelayan?” Luna menatapnya iba. “Aduh ... kasihan banget sih. Seharusnya kalau kau ingin bekerja, kau bilang saja sama aku, aku bisa menawarkanmu kepada om-om berduit yang pastinya bisa ngasih kamu uang banyak dalam waktu singkat, ha ha.” Luna berkata tanpa hati.
Kea dan Sherly yang mendengarnya mereka juga ikut tertawa meledek Shira.
“Cukup ya, Luna! Aku tidak ingin berdebat denganmu!” seru Shira mulai terpancing.
Ia tidak tahan lagi, ia harus segera melarikan diri dari mereka, jika tidak, bisa-bisa emosinya ikut meledak dan membuat Kalala terkena imbasnya.
Ia tidak ingin sahabat satu-satunya itu yang tengah kesusahan mencari uang, harus kehilangan pekerjaannya karena dia.
“Hey, hey, hey kalian yang di situ, kalian pasti tahu ‘kan ini siapa? ... Nona Nashira Davies dari kelas kita.” Luna mewawarkannya kepada gadis-gadis lain yang sebagian dari mereka pasti kenal dengan Shira.
Gadis-gadis cantik yang berpakaian mewah itu langsung mengalihkan perhatiannya kepada Shira, sebagian orang yang baru sadar, mereka terkejut saat melihat Shira yang jadi pelayan di sana. Dan sebagian lagi merasa kasihan karena menganggap kalau Shira harus bekerja sekeras itu demi mendapatkan uang, padahal dulu Shira terkenal wanita yang cukup manja dan berlimpah harta.
“Haha, Nona Shira apaan! Dia 'kan, sekarang sudah miskin,” celetuk salah seorang wanita yang memiliki pangkat selebgram ternama di kotanya.
“Iya, wajar saja sih dia bekerja menjadi pelayan, ‘kan dia udah miskin!” Tawa mereka tergelak, meledek Shira.
Shira sebisa mungkin mengatur nafasnya, menahan gejolak emosi yang tengah berkumpul di dadanya. “Tahan Shira, tahan ... ingat, kau sekarang ada di sini atas nama Kalala, tenanglah jangan anggap perkataan mereka,” batinnya, seraya memejamkan mata kuat-kuat.
“Ahh ha ha ... lihat lah Shira, semua orang kini sudah mengenalmu sebagai pelayan.” Luna berkata sambil memutar-mutar ujung rambutnya dengan telunjuknya.
“Memangnya kenapa kalau aku bekerja sebagai pelayan hah? Apa kalian rugi? ... Tidak ‘kan?!” Shira yang tidak kuat akhirnya membuka suara juga.
Luna mengedarkan pandangannya ke arah teman-temannya yang lain. “Lihatlah? Si miskin yang sombong ini.”
“Kau memang tidak merugikan kita, tapi kau membuat malu orang-orang yang ada di kelas kita. Wanita sombong yang miskin, bekerja sebagai pelayan hotel. Hih benar-benar memalukan!”
Tidak ingin menanggapi perkataan mereka, ia memutar kedua bola matanya dengan sebal. Shira langsung membalikkan badan hendak pergi, untuk kembali melanjutkan pekerjaannya “Dasar, perempuan-perempuan laknat!” umpat Shira begitu dongkol.
Tapi, tiba-tiba ....
__ADS_1
Bersambung...
Tiba-tiba apa nih??? Ramaikan kolom komennya dong, nanti aku up lagi sorean ya.