Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Aku Takut Kehilanganmu


__ADS_3

“Edwin!” pekik Kalala begitu terkejut melihat kekasihnya sudah muncul di hadapannya.


Edwin pun ikut terkejut saat wanitanya itu menjatuhkan gelas yang baru saja diambilnya.


“Jangan bergerak!” titah Edwin, karena takut kalau kaki Kalala yang hanya beralaskan sendal tidur tipis itu akan menginjak pecahan beling dari gelas yang pecah tersebut.


Edwin melangkah semakin mendekat, lalu tiba-tiba ia sedikit membungkukkan badannya dan dengan enteng ia memangku Kalala dengan kedua tangannya. Kalala yang sedikit terkejut, ia hanya bisa berpasrah, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher tegak milik pacarnya tersebut.


Edwin berjalan sambil memangku kekasihnya tersebut menuju meja bar, lalu mendudukkan Kalala di atas meja dengan hati-hati.


Kedua pipi Kalala langsung bersemu kemerahan, ia benar-benar malu, tapi ia juga senang atas perlakuan kekasihnya itu yang dibilang cukup romantis, padahal sangat jarang sekali Edwin melakukan hal-hal romantis padanya, lebih sering melakukan hal-hal kaku yang sudah biasa dimakluminya.


“Diamlah di sini, aku akan mengambilkan air untukmu, dan membersihkan pecahan gelas itu,” ucap Edwin dengan lembut.


Kalala tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan masih dengan kedua pipinya yang memerah menahan gejolak rasa senang di dadanya. Sungguh benar-benar menggemaskan.


Setelah sekian detik, Edwin pun kembali mengambilkan segelas air putih untuk kekasihnya itu, lalu menyerahkannya kepada Kalala.


“Minumlah dulu, aku akan membersihkan pecahannya dulu,” ucap Edwin yang tiba-tiba mengelus pelan kepala Kalala, membuat Kalala semakin salting dibuatnya.


Jangan tanya bagaimana perasaan Kalala saat ini, yang pasti wanita ini tengah dibuat bahagia meski hanya lewat perlakuan manis dan romantis dari kekasihnya. Karena jarang-jarang Edwin bersikap seperti ini padanya.


Edwin pun sibuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai, ia menyapunya menggunakan sapu khusus dan sebagian lagi ia bersihkan menggunakna vacum untuk menyingkirkan butiran-butiran kecil dari pecahan tersebut. Setelah selesai ia pun membungkus pecahan gelas itu menggunakan kantung tebal yang tersedia di dapur, lalu memasukannya ke dalam tong sampah.


Kini mereka berdua sudah duduk di berhadapan di atas kursi meja makan. Obrolan pun dimulai dengan menanyai kapan Edwin datang ke sini dan kenapa ponselnya mati.


“Apa kamu sengaja mematikan ponselmu?” tanya Kalala, Edwin mengangguk mengiyakan.


“Apa Jackson menghubungimu?” tanya Edwin dengan ragu.


Kalala terdiam, ia jadi sedikit kesal karena mengingat bahwa Edwin sudah memberikan nomornya kepada Jackson.


“Hm, kenapa kau memberikan nomorku padanya?” tanyanya kesal.


“Maafkan aku Kalala, aku terpaksa melakukannya,” ucap Edwin penuh penyesalan, bahkan seandainya ia bisa mungkin tadi siang ia akan menolaknya dan tidak akan memberikan nomor kekasihnya itu pada lelaki lain yang sebenarnya ia anggap sebagai musuh sekaligus saingannya.

__ADS_1


Karena bagaimana pun Edwin sangat tahu, kalau tuan Baker masih berusaha untuk menyatukan Kalala dengan anak bungsunya Jackson.


“Terus, apa aku besok juga harus menemuinya? Apa itu sebuah keharusan dan perintah yang mesti aku lakukan?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar benar-benar kesal.


Edwin terdiam, ia kebingungan, satu sisi ia sudah berjanji kepada tuan Baker, tapi di sisi lain ia juga tidak rela jika harus mempertemukan Jackson dengan Kalala, apalagi ceritanya Jackson akan memberikan sesuatu hal kepada Kalala.


“Apa kamu bersedia?” tanya Edwin dengan hati-hati.


“Kamu bertanya aku bersedia?” tanya balik Kalala, merasa tidak percaya kalau Edwin akan bertanya seperti itu padanya.


“Seharusnya kamu sudah tahu Edwin, aku bersedia atau tidak!” serunya, sambil mencebikkan bibirnya dan melipat kedua tanganya di dada.


“Aku paham Kalala, aku juga tidak menginginkan semua ini, tapi ... aku juga tidak bisa mengingkari janjiku kepada tuan Baker, untuk melakukan permintaan Jackson,” ungkapnya merasa frustrasi.


Kalala masih membisu menerima tatapan sendu dari kekasihnya. Sebenarnya tidak tega rasanya Kalala melihat ekspresi tertekan dari wajah kekasihnya itu, tapi ia juga sangat kesal, karena Edwin terlalu mementingkan janji dan perintah dari tuannya.


“Edwin, apa kamu memang selalu seperti ini? Mementingkan perintah dari tuanmu dan menurutinya, tanpa mementingkan perasaanmu?” tanya Kalala menatap dalam kedua manik Edwin, membuat Edwin langsung melemaskan tatapan serta bahunya.


“Sedikit egoislah, Edwin! Kamu bukanlah manusia sempurna, kamu punya perasaan. Apa kamu sadar pertemuan besok adalah salah satu cara dari tuan Baker agar aku bisa berkomunikasi kembali dengan Jackson!”


“Seandainya kamu tahu perasaanku saat ini seperti apa, aku juga tidak menginginkan semua ini Kalala, mengertilah, aku tidak bisa mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaanku,” kilah Edwin memegang sebelah tangan Kalala, berharap wanitanya itu bisa mengerti keadaannya.


Kalala masih diam membisu tidak ingin menatap Edwin.


“Kalala,” panggil Edwin dengan suaranya yang sedikit bergetar entah kenapa.


“Baiklah, jika kamu enggan melihatku, tidak apa. Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku mempercayakan semuanya padamu, Kalala. Aku tahu hatimu sudah berlabuh padaku, jadi bukankah seharusnya aku tidak perlu takut jika Jackson hanya meminta bertemu denganmu? Besok pun aku akan ikut dan aku akan menemanimu di sana, aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengan Jackson saja,” ucap Edwin.


Kalala masih tegas dengan pendiriannya, ia hanya bisa memejamkan kedua matanya merasa lelah karena lagi-lagi harus melihat Edwin yang menurut pada kuasa tuannya.


“Jadi dia benar-benar akan mempertemukan aku dengan Jackson,” gumamnya dalam hati, hingga tidak terasa karena rasa kesalnya, air matanya pun jatuh begitu saja membasahi pipinya.


Sungguh dadanya terasa begitu sesak, bahkan sekedar menelan salivanya saja ia kesusahan, seolah ada yang mencekat di kerongkongannya.


“Lalu jika setelah pertemuan itu ada hal lain yang mengharuskan aku untuk bertemu dengan Jackson lagi bagaimana? Apa kau akan membiarkannya juga?” tanya Kalala menoleh, dengan tatap tajam matanya yang sedikit memerah dan bergenang air mata.

__ADS_1


Edwin yang melihatnya langsung mengapit kedua pipi Kalala, mengusap dengan lembut air mata yang membasahi wajah kekasihnya yang cantik itu.


“Kalala ... jangan menangis,” ucapnya pelan, menatapnya semakin sendu.


“Aku takut, Edwin!” serunya sambil terisak.  “Aku takut kalau kedepannya akan ada rencana-rencana lain yang mengharuskan aku untuk menjalin hubungan dengan Jackson! Dan seandainya itu terjadi atas perintah tuan Baker, apa kau akan tetap membiarkan semua itu terjadi hah?!”


“Kalala ....”


“Apa kau tidak mengerti perasaanku sekarang? Hatiku menginginkanmu, aku ingin dilindungi olehmu, aku ingin dipertahankan olehmu, Edwin! Tapi kenapa? Kenapa rasanya aku didorong olehmu agar aku pergi meninggalkanmu!”


Edwin sedikit terkejut mendengarnya. “Kalala, jangan berbicara seperti itu, aku tidak pernah mendorongmu agar kau menjauh dariku, justru aku tidak bisa jika aku harus kehilanganmu! Jangan Kalala ... jangan berkata seperti itu,” ucap Edwin yang tiba-tiba merasa takut saat mendengar ucapan tersebut dari mulut kekasihnya itu.


Kalala menunduk tidak kuat, ia kembali menumpahkan air matanya dalam isak tangisnya. Untuk saat ini Kalala pun bingung terhadap perasaannya, padahal jika dipikir kembali, Edwin tidaklah salah, tidak ada yang salah di sini, hanya saja, ia terlalu sensitif untuk hari ini. Perasaanya seolah memberi kode kalau pertemuan besok akan menjadi buntut panjang bagi hubungannya antara ia, Edwin dan juga Jackson.


Edwin pun buru-buru merangkul Kalala, mendekapnya dalam peluk hangat tubuhnya. “Edwin, aku takut,” lirihnya sambil terisak.


“Tenanglah Kalala, besok aku akan menemanimu, aku tidak akan jauh-jauh darimu,” ucap Edwin memejamkan matanya, ikut merasakan bagaimana kacaunya perasaan Kalala saat ini.


“Tenanglah, aku janji tidak akan membiarkan siapapun merebut kamu dariku,” ucapnya lagi mencoba menenangkan Kalala, sambil mengelus-elus pelan kepala dan punggung Kalala.


“Ya, aku janji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan membiarkanmu lepas dari hidupku, aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki hatimu,” ucapnya dalam hati, bertekad sungguh-sungguh walau sedikit ketakutan itu tetap menghantui hati dan pikirannya.


.


.


.


Bersambung...


Wah, kira-kira besok gimana ya pertemuan mereka, apakah akan ada insiden yang terjadi atau mungkin sesuatu kejutan yang terjadi? Ada yang bisa nebak?


Jangan lupa tabur like, vote dan komentarnya ya.


Yang nanya kapan tamat, tenang tinggal beberapa bab lagi bakal tamat kok, doakan saja biar authornya enggak stuck ide hehe.

__ADS_1


__ADS_2