
Akan tetapi, lagi-lagi Haris kekeh, ia masih berusaha untuk menarik lengan Shira, namun Kalala sebisa mungkin menghalanginya. Hingga tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka semua.
“Haris!” teriak seseorang, membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Luna?!” pekik Shira membeliakkan kedua matanya.
“Stop, Haris! Biarkan Shira pergi!” ucap Luna mendekati mereka bertiga.
Kea dan Sherly juga ikut mengawal teman satu gengnya itu. Mereka tetap harus waspada akan segala mungkin kejadian yang terjadi di antara mereka saat ini.
“Kau boleh pergi, Shira,” ucap Luna dengan suaranya yang parau dan mata yang semakin sembab akibat terus-terusan menangis.
“Tidak, Luna, kamu harus hati-hati dengan lelaki seperti dia,” ucap Shira, karena tiba-tiba ia merasakan hawa tidak enak saat Luna datang mendekatinya.
“Aku tidak ingin tahu menahu soal ini, Haris, aku ingin orang tuamu datang ke rumahku,” ucap Luna tiba-tiba tanpa menghiraukan perkataan Shira, ia seolah tidak kuat, suaranya bahkan terdengar sedikit tercekat.
Wanita itu menyerahkan satu kemasan tespek ke tangan Haris.
Haris memangdanginya heran, melihat tulisan yang tertera di bungkus tersebut, “Pregnant Test”.
“Loh, apa ini, Luna?” tanya Haris kebingungan.
Luna mengalihkan pandangannya, tidak kuasa menahan air matanya yang kian berjatuhan dari kedua sudut matanya, ia tiba-tiba memeluk Kea yang ada di sampingnya. Sementara Shira dan Kalala, mereka begitu terkejut melihat benda yang kini tengah dikeluarkan oleh Haris dari dalam bungkus kemasan tespek itu.
“Garis dua? ... Luna, ini apa maksudnyaa, Luna?” tanya Haris mulai panik.
Luna tidak menjawab, wanita itu semakin menenggelamkan wajahnya di bahu sahabatnya, Kea.
“Luna positif, Ris,” ucap Sherly pelan, sambil ikut memeluk Luna dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Sesak, sedih, takut dan bingung, semua bercampur menjadi satu di dalam pikiran Luna.
“Positif apa, Sher?” tanya Haris yang masih tidak mengerti.
“Makanya bodoh itu jangan dipiara! Cewek lo hamil, Haris!” jelas Kea dengan kesal.
“Apa?!” Bagai di sambar petir, Haris langsung tertegun di tempatnya, ia tidak menyangka, kalau wanita yang sering dipakainya itu bisa hamil dan kebablasan seperti ini.
“Enggak! Gak mungkin!” ucap Haris pelan, menjatuhkan tespek itu ke lantai begitu saja.
“Gila lo, ya! Udah tahu si Luna hamil, udah jelas juga tespeknya garis dua, masih aja nyangkal!” Entah kenapa, Kea jadi sangat emosi melihat respon Haris soal kabar kehamilan Luna itu.
__ADS_1
“Kea, Sherly? Ini kalian serius?” tanya Shira hati-hati.
Kea dan Sherly menoleh sinis ke arah Shira, sambil mengangguk mengiyakan.
“Haris ....” Kini Shira mengalihkan fokusnya ke arah Haris, menatap lelaki itu seolah tidak percaya.
“Kamu ....” Shira menyentuh mulutnya, dengan sedikit gemetar. Melongo menatap lelaki yang ada di depannya tega menghamili teman sekelasnya.
Jujur saja, meski Luna termasuk orang yang begitu menjengkelkan, akan tetapi Shira tahu, seluk beluk kehidupan Luna yang kurang kasih sayang dari orang tuanya. Shira juga sebenarnya paham, ulah Luna yang sering mengejainya selama ini semata-mata hanya untuk mencari perhatian.
“Enggak! Gak mungkin.” Haris membalikkan tubuh Luna menghadap padanya.
“Ini bohong ‘kan Lun? Kamu enggak beneran hamil ‘kan?” tanya Haris dengan raut wajah panik dan penuh kebingungan.
Luna tidak sanggup menjelaskan semuanya, ia menepiskan lengan Haris yang ada di kedua pundaknya lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka semua, dan Kea serta Sherly pun ikut mengejar sahabatnya itu.
Sementara itu, di sisi lain, sejak tadi sudah ada orang yang tengah diam-diam merekam aktivitas mereka semua.
Sudut bibir yang tampak melengkung ke atas, terlihat jelas terukir di wajah orang itu. Ia menyeringai puas atas apa yang sudah dilihatnya, dan buru-buru ia mematikan kamera hanphonenya.
“Haha, lancar sudah semuanya, mari kita lihat kejutan besok di kampus,” gumamnya tersenyum puas, lalu segera bersembunyi di balik torn air yang ada di sana.
Dan pagi ini, kampus mereka pun di gegerkan dengan video pertengkaran Shira, Haris, Kalala dan kabar kehamilan Luna yang tersebar di forum khusus kampus yang ada di sosial media facebook.
Meski video itu hanya tersebar di forum kampus, akan tetapi beritanya sangat-sangat cepat menyebar ke luar, dan tentunya akan ada beberapa oknum yang kedepannya bisa saja menjadikan video itu sebagai bahan untuk menjatuhkan nama baik kampus mereka.
Semua orang kini tengah menggosipkan mereka, lagi dan lagi, Shira di tuduh menjadi pusat dari akar masalah semua ini, banyak orang yang beramsumsi kalau Shira lah yang menjadi penyebab kekacauan ini. Padahal yang jelas, Shira lah yang menjadi korban atas semua masalah yang menimpanya saat ini.
“Lagian sih! Bego dipiara, makanya nikah dulu baru kawin!” gerutu Kalala yang saat ini mereka bertiga tengah ada di ruang kesenian, sedang membersihkan ruangan tersebut.
“Dasar culun lu! Lu belum tahu aja, seberapa nagihnya orang yang—”
“Sttt!” Kedua mata Shira langsung membeliak, melotot kepada Haris.
“Udah! Bisa enggak sih jangan cekcok mulu, udah cepat beresin ini, biar kita bisa cepat-cepat pulang!” seru Shira memotong ucapan Haris.
Kalala dan Haris pun masing-masing menggerutu tidak jelas, keduanya seolah masih menyimpan banyak dendam karena kekesalan mereka berdua atas hukuman yang sudah diterimanya.
Selagi sibuk membersihkan ruangan tersebut, tiba-tiba dering ponsel Shira berbunyi, dan ternyata satu panggilan masuk dari nomor Akash tertera di ponselnya.
Shira pun izin terlebih dahulu kepada Kalala dan Haris untuk mengangkat telepon. Dan ia pun pergi ke pojokan untuk berbicara dengan suaminya tersebut.
__ADS_1
“Kal, jadi beneran Shira udah punya yang baru?” tanya Haris bisik-bisik kepo.
“Hm, kenapa emangnya? Masih ngarep lo sama dia?” tanya Kalala, Haris tidak menjawab ia hanya meringis sendu sambil menggaruk sikutnya yang tidak gatal.
“Emang, lo udah pernah ketemu sama pacar baru si Shira?” tanya Haris masih kepo.
“Udah lah, jangan tanya gantengan lo apa pacar barunya, yang jelas kekasih baru Shira saat ini jauh lebih sempurna dari pada lo!” tegas Kalala langsung beralih tempat membereskan tumpukan ukulele yang ada di penjuru ruang.
Haris termenung dalam diamnya, ia melirik ke arah Shira yang tampaknya sedang asyik mengobrol dengan kekasih barunya itu. “Hm, jadi ... beneran ya, si Shira udah dapat yang baru? Apa jangan-jangan kekasihnya itu emang lelaki yang dikabarkan udah punya istri itu ya?” batin Haris menduga-duga, karena yang selama ini Haris tahu, Shira menjalin hubungan dengan seorang lelaki dari kelaurga kaya raya yang dikabarkan sudah menikah.
“Hm, sudahlah, lebih baik aku foksu kepada Luna saja sekarang. Lagi pula, Shira memang sepertinya sudah bahagia dengan lelaki barunya,” gumam Haris dalam hati.
“Heh Haris!” teriak Kalala memanggilnya ingin meminta tolong untuk memindahkan gamelan ke sisi lain, akan tetapi Haris masih terpaku dalam lamunananya.
“Haris!” panggilnya lagi sedikit meneriakkan suaranya.
“Haris! Budeg ya lu!” Dan saat panggilan ke tiga, akhirnya Haris pun menoleh ke arah Kalala.
“Hah? Lo manggil gue?” tanyanya.
“Ya iyalah manggil lo, emang di sini siapa lagi yang namanya Haris kalau bukan elo!” seru Kalala, Haris yang tengah memegang sapu itu langsung berjalan mendekat kepada Kalala.
“Cepat bantu aku angkat ini!” serunya. “Diem aja dari tadi, udah kayak kenebo kering!” cetusnya menggerutu kesal.
.
.
.
Bersambung...
Wah kira-kira ini cuma daramatisir dari Luna apa emang beneran ada yang menjebak mereka ya?
__ADS_1