Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Nyawa Melayang


__ADS_3

“Selangkah kalian maju, aku tidak akan segan menembak jantungmu!” seru Akash menatap tajam lelaki yang hendak melangkah mendekati mobilnya.


“Peluru dibayar peluru, jika kau menginginkan jantungnya kami siap juga merenggut jantungmu!” seru bos di antara para penjahat itu.


Dorr!


Tiba-tiba sebuah peluru meluncur memecahkan belakang kaca mobil yang tengah Shira, Kalala dan Tessa tumpangi.


“Argh!!!” Ketiga wanita di dalam mobil itu berteriak histeris ketakutan, karena baru saja peluru melewat tepat di samping kepala Shira dan menerobos memecahkan kaca mobil di paling depan.


Melihat kejadian tersebut, Akash dan Edwin tidak segan langsung menarik pelatuk pistol yang mereka pegang, menembak pria yang ada di depan mereka.


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Tiga peluru melayang tepat mengenai bahu para penjahat, dan satu lagi mengenai lengan Edwin.


“Argh! Sial!” Edwin langsung menjatuhkan pistol yang dipegangnya. Tangannya langsung mengeluarkan darah, ia mengumpat pelan sambil mencengkeram erat bagian tangannya yang terluka, karena kini sebuah peluru tajam tengah menancap tepat di atas sikutnya.


Sementara Jackson, lelaki itu kini sudah menyelinap masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Shira.


“Shira, kalian sebaiknya mengumpat di luar bersamaku, ayo!” ajak Jackson.


“Jackson, a-a-aku takut.” Shira menangis sesenggukkan apalagi saat melihat Tessa yang sudah tidak sadarkan diri.


“Ayo, kalian keluar lah bersamaku, aku akan menjamin kalau kalian akan aman,” ucap Jackson.


Dengan tubuh yang sangat lemas dan gugup gemetar, Shira mencoba untuk keluar dari mobil.


“Edwin!” pekik Akash menoleh sekilas ke sekretarisnya yang tengah terluka.


“Tidak apa-apa, Tuan, jangan lengah,” ucap Edwin, mendesis menahan rasa sakit yang luar biasa terasa olehnya.

__ADS_1


Meski tangan kanannya tengah berdarah-darah, Edwin tetap harus bisa melawan sisa tiga penjahat yang ada di depannya itu. Ia kembali mengambil pistol yang terjatuh di aspal. Kembali mengarahkannya ke arah penjahat yang sepuluh meter ada di depannya.


Akash dan Edwin tetap siaga di belakangnya. Hatinya masih bimbang karena di belakang ia tidak tahu kondisi Shira beserta ibunya saat ini seperti apa. Yang pasti saat ini ia tidak boleh lengah jika ingin melindungi Shira.


“Wah... sepertinya benar kata Nyonya Asten, kalau kau memang suka mempermainkan nyawa orang,” ucap pria yang bertubuh besar, pemimpin diantara penjahat tersebut.


“Bagaimana kalau kita berduel tanpa senjata?” tawarnya, hendak melepaskan pistol ditangannya.


Akash hanya tersenyum kecut mendengarnya, ia sudah tahu permainan seperti ini. Akash tahu, kalau lawannya itu tengah ketakutan, dan tawar menawar soal pergulatan tanpa senjata hanyalah pengalihan saja.


“Kau kira aku sebodoh itu apa?!” cetus Akash.


“Sial! Bagaimana ini, dia benar-benar bukan sembarang lawan,” gumam si penjahat dalam hati.


Namun, gara-gara terdengar suara gerusukan dari Shira dan Kalala serta Jackson yang tengah keluar dari mobil. Salah satu penjahat langsung menodongkan pistol tersebut ke arah Shira.


“Ahaha, ternyata perempuanmu hendak menyerahkan nyawanya sendiri!”


Mendengar perkataan itu, Akash langsung menoleh ke belakang, dan seketika itu pula, hantaman keras mengenai lengan Akash, hingga pistol yang Akash pegang langsung jatuh terlempar jauh ke dalam kolong mobil.


Dan pergulatan pun terjadi di antara keduanya.


Mereka berdua saling melawan, sementara Edwin masih siaga pada posisinya. Lalu lirikkan matanya kini tepat mengenai salah satu dari penjahat itu yang hendak menarik pelatuknya setelah sekian lama ia mengarahkannya ke arah Shira.


Duar!


Edwin kembali membuat pekikkan suara tembakan yang begitu dahsyat. Tidak kira-kira, ia menembak tepat di tangan penjahat tersebut, sehingga memubuat pistol si penjahat jatuh dan jari-jari tangannya pun rampung terkena tembakan peluru tersebut.


“Tembak wanita hamil itu sekarang juga!” teriak si bos penjahat yang masih bergulat dengan Akash.


Akash tidak akan membiarkannya. “Jackson! Sembunyikan istriku! Jangan berada di dekat sini, bawa di kabur!” teriak Akash, melihat ke arah Jackson, Shira dan Kalala yang saat itu tengah menggendong Tessa mencoba membawanya ke lain tempat di luar mobil.


Akash dan bos penjahat itu masih saling bertahan, menahan lengan penjahat yang hendak mengarahkan pistol ke kepalanya. Kedua tangan mereka masih berada di atas, dengan pistol yang menghadap ke udara.


Jackson yang mendengar teriakan Akash, ia pun bergegas memangku Tessa, untuk membawanya masuk ke dalam mobil di dekat mobil Akash, yang diketahui itu adalah mobil yang paling utuh di antara yang lainnya. Karena keempat mobil lainnya sudah tidak bisa dijalankan akibat bannya yang sudah rusak.


Jackson membuka mobil penjahat yang masih bagus itu, ternyata kunci mobil ada di dalamnya, itu akan sangat memudahkannya untuk membawa ketiga wanita itu kabur dari tempat ini.

__ADS_1


“Shira, ayo!” teriak Jackson.


Shira yang perutnya tengah mengalami sakit itu, terus berusaha mempercepat langkahnya, dibantu oleh Kalala juga.


“Shira, bertahanlah, tenangkan dirimu.”


Shira menggigit bibir bawahnya. “Kalala ... perutku sakit, Kal,” lirihnya dengan air matanya yang kian membanjiri wajahnya.


Kalala dapat memahaminya. “Tenanglah, Shira, Jackson akan menyelamatkan kita.”


“Kalala ....” Rintihnya, merasakan kontraksi yang semakin menjadi.


Shira pun masuk dan duduk di kemudi paling depan.


“Kalala, kau masuklah di belakang.”


“Tapi Jackson, bagaimana dengan Tuan Akash dan Edwin?” tanya Kalala sangat khawatir.


“Mereka pasti akan selamat.”


“Tidak Jackson, jangan tinggalkan suamiku,” lirih Shira menahan lengan Jackson yang hendak menyalakan mobil.


“Shira, ini terlalu berbahaya, kita tidak akan tahu apa yang akan ibuku lakukan setelah ini. Ini kesempatan kita untuk kabur!” jelas Jackson.


“Tidak! Aku mohon, Jackson ... aku tidak ingin meninggalkan suamiku!” Emosi Shira malah semakin menjadi. Perasaan takutnya begitu besar, apalagi ia terlalu sering ditinggalkan oleh orang yang disayangnya.


Dan jika sampai ia kehilangan Akash, ia tidak tahu lagi hidupnya kedepannya akan seperti apa. Karena bagi Shira, saat ini Akash adalah segalanya baginya, bahkan Akash sudah menjadi separuh dari nafasnya.


“Shira!”


“Aku mohon.” Shira menatap Jackson dengan penuh harap. Sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang kian menjadi terasa di perutnya.


Jackson hanya bisa bernafas pasrah. Sementara Kalala, wanita itu terus melihat ke belakang, berharap akan ada Edwin yang selamat dan datang menghampirinya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2