Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Rencana Pertemuan


__ADS_3

“Bagaimana, apa yang dia pertanyakan?” tanya seorang lelaki yang kini tengah berdiri di depan kolam renang, di tengah sunyinya malam hari.


“Hanya mengenai pertemuan dengan Anda dan keinginannya untuk bertemu dengan Anda besok, Tuan,” jawab Edwin kepada Akash.


Akash tersenyum singkat, lalu berbalik menghadap sekretaris yang tengah berdiri di belakangnya. “Baiklah, kalau begitu atur saja pertemuannya besok malam, dan pastikan aku bertemu dengannya hanya di tempat yang jauh  dari jangkauan orang-orang,” ucap Akash dengan tegas.


“Baik, Tuan,” jawab Edwin dengan semangat.


“Lalu, apa ada hal lain lagi selain ini yang dia inginkan?”


Edwin terdiam, ia bingung apakah ia harus mengabulkan permintaan Jackson agar Kalala ikut dalam pertemuan besok atau tidak.


“Katakan saja, jangan memikirkannya sendirian, Edwin,” ucapnya seolah tahu kalau ada beban tertentu yang tengah dipikirkan oleh sekretarisnya itu.


“Sebenarnya ....” Edwin tampak ragu untuk mengatakannya.


“Katakan!”


Lelaki berjas hitam itu menghela nafas pasrah. “Sebenarnya, tuan Jackson juga menyuruh saya agar Kalala datang dipertemuan besok.”


“Untuk?” Akash menautkan kedua alisnya dengan heran.


“Saya juga kurang tahu, karena tuan Jackson tidak mengatakan alasannya,” balasnya dengan mimik wajah yang terlihat sedikit muram.


“Lalu, apa kamu akan membiarkan itu terjadi?” tanya Akash.


Edwin menggeleng pelan, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena jujur saja di hatinya yang paling terdalam, tentu ia sangat menolak permintaan dari Jackson itu, tapi ia juga sebelumnya sudah berjanji kalau dirinya akan melakukan apapun yang diminta oleh Jackson dalam pertemuan 15 menitnya itu. Meski salah satu permintaannya adalah hal paling tidak ingin ia setujui.


Hening.


Akash juga mengerti akan perasaan Edwin, tapi perjanjian antara dia dengan Baker tentu harus ditepati. Apalagi sebagai seorang pria sejati, Edwin paling anti jika harus mengingkari janjinya.


“Untuk masalah Kalala, kau bisa memikirkannya kembali. Jika kau percaya pada hati pasanganmu tentu pertemuan ini tidak akan menjadi masalah besar, kau juga pastinya sudah tahu pada siapa hatinya berlabuh. Tapi, jika kau memang benar-benar takut, maka pikirkan kembali rasa percayamu pada kekasihmu itu, Edwin.”


Edwin teridam sejenak mencerna apa yang dikatakan oleh Tuannya. Sedetik kemudian ia meyakinkan dirinya dan membernarkan sebagian apa yang dikatakan oleh Akash memang benar adanya, kalau dirinya sudah tahu hati Kalala untuknya, dan tentunya ia harus percaya jika besok Kalala dan Jackson dipertemukan pun tidak akan ada masalah lain. Dan seharusnya ia jangan sampai takut kalau Jackson akan merebut Kalala darinya. Karena, jika Kalala tidak mau, Jackson tidak akan bisa apa-apa.


Akash menepuk sebelah pundak Edwin. “Pikirkan kembali, aku pergi ke kamarku terlebih dahulu,” ucapnya berpamitan, karena memang saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, sudah saatnya ia pergi untuk beristriahat bersama Shira—istrinya.

__ADS_1


Edwin mengangguk. “Silakan, Tuan, selamat malam.”


“Malam.” Lalu Akash pun pergi meninggalkan Edwin sendirian di tepi kolam renang.


___


Sementara itu, di kamar yang terlihat sedikit gelap hanya bercahayakan lampu tidur remang-remang, seorang wanita masih terjaga dari tidurnya.


Berbagai macam pertanyaan dan kemungkinan berkumpul menjadi satu di dalam pikirannya. Kalala benar-benar merasa resah setelah tadi sore ia menerima panggilan dari nomor yang baru diketahui kalau itu adalah Jackson.


“Kenapa Edwin malah memberikan nomor aku sama dia sih!” gumamnya sedikit kesal, karena bagaimana pun hal itu terjadi karena kekasihnya yang memberikan nomornya kepada Jackson.


“Huft benar-benar menyebalkan! Mana sampai sekarang dia enggak nelepon atau ngirim pesan sama aku lagi!” ucapnya langsung menarik selimutnya menutupkannya ke kepalanya.


Jadi, sore tadi saat Kalala tengah asyik merajut syal khusus untuk Edwin, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan telepon masuk, dan saat ia mengangkatnya, ia begitu terkejut mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.


“Kalala.” Suara itu masih terngiang ditelinganya, suara lelaki yang tidak lain adalah Jackson.


“Ini siapa?” tanya Kalala, meski ia tahu betul suara siapa itu.


“Kalala, ini aku Jackson.”


“Ya, a-aku dapat nomormu dari Edwin.”


“Edwin?”


“Ya, Edwin yang memberikannya padaku. Syukurlah ternyata dia memang benar-benar memberikan nomor aslimu.”


Kalala terdiam terpaku, merengutkan dahinya merasa ada yang aneh. Bagaimana bisa pacarnya itu memberikan nomor ponselnya kepada Jackson begitu saja tanpa sepengetahuan atau izin darinya.


“Kalala, bisakah besok kita bertemu?”


“Bertemu?” Kalala semakin terheran-heran. Bagaimana bisa bertemu, sementara ia saja tidak bisa pergi dari pulau rahasia ini tanpa izin dari Akash.


“Ya, ada titipan dari ayahku yang harus aku berikan padamu.”


“Titipan dari ayahmu?” Kalala semakin bingung.

__ADS_1


“Iya, ayah menyuruhku memberikan ini padamu, tapi semenjak kamu menghilang aku jadi kesulitan untuk memberikan ini padamu. Jadi, besok aku ingin bertemu denganmu.”


“T-tapi, Jackson a-a—”


“Tenang saja,” potong Jackson. “Besok aku akan bertemu dengan Akash, dan kau pasti diizinkan ikut dengannya dalam pertemuan besok, Edwin juga akan ikut. Sebelumnya aku juga sudah menyuruh Edwin agar dia bisa mengajakmu dalam pertemuan besok. Jadi aku harap, besok kau mau datang menemuiku.”


“Loh, kok bisa? Terus Edwin, di-dia?” batin Kalala tak mampu berpikir.


Hening, tidak ada sahutan dari Kalala.


“Baiklah, sepertinya kau masih sibuk dengan pikiranmu. Tapi, diamnya kamu akan aku anggap sebagai jawaban ‘iya’ dan aku akan menunggumu besok.”


“Aku sudahi dulu ya teleponnya. Sampai bertemu besok.”


Tut, tut, tut, tut.


Kalala hanya terdiam bengong.


Dan sejak sore tadi, sampai tengah malam ini, Kalala masih sibuk dalam pikirannya. Tidak mungkin ia menceritakan ini kepada Shira, apalagi meminta info kebenarannya kepada Akash.


Satu-satunya orang yang bisa ia tanyai tidak lain adalah kekasihnya sendiri, namun sayang sekali, sejak sore hingga malam ini, ponsel Edwin masih tidak bisa dihubungi. Dan hal itu semakin membuat Kalala kebingungan.


Dan pada akhirnya Kalala pun memilih untuk bangkit dari tempat tidurnya, mengacak rambutnya lalu mengikatnya dengan berbentuk buns. Ia pun melangkah pergi membuka pintu kamarnya, suana rumah di lantai satu benar-benar terlihat sangat sepi, apalagi di tambah dengan ruangan yang gelap gulita karena lampu sudah pada dimatikan.


Kalala melangkah pergi menuju dapur, menyalakan lampu dapur lalu mengambil gelas beling yang ada di lemari kaca. Dan begitu ia berbalik, tiba-tiba sesorang berkaus hitam tiba-tiba sudah muncul di depannya dan mengejutkannya.


Prang!


“Edwin!” pekiknya terkejut, seiring dengan jatuhnya gelas yang ia pegang, menghamburkan pecahannya di atas lantai.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru update lagi hehe


__ADS_2