Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Mencurigai Kepergian Kalala


__ADS_3

Hari ini Jackson dan Haru sekretarisnya tengah pergi ke Surabaya, untuk mengecek project pembangunan tempat yang akan dijadikan sebagai perusahaan barunya, yaitu sebuah perusahaan tekstil. Yang kemungkinan akan mulai beroperasi satu tahun lagi.


“Baiklah, untuk beberapa proposal lainnya, aku akan mengeceknya besok,” ucap Jakson kepada salah satu mandor yang datang menghadapnya.


“Baik, Tuan, terima kasih.”


Jakson mengangguk, lalu setelah mengecek semuanya, dan menangani beberapa masalah di sana, Jackson pun mengajak Haru untuk bergegas pulang ke tempat menginap mereka di hotel.


Dan tepat pada pukul 19.00 malam, setelah selesai makan malam di buffet, Jackson memberi tahu kepada Haru bahwa ia akan pergi ke rumah temannya.


“Kau istirahat saja, atau kalau kau ingin berkeliling silakan, aku akan pergi menemui seseorang, mumpung aku sedang di sini,” ucap Jackson memberi tahu.


“Baik, Tuan, saya akan beristirahat saja,” ucap Haru, yang memang kebetulan ia benar-benar sangat capek dan ingin segera tidur.


“Baiklah, tapi ingat, ponselmu harus selalu dalam keadaan mode dering jangan men-silent-nya.”


“Siap, Tuan,” jawab Haru mengangguk.


Lalu setelahnya, Jackson pun bergegas pergi menuju jalan raya, ia menelepon sopir langganannya yaitu Pak Ari, yang biasa mengantarkannya ke mana pun ia pergi jika dirinya tengah berada di Surabaya.


“Malam ini kita mau ke mana, Tuan?” tanya Pak Ari, begitu Jackson memasuki mobil dan duduk di sampingnya.


“Ke perumahan Juanda City Park, yang waktu itu kita pernah ke sana,” ucap Jackson, Pak Ari mengingatnya.


“Oh, ke rumah pacarnya ya?”


Jackson terkekeh mendengar penuturan Pak Ari. “Tidak, dia bukan pacar saya. Sudah, cepat jalan ke sana,” ucapnya masih tersenyum mesem.


“Oh, baik, Tuan. Siap laksanakan!” ucap Pak Ari begitu semangat.


Sepanjang perjalan menuju rumah bibinya Kalala, Jakson senyum-senyum sendiri, mengingat makan malam waktu itu, makam malam yang benar-benar sangat berkesan baginya. Hanya saja, senyumnya tiba-tiba memudar saat ia mengingat bagaimana ciuman antara Edwin dan Kalala bisa berlangsung lama saat mereka tengah memainkan permainan botol yang memabukkan itu.


Ia mendengus pelan, sambil tersenyum tipis. “Bisa-bisanya aku memikirkan macan galak itu,” gumamnya dalam hati.


Karena jujur saja, hingga saat ini, Jackson masih belum bisa memahami perasaannya sendiri kepada Kalala. Kalala memang begitu menarik di matanya, ia menyukai wanita itu hanya sebatas suka. Karena sebenarnya, Jackson pun belum pernah merasakan jatuh cinta kepada wanita.


Ia belum pernah merasakan bagaimana indahnya dan sakitnya jatuh cinta, akan tetapi ia tahu rasanya tertarik dan suka kepada lawan jenis, hanya saja perasaannya hanya stuck di tahan suka, bukan cinta. Begitu pun perasaannya kepada Kalala kali ini, ia hanya merasakan suka dan tertarik kepada Kalala, tapi belum merasakan jatuh cinta yang sebenarnya.

__ADS_1


Jackson mengeluarkan kotak hitam dari dalam saku jasnya, kotak perhiasan yang diberikan ayahnya untuk Kalala.


“Entah apa maksud dan tujuan ayah memberikan ini kepadanya, tapi semoga saja dia bisa menerimanya dengan senang hati,” gumamnya dalam hati.


Dua puluh menit berlalu, kini Pak Ari menghentikan laju mobilnya, dan tanpa sadar, ternyata Jackson sudah sampai di depan halaman rumah bibinya Kalala.


“Loh, udah sampai ya,” ucap Jackson sedikit terkejut.


“Iya sudah, Tuan. Tuan sepanjang jalan melamun terus, jadinya sampai nyampe di depan rumahnya pun Tuan enggak sadar,” ucap Pak Ari berguyon.


Jackson terkekeh mengiyakan, lalu ia pun keluar dari dalam mobil. Kemudian melangkah menaiki teras rumah bibinya Kalala.


Dan saat ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba Ardian muncul mengejutkannya.


“Argh!” teriak Ardian begitu terkejut melihat kehadiran Jackson di sana.


Jackson tersenyum melebarkan bibirnya, menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih.


“Hai ... malam,” ucap Jackson sedikit canggung.


Ardian memandangnya heran. “Hah ... i-iya, malam juga,” jawabnya kagok.


“Jhonson ya?” tanyanya.


Jackson tersenyum garing. “Jackson, bukan Jhonson,” jawabnya membenarkan.


Ardian terkekeh. “Ah haha, iya iya, maksudku itu, Jackson!”


Puk .... Tiba-tiba  Ardian menepuk sebelah bahu Jackson dengan keras. “Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu,” ucapnya sok kenal sok dekat.


“Ah haha iya,” jawab Jackson canggung.


“Ya udah ayo masuk,” ajak Ardian dengan hangat. Jackson pun mengangguk, lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


“Eh, ada Nak Jek ... jak ....”


“Jackson, Budhe,” ucap Ardian kepada Sarah mamanya Kalala.

__ADS_1


“Ah, iya, Jackson.”


“Apa kabar, Tante?” Jackson menyalami tangan Sarah dengan begitu sopan.


“Baik-baik, ayo duduk dulu,” ucap Sarah mempersilakan.


Mereka bertiga pun duduk di sana mengelilingi meja.


“Udah lama banget ya kamu enggak main ke sini,” ucap Sarah membuka pembicaraan.


Jackson tersenyum malu sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe, iya, Tante, kemarin masih sibuk di Jakarta, sekarang kebetulan lagi ngurusin project yang di Surabaya, jadi sekalian mampir ke sini mau ketemu Kalala juga,” ucapnya.


Ardian dan Sarah saling mengerutkan dahi mereka. “Mau ketemu Kalala?” tanya Sarah dengan bingung.


Jackson mengangguk mengiyakan.


“Loh, bukannya Kalala ada di rumah Shira ya? Dia juga udah sebulan lebih enggak pulang ke sini, terakhir bilangnya dia mau ada kerjaan lain yang katanya bikin dia enggak bisa pulang dalam jangka waktu lama,” ucap Sarah memberi tahu.


Jackson langsung mengkerutkan keningnya. “Loh, tapi malam itu, Kalala dan Edwin? Bukannya mereka bilang Kalala akan pulang ke Surabaya,” batinnya mengingat percakapan malam itu.


“Iya bener, Kalala udah lama enggak balik, terakhir dia nelepon ke aku bilang lagi di luar kota, enggak ada sinyal makanya katanya enggak bisa sering-sering nelepon kedepannya,” ucap Ardian memberi tahu.


Jackson terdiam dalam lamunannya.


“Emang dia enggak ngasih kabar ke kamu?” tanya Ardian.


Jackson terhenyak, lalu menggeleng pelan. “Emh ... mungkin ada miss komunikasi antara aku sama Kalala, aku kira dia akan pergi ke luar kota itu ke sini,” jawabnya tersenyum kaku, padahal di dalam hati dan pikriannya ia tengah berpikir keras.


“Sepertinya ada yang enggak beres,” gumam Jackson, menduga-duga. "Aku harus menyelidiki semua ini. Kepergian Akash, Kalala yang hilang dan juga rumah Akash yang kosong, aku harus secepatnay pulang dan menanyakan semua kebenaran ini kepada Edwin."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa bantu like, komen dan votenya ya mentemen. Oh ya Dela mau ngucapin banyak terima kasih buat kalian semuanya yang udah do'ai suami Dela, biar cepat sembuh, lhamdulillah sekarang udah lebih membaik. Dan semoga kita semua selalu ada dalam keadaan sehat wal afiat, dijaauhkan dari segala macam penyakit dan virus berbahaya yang masih melanda dunia.


*Happy reading and enjoy gengs :**


__ADS_2