
Maaf ya, baru selesai perbaikan. Silakan yang mau baca secara runtun, bisa kalian baca ulang mulai dari bab 72 ya.
Happy reading, anda enjoy\~\~\~
****
Perlahan dan cukup santai, Akash mengecup bibir istrinya itu dengan penuh perasaan. Sambil merasakan debar menyenangkan di hatinya.
Akash ingin melakukan semuanya sebaik mungkin, tidak ingin grasak-grusuk atau pun bermain kasar. Ia benar-benar ingin menjadikan moment ini, moment yang tidak akan pernah dilupakan olehnya.
Dan di saat ciuman mereka sudah mulai terasa memanas, saling membalas satu sama lain. Tiba-tiba, sebuah bunyi ketukan pintu terdengar.
Tok, tok, tok.
Ketukan itu terdengar, namun masih mereka abaikan.
Tok, tok, tok.
Ketukan kedua, sudah mulai merasa mereka terganggu mendengarnya. Tapi, Akash masih tetap tidak ingin memedulikan ketukan itu.
Tok, tok, tok.
Dan di ketukan ke tiga ini, akhirnya berhasil membuat Akash merasa geram dan melepaskan ciumannya dengan Shira.
"Ish, siapa sih itu! Benar-benar menganggu saja, awas saja kalau sampai bukan hal penting!" gerutunya, langsung berjalan membukakan pintu dengan mimik wajah penuh emosi.
Ternyata seorang lelaki pelayan di hotel ini datang menghampiri Akash.
"Malam Tuan, maaf menganggu istirahatnya, hanya saja ada titipan yang tertinggal, ini katanya untuk istri, Tuan," ucap lelaki itu dalam bahasa Prancis.
Akash pun meraih paper bag pink yang disodorkan oleh pelayan itu padanya. "Hm, thank you." Lalu kembali menutup pintu kamar rapat-rapat, karena terlupa sesuatu ia pun kembali membuka pintu kamarnya. Ia lupa kalau kamarnya belum dipasang papan tulisan.
Ia membalikan papan tulisan itu menjadi "Don't Distrub."
Lalu kembali menutup dan mengunci kamar tersebut. Dan kembali mendekati Shira yang kini sudah duduk di tepi ranjang yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar.
"Ada apa?" tanya Shira.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya sebuah bingkisan," jawabnya.
"Bingkisan apa?" tanyanya lagi.
"Entahlah, katanya ini untukmu," jawab Akash memberikan bingkisan itu kepada Shira. Shira pun mengambil alih paper bag kecil itu dari tangan Akash.
Akash awalnya melarangnya dan meminta Shira untuk tidak membuka itu sekarang. "Nanti saja, Shira."
"Tidak, aku harus membukanya sekarang, siapa tahu penting," ucap Shira kekeh lalu segera membuka kotak kecil yang ada di dalam paper bag tersebut.
Dan ternyata, isi di dalamnya adalah sebuah permen. "Permen apa ini?" tanya Shira, karena ia tidak bisa membaca tulisannya dengan jelas.
Akash pun bertepuk tangan tiga kali dan tiba-tiba lampu kamar kembali menyala dengan terang.
Saat Akash melihat permen itu, ia langsung paham itu adalah permen yang sering ada di kamar ayahnya. Sepertinya, obat perangsang khusus wanita.
Shira juga cukup terkejut saat membaca tulisannya, kalau permen itu di khsusukan untuk pemaancing sebelum melakukan sebuah hubungan.
Keduanya saling bertatap-tatapan.
"Kau mau mencobanya?" tanya Akash. Shira malah menunduk malu.
Tiba-tiba, Akash berdiri tanpa menjawab dulu pertanyaan istrinya itu. Lalu meraih botol obat yang sempat dikeluarkannya tadi.
"Ini, aku juga diberikan hadiah ini, apa kita mau mencobanya?" tanya Akash penuh maksud.
Shira sebenarnya malu jika harus mengatakan 'mau,' jadinya ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum malu.
Setelah memakan dan meminum obat itu, kini Shira dan Akash kembali melanjutkan adegan mereka sebelumnya, yaitu berciuman dengan mesra.
"Akash, lampunya," bisik Shira di tengah-tengah ciumannya. Akash pun kembali bertepuk tangan tiga kali, dan lampu kamar pun kembali mati dan hanya ada lampu tidur yang redup.
Semakin lama dan semakin terasa memanas. Gairah keduanya pun semakin naik, apalagi setelah kurang lebih 15 menit melakukan foreplay, suhu tubuh diantara keduanya semakin terasa memanas.
Tangan Akash kini sudah merambah ke mana-mana. Sebelah tangannya menarik tali kimono milik Shira, lalu perlahan menurunkan bagian lengan kimono itu dan melepaskannya dari tubuh Shira dan melemparkannya ke sembarang arah.
Begitu pun dengan dirinya, cukup dengan satu tarikan, handuk yang melilit di pinggangnya itu langsung terlepas.
__ADS_1
Akash mulai membaringkan tubuh Shira secara perlahan di tengah-tengah kasur empuk yang penuh dengan taburan kelopak mawar merah itu.
Tampak sekali, dada Shira yang naik kembang kempis, mengikuti ritme nafasnya yang semakin lama semakin memburu cepat.
Akash sudah mengungkung di atas tubuh Shira, mengecup setiap inchi wajah cantik istrinya itu, lalu perlahan beralih ke leher mulus Shira, mengecup, menggigit dan menyesapnya di beberapa titik hingga meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
Seisi ruangan kini menjadi saksi bisu atas pergulatan dari dua insan yang tengah dilanda asamara itu. Tidak lupa, kenikmatan hakiki yang mereka rasakan, membuat keduanya merasa sedang berada di puncak kenikmatan dunia. Bahkan, semilir angin yang datang dari pintu balkon yang tidak terututup rapat itu, tidak membuat keduanya kedinginan, melainkan malah membuat mereka semakin memanas.
Satu kali, dua kali, hingga tiga kali, Shira merasakan puncak kenikmatannya, membuat tubuhnya sudah terkulai lemas. Sementara Akash, lelaki itu masih tampak bugar, dengan pacuannya yang semakin menggila.
Entah itu efek dari obat mujarab yang dimakannya, atau memang kekuatannya yang bisa selama itu. Namun pada akhirnya, Akash pun bisa mencapai puncak kegilaannya. Sebelah tangan Akash menekan keras ke bahu ranjang, kepalanya mendongak ke atas, sambil mengerang melepaskan apa yang selama ini dipendamnya.
Setelah beberapa menit merasakan kenikmatannya, akhirnya juniornya itu kecapekan, dan memilih untuk keluar dari goa.
Akash langsung terbaring di sisi Shira, menoleh ke arah Shira, dengan nafasnya yang masih naik turun tidak beraturan.
Ia tersenyum, Shira juga tersenyum, keduanya salin memandang satu sama lain, lalu Akash pun merangkul Shira, mendekapnya dalam hangat tubuhnya. Dan menarik selimut tebal yang ada di dekatnya, membalutkannya ke tubuhnya dan juga tubuh Shira.
"Terima kasih, Shira," ucap Akash pelan, masih dengan nafasnya yang tidak teratur.
"Kenapa harus bilang makasih?" tanya Shira heran.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berterima kasih, karena kali ini kamu lah yang berhasil membahagiakanku," jawabnya tersenyum lalu mengecup kening Shira dengan begitu dalam.
Sementara itu, entah kenapa setelah melakukan pergulatan ini, hati Shira terasa cukup galau. Pikiran wanita itu tengah dibayang-bayangi oleh berbagai perkiaraan yang tidak diinginkan.
"Status kita memang suami istri. Tapi, apakah setelah ini dia akan terus melakukan ini padaku? Jika iya, dia melakukannya atas dasar apa? Apa dia menyukaiku? Atau hanya karena nafsssu?" batinnya mengira-ngira.
"Shira, tidurlah, sudah mau pagi," ucap Akash mengusap pelan puncak kepala Shira, menyuruhnya untuk segera beristirahat.
Shira mendongak, ingin rasanya ia menanyakan sesuatu hal kepada Akash, akan tetapi ia tidak cukup berani untuk melakukan itu. Yang pada akhirnya ia hanya bisa mendesah pelan, harus bisa menerima berbagai kemungkinan dengan pasrah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa mentemen bantuan like, komen dan votenya ya. Terima kasih juga hadiahnya.