
“Kal, gimana ya kabar Jackson sekarang, aku jadi enggak enak, dia masuk rumah sakit gara-gara makan makananku,” ucap Shira tampak bingung, karena sejak kemarin Jackson dilarikan ke rumah sakit, hingga hari keduanya ini, Shira belum juga menengok Jakson ke sana.
Ia dilarang oleh Akash, karena takut akan ada hal tidak terduga yang dilakukan Asten kepada istrinya itu. Ia juga tidak memperbolehkan Kalala serta ibunya untuk keluar rumah dalam beberapa hari.
“Entahlah, aku juga bingung, semalam aku coba telepon dia, tapi tidak diangkat,” jawab Kalala, ia sebenarnya juga merasa tidak enak hati, karena bagaimana pun Jackson sudah menyelamatkannya dari memakan makanan milik Shira yang beracun itu.
“Shir, coba kamu bujuk suamimu deh, masa kita sama sekali enggak nengokin Jackson. Kasian tahu, Shir,” usul Kalala.
“Aku juga udah nyoba, tapi Akash tetep kukuh gak ngebolehin aku pergi. Jangankan pergi ke rumah sakit, pergi ke halaman depan aja, itu penjaga di luar langsung nelepon Akash,” keluhnya memelaskan wajah.
“Kamu coba telepon lagi deh, Kal, siapa tahu kali ini aktif,” titah Shira, Kalala mengangguk mengiyakan, lalu Kalala pun mengambil ponsel yang ada di atas meja.
Tut ... tut ... tut ....
Panggilan tersambung.
“Hallo, Jackson,” ucap Kalala langsung menaikan volume suara teleponnya.
“Kalala,” suara Jakson di balik ponsel.
“Jackson, gimana kabarmu sekarang? Kamu udah baikkan ‘kan?” tanya Shira langsung mengambil alih ponsel Kalala.
Sepertinya Shira benar-benar khawatir dengan keadaan adik iparnya itu. Namun, ponsel milik Kalala tiba-tiba hening tidak bersuara.
“Jackson.”
“Jackson, kamu ada di situ?” Kalala dan Shira saling bertatapan heran.
“Lihat signalnya,” ucap Kalala, dilihatnya signal masih bagus ada di dalam mode 4G.
Shira tiba-tiba tidak enak hati, tampak dari raut wajahnya yang berubah penuh kekhawatiran.
“Jackson, kenapa tidak menjawab? Bagaimana keadaanmu sekarang, Jackson?” tanya Shira semakin panik.
Setelah hening selama beberapa detik, tiba-tiba terdengar gelak tawa Jackson di balik ponsel.
“Haha, aku baik-baik saja, Shira. Barusan ada perawat yang ngecek keadaanku dulu, makanya aku enggak bisa langsung jawab.”
Shira bernafas lega. “Huft, syukurlah, aku kira kamu pingsan,” jawabnya.
Suara kekehan Jackson kembali terdengar.
“Jackson, maafkan kami ya, kami berdua enggak bisa nengok kamu. Suaminya Shira melarang kami buat pergi keluar rumah,” ucap Kalala.
“Iya enggak apa-apa, sore ini aku juga sudah dibolehkan pulang, keadaanku sudah cukup membaik. Kalian berdua tidak perlu khawatir soal keadaanku.”
“Tapi, Jackson, kamu begini ‘kan karena aku.” Shira berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Merasa terharu, karena Jackson sudah menyelamatkannya.
“Tidak, ini semua tidak karena siapa-siapa. Mungkin badanku saja yang sedang lemah,” jawabnya.
“Jackson.” Terdengar suara orang lain di balik ponsel. Sepertinya ada orang yang tengah mengampiri kamar rawat milik Jackson.
__ADS_1
Dan tiba-tiba sambungan telepon pun terputus, karena Jackson yang mengakhirinya.
“Loh, kok mati sih?” gumam Kalala.
“Sepertinya ada seseorang yang menemui Jackson. Jadi dia mematikan teleponnya,” jawab Shira.
***
Sementara itu, Akash kini tengah berada di rumah sakit tempat dirinya bekerja. Pagi ini, Akash sudah melakukan dua kali operasi untuk pengambilan ginjal dan cangkok jantung.
Sudah sejak seminggu kemarin ia menginginkan jadwal bertemu dengan bosnya yang bernama Mr. Sutte. Namun, hingga hari ini Mr. Sutte belum juga datang menemuinya.
Dan sore harinya saat ia pulang dari rumah sakit, Akash terlebih dahulu pergi menemui orang yang akan membatu kepergiannya besok malam.
“Tuan, apa Nona Shira sudah diberi tahu soal ini?” tanya Edwin, yang sedikit khawatir karena semua keinginan Tuannya ini berjalan terlalu cepat.
“Aku akan memberi tahunya besok. Sekaligus aku akan memeriksakan kehamilannya terlebih dahulu. Tapi, aku yakin, Shira dan calon bayiku pasti kuat, mereka akan baik-baik saja,” jawab Akash begitu yakin.
“Baiklah, Tuan.”
Kini Akash pun tampak tengah mengobrol dengan seorang lelaki yang waktu itu pernah memabawanya ke sebuah pulau rahasia.
“Besok, jam 10 malam. Pastikan semuanya aman dan tidak ada orang lain yang tahu soal ini, selain aku, kamu dan anak buahku,” tegas Akash.
Lelaki itu mengangguk paham. “Baik, Tuan. Saya akan memastikan semuanya aman dan data maupun kabar Anda tidak akan bocor kepada siapa pun.”
“Hm, baguslah kalau begitu,” ucap Akash.
“Ed, sepulang dari sini kita ke rumah ayah dulu,” ucap Akash.
***
Di kediaman rumah Tuan Baker.
“Jelaskan!” Baker melemparkan sebuah botol kecil yang dikantongi oleh plastik pengaman kepada Asten.
Asten membeliakkan kedua matanya, ia begitu terkejut saat botol itu bisa sampai di tangan suaminya.
“Apa ini penyebab anak kita sampai masuk rumah sakit?!” sentaknya, memelototkan matanya memandang benci kepada Asten.
“Su-suamiku, maksud kamu apa? Aku tidak mengerti? Apa yang kamu lemparkan ini?” Asten memungut kantung berisi botol kecil itu.
Ia memandangnya seolah ia baru pertama kali melihatnya. “Obat apa ini, Suamiku?”
Baker membuang muka, sambil berkacak pinggang. “Jelaskan sekarang juga, atau aku yang akan menyeret pelayan di rumah ini untuk menjelaskan semuanya kepadamu, Asten?!” Ancam Baker begitu murka.
Asten membeliakkan kedua matanya, lalu menautkan kedua alisnya, begitu terkejut. “Sialan! Jadi pelayan itu yang membocorkan semuanya?” batin Asten begitu emosi.
“Pengawal!”
“Pengawal!” Baker berteriak penuh emosi, memanggil pengawal yang selalu berjaga di luar kamarnya.
__ADS_1
“I-iya, Tuan ada apa?” tanya Pelayan yang baru masuk itu.
“Cepat, panggilkan pelayan sialan yang sudah mencelakai anakku itu!” titah Baker dengan suaranya yang menggelegar memenuhi seluruh ruangan.
“Gawat! Bagaimana ini?” batin Asten jadi bimbang, tapi bagaimana pun ia harus tetap tenang, ia harus bisa berakting kalau dirinya tidak tahu apa-apa.
“B-baik, Tuan.” Pengawal itu buru-buru pergi untuk melaksanakan perintah Tuannya.
“Kalau kau sampai terbukti bersalah, aku tidak akan segan menghukummu, Asten! Aku tidak akan membiarkan kejadian di masa lalu menimpa anggota keluargaku lagi!” Baker benar-benar terlihat begitu murka pada istrinya itu.
Karena sejak kemarin Jackson masuk ke rumah sakit. Baker tidak bisa tinggal diam. Tadi pagi ia menyeret semua pelayan dan koki yang bekerja di malam itu. Ia mencari penyebabnya dan ternyata setelah diselidiki dan sebagain koki serta pelayan di interogasi, akhirnya Baker menemukan dua orang yang tampaknya sangat mencurigakan.
Dan setelah di tanyai lebih dalam lagi, Baker begitu sangat terkejut mendengar pengakuan dari dua pelayan yang disuruh oleh Asten. Ia begitu tidak menyangka, kalau semua itu dilakukan oleh istrinya yang hendak mencelaki menantunya. Bahkan, Baker pun tidak menyangka, kenapa istrinya bisa sejahat itu.
Hanya saja, sebelum ia menghukum istrinya dengan pasti, ia harus mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu melalui pengakuan Asten. Akan tetapi, melihat respon Asten saat ini, hanya bisa menambah emosi di jiwa Baker.
“Suamiku, apa yang kamu katakan? Apa kamu menuduhku, karena anak kita masuk rumah sakit?” tanya Asten, begitu manipulatif. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, menampilka wajahnya yang begitu banyak kesedihan, seolah ia tengah kecewa kepada suaminya yang tengah menuduhnya.
“Aku tidak menuduhmu, aku sedang mencari tahu kebenarannya, Asten!”
“Kalau kau sampai terbukti bersalah, kau lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu!” serunya sambil menunjuk wajah Asten dengan telunjuk kekarnya.
Asten mematut, memandang wajah suaminya penuh ketakutan. Kini air matanya sudah banjir memabasahi kedua pipinya. Ini untuk kedua kalinya, Asten melihat kemurkaan di wajah Baker, setelah dua puluh tahun lamanya.
Dan tiba-tiba, bayangan masa lalu saat Asten merasakan sakit hati yang teramat dalam, kini terbayang lagi dibenaknya. Emosi di jiwanya pun kian berkumpul. Ia sangat benci jika dirinya mengingat kejadian itu. Dan di saat seperti ini, tidak mungkin ia melakukan hal bodoh seperti dulu lagi.
“Suamiku, apa sebegitunya engkau tidak percaya padaku, hingga kamu tega menuduhku seperti ini?” tanya Asten sambil terisak sedih.
“Aku adalah seorang Ibu, tidak mungkin aku melakukan hal ini kepada anak kita. Apalagi kau tahu, akau sangat menyayangi Jackson. Jackson adalah separuh dari kehidupanku, tidak mungkin aku membiarkannya celaka seperti ini. Kau percaya padaku ‘kan, Suamiku?” tanya Asten, menangis sambil memegang sebelah tangan Baker.
Baker meliriknya, sebenarnya ia sangat tidak tega jika harus melihat seorang waniat menangis di hadapannya, apalagi orang itu adalah orang yang disayanginya.
Selagi memohon meminta kepercayaan kepada Baker. Pintu kamar terdengar diketuk, Bakar mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menyuruh orang di luar untuk masuk.
Dan ternyata itu adalah pengawal yang tadi, yang sudah membawa dua orang pelayan bernama Amel dan Monic.
Asten melirik ke arah Amel dan Monic. Ia terperanjat saat Baker tiba-tiba menepiskan tangannya. Sehingga Asten hanya bisa menunduk sedih sambil mendekap tangannya di dada.
“Kalian berdua, cepat jelaskan semuanya!” seru Baker kepada Amel dan Monic, dua pelayan yang sudah bekerja sekitar dua tahun di rumah ini.
Amel dan Monic saling menoleh ketakutan, lalu tatapan mereka tampak melayang ke arah Asten.
Asten menatapnya dengan tatapan sinis penuh ancaman, seolah mengatakan kalau mereka harus berbohong.
“Awas saja mereka, kalau mereka sampai mengungkapkan kebenarannya aku tidak akan segan membunuh keduanya!” gumam Asten dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Istighfar ya, hati-hati darah tinggi haha