
Di dalam pesawat yang tengah melaju menuju Tokyo tempat mereka transit nanti, Akash kembali mengatur rencananya. Ia pun memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jacketnya hendak mengambil handphone miliknya.
Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa selain itu adalah handphone. “Ada apa ini?” gumamnya langsung mengeluarkan benda tersebut. Dan ternyata itu adalah gulungan kertas kecil berwarna putih.
Akash mengerutkan alisnya, menatap heran gulungan kertas tersebut. Ia pun memebukanya pelan, dan ternyata itu adalah kertas dari Ayahnya, yang sempat dimasukan ke dalam saku jaket Akash oleh Baker, tadi saat mereka berpelukan.
“Itu kertas apa?” tanya Shira memandang ingin tahu ke arah kertas kecil tersebut.
“Bukan apa-apa, hanya kertas biasa,” ucap Akash hendak memasukan kembali kertas tersebut. Namun, sebelum itu berhasil, Shira terlebih dahulu merebut gulungan kertas itu dari tangan Akash.
Wanita itu langsung membukanya dan kedua matanya langsung menyipit, dengan alis yang mengernyit.
“Loh, ini apa Akash? Kok tulisannya Paris,” ucap Shira dengan bingung.
“Hah? Oh i-iya, kita enggak jadi ke Kanada, kita jadinya ke Paris saja,” ucap Akash tersenyum kaku.
“Loh, kok begitu? Memangnya bisa ya ganti rute dadakan?”
Akash sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan Shira. Akan tetapi jika memang keputusan dari ayahnya mereka harus menuju ke Paris, Akash tidak bisa apa-apa. Dan Akash pun berpikir, ayahnya itu pasti sudah menyiapkan jet pribadi di bandara Tokyo nanti.
“Bisa dong, tenang saja, semuanya sudah diurus oleh ayahku.”
“Kamu kenapa enggak bilang dari awal kalau kita mau ke Paris?” tanya Shira sedikit kecewa.
“Ya memangnya kenapa?”
“Aku ‘kan bisa menyesuaikan pakaiannku untuk di Paris kalau tahu kita akan ke sana.”
“Ya memangnya ada apa dengan pakaianmu?” tanya Akash heran.
“Ya aku nyiapin pakaianku ya temanya Negara Kanada, bukan Negara Paris,” imbuhnya sedikit kesal.
“Astaga! Aku kira karena apa. Kalau masalah baju, tenang saja nanti kamu bebas belanja di Paris buat menyesuaikan tema pakaianmu itu,” ucap Akash tersenyum.
“Benarkah?” tanya Shira antusias. Akash kembali mengangguk sambil tersenyum tipis.
***
Perjalanan dari Jakarta menuju Tokyo cukuplah memakan waktu yang panjang yaitu sekitar, 9 jam 20 menit. Dan sekarang mereka baru setengah perjalanan.
Mereka berangkat pukul 06.20 dan kemungkinan akan sampai di Narita Intl Tokyo sekitar jam 15.40 sore.
Shira sudah merasakan bosan, karena sejak tadi hanya mengobrol dengan Akash dan dua pelayan wanita yang satu ruangan dengan mereka, terkadang mereka juga sambil menonton film, tapi Shira benar-benar tidak terbiasa terdiam selama ini di dalam satu ruangan.
“Akash ... aku bosan,” rengek Shira mencebik kesal.
“Bosan?” tanya Akash yang sejak tadi masih fokus menelaah sebuah data di tabletnya.
“He’em....”
“Ya sudah, kalau begitu kamu tidur saja dulu, biar enggak bosan, nanti aku bangunkan kalau pesawat mau landing,” ucap Akash memberi solusi.
Shira pun mengangguk dan mulai berbaring di sebuah kursi panjang yang khusus bisa untuk tiduran. Ia berguling ke kanan dan ke kiri. Tetapi tetap saja, ia tidak bisa tertidur.
Tiba-tiba, ginjalnya merasakan sesuatu, ia pun bergegas pergi menuju toilet yang ada di sana, jaraknya tidak terlalu jauh hanya ada di pojok ruang saat hendak masuk.
__ADS_1
“Kamu mau ke mana?” tanya Akash melihat Shira yang tengah berjalan sambil pergegangan ke kursi-kursi yang ada di dekatnya.
“Aku mau pipis,” ucapnya langsung berlalu begitu saja memasuki toilet.
“Pipis?” gumam Akash dalam hati. Ia tersenyum tipis penuh maksud, lalu buru-buru ia menyimpan tabletnya di kursi kosong di sebelahnya.
Ia mengusap bibirnya sambil tersenyum sekilas.
“Pengawal, pelayan,” panggil Akash.
Keempat pelayan dan pengawal itu langsung menoleh.
“Iya, Tuan ada apa?” tanya mereka bersamaan.
“Emh, selama beberapa menit ke depan, kalian pakai earphone kalian, dengarkan musik yang keras dan jangan coba-coba melepaskan earphone atau mematikan musik kalian sebelum aku kembali,” ucap Akash dengan tegas.
Mereka berempat sedikit kebingungan, kenapa tiba-tiba Tuannya memberi mereka perintah seperti itu. Akan tetapi, mereka di sini harus patuh, mereka pun mengangguk kompak. Dan segera memasang earphone mereka di telinga mereka masing-masing. Mendengarkan musik dengan volume cukup tinggi sesuai arahan dari Akash.
Di antara mereka ada yang mendengarkan musik dangdut, ada juga yang mendengarkan musik rock, pop dan ada juga yang mendengarkan lagu dari BTS, yaitu si pelayan muda yang hampir seusia dengan Shira.
Setelah memastikan para pengawal dan pelayannya memakai earphone dengan benar, Akash pun tersenyum melipat bibirnya ke dalam. Entah kenapa, lelaki itu tampaknya tengah bahagia.
Dia pun mengikuti Shira ke toilet, tidak masuk hanya berdiri di luar menunggu Shira keluar.
Dan tidak lama kemudian, Shira pun membuka pintu toilet tersebut.
“Akash, kamu lagi apa di sini?” tanya Shira.
“Menunggu kamu keluar, aku ingin pipis juga,” ucap Akash.
“Akash kenapa kau malah mendorongku, aku ‘kan mau keluar,” ucap Shira mencoba mencari celah agar ia bisa keluar dari toilet tersebut.
“Tidak kau harus membantuku, Shira!”
Shira langsung mendongak. “Apa? Membantumu?” Akash mengangguk sebagai jawaban.
“Tidak! Aku tidak mau, kalau mau pipis ya pipis aja sendiri!” tolaknya mencoba menyingkirkan tubuh Akash dari pandangannya.
“Tanganku sakit Shira! Aku tidak bisa membuka kancing dan resleting celanaku, bukannya kau tadi bilang kau akan bertanggung jawab!” tegas Akash.
Shira pun terdiam, ia mencebik kesal, tapi memang benar apa yang diucapkan Akash padanya, tangan Akash memang sakit gara-gara dirinya.
“Iya, iya,” ucap Shira terpasksa.
Akash pun tersenyum merasa senang. Padahal jika Shira tahu, pergelangan tangan Akash sekarang sudah tidak apa-apa, rasa sakit tadi pagi itu hanyalah sebuah hal kecil hanya dalam hitungan menit pun rasa sakit itu sudah hilang. Tapi karena memang Akash yang ingin menjahili istrinya itu, ia tidak akan bilang kalau tangannya baik-baik saja.
Akash pun menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya, mendorongnya dengan punggung kekarnya, membelakangi pintu. Dan kini keadaan sedikit terasa canggung dan gerah.
Hawa panas tiba-tiba menyerang keduanya.
Shira terlihat cukup gugup, karena bagaimana pun ini adalah sesuatu yang terasa akward baginya.
“Ayo, bantu lepasin celanaku dong,” ucap Akash sedikit berbisik.
Dengan sebal Shira pun akhirnya berjongkok, untuk melakukan permintaan suaminya itu. Ia berjongkok tepat di depan juniornya Akash, tapi masih dalam keadaan Akash pakai celana ya.
__ADS_1
Perlahan tangannya menyingkapkan kaos hitam yang digunakan suaminya itu ke atas, lalu membuka kancing celananya, dan kini tangannya perlahan menurunkan restleting jeans yang digunakan Akash.
Shira membuang wajahnya, ia tidak ingin kalau matanya harus bertemu dengan kandang junior suaminya itu.
“Aw,” ringis Akash, saat resleting yang tengah diturunkan oleh Shira menyangkut di tengah-tengah.
“Loh, kenapa susah,” gumam Shira dalam hati, masih dengan pandangannya yang sengaja ia alihkan ke arah lain.
Shira pun terus memaksa menurunkan resleting yang macet itu. Membuat Akash berkali-kali meringis merasakan linu di bagian juniornya karena tekanan yang diberikan oleh Shira.
“Aw! Shira, apa kau tidak bisa berhati-hati? Kalau punyaku sampai kenapa-napa nanti kamu juga yang rugi!’ seru Akash kesakitan.
Shira yang tidak tahan, ia pun memilih berdiri. “Udah ah, aku mau keluar kamu turunin aja sendiri resleting mu itu,” ucapnya dengan kedua pipi yang tampak memerah, seolah menahan malu.
“Tidak! Cepat turunkan celanaku, Shira!” Akash masih kekeh dengan keinginannya. Shira pun kembali meraih resleting itu, dengan sebelah tangan Akash yang memegang dan mengarahkan tangan Shira untuk lebih mengarah kebagian sensitifnya.
Shira dapat merasakan kalau junior milik Akash kini terasa lebih keras, ia tahu pasti tweeter milik suaminya itu sudah bangun.
“Akash, kamu ish!” Shira mencebik kesal merasa geli.
Melihat mimik wajah kesal dari istirnya itu, membuat Akash terbahak, lalu ia pun meminta maaf.
“Iya, iya maaf, enggak kok. Udah, aku pipis dulu, kamu tunggu di sini sebentar,” ucap Akash terkekeh kecil lalu ia pun segera mendekat ke toilet duduk dan mengeluarkan pipisnya.
Setelah itu, Akash membasuhnya dan tidak lupa menahan tombol flush di atas toilet. Lalu ia pun segera membernarkan celananya, menarik resletingnya ke atas dan menagncingkan celanaya menggunakan kedua tangannya yang memang tidak kenapa-napa.
Setelah itu, ia berbalik ke arah Shira yang masih setia berdiri membelakanginya. Ia pun terlebih dahulu membasuh tangan dan mengeringkannya.
“Sudah belum?” tanya Shira masih terpaku berdiri menghadap pintu.
Namun, bukannya jawaban yang Shira terima, tetapi malah ....
.
.
.
Bersambung...
Bantu vote ya temen-temen, authro lagi ikutan event tahunan dari pihak Noveltoon, authro ada di team A semoga bisa menjadi salah satu pemenang dari 10 besar. Aamiin. Terima kasih yang sudah memberikan dukungaannya.
__ADS_1