
Edwin menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipi Kalala, menangkup kedua pipi wanita itu dan memandangnya penuh kelembutan.
“Sudah, jangan menangis lagi, ya. Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa bersalah karena harus pergi jauh dariku, dan kamu tidak perlu merasa bersalah dengan kondisi Jackson saat ini.”
“Yang kamu lakukan saat ini adalah benar. Kita harus bisa menjaga mental Jackson terlebih dahulu. Aku tidak akan marah. Aku tahu, jarak diantara kita kedepannya mungkin akan menjadi halangan untuk hubungan kita. Tapi, percayalah, Kalala, aku akan selalu percaya padamu. Di mana pun kamu berada, bersama siapa pun kamu, yang aku tahu, dihatimu pasti selalu ada aku.”
“Bukankah aku tidak perlu mengkhawatirkan soal itu?” ucap Edwin berusaha tegar, meski sebenarnya, di lubuk hati terdalamnya, ia pun sangat sedih jika harus jauh dengan Kalala. Tapi, sedewasa mungkin, setenang mungkin, ia harus memahami kondisi Kalala dan Jackson saat ini.
Kalala terdiam tenang mendengar penuturan Edwin. Wanita itu sedikit lebih lega, karena pada akhirnya ada orang yang memberinya semangat dengan dukungan positif padanya.
“Di saat orang lain tidak ada yang bisa memberiku dukungan pasti. Kamulah satu-satunya yang memberiku dukungan pasti itu, Edwin,” ucap Kalala pelan, dengan tatap mata yang begitu dalam.
Edwin tersenyum mendengarnya. “Aku akan selalu mendukungmu, Kalala. Bukankah saling pengertian dalam sebuah hubungan itu sangat penting? Aku melakukan ini, karena aku ingin mengerti semua tentangmu, Kalala. Aku ingin menjadi orang yang paling mengertikanmu.”
Kalala semakin dibuat jatuh cinta dengan sosok lelaki dewasa yang ada di depannya saat ini. Entah sudah sedalam apa rasa yang diselaminya saat ini, yang pasti, kekuatan dan semangat positif yang diberikan oleh Edwin benar-benar membuat Kalala semakin sayang dan cinta kepada kekasihnya itu.
“Ini semua adalah takdir yang harus kita lewati, Kalala. Mungkin, hal ini pun hanya sebagian kerikil kecil yang menghalangi jalan kita, dan kedepannya pasti akan lebih banyak kerikil dan batu masalah yang menghadang hubungan kita. Tapi, aku yakin, sesulit apapun itu, kita pasti akan bisa menjalaninya.”
“Tenangkan pikiran dan hatimu, Kalala. Aku pun di sini akan selalu menjaga hatiku untukmu,” ucap Edwin begitu tulus.
Sungguh, Kalala tidak tahu harus berkata apa lagi, padahal sebelumnya Kalala sudah berpikir kalau Edwin akan kecewa padanya. Edwin pasti akan marah dengan keputusan yang ia ambil sendirian ini. Tapi kenyataannya, ternyata lelakinya itu jauh dari apa yang dipikirkannya. Edwin benar-benar berhati lembut, penuh kasih dan mampu memberikan kepercayaan lebih padanya.
Kalala semakin merasa beruntung karena Edwin yang menjadi penyemangatnya saat ini.
Air mata itu terhenti, seiring dengan senyuman manis yang terkembang di wajah cantik Kalala.
“Aku semakin mencintaimu, Edwin,” ucap Kalala menandang Edwin dengan sangat tulus.
Edwin juga dapat merasakan ketulusan dari ungkapan cinta Kalala. Tidak segan, ia pun mendaratkan bibirnya di bibir tipis berwarna merah milik kekasihnya itu, mengecup dan menghisapnya secara perlahan, lalu setelahnya mereka pun saling berpelukkan erat melepaskan segala rindu dan sayang yang tengah menyelimuti perasaan mereka berdua.
***
Hari ke hari berlalu begitu cepat, tidak terasa, kini sudah tiba saatnya Kalala, Jackson dan Baker untuk berangkat ke Amerika.
Keadaan Bandara Singapura saat ini sangat lah ramai. Banyak orang yang berlalu-lalang di sana, melakukan berbagai macam aktivitas dan tujuan. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh keluarga Baker saat ini.
Shira, Tessa, Akash dan Edwin tentunya mereka semua ikut ke Bandara untuk perpisahan terakhir mereka bersama Jackson dan Kalala.
“Jackson Sayang ... kamu harus kuat ya, kami di sini pasti akan selalu mendo’akanmu. Dan kapan-kapan kami juga pasti akan menengokmu ke Amerika,” ucap Tessa, memeluk dan mengecup kening Jackson sebagai salam perpisahan.
Jackson mengangguk tersenyum. “Iya, Tante, terima kasih.”
“Jackson, kamu pasti bisa. Aku yakin kamu pasti akan segera sembuh. Dan kelak, kamu pasti bisa menggendong keponakanmu ini,” ucap Shira memberi semangat, sambil menunjukkan baby Chiv yang tengah digendongnya.
Jackson terkekeh kecil. “Iya, Shira. Kalau aku sudah sembuh, aku pasti akan menggendong keponakanku ini dan membawanya bermain,” ucap Jackson mencoba menghibur diri.
“Ayah, Ayah jaga kesehatan ya.” Kini giliran Akash yang memberi salam perpisahan untuk mereka.
“Kamu juga, Jackson. Jaga dirimu, jangan stress, kalau kamu butuh teman cerita, kamu bisa meneleponku. Dan Ayah juga, kalau Ayah ada kesulitan jangan sungkan untuk meneleponku atau meminta bantuanku.”
__ADS_1
Baker dan Jackson mengangguk mengiyakan perkataan Akash. Mereka berdua sangat tahu, betapa khawatirnya Akash saat ini. Bahkan sejak kemarin Akash masih mencoba membujuk Baker agar merubah keputusannya untuk membawa Jackson ke Amerika. Tapi, keputusan terbaik memang hanya operasi di Amerika. Jadi hanya itu satu-satunya jalan yang Baker pilih dan tidak mungkin ia ubah.
Sementara Edwin, sejak tadi, ia terus memandang ke arah Kalala. Lelaki itu sepertinya sedang berusaha berdamai dengan perasaannya saat ini. Karena bagaimana pun, Kalala adalah sosok wanita yang sangat dicintainya saat ini. Dan berpisah seperti ini dengannya, tentu bukanlah perkara yang mudah, ada perang batin yang bergejolak di hati dan pikirannya.
Jackson melirik ke arah Edwin. Lalu memanggilnya pelan. “Edwin,” ucapnya.
Edwin langsung mengalihkan fokusnya kepada Jackson. “Iya, Tuan.”
“Terima kasih, sudah mengizinkan Kalala untuk ikut bersama kami. Aku tahu, ini pasti akan sangat berat untukmu, berpisah dan jauh darinya. Aku juga berharap bisa segera sembuh, agar Kalala tidak perlu lagi menemani atau mengurusku,” ucap Jackson tersenyum getir.
Semua mata memandang ke arah Jackson. Terutama, tatapan Baker, entah kenapa tapi tiba-tiba ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dada Baker, saat mendengar anaknya berkata seperti itu.
Edwin tiba-tiba menjadi kaku, entah hal apa yang harus ia katakan untuk menjawab ucapan dari Jackson.
“Tidak apa-apa, saat ini kesehatan dan kesembuhanmu lebih penting, Tuan. Lagi pula, aku masih bisa menghubungi Kalala via telepon,” jawabnya, sambil sekilas melirik ke arah Kalala yang tengah tersenyum padanya.
Jackson mengangguk pelan. Lalu menarik nafasnya. “Baiklah, sepertinya ikatan batin di antara kalian sangat kuat ya. Aku tidak perlu lagi mencemaskan hubungan kalian,” ucap Jackson.
Baker paham sekali dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu.
“Baiklah, kalau begitu kami akan berangkat dulu, kalian juga hati-hati ya, jaga diri dan kesehatan kalian.” Baker memberikan pelukan kepada Tessa, Akash dan Shira secara bergantian. Tidak lupa, ia juga memberikan beberapa ciuman di wajah tampan dan gemas milik baby Chiv. Cucu pertama dan kesayangannya tuan Baker.
“Chivarly, Grandpa berangkat dulu ya. Sampai jumpa nanti,” ucap Baker tersenyum lalu mengusap pelan kepala Chiv dengan penuh kelembutan.
Suasana di Bandara yang tengah ramai itu, semakin dibuat ramai oleh suara pengumuman bahwa mereka harus segera check in ke dalam, karena sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan take off.
Suasana pun menjadi haru biru, saat Baker, Jackson dan Kalala pergi meninggalkan mereka.
“Aku di sini akan selalu mendo’akanmu, Kalala,” lirih Edwin sangat pelan tak terdengar oleh siapa-siapa.
***
Kalala memandang hamparan awan lewat jendela kecil yang ada di sampingnya. Menghirup udara dalam pesawat, sambil melepaskan semua resah dan gelisah yang menyelimuti hatinya.
Lalu ia pun tersenyum tipis, saat mengingat malam lalu. Malam indah yang ia lewati bersama Edwin.
Lalu pandangannya ia alihkan pada sebuah benda indah yang melingkar di tangan kiri jari manisnya. Yaitu cincin permata biru yang sangat indah dan berkilau, yang sengaja Edwin berikan padanya sebagai tanda pengikat.
“Masalah hidup itu memang seperti ombak di tepi pantai, ia akan selalu datang, tapi pada saatnya ia pun akan pergi.”
“Meski saat ini Tuhan tengah memberiku ujian, tapi aku yakin, aku pasti bisa melewati semua ujian ini. Terlebih aku sangat yakin, kalau rasa kehilangan yang tengah aku rasakan saat ini, kelak akan Tuhan ganti dengan rasa bahagia yang terlampau indah,” batinnya kembali tersenyum, mencoba menguatkan hati dan pikirannya.
Jackson yang duduk di samping Kalala, ia melirik wanita yang sejak tadi senyum-senyum sendiri tidak karuan itu.
“Aku sangat kagum dengan hubunganmu bersama Edwin,” ucap Jackson tiba-tiba, membuat Kalala langsung menoleh dan terbuyar dari lamunannya.
“Kalian sangat beruntung, karena bisa saling menguatkan seperti ini.”
Kalala masih terdiam, bingung harus bagaimana menanggapinya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Kalala,” lirih Jackson tiba-tiba membuat kedua alis Kalala langsung mengkerut.
“Maaf untuk apa?”
“Maaf karena diriku, jarak diantara kalian jadi terpisah jauh.”
Hening, tidak ada balasan jawaban, hanya senyuman yang ditunjukkan oleh Kalala pada Jackson.
Tiba-tiba, kedua tangan Kalala menangkup sebelah tangan Jackson. Kedua manik mereka saling menatap dengan tatapan yang begitu dalam.
“Tidak perlu meminta maaf, Jackson. Justru aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, karena bagaimana pun kamu lah yang sudah menyelamatkan hidupku.”
“Dan aku pun, melakukan ini untuk menyelamatkanmu,” ucap Kalala, membuat Jackson terheran-heran tidak mengerti.
“Menyelamatkanku?”
Kalala mengangguk. “Aku ingin menyelamatkan semangat hidupmu, Jackson. Aku ingin menyelamatkan mimpi-mimpimu yang belum tercapai, aku juga ingin menyelamatkan harapan-harapanmu. Untuk itu, aku di sini akan menemanimu dan membantumu. Dan sekarang kau tidak perlu sungkan lagi kepadaku, Jackson,” ucapnya sangat tulus, membuat Jackson terhenyak mendengarnya.
Jackson pun tersenyum pelan. Entah kenapa, tapi ucapan yang dikatakan oleh Kalala barusan, seolah-olah membangkitkan semangatnya. Ia tahu, untuk bisa sembuh dan kembali normal memang akan memakan banyak waktu. Tapi, jika mengingat banyak impiannya yang belum tercapai, Jackson pun kembali merasakan adanya harapan. Harapan bahwa ia harus sembuh, setidaknya ia harus sembuh agar dirinya bisa mewujudkan impian-impiannya yang belum tercapai.
“Kalau begitu, apa kau juga mau membantuku untuk mewujudkan mimpi-mimpiku?” tanya Jackson.
Kalala terdiam sejenak, lalu mengedipkan matanya dengan pelan, sambil mengangguk pelan. “Tentu, selagi aku bisa, aku pasti akan membantumu,” jawabnya.
___
Hidup memang tempatnya orang berlalu lalang. Ada yang datang dan ada yang pergi. Termasuk dengan orang-orang yang kita cintai. Terkadang yang dicari malah menghilang, yang dikejar malah berlari dan yang ditunggu malah pergi.
Hidup memang penuh teka-teki dan ujian. Tapi, percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian dibatas luar kemampuan setiap hambanya. Kunci untuk hidup bahagia itu hanya satu, yaitu bersyukur dan selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Layaknya Jackson saat ini, mungkin kehidupannya terlampau menyedihkan dibanding yang lainnya. Tapi, teka-teki hidup itu tidak ada yang tahu. Yang pasti, sesuatu yang indah bahkan terlampau indah kelak akan mendatanginya. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah, mencoba berdamai dengan keadaannya, menerima semua ujian yang diterimanya dan mensyukuri apa yang sudah dimilikinya.
END and thank you**.**
___
Dalam membaca sebuah cerita, terkadang kisah hidup seseorang itu jauh dari apa yang kita harapkan. Namun, meski begitu, semoga di cerita yang kalian baca sekarang ini, selain untuk menghibur diri semoga ada pula pelajaran atau hikmah yang bisa diambil.
Terima kasih untuk para pembacaku yang sudah mengikuti perjalanan hidup dari setiap karakter yang ada di dalam novel ini. Ambil baiknya, buang yang buruknya. Terima kasih karena sudah bersabar mengikuti cerita ini yang on going selama kurang lebih 7 bulan, hingga akhirnya Tamat di hari ini 10-04-2022.
Kalian adalah pembaca-pembaca berharga bagi Author, karena jika tanpa kalian, karya author ini hanyalah sebuah tumpukan kata yang tidak tahu harus diapakan. Jujur saja, Author sangat senang sekali jika ada orang yang sudi membaca karya receh milik Author ini.
Sekali lagi, terima kasih ya.
Big love and Big hug buat kalian semuanya. :)
Oh ya, buat kalian yang merasa kalau kisah Kalala, Jackson dan Edwin gantung, insyaallah nanti Author akan bikin novel baru yang mengkisahkan soal mereka bertiga. Tapi belum tahu ya kapan rillis nya.. Nanti akan Dela infoin lagi ya.
Bye, bye teman-teman, jaga kesehatannya ya.
__ADS_1
Selamat Romadhon, selamat idul fitri juga. Mohon maaf lahir batin ya mentemen :)