Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Jangan Gegabah


__ADS_3

Setelah selesai berbalanja berbagai macam makanan dan minuman untuk di bekal ke rumah bibinya Kalala, Jakcson juga tidak lupa untuk membawakan kado spesial untuk mamanya Kalala, yaitu membelikannya sendal refleksi, karena dibanding dengan tas, sendal refleksi jauh akan lebih bermanfaat.


“Oh ya, papamu suka dompet kulit enggak?” tanya Jackson, saat mereka melintasi sebuah toko tas yang menyediakan dompet juga.


“Papaku enggak ada,” jawab Kalala simple.


“Enggak ada kemana emangnya? Kerja?” tanya Jackson, yang tidak tahu kalau papanya Kalala sudah berbeda alam.


“Papaku sudah meninggal, bukan kerja,” jawabnya.


Jackson langsung terdiam membisu. “Oh, ma-maaf, aku tidak tahu kalau papamu sudah tidak ada,” jawab Jackson merasa tidak enak hati.


Kalala menarik nafas, sudah sejak lama sekali bahkan sampai sudah bertahun-tahun, baru ada orang lain yang menanyakan papanya. Dan kini, sedikit di hatinya terselip rasa rindu terhadap lelaki yang pernah berjuang membahagiakannya dulu.


“Tidak apa-apa.”


“Sudah selesai ‘kan?” tanya Kalala mengalihkan pembicaraan. Jackson pun mengangguk mengiyakan.


Dan saat mereka tengah berjalan menuju parkiran mobil, tiba-tiba dering ponsel milik Kalala terdengar dan terasa bergetar di dalam saku celana jeansnya.


Buru-buru Kalala mengambil benda pipih yang terselip di saku celananya itu. Dan saat ia melihat layar ponselnya, ternyata satu panggilan masuk tertera dari nomor bibinya.


“Hallo, Bi.”

__ADS_1


“Kalala, maaf, ponsel Bibi tadi mati. Kamu udah sampai di bandara?” suara Bi Nissa dari balik telepon.


“Udah, Bi dari tadi,” jawab Kalala sedikit mencebikkan bibirnya karena merasa kesal kepada bibinya itu.


“Ya ampun, maaaf ya, Kalala. Ya sudah, Bibi suruh Ardian buat jemput kamu ya.”


“Eh, eng-enggak usah, Bi, sebentar lagi aku sampe ke rumah, Bibi kok, jadi enggak perlu dijemput.”


“Loh, kamu naik apa? Taksi?”


“Emh, i-iya, ada teman yang nganter. Ya sudah, aku tutup dulu ya, Bi teleponnya, sampai jumpa di rumah, Bi.”


Sambungan pun terputus. Ia tidak ingin membuang-buang waktu hanya karena pertanyaan bibinya yang pasti akan memanjang seperti rel kereta. Kalala paling tahu, Bibinya kalau sudah mendengar Kalala membawa seorang teman, pasti jiwa keponya meronta-ronta.


“Bibimu ya?” tanya Jackson, masih berjalan lurus hampir mendekati mobil mereka.


Kalala dan Jackson kembali masuk ke dalam mobil. Pak Ari pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah milik bibinya Kalala.


Kalala terdiam, sambil sesekali melirik ke arah Jackson curi-curi pandang.


“Ah, sebaiknya aku katakan saja di sini, agar dia enggak terbawa suasana kalau nanti ketemu bibiku yang rempong itu,” gumam Kalala dalam hati.


“Oh ya, Tuan—”

__ADS_1


“Jackson!” imbuh Jackson, tidak ingin dipanggil dengan sebutan Tuan.


“I-iya, maaf. Oh ya, nanti jika bibiku ketemu kamu, jangan terlalu banyak berbicara padanya ya,” ucap Kalala.


“Kenapa memangnya?”


Kalala menggaruk pundaknya yang tidak gatal, sambil menyengir tidak jelas. “Emh, e-enggak apa-apa sih, hanya saja, bibiku itu orangnya selalu ingin tahu. Sebelumnya juga aku akan meminta maaf terlebih dahulu jika nanti bibiku banyak bertanya hal privasi padamu,” ucap Kalala, menjelaskan.


“Terus?” Kini keduanya saling memandang.


Kalala menyengir, bingung. “Enggak ada terusannya sih. Hanya saja, aku takut kalau nanti bibiku berbicara yang tidak-tidak padamu.”


“Kau berbicara seperti ini karena kau mengkhawatirkanku ya?” tanya Jackson dengan sengaja, mencoba memancing.


“Apa sih! Enggak juga!”


“Lalu, kenapa kamu terlihat bimbang begitu? Memangnya bibimu bisa berkata apa jika berbicara denganku?”


Kalala kebingungan menjawabnya. Sebenarnya, yang paling Kalala khawatirkan adalah pertanyaan bibinya yang selalu menomor satukan soal perasaan. Ia takut kalau Jackson akan tersinggung. Karena kerap kali bibinya itu memberikan pertanyaan-pertanyaan jebakan. Dan jika sampai salah menjawab, bibinya itu akan siap memberikan nasihat seribu malam yang begitu panjang tiada hentinya.


Meski begitu, tapi Kalala pun tahu, itu semua bibinya lakukan karena besarnya kasih sayang bibirnya terhadap Kalala.


“Ah, sudahlah, lupakan saja. Yang pasti kalau kau nanti menjawab pertanyaan dari bibiku, lebih berhati-hatilah, atau waktumu akan tersita banyak olehnya,” imbuh Kalala, langsung membuang muka ke arah jendela mobil.

__ADS_1


Kedua sudut bibir Jackson tampak tertarik ke atas, lelaki itu sepertinya merasakan hawa-hawa bahagia saat kedua telinganya mendengarkan dengan jelas perkataan demi perkataan yang dilontarkan oleh Kalala.


“Aku tahu, kau pasti mencemaskanku. Tenang saja, aku tidak akan gegabah menjawab pertanyaan dari bibimu itu,” bisik Jackson di dekat daun telinga Kalala, yang membuat Kalala langsung bergidik mersakan sensai panas dingin saat nafas lelaki itu terasa membuai area telinga dan tengkuknya.


__ADS_2