Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Dingin Tapi Peduli


__ADS_3

Kalala merasakan sesuatu yang sakit di bagian bawah miliknya. Ia merintih, lalu sesekali membuka matanya yang terasa lengket itu. Dan saat ia berhasil membuka matanya lebar-lebar, ia begitu dikejutkan oleh sesosok tubuh lelaki yang tengah mengungkungnya.


“Tidak, apa yang dia lakukan padaku,” batinnya.


Dadanya tampak sixpac, ia tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah lelaki itu, hanya saja dibagian bawah miliknya ia merasakan sebuah gesekkan yang teramat membuatnya kesakitan.


“Ah ....” Ia baru sadar, kalau ternyata dirinya tengah dalam keadaan disetubuhi oleh pria asing tidak dikenal.


Kalala begitu terkejut bukan main. “Tidak!” teriaknya langsung mendorong tubuh lelaki itu dari tubuhnya. Lelaki itu pun terjengkang ke belakang, dan Kalala pun segera bangkit.


Namun saat ia mencoba bangkit, tiba-tiba ia mengerjap, memelototkan kedua matanya memandang langit-langit kamar yang tiba-tiba terlihat sangat terang.


Hatinya berdebar tidak karuan, keringat sudah bermunculan di seluruh tubuhnya, ia menggenggam erat selimut di dadanya.


Antara bingung dan lega, ternyata yang barusan itu hanyalah mimpi.


“Huft, ternyata hanya mimpi,” gumamnya dalam hati, sambil membuang nafas begitu lega.


Ia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali dan ingat akan sesuatu hal yang kembali terbayang dibenaknya. Bayangan saat dirinya kendak diperkosa oleh tukang ojek jahat bergaya preman.


“Tidak, semua itu tidak mungkin bukan,” ucapnya langsung bangkit dan ia semakin sadar, kalau ternyata semua itu memanglah benar, saat ia melihat jacket bomber milik orang lain yang sudah terpasang di badan mungilnya itu.


“Ini?” Ia menatap jakert bomber yang tengah dipakainya. Serta langsung menyingkapkan selimut itu dari tubunya. Ia melihat juga ke sekeliling, ruangan yang cukup bersih, rapi dan yang pasti ia tidak kenal dengan ruangan kamar ini.


“Di mana aku?” gumamnya pelan sedikit takut. Ia takut, kalau dirinya ada di rumah si penjahat itu.


Perlahan Kalala melenggangkan kakinya, mendekati pintu kamar lalu memutar gagang pintu itu dengan sangat pelan. Dan setelah kunci berhasil terbuka, ia menarik pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar dirinya tidak menimbulkan suara.


Dan saat ia berhasil membukanya, sebuah pemandangan ruangan aesthetic itu membuat kedua matanya langsung terperangah, melongo.


“Apartemen siapa ini?” gumamnya dalam hati.


Ia pun celingukkan memastikan tidak ada siapa-siapa di ruangan tersebut.


Dan saat Kalala berjalan pelan dengan hati-hati, tiba-tiba suara seseorang mengejutkannya.


“Hey kau!” panggil Edwin. Membuat Kalala langsung menoleh ke belakang dan ternyata sebuah pemandangan mengejutkan mata pun harus Kalala dapati.


Edwin tengah berdiri, memakai celana hitam panjang tanpa memakai baju. Jadi hanya bertelanjang dada, menampilkan otot-otot perutnya yang bagai roti sobek, begitu sispax.


Kedua pipi Kalala langsung berubah menjadi merah merona, ia menunduk sambil memejamkan matanya. Begitu malu, saat melihat hal yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.


“Syukurlah kau sudah bangun. Kau benar-benar kebluk sekali! Bangun begitu siang,” gerutu Edwin langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Ternyata, Edwin itu baru saja bersiap hendak pergi ke rumah Akash, hanya saja, tadi saat ia sarapan ia tidak sengaja menumpahkan air kopi ke jas dan kaos miliknya, sehingga membuatnya harus melepas baju dan jasnya itu. Dan saat ia kembali dari uang cuci, ternyata Kalala sudah bangun.


Dan buru-buru lah Edwin masuk ke kamar yang tadi sempat ditempati oleh Kalala, lelaki itu lantai kembali menghadap Kalala dengan pakaiannya yang tampak rapi dan begitu keren.


Memakai jas hitam dengan kemeja putih sebegai **********. Dan tidak lupa, menyematkan kaca mata hitam di saku dalam jasnya.


“Ah, jadi ternyata, orang yang semalam menolongku itu lelaki tengil ini ya,” gumam Kalala dalam hati. “Hm, ternyata dia baik juga ya, peduli dengan orang tertindas seperti aku,” lanjutnya dalam hati.


“Hey, ngapain kau masih mematung di situ? Cepat siap-siap, aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Edwin dengan sinis.


Kalala terperangah, sadar dari lamunannya. “Hah, i-iya sebentar,” ucapnya. Langsung masuk ke dalam kamar Edwin.


Tapi sesampainya di kamar, ia malah kebingungan, harus apa dan bagaimana.


“Kamar mandi! Oke ke kamar mandi dulu,” gumamnya langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Ia pun langsung membasuh wajahnya di atas westafel. Memandangi sebagian wajahnya yang ternyata di beberapa titik terdapat memar dan kemerahan akibat dari pukulan penjahat semalam.


Tiba-tiba bayangan menyeramkan itu kembali tergambar dibenaknya, ia langsung mengerjap tidak ingin memikirkannya lagi.


“Huft, ya ampun, kenapa badanku jadi lemas begini ya,” gumamnya, yang tiba-tiba merasakan lemas dan tidak enak badan saat mengingat kejadian semalam yang membuat dirinya hampir kehilangan nayawa sekaligus kesuciannya.


Setelah membasuh wajah, Kalala pun mengeringkannya dengan handuk kecil yang terdapat di sana. Lalu membenarkan rambutnya di ikat dengan ikatan berbentuk buns yang tampak sedikit acak-acakan.


Setelah melepaskan kontak lensa miliknya, Kalala pun kebingungan, karena ia tidak membawa kaca matanya, tapi kontak lensa miliknya saat ini haruslah segera di buang.


“Sudahlah, tidak apa-apa, lagi pula tidak terlalu buruk, pandanganku masih bisa terlihat jelas, ya meski yang jauh-jauh jadi buram sih,” gumamnya, karena sebenarnya, Kalala mempunyai masalah dengan matanya, ia memiliki masalah rabun jauh.


Setelah itu ia hendak melepas jaket bomber milik Edwin, tapi saat ia membukanya, ia baru sadar kalau pakaiannya sudah tercabik-cabik dan jika tidak memakai jaket, pakaiannya ini tidaklah layak pakai. Ia mengurungkan niatnya untuk melepas jacket tersebut.


“Lama banget sih dia, duh udah lewat lima menit lagi!” gerutu Edwin yang sudah menunggu di ruang TV.


Edwin termasuk orang yang sangat-sangat menerapkan disiplin dalam hidupnya. Waktu menurutnya sangat lah berharga. Ia paling tidak suka dibuat menuggu, apalagi menunggu hal yang menurutnya sia-sia. Seperti sekarang ini, ia merasakan waktunya tebuang sia-sia hanya karena menunggu Kalala kelaur dari kamarnya.


Dan tidak berapa lama pun, Kalala keluar dari kamar Edwin. Edwin langsung menoleh ke arahnya.


“Kamu ini, siap-siap mau pulang aja, kayak persiapan mau perang! LAMA BANGET!” cetusnya menekankan kata 'lama banget' dengan sinis.


“I-iya, maaf, tadi aku lepas kontak lens mataku dulu, lagian perasaan enggak lama-lama amat,” jawabnya pelan tidak enak hati.


“Tidak lama apanya? Aku menunggu kamu sampai menghabiskan waktu lima menit!” seru Edwin.


“Astaga dragon! Cuma lima menit doang dibilang lama! Gimana kalau kayak cewek-cewek yang lain, disuruh nunggu 2 jam, bisa-bisa lumutan dia,” gumam Kalala pelan menggerutu tidak jelas.

__ADS_1


“Kenapa? Kau mengumpatiku hah?” tanya Edwin tidak santai.


Kalala langsung meringsutkan wajahnya. “Enggak! Siapa coba ih, geer!”


“Sudah-sudah, cepat keluar!” titah Edwin tidak santai. Kalala pun mencebik kesal dan keluar dari unit apartemen milik lelaki tengil tersebut. Dan mereka pun turun ke basement, bersama menggunakan lift.


Dan saat di dalam lift, setelah berdiam beberapa saat, tiba-tiba Edwin menempelkan punggung tangannya di kening Kalala. Sontak langsung membuat Kalala memundurkan langkahnya sedikit menjauh, karena jujur saja, Kalala paling anti di sentuh-sentuh seperti itu oleh lelaki. Meski Kalala tahu Edwin termasuk orang yang baik, tapi tetap jika tidak akrab, Kalala selalu waspada dan memilih menghindar.


“Biasa aja kali! Aku tuh cuma mau ngecek, panas kamu udah turun atau belum!” seru Edwin.


“Hah? Panas? Memangnya semalam aku demam ya?” tanya Kalala dalam hati.


Dan tring .... Pintuu lift pun terbuka, Edwin langsung melangkah keluar begitu saja meninggalkan Kalala terlebih dahulu.


Dan saat Kalala tersadar dari lamunannya, ia pun langsung berlari kecil mengejar langkah Edwin menuju mobilnya.


***


Side Story


Seandainya Kalala tahu, malam tadi Edwin si lelaki kaku dan dingin itu, sangat-sangat mencemaskan kondisi Kalala. Apalagi saat suhu tubuh Kalala berada di atas batas normal, belum lagi keringat yang terus menerus keluar dari dahi Kalala, membuat Edwin begitu tidak tega melihatnya.


"Dia pasti sangat ketakutan, sampai sedang pingsan seperti ini pun tubunya masih terlihat gemetaran," gumam Edwin, memandangnya iba.


Jadi, Edwin lah yang semalaman menjaga dan mengompres kepala Kalala, mengenyampingkan istirahatnya, hingga suhu tubuh dari gadis itu kembali normal. Dan karena itu pula, Edwin semalam hanya tidur beberapa jam saja. Karena sejatinya, dibalik sikap dingin dan wajah jutek Edwin, ada rasa peduli yang sangat tinggi yang sudah melekat di jiwa Edwin.


Bersikap dingin boleh saja, tapi peduli itu penting--Edwin.


.


.


.


Bersambung....


Please komen ya, Dela mau up 3x sehari, tapi di 3 bab nya semuanya kalian harus komen ya, ngga apa-apa komen cuma, sekedar kata (next, up, lanjut, atau lagi) begitu juga enggak apa-apa.


Please ya mentemen. Terima kasih juga buat kalian yang memang selalu rajin komen di tiap babnya. Author sayang kalian. yang baca, yang nge like yang nge vote yang komen pokoknya Dela sayang kalain semua.


Love love, muach....


 

__ADS_1


 


__ADS_2