Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Kebenaran Tentang Jackson dan Asten


__ADS_3

“Kau sudah memastikan tempatnya bukan?” tanya Akash pada seseorang yang tengah duduk di sebrangnya.


Kedua lelaki itu kini tengah berada di dalam markas khusus milik Akash. Karena hari ini, ada banyak hal yang harus Akash lakukan untuk melangsungkan rencananya. Agar semuanya berjalan baik-baik saja.


“Sudah, Tuan. Dipastikan sangat aman, hanya saja, Anda harus siap untuk berganti identitas,” ucap lelaki itu


Akash mengangguk. “Tenang saja ... identitas bagiku tidak terlalu masalah. Jika aku sudah memiliki semua yang aku inginkan, tentu semuanya akan dengan lancar dijalankan.”


“Iya, Tuan.” Lelaki itu mengangguk paham.


“Ya sudah, tolong kau pastikan lagi, kalau tempat itu aman dari jangkauan orang-orang,” ucap Akash.


“Siap, Tuan.”


***


Di rooftop gedung kampus.


Kalala, Shira dan Boy tengah duduk di bangku panjang yang tersedia di sana.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kalala to the poin, saat lelaki itu baru saja mendudukan tubuhnya di samping Shira.


“Ini, soal pertengkaran kamu dengan suamimu,” ucap Boy tiba-tiba, langsung membuat Shira dan Kalala terhenyak tidak menyangka.


“Bagaimana bisa dia tahu soal pernikahan Shira,” batin Kalala, karena selama ini ia menganggap hanya dirinya lah yang tahu kalau Shira sudah menikah.


Shira pura-pura tertawa tidak mengerti. “Suami siapa yang kamu maksud?” tanya Shira, sambil terkekeh garing.


“Suamimu,” jawabnya dengan serius, membuat Shira langsung terdiam tidak berkutik sedikit pun.


“Aku sudah tahu sejak awal aku masuk ke kampus ini,” lanjut Boy, membuat kedua mata Shira semakin membulat sempurna.


“Kau tenang saja, masalah pernikahanmu itu aku tidak pernah menyebarkannya kepada yang lain.”


“T-tapi, bagaimana bisa kamu tahu kalau aku sudah menikah, si-siapa yang memberi tahumu?” tanya Shira tergagap saking gugupnya.


“Tuan Jackson,” jawab Boy pelan.


Shira langsung membeliakan kedua matanya dengan sempurna. “Ja-Jackson?” ulangnya, dengan mulut yang sedikit menganga saking terkejut tidak percaya.

__ADS_1


Boy kembali menganggukkan kepalanya. “Iya, aku tahu kau sudah menikah dengan tuan Akash, dari tuan Jackson,” jawab Boy.


“OMG.” Kalala bergumam di dalam hati.


Boy pun kini tengah mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya, dan apa maksud serta tujuannya kuliah di kampus ini. Boy juga memberi tahu kepada Shira dan Kalala, kalau dirinya lah yang sengaja memancing amarah Akash agar mereka bertengkar. Serta Boy juga mengaku soal misinya saat diberangkatkan ke Kanada.


“J-jadi, itu alasan kenapa suamiku mengalihkan tempat honeymoon kami,” gumam Shira tidak habis pikir.


“Hm, begitu lah.”


“Gila! Parah banget sih lo sama tuan Jackson sialan itu! Kok bisa-bisanya lo mau disuruh neglaukin hal-hal jahat kayak begitu!” seru Kalala begitu emosi sepanjang ia mendengarkan penjelasan Boy.


“Iya, untuk itu aku ingin minta maaf, saat itu aku tidak punya pilihan selain menerima tawaran dari tuan Jackson.”


“Gila, mata lo buta sama duit ya!” Kalala masih memandang Boy dengan penuh amarah.


“Iya, tidak apa-apa kalian mengecapku seperti itu. Karena saat itu aku memang sangat membutuhkan uang yang cukup besar untuk biaya operasi jantung adikku,” jawabnya menunduk seolah sedih, mengingat jalan yang harus ia tempuh untuk mengobati adik kesayangannya itu.


Kalala yang hendak mencaci Boy, ia langsung terdiam sesaat setelah Boy menjelaskan alasannya.


“Aku benar-benar minta maaf, Shir. Aku juga sudah sangat bersalah telah mengadu domba antara kamu, Haris dan Luna.”


“Boy! Lo ....” Kalala seolah kehabisan kata-kata untuk memaki lelaki yang duduk di dekatnya itu.


Kalala langsung berdiri, berkacak pinggang menatap Boy dengan begitu jijik.


“Boy! Lu ... ish, parah banget lo, Boy! Lo gak mikir apa! Gara-gara lo ngadu domba Shira sama Haris, ujung-ujungnya si Luna kethuan ‘kan hamil. Jangan-jangan lo juga lagi yang nyebarin video pertengkaran kita di forum kampus?” tanya Kalala menduga-duga.


Hening ... tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Boy. Lelaki itu terus menunduk meratapi segala kesalahannya.


“Jawab, Boy!” tegas Shira menantikan jawabnnya.


Dan pada akhirnya, kepala lelaki itu pun mengangguk dua kali, mengartikan sebagai jawaban iya.


Kalala yang melihat langsung mengusap wajahnya dengan kasar. “Parah! Freak lo!” caci Kalala begitu emosi.


“Masalah ini aku sudah menyelesaikannya dengan pihak kampus dan juga Haris, maka dari itu, hari ini aku akan keluar dari kampus ini,” jawabnya.


Shira dan Kalala masih terdiam, menatap Boy dengan tatapan tidak menyenangkan.

__ADS_1


“Tapi, selain aku ingin meminta maaf pada kalian, aku juga ingin menyampaikan sesuatu pada kalian,” lanjut Boy, yang mendongak menatap dua gadis yang duduk dan berdiri di dekatnya.


“Apa?” tanya Shira pelan.


“Hati-hatilah terhadap Nyonya Asten,” lanjutnya, membuat Shira dan Kalala saling menautkan kedua alisnya begitu heran dan bingung.


“Ma-maksud kamu apa?” tanya Shira masih tidak paham.


Boy menatap Kalala dan Shira secara bergantian. Ia menarik nafas memberanikan diri untuk mengakhiri semua rasa bersalahnay ini. Karena menurutnya, dengan memberi tahu Shira soal ini, setidaknya hal ini bisa menjadikan Shira untuk lebih waspada dan hati-hati terhadap orang-orang dilingkungannya.


“Sebenarnya, yang berambisi untuk mencelakai kamu adalah Nyonya Asten, bukan Jackson,” ucap Boy pelan.


“Apa?! Nyonya Asten?” tanya Shira begitu terkejut.


Boy mengangguk mengiyakan. “Benar ... karena sampai detik ini pun, nyonya Asten masih menyuruh aku untuk melakukan hal-hal jahat padamu. Aku masih sering diteror olehnya agar aku mau melakukan semua perintahnya. Tapi, untuk kali ini aku tidak mau, kamu terlalu baik dan aku pun tidak ingin tindakan kriminal membawaku ke penjara nantinya,” jelas Boy, dengan mimik wajahnya yang tampak mendung seolah tengah menanggung beban berat di pundaknya.


Jantung Shira semakin berdegup kencang, hatinya terasa kalut, pun pikirannya yang menjadi over thinking, memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi padanya.


“Aku harap, kamu bisa lebih berhati-hati jika bertemu dengan nyonya Asten, dan kamu pun harus berhati-hati jika ada orang asing yang mendekatimu,” lanjut Boy.


Kalala yang sejak tadi kebingungan memikirkan siapa nyonya Asten itu, ia pun angkat bicara. “Tunggu, yang kau maksud nyonya Asten itu siapa?” tanya Kalala menatap heran.


“Nyonya Asten itu adalah ibunya tuan Jackson,” jawab Boy memberi tahu.


“Ibunya tuan Jackson?” tanya Kalala, Boy pun mengangguk kembali.


“Wah, benar-benar keluarga parah! Untung saja aku belum menerima penawarannya itu, mereka benar-benar licik,” gumam Kalala dalam hati merasa begitu kesal.


.


.


.


Bersambung....


Lanjutin lagi gak nih? Kira-kira apa yang bakalan Shira lakukan kalau udah tahu kebenarannya, bahwa mertua tiri serta ipar tirinya itu mempunyai niat jahat padanya?


Yang mau lanjut, ramaikan dulu kolom komentarnya ya... terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2