
Plak!
Sebuah tamparan keras kini melayang di sebelah pipi Jackson.
Jackson mengepalkan kedua tangannya dengan erat, menahan gejolak emosi yang ada di dadanya.
“Kau memang tidak bisa diandalkan, Jackson! Lihatlah, sekarang istrinya Akash sudah mengandung, dan ayahmu akan memberikan setengah kekuasaanya pada dia!” seru Asten dengan emosi yang meluap-luap di dadanya.
Hati Jackson semakin tersayat-sayat, seandainya hatinya bisa dilihat dengan bola mata, mungkin hati Jackson sudah hancur dan terkoyak berdarah-darah.
Bahkan, sepulangnya dari Surabaya, bukannya pujian atas kemenangan tendernya, ternyata malah tamparan keras yang ia dapatkan dari ibunya.
“Kau ini kenapa tidak bisa diatur sekali sih! Dan mana?! Mana wanita yang katamu disukai oleh ayahmu hah? Mana dia? Apa kau membawanya? Tidak ‘kan?!” Asten melipat kedua tangannya di dada, dengan sorot mata yang begitu tajam dan wajah yang memerah menahan api emosi yang membara di hatinya.
“Kalau saja waktu itu kau mau ibu kenalkan dengan wanita pilihan Ibu, harta ayahmu itu pasti tidak akan jatuh sebanyak itu kepada Akash. Kau memangnya mau hidup menderita dengan serba kekurangan hah?!”
Jackson semakin tidak tahan. Selama ini ia selalu saja menahan emosi dan unek-uneknya. Tapi kali ini, ia tidak bisa sesabar dulu lagi, ia tidak bisa diam saja ketika Ibunya merendahkannya seperti itu.
Tatapan mata Jackson kini mengarah ke Ibunya, sorot mata yang tajam penuh kebencian, pun kedua tangan yang mengepal semakin erat.
“Cukup, Bu!” teriaknya meluapkan semua emosi di dadanya.
Asten tersentak, mendengar teriakan anaknya, karena seumur hidupnya, baru kali ini Asten mendengar teriakan keras dari anak kesayangannya itu.
“Cukup Ibu membandingkan aku dengan Akash, Bu! Cukup!”
__ADS_1
“Apa Ibu pikir dengan mempunyai banyak kekuasaan dan banyak uang hidup akan bahagia? ... Tidak, Bu, Tidak!”
Asten berkacak pinggang, ia menatap nanar kedua bola mata anaknya itu. “Apa kau sudah berani kurang ajar kepada Ibumi ini, hah?!” seru Asten.
“Terserah Ibu menganggap aku kurang ajar atau pun durhaka. Yang pasti aku juga capek, Bu, capek! Kenapa harus harta dan harta yang Ibu permasalahkan, Bu? Tidak cukupkah kita hidup seperti ini saja? Bukankah aku mengurus satu perusahaan ayah juga sudah cukup.”
Asten menyeringai, menampilkan senyum sinisnya. “Kau bilang apa? ... Cukup?”
“Yakin kamu bisa mencukupi hidupmu dengan hidup Ibu hanya dari satu perusahaan saja hah?” tanya Asten semakin emosi dengan pemikiran anaknya.
“Cukup!” jawab Jackson dengan tegas, bola mata Jackson kini semakin tampak memerah, menahan bendungan air mata yang sejak tadi ingin ia keluarkan.
“Sebanyak apapun yang kita miliki, kalau Ibu tidak bersyukur, Ibu akan selalu merasa kekurangan,” lanjut Jackson.
“Lihatlah sekarang, hidup kita sudah jauh dari kata mewah, Bu. Tapi kenapa? Kenapa Ibu selalu khawatir akan masalah harta dan kekuasaan dari Ayah? Kenapa Ibu selalu mengkhawatirkan aku tidak dianggap oleh Ayah? Kenapa, Bu?!”
Asten terdiam, dadanya tampak naik turun menahan amarah yang semakin membara di jiwanya.
“Kau tidak akan mengerti rasanya tidak dianggap, Jackson! Ibu mengkawatirkanmu karena Ibu sudah mengalaminya. Kau tidak tahu, karena dulu kau masih kecil! Bahkan kalau sekarang kamu tahu pun kamu tidak akan pernah mengerti rasanya menjadi Ibu!” seru Asten, mengutarakan isi di dalam hatinya.
Kedua mata wanita itu kini sudah berurai air mata. Rasa sakit di hati Asten terasa kembali menyesakkan dada. Sungguh, ia begitu sangat frustrasi jika mengingat bagaimana pedihnya dulu, saat ia memperjuangkan haknya dan juga hak Jackson. Tapi nyatanya sekarang, anak yang selama ini selalu dikhawatirkannya itu, malah berani berteriak padanya, melawannya, bahkan membela ayahnya.
Karena jujur saja, pengalaman hidup Asten dulu sangatlah jauh dari kata bahagia. Apalagi saat ia menjalin hubungan gelap dengan Baker. Karena dulu, Baker bahkan tidak mau menganggap Jackson sebagai anaknya, dan menyuruh Asten untuk membunuh Jackson, meski pada akhirnya Asten memilih memperjuangkan haknya dan mengadukan semuanya kepada Tessa, yang waktu itu bersetatus sebagai istri sah dari Baker.
Meski ia harus menjadi perusak rumah tangga Tessa dan Baker, tapi ia melakukannya demi masa depan Jackson, bahkan Asten dan Tessa dulu sempat tinggal satu rumah, dengan status mereka yang dipoligami oleh Baker. Dan karena banyaknya kelicikan yang Asten lakukan pada Tessa, akhirnya Tessa pun memilih untuk cerai dan melepaskan Baker dari kehidupannya.
__ADS_1
Meski Baker ingin memepertahankannya tapi Tessa waktu itu, tapi Tessa tidak bisa jika harus tinggal bersama dengan Asten. Dan Asten melakukan sebagian kelicikannya bukan semata-mata ia yang licik, akan tetapi karena sikap Baker kepada Akash dan Jackson saat mereka kecil itu sangat begitu kentara, sehingga Asten seringkali merasakan kecemburuan.
Dan dari cemburu serta rasa benci yang memupuk di hatinya itu, terbentuklah jati diri baru di dalam diri Asten, yang membuat ia menjadi wanita gila harta dan haus akan kekuasaan. Bahkan sebenarnya ia pun sangat gila perhatian.
Jackson termenung mendengar penuturan dari Ibunya. Bahkan kakinya terasa begitu lemas, saat ia melihat Ibunya menangis seperti itu di depannya. Sungguh, hati Jackson terasa begitu kalut.
Dan ini, baru pertama kalinya Asten menjelaskan alasan yang selama ini selalu menjadi pertanyaan di benak Jackson.
“Ibu tidak percaya, ternyata anak yang selama ini Ibu jadikan harapan satu-satunya, malah terga berbicara seperti ini kepada, Ibu. Bahkan, setelah apa yang Ibu perjuangkan untukmu, Jackson.” Asten terisak, ia sebisa mungkin menahan deraian air matanya yang sejak tadi terus membanjiri kedua pipinya.
Jackson dibuat serba salah, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang. Melihat wanita satu-satunya yang selama ini ia sayangi, menangis seperti itu, sungguh membuat jati diri Jackson sebagai seorang lelaki seolah tersentil.
“Bu ....” Jackson meraih tangan Asten. Namun, secepat kilat, Asten menepiskannya, dan wanita itu pun keluar begitu saja dari kamar Jackson, meninggalkan Jackson sendirian yang masih mematung di kamarnya.
Kini bayangan Ibunya sudah ditelan oleh pintu kamar yang tertutup perlahan. Jackson melemaskan seluruh tubuhnya, ia duduk terjatuh di atas lantai kamarnya, dengan kedua kaki yang ditekuk,, sambil mengacak rambut dengan kasar.
“Argah! Sialan! Kenapa aku harus berbicara seperti itu kepada ibu,” serunya begitu kesal pada diri sendiri.
“Aku memang bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Ia memukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya, sambil menjambak sebagaian rambutnya dengan kencang.
“Arrgghhhh!!!”
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...