
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Suasana kampus sejak siang sangatlah ramai. Anak-anak yang ikut organisasi tengah sibuk mempersiapkaan semuanya. Termasuk para kru dan panitia yang tengah sibuk mendekor dua panggung besar di aula kampus.
Shira dan Kalala menyempatkan waktu untuk pergi ke salon terlebih dahulu, demi mendapatkan look makeup yang bagus, mereka juga sekaligus melakukan perawatan tangan dan kaki.
Dan tepat pukul lima sore, acara pun mulai di gelar. MC sudah naik ke atas panggung untuk membuka acara. Para mahasiswa jurusan kewirausahaan juga tengah sibuk menawarkan produk-produk mereka kepada mahasiwa lain. Sebagain dari mereka ada yang karena memang berjualan pribadi, dan sebagain lagi karena tugas untuk mendapatkan nilai dari dosen.
Di acara sambutan, Shira melihat Jackson yang berdiri di atas panggung, menyumbangkan sepatah dua patah kata untuk keberlangsungan acara festival semester ini.
“Kenapa dia ada di sini?” gumam Shira begitu heran. "Apa dia salah satu pemilik dari kampus ini?" batinnya.
Dari jauh, Jackson dapat melihat sosok yang diincarnya tengah memandang ke arahnya. Dia adalah Shira. Jackson sekilas memberikan senyumannya pada Shira.
Akan tetapi bukannya dibalas oleh Shira, senyuman dari Jackson itu malah membuat keadaan semakin riuh karena suara jeritan dari para gadis kampus yang menyorak ketampanan Jackson. Jujur saja, ketampanan Jackson hampir menyamai Akash, berbeda 11 12.
Jackson juga termasuk orang yang royal dan baik hati. Tidak jarang ia menyuntikan dana ke kampus ini. Apalagi jika ada acara amal atau semacam festival seperti ini. Ia selalu menjadi penyuntik dana terbesar di kampus ini. Dan kali ini, Sang Miliarder pun keluar menampakkan dirinya di hadapan publik. First impression.
“Sungguh dia tampan sekali.”
“Iya benar. Beruntung sekali jika ada wanita yang mendapatkannya.”
“Eh, tapi kalian tahu gak sih, katanya lelaki itu ada hubungan loh dengan si Shira yang kemarin dipanggil ke ruang dosen. Kalian masih ingat ‘kan dua hari yang lalu saat Nancy di DO? Yang salah padahal Shira, tapi karena bantuan Tuan tampan itu, Shira jadi terbebas dari hukumannya.”
“Benarkah? Sialan si Shira, bisa-bisanya dia punya hubungan dengan lelaki kaya seperti Tuan Jackson.”
__ADS_1
“Iya, aku juga heran, kok bisa ya si Shira kenal dengan lelaki kaya begitu. Apa jangan-jangan kabar kalau dia jadi simpanan para lelaki beristri itu benar?”
“Sudah pasti itu benar. Kan seseorang bisa bergaul sesuai lingkungannya. Jadi, sudah dipastikan kalau si Shira itu dikelilingi oleh om-om tua yang berduit gitu.”
“Ah ha ha ha ha, benar juga ya.”
Begitulah percakapan dari tiga mahasiswi yang tengah menonton Jackson di panggung sana, sambil menggosipkan kehidupan Shira. Mereka bergosip tidak lain adalah karena merasa iri dengan kehidupan Shira, mereka tahu Shira sudah jatuh miskin, akan tetapi pesona dan tampilannya tidak pernah surut dari hal-hal berbau duit dan kemewahan.
Sementara itu di ruang ganti khusus para peserta modeling. Shira dan Kalala tengah bersiap untuk acaranya.
“Kala, gimana? Penampilanku udah bagus belum?” tanya Shira, yang kini sudah tampil layaknya seorang koboy.
Memakai topi lebar berwarna coklat, kemeja kotak-kotak berwarna marun dan hitam, serta tidak lupa rompi beludru yang disesuaikan dengan warna kemejanya. Kaki panjangnya semakin terlihat menarik, karena jeans hitam yang ketat, dan di bagian lututnya terdapat robekan-robekan acak, menambah kesan nakal pada diri Shira. Dan juga, sepatu bots hitam yang keren membuat Shira semakin terlihat tinggi.
“Perfect sekali!” Kalala mengacungkan kedua jempolnya, menatap sahabatnya itu penuh takjub dan bangga.
“Eh, tapi tunggu.” Kalala kembali meniliknya, merasakan ada yang janggal dengan penampilan Shira.
“Apa?” tanya Shira bingung.
“Ah!” Kalala memetik jarinya. Lalu berjalan ke belakang Shira, dan menarik ikat rambut Shira.
Kini rambut hitam panjang yang bergelombang itu terurai begitu saja. Kalala kembali menghadap ke arah Shira, ia membenarkan rambut-rambut Shira, menatanya dengan sebegitu baiknya, sebagian ditarik ke depan hingga menjulur ke bagian dada dan sebagian lagi Kalala rapihkan di bagian belakang.
__ADS_1
“Nah, sudah selesai. You’re perfect, Shira,” puji Kalala dengan bangga.
Shira mengembangkan senyuman manisnya, mendengar pujian dari sahabatnya itu. Ia semakin percaya diri untuk tampil ke panggung pentas yang sebentar lagi akan dimulai.
Lalu, mereka berdua pun keluar dari ruangan ganti. Berjalan menuju Aula di mana pentas modeling akan digelar.
Di saat Shira tengah berdiri menonton pertunjukan musik sebagai pembukaan untuk pentas model, tiba-tiba ada seseorang yang mejambak rambutnya dengan kencang ke belakang.
“Aw.” Shira terjengkang ke belakang, membuat Kalala yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.
“Shira,” pekik Kalala panik, langsung membantu untuk menahan tubuh Shira agar tidak terjatuh ke lantai.
"Brengsek! Berani-beraninya--" Kalala menoleh kepada orang yang menjambak Shira barusan. Dan betapa terkejutnya Kalala saat melihat orang tersebut.
Matanya tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depannya itu. Gadis yang memakai heels princess bertabur mutiara putih dan gaun berwarna biru langit, bergaya seperti Cinderella.
“Kau!” Kalala membeliakan kedua matanya merasa tak percaya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...