
Bahagia itu sederhana. Dapat panggilan istimewa dari orang terkasih saja udah bisa bikin hati berbunga-bunga.
~Akash Orion Atkinson~
***
Sore itu, Shira sudah memasak berbagai macam makanan untuk Akash. Tentunya ia lakukan semua ini semata-mata karena dirinya ingin meminta bantuan kepada Akash mengenai masalah Kalala. Mata pencarian Kalala terputus pun itu karena ulahnya, jadi ia merasa harus bertanggung jawab untuk pekerjaan Kalala selanjutnya. Selain itu, Shira juga tidak tega membiarkan sahabatnya dirundung masalah.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, akan tetapi tidak ada tanda-tanda Akash untuk pulang. Shira sudah mencoba menelponnya beberapa kali akan tetapi nomor handphonenya tidak aktif.
“Kemana sih dia?” gumam Shira kesal.
Dari ruang makan menunggu di ruang tamu, lalu ke teras, setelah itu kembali lagi ke ruang tamu karena cuaca di luar sangat dingin.
Seorang pelayan yang sempat membantunya masak tadi sore datang menghampiri.
“Nona, apa makananya mau saya hangatkan dulu?” tanya pelayan wanita setengah baya itu.
Shira melenguh, lalu mengangguk pelan. “Boleh, hangatkan saja, siapa tahu Akash sebentar lagi pulang,” jawab Shira dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah beberapa menit berdiri si depan jendela, Shira pun memutuskan untuk membantu pelayan tadi menghangatkan makanan.
“Tidak pelru, Nona. Biar saya saja yang bereskan semuanya,” ucap pelayan itu merasa segan.
“Sudah tidak apa-apa, selagi menunggu suami saya pulang, saya juga ingin menyiapkan semuanya,” ucap Shira. Membuat pelayan itu terkagum-kagum dengan kemurahan hati dan kelembutan Shira.
“Sangat beruntung sekali Tuan Muda mendapatkan istri yang baik dan sopan seperti Nona Shira ini,” batin si pelayan, memandang kagum Shira yang tengah sibuk menghangatkan masakan di atas teflon.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Akash juga belum kembali. Keadaan rumah semakin sepi karena memang jam segini sudah waktunya para pelayan untuk beristirahat.
“Bibi, istirahatlah. Sudah malam,” ucap Shira.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya akan menemani Nona di sini sampai Tuan Muda pulang.”
“Jangan. Sudah, Bibi kembali ke kamar, Bibi saja. Sudah waktunya Bibi untuk istriahat.”
“Tapi ... Nona gimana?”
“Saya gak gimana-gimana, saya di sini mau menunggu suami saya pulang,” ucap Shira mengembangkan senyumnya.
Pelayan setengah baya itu mengangguk menuruti perintah Shira, meski tidak enak hati, tapi ia juga memang sudah capek dan ingin beristirahat.
__ADS_1
***
Akash pulang tepat pukul 24.00 malam. Ia berlari menuju kamarnya mencari keberadaan Shira tapi tidak ada, lalu ke kamar lamanya juga tidaka ada. Kemudian, Akash menghampiri penjaga yang berdiri di dekat tangga.
“Pak, apa kamu melihat istriku?”
“Siap! Ada di ruang makan, Tuan,” ucapnya lantang dan tegas.
“Rurang makan?” Akash pun bergegas pergi menuju ruang makan, untuk menemui Shira.
Akash membuka pintu ruang makan. Dan saat ia berhasil membukanya, ada sebuah pemandangan yang membuat hatinya sedikit terenyuh saat melihat posisi istrinya di meja sana.
“Shira," ucapnya pelan langsung berlari mendekati.
Tidak ada sahutan dari wanita yang tengah terlelap itu. Tidur di atas kedua tangan yang bersidekap di atas meja.
“Shira,” panggil Akash pelan, memandang wajah Sang Istri dari jarak dekat sambil membungkukkan tubuhnya menyamakan posisinya dengan Shira.
Akash melihat ke atas meja makan, di sana berjajar begitu banyak makanan lezat. Akash tahu, pasti Shira yang menyiapkannya untuknya.
Akash kembali memandang wajah Shira dengan sendu, ada rasa sesal di hatinya karena ia pulang telat, tidak mengabari Shira dan membiarkan istrinya itu tertidur dengan posisi duduk seperti itu.
Pergerakan itu, membuat Shira terbangun dari mimpinya. “Akash.” Shira menyipitkan kedua matanya saat mendapati Akash yang sudah berdiri di depannya.
Shira pun terbangun, lalu menguap dan menutup mulut menggunakan telapak tangan. “Hoam ....”
“Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?” tanya Shira sedikit menggerutu.
Akash mengangguk sambil tersenyum simpul. "Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Shira langsung menoleh, mencari keberadaan jam dinding. “Sudah jam dua belas malam,” gumamnya pelan.
“Ayo, kita pindah ke kamar,” ajak Akash.
"Ayo."
Namun, sebelum Shira beranjak pergi, ia ingat akan sesuatu. "Eh, tunggu!" Ia menarik lengan Akash yang hampir saja meninggalkannya. Akash berbalik dan bertanya, "Ada apa?"
“Kamu ‘kan belum makan, ayo makan dulu?” ucap Shira.
Entah kenapa, tetapi ketika mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut istrinya itu, hati Akash jadi tersenyuh, entah memang itu adalah sebuah perhatian atau memang kekhawatiran, akan tetapi, Akash merasa terharu mendengarnya.
__ADS_1
I tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala Shira. “Sudah, nanti saja, ayo aku gendong kamu naik ke atas.”
Shira enggan pergi, ia mencebikkan bibirnya dengan sebal. “Ihh... tapi masalahnya, aku juga lapar, Akash. Aku nungguin kamu loh dari sore! Kita makan dulu ya?” pintanya memohon dengan manja.
Melihat wajah menggemaskan dari istrinya itu, membuat Akash langsung melebarkan senyumannya. Ah, sungguh, tidak tega rasanya jika menolak permintaan Shira kali ini. Lalu ia pun mengangguk sambil mengacak rambut Shira pelan.
“Ya sudah, ayo,” ucapnya mendudukan diri di samping Shira.
Shira yang kegirangan, ia beranjak pergi menuju westafel untuk cuci muka terlebih dahulu, lalu kembali dan segera menyiapkan makanan untuk Akash, dan mereka berdua pun makan bersama dalam kehangatan.
"Tumben, kamu nungguin aku sampai jam segini cuma buat makan," ucap Akash di tengah-tengah aktivitas makannya.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh berharap makan dengan suamiku?" ucap Shira sembarangan sambil terus melahap makanan ke mulutnya.
Deg ....
Tiba-tiba, Akash terdiam seribu bahasa mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Shira. Hatinya menggebu, bagai diterpa ribuan bunga yang semerbak mewarna di hatinya.
Akash yang memang dasarnya sangat introverts itu, ia malah tersenyum sendiri. Membuat Shira yang duduk di depannya merasa kebingungan.
"Kamu kenapa? Malah senyum-senyum sendiri?" tanya Shira dengan heran menautkan kedua alisnya.
Akash menggeleng pelan, sambil menahan senyumnya. "Tidak apa-apa," jawabnya.
Shira semakin merasa heran. "Aneh banget, tumben ... orang dingin kayak dia bisa senyum tanpa alasan. Ketempelan jin apa dia?" gumam Shira pelan, tidak peka.
Berbeda dengan Akash yang kini perutnya tengah diterpa oleh kupu-kupu terbang yang membuat dirinya begitu senang tidak karuan, menahan kegirangannya sebisa mungkin di hadapan Shira.
"Suamiku?" batin Akash, mengulang perkataan Shira yang tadi.
.
.
.
Bersambung...
Cie... yang geer sendirian, haha.
Lanjut lagi gak nih?
__ADS_1