Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
First Moment


__ADS_3

Kini mereka sudah duduk di sebuah meja bundar di sebuah restoran. Shira sengaja mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu. Dan keinginan Jackson tadi untuk mengajak Kalala berbicara pun selalu di halang-halangi oleh Shira seolah sengaja.


“Eh, kebetulan ya, hari ini kita bisa double date,” ucap Shira tiba-tiba.


“Double date?” tanya Jackson.


Shira mengangguk semangat. “He’em, soalnya selain aku sama Akash, ada Edwin dan juga Kalala yang baru jadian, iya ‘kan Kalala?” tanya Shira dengan sengaja.


Kalala tergugu, ia bingung harus bersikap seperti apa. “Emh, iya,” jawabnya malu-malu.


“Jadi ... Edwin dan Kalala jadian?” tanya Jackson sedikit terkejut.


“Iya, udah satu minggu lebih ‘kan ya,” ucap Shira mengada-ngada.


Kalala melirik ke arah Edwin yang menatapnya dengan dingin. “I-iya, he he,” jawab Kalala lagi sedikit canggung.


“Serius, Ed?” tanya Jackson kepada Edwin untuk meyakinkan.


Edwin tidak langsung menjawab, lelaki itu malah melirik sinis ke arah Kalala dan juga Shira.


Shira tersenyum terpaksa seolah memberi kode untuk mengiyakan pertanyaan Jackson. Akan tetapi, Edwin masih diam memandanginya.


Dan dengan sengaja, Shira pun menendang sedikit kaki Edwin, agar lelaki itu lekas menjawab.


“Dasar, wanita-wanita jago akting,” batin Edwin.


Ia pun membernarkan duduknya sambil mengangsurkan jaketnya agar lebih nyaman, lalu menoleh ke arah Jackson. “Hm, seperti yang wanitaku akui,” ucap Jackson lalu melirik senyum ke arah Kalala.


“Iya ‘kan, Sayang?” tanya Edwin kepada Kalala, langsung membuat Kalala, Shira dan Akash membeliakkan kedua mata mereka mendengar panggilan sayang yang terlontar dari mulut Edwin begitu saja.


“Gila! Parah banget sih sandiwara dia, pake bilang sayang-sayang segala,” gerutu Kalala dalam hati tidak menyangka.


“Ah ... hehe, iya,” jawab Kalala tersenyum paksa.


Mimik wajah Jackson langsung berubah mendung, harapan lelaki itu seolah kembali sirna saat tahu kalau Kalala sudah menjadi pacar dari sekretaris Edwin.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Akash.


Jackson mendongak menatap Akash. “Tidak apa-apa,” jawabnya simple.


Setelah selesai menghabiskan makan malam, kini mereka pun bergegas keluar dari restoran tersebut. Shira mengajak mereka semua untuk menonton terlebih dahulu di bioskop, awalnya Akash menolaknya karena kalau nonton dulu pasti pulang akan tengah malam, tapi Shira kekeh dan akhirnya mereka semua pun ikut untuk menonton bioskop.


Shira sengaja memilih film horor yang kebetulan waktu itu sedang tayang film horor Barat. Ia memesan lima kursi sejajar untuk dirinya, Akash, Kalala, Edwin dan Jackson.


“Udah ayo, cepetan nanti kita telat, filmnya udah mau mulai nih,” ucap Shira pada Kalala yang saat itu tiba-tiba mendadak ingin pulang. Karena jujur saja, Kalala adalah tipikal orang yang tidak menyukai horor.


“Aku mau ke toilet dulu, Shira,” ucap Kalala kekeh.


“Enggak! Kamu mau kabur, aku udah ngerti, udah cepat ayo, buruan yang lain udah masuk,” ucap Shira, menyeret tubuh Kalala untuk memasuki studio.


Akash sudah duduk di kursi yang Shira booking, ia juga menyediakan kursi untuk istrinya tersebut, agar duduk di sampingnya. Dan untuk Kalala, ia hanya kebagian kursi di tengah-tengah Edwin dan Jackson.


Ingin rasanya Kalala meminta Akash untuk berganti tempat, akan tetapi keberaniannya tidak sebesar itu, ia juga tidak mungkin membiarkan Akash duduk jauh dari istrinya. Dan pada akhirnya ia pun terpaksa duduk di bangku kosong itu dan kini mereka semua sudah duduk berbaris dengan urutan duduk di mulai dari Shira, Akash, Jackson, Kalala dan Edwin.


Lampu bioskop sudah di matikan, keadaan jadi gelap gulita, dan pembukaan film pun sudah di mulai, semua mata kini tertuju ke arah layar besar yang terpangpang di depan sana. Gemuruh suara-suara yang menyeramkan terdengar menggandrung di telinga mereka semua.


Bahkan tidak jarang juga, Kalala menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tampak sibuk sendiri mencari perlindungan dari rasa takutnya.


Setengah jam berlalu, mereka semua tampak menikmati filmnya, tidak jarang juga ada sebagian penonton yang berteriak refleks ketika adegan hantu muncul secara tiba-tiba.


Kalala semakin merasa tidak nyaman, sebisa mungkin ia bersikap tenang dan kini ia pun mengalihkan fokusnya untuk memakan popcorn yang ada di lengan kursi dekat Jackson. Ia mengambil popcorn milik Jackson tersebut dengan tangan yang sedikit tremor karena takut akan ada suara dari film yang mengejutkannya.


Kalala menyamping ke arah Jackson, melahap popcorn itu dengan tenang, akan tetapi apa yang ditakutkannya pun terjadi, suara jeritan dari film langsung membuat Kalala meringkuk di lengan Jackson, ia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan sikapnya saat ini.


Edwin yang duduk di sampingnya langsung menoleh sambil mengerutkan kedua alisnya, menatap heran wanita yang ada di sampingnya. Begitu pun dengan Jackson ia terkejut karena saat ini Kalala tengah merangkul sebelah lengannya. Bersembunyi dari rasa takutnya.


Jackson menoleh dan matanya pun saling bertautan dengan mata Edwin yang saat itu kebetulan beradu pandang.


“Edwin, dia ....” Jackson menatap tidak enak ke arah Edwin, takut Edwin salah paham padanya.


“Heh! Kenapa kau malah memeluk dia,” ucap Edwin yang langsung menarik kerah baju Kalala, agar wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Jackson.

__ADS_1


Kalala tersadar, ia salah memeluk orang. Tidak seharusnya ia memeluk Jackson sementara saat ini statusnya adalah tengah jadi pacar Edwin meski hanya bohongan.


“Ah, iya, maaf,” ucap Kalala tidak enak hati, kembali membernarkan duduknya menghadap ke arah layar.


“Kalau kau ingin putus, katakan saja,” ucap Edwin pelan sambil tersenyum menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


Kalala tidak menjawab, wanita itu mengenyampingkan tubuhnya ke arah Edwin, menatap lelaki itu dengan tatapan yang aneh. “Apa sih, arghhh—”


Belum juga apa-apa, Kalala kini sudah bersembunyi di lengan Edwin, membuat Edwin sedikit terkejut, karena wanita yang tengah pura-pura jadi pacarnya itu langsung memeluknya erat ketakutan.


Entah kenapa, akan tetapi jantung Edwin tiba-tiba berdetak kencang, ia terdiam terpaku dengan posisinya saat ini. Membiarkan Kalala menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya, dengan kedua tangannya yang bertumbu di kedua bahu Edwin.


Dug, deg, dug, deg.


Jantung Edwin semakin berdetak kencang. Ia buru-buru menyingkirkan Kalala agar menjauh darinya. Kalala pun sadar, ia sudah refleks memeluk Edwin dengan mudahnya.


“Maaf, a-aku tadi tidak sengaja,” ucap Kalala pelan, langsung kembali ke posisi duduknya, lurus ke depan.


Flash back off.


.


.


.


Bersambung...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2