Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Kesedihan Kalala


__ADS_3

Kalala melemaskan tubuhnya di tepi ranjang, ia masih merasa begitu terkejut setelah mendengar apa yang dibicarakan oleh Tuan Baker tadi, sebelum ia pulang ke rumah Shira.


Di tengah malam yang sepi dan sangat sunyi ini, Kalala menarik nafasnya begitu panjang, buliran bening dari kedua sudut matanya, turut membasahi kedua pipinya, namun cepat-cepat ia menyapunya dan berusaha tetap tenang dan tegar akan semua ini.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus separah ini?” gumamnya dalam hati, merasa sangat bersalah.


Gorden jendela terbang melambai, tertiup angin malam dari luar. Kalala menoleh, menatap gorden yang melambai-lambai itu dengan tatapan sendu, pun mata yang sedikit memerah.


Sungguh, gadis ini tengah di rundung rasa frustrasi. Di satu sisi ia benar-benar merasa bersalah dan tidak tega dengan keadaan Jackson saat ini. Tapi di sisi lain, Kalala juga merasa bingung dengan permintaan yang diajukan oleh Tuan Baker padanya. Karena, permintaan ini cukup membuatnya merasa berat dan tidak tahu harus mengiyakan atau tidak. Tapi, rasa bersalah yang ada di hatinya yang begitu besar, membuatnya meyakinkan diri, kalau ia harus membantunya dan tidak mungkin ia menolak permintaan tuan Baker begitu saja.


Pada akhirnya, setelah beberapa jam tenggelam dalam pikirannya, Kalala secara tidak sadar sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan posisi badan yang meringkuk di tepi ranjang, dan jendela kamar yang masih terbuka membiarkan angin malam masuk ke dalam ruangan, membuat tubuh wanita itu kedinginan.


***


Pagi harinya, Shira masih terlihat sibuk menyusui baby Chiv. Sementara Akash, pria itu tengah bersiap untuk pergi bekerja. Karena hari ini adalah hari pertamanya ia bekerja di rumah sakit yang ditempati Jackson.


Ia sangat bersyukur karena bisa diterima bekerja sebagai dokter ahli bedah, dengan identitas barunya bernama Akash Branwyn.


Meski sempat Akash merasa tidak percaya diri, karena takut ditolak, tapi setelah mengikuti tes beberapa hari lalu serta wawancara, akhirnya ia dinyatakan lolos, dan mulai hari ini ia akan bekerja layaknya para pekerja normal lainnya.


Akash melakukan pekerjaan ini karena rasa dosanya di masa lalu. Setelah berkecimpung dengan para mafia organ selama belasan tahun, kini ia harus mengabdikan dirinya untuk bisa menyelamatkan orang-orang yang berjuang melawan kematian di meja operasi. Ia ingin menjadi dokter bedah terbaik yang mampu menjadi perantara agar pasiennya nanti selamat dan bisa melanjtkan hidup dengan bahagia.


Karena jujur saja, selama belasan tahun ia menjadi dokter bedah dari para mafia, Akash selalu diluputi rasa bersalah dan dosa yang kerap kali mengganggu alam bawah sadarnya ketika ia tidur. Termasuk, mengganggu kehidupan keluarganya, karena ia tidak ingin memposisikan keluarganya dalam bahaya.


“Sayang, mau sarapan bareng?” tanya Shira, saat ia baru saja melepaskan baby Chiv dari pangkuannya. Dan menyimpannya di atas tempat tidur bayi.


“Ayo. Tapi bentar, aku belum nyium anakku dulu,” ucap Akash mendekat ke ranjang bayi.


Namun, tangan Shira lebih dulu menahannya. “Ih, jangan diganggu, nanti kalau bangun gimana?” ucap Shira pelan.


“Cium aja, Cuma sekali kok, aku ‘kan mau berangkat kerja,” ucap Akash. Shira tidak bisa melarangnya.


Lalu Akash pun membungkukkan badannya di atas ranjang bayi tersebut, menicumi kedua pipi Chivarly dengan lembut, lalu mengusap kepalanya yang tertutup topi itu dengan pelan.


“Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik di rumah sama Mommy kamu. Do’akan Daddy biar Daddy kerjanya lancar dan bisa pulang cepet,” bisik Akash sangat pelan, sambil memandangi wajah baby Chiv.


Bayi mungil yang tampan dengan hidung bangir itu, tampaknya sangat lelap sekali. Dan tiba-tiba dia tersenyum, masih dengan matanya yang terpejam.


Akash begitu senang melihat anak kesayangannya itu tersenyum padanya, dengan senyuman yang semakin membangkitkan semangatnya.


“You have such a beautiful smile, Baby.”


___


Kalala baru saja selesai menyiapakan sarapan pagi di atas meja, membantu pelayan rumah yang tengah menyajikan makanan.

__ADS_1


“Loh, Kalala, kamu belum berangkat?” tanya Shira saat tahu Kalala masih ada di rumah. Karena biasanya di jam 8 pagi, Kalala sudah pergi ke rumah sakit untuk bergiliran menjaga Jackson.


“Belum, sebentar lagi,” jawab Kalala pelan, dengan senyuman tipis yang tersirat di wajahnya. Lalu wanita itu pun kembali pergi ke dapur.


Shira menautkan kedua alisnya, merasa ada yang aneh dengan Kalala hari ini. Shira pun mendudukan tubuhnya di atas kursi, tepatnya di samping Akash. Lalu tidak lama kemudian, Tessa datang dan ikut mendudukan tubuh di sana, hendak ikut sarapan pagi bersama mereka.


Mereka pun menikmati sarapan nasi goreng cumi dengan salad timun. Shira masih mengedarkan pandangannya ke arah pintu dapur.


“Kenapa, Sayang?” tanya Akash yang sedari tadi memerhatikan Shira.


“Enggak, Kalala kok enggak sarapan bareng kita ya? Dari tadi dia di dapur terus enggak ke sini-sini,” jawab Shira merasa tidak enak hati, karena tidak biasanya Kalala bersikap seperti tadi.


“Lagi nyiapin makanan buat Jackson, mungkin.”


Shira hanya bisa mengangguk, hingga pada akhirnya dirinya sudah selesai menghabiskan sarapannya, tapi Kalala tidak kunjung datang juga.


Shira sebenarnya masih sangat penasaran dan ingin segera menemui Kalala ke dapur. Tapi ia juga harus mengantarkan Akash terlebih dahulu ke depan rumah.


“Dah, Sayang. Aku berangkat kerja dulu ya,” ucap Akash mengecup kening Shira dengan mesra.


Shira mengangguk tersenyum. “Good luck, Sayang.”


Akash pun bergegas masuk ke dalam mobilnya. Tidak lupa melambaikan tangannya kepada istri tersayangnya itu. Lalu mobil yang ditumpanginya pun melaju meninggalkan halaman rumah.


Setelah mobil Akash hilang dari jangkauan matanya. Shira pun bergegas masuk ke dalam rumah. Ia berjalan memasuki area dapur, dan hampir saja bertabrakan dengan Tessa.


“Iya, enggak apa-apa. Kamu kenapa? Kok buru-buru jalannya?”


Shira tersenyum canggung. “Hehe enggak, ini aku mau nemuin Kalala.”


“Loh, emangnya Kalala belum berangkat ke rumah sakit ya?” tanya Tessa, Shira menggeleng pelan.


“Belum, tadi sih masuk ke dapur, mau bikin bekal buat Jackson dulu kali.”


“Oh iya. Ya sudah, kalau begitu Ibu ke atas ya ke kamar kamu, mau gendong cucu Ibu,” ucap Tessa begitu semangat.


Shira mengangguk mengizinkan. Lalu ia pun kembali melanjutkan langkahnya memasuki area dapur. Ia berkeliling di area dapur tapi tidak menemukan Kalala di sana.


“Bi, Bibi lihat Kalala enggak?” tanya Shira kepada pelayan rumah.


“Oh, Non Kalala tadi keluar ke taman belakang,” jawab pelayan tersebut.


“Oh, begitu ya. Baiklah, makasih, Bi.” Shira pun bergegas pergi menuju taman belakang yang bisa masuk lewat pintu belakang dapur.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, tapi tidak ada Kalala di sana.

__ADS_1


“Kalala!” teriaknya memanggil. Tapi tidak ada sahutan.


“Kalala!” Shira kembali berteriak, berharap sahabatnya itu akan menyahutinya.


Lalu ia pun berjalan ke area menjemur. Dan ternyata, gadis yang dicarinya tengah ada di dekat besi toren. Wanita itu tampak tengah berjongkok sendirian sambil menenggelamkan kepalanya di atas kedua lututnya yang ditekuk.


“Kalala,” pekik Shira langsung mendekat dan memeluk tubuh Kalala dengan lembut.


Shira seolah tahu dan dapat merasakan kalau sahabatnya itu, saat ini sedang tidak baik-baik saja.


“Kalala ... apa yang terjadi?” tanya Shira pelan masih memeluk tubuh Kalala.


Kalala semakin terisak, saat Shira bertanya padanya seperti itu.


“Shira ... apa yang harus aku lakukan, Shira,” ucap Kalala begitu berat dengan suaranya yang terdengar sangat parau.


Shira melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Kalala dengan kedua tanganya seraya menghapus air mata di wajah sahabatnya itu dengan pelan.


Sedih dan kebimbangan, tergambar jelas di wajah Kalala. Entah hal berat apa yang tengah menimpa gadis itu, tapi Shira ikut merasakan sedih saat tahu sahabatnya itu sedang dalam keadaan seperti ini.


“Apa yang terjadi Kalala? Ceritalah padaku,” ucap Shira.


Kalala masih terisak, tenggorokannya seolah tercekat, membuat dirinya kesulitan untuk berbicara.


“Shira, a-aku ....”


Shira memandangnya sendu. “Kenapa Kalala? Kenapa denganmu?”


“Ja-Jackson, Shira,” lanjutnya sambil sesenggukkan.


Shira masih menunggu ucapan selanjutnya dari mulut Kalala.


“Ja-Jackson ... di-dia ....”


“Ada apa dengan Jackson, Kalala?” tanya Shira masih sabar menunggu ucapan Kalala.


“Ja-Jackson ....”


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf ya baru update lagi hehe.


__ADS_2