
Shira begitu terperangah, sepanjang Akash bercerita mengemukakan siapa dirinya sebenarnya, dan pekerjaan apa yang dilakukannya, Shira merasa enggan untuk mempercayainya.
“Bagimana bisa kamu melakukan semua itu? Kamu tahu ‘kan, kalau pekerjaanmu ini ilegal di negara kita?” tanya Shira sedikit menjauh memundurkan duduknya.
Akash menyadari pergerakan istrinya itu, meski hanya menjauh sedikit, akan tetapi Akash merasa Shira seolah menolak tentang kenyataannya ini.
“Aku tidak punya pilihan lain, Shira. Nyawaku dan nyawa keluargaku jadi taruhannya, Shira.”
“T-Tapi, Akash ....” Shira memandangnya sendu, seolah bingung harus berkata apa lagi, jika alasan yang diberikan oleh suaminya itu menyangkut nyawa.
Akash meraih kedua tangan Shira, menggenggamnya dengan erat. “Apa kau kecewa padaku?”
Shira hanya terdiam, dengan kedua mata mereka yang saling memandang, menyiratkan arti yang cukup dalam.
“Lalu, dua lelaki yang tadi itu siapa? Apa mereka calon korban selanjutnya?” tanya Shira begitu serius.
Akash menggeleng pelan. “Tidak ada korban di sini, Shira. Semua diuntungkan, termasuk mereka.”
“Mereka sudah tahu berapa banyak bayaran mereka, jika mereka mendonorkan salah satu ginjal mereka.”
“Tapi, Akash ....” Kedua mata Shira sudah berkaca-kaca, menampilkan genang air mata yang masih memupuk di kedua kelopak netranya.
Akash semakin tidak tega, menatap binar cantik dari kedua mata istrinya itu. Ia mendekat, memeluknya dengan erat.
Shira sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, akhirnya ari matanya pun terjatuh di dalam pelukan suaminya. Ia mengerti, kalau pekerjaan suaminya ini urusannya dengan para mafia, dan ia juga tahu, suaminya itu ada dalam naungan para mafia dari luar negri, yang mempunyai kekutan yang cukup besar.
__ADS_1
Meski semua ini berawal dari keteledoran Baker yang menyerahkan Akash untuk bekerja sama dengan para mafia itu, tapi sebenarnya, Baker pun sudah berusaha melepaskan Akash dari mereka. Hanya saja, kuasa mereka terlalu kuat.
Akash juga sudah pernah mencoba untuk kabur ke luar negri, tepatnya ke Belanda, akan tetapi, lagi dan lagi ia ditemukan oleh para elite global itu. Karena, mereka tahu kalau Akash menjadi dokter bedah terbaik di Korea Selatan. Dan saat itu, Akash ditarik oleh salah seorang prajurit suruhan dari negara Korea Utara.
Selama satu tahu Akash hidup dalam lingkungan terpencil dan jauh ke mana-mana di Korea. Hingga akhirnya ia pun bisa meloloskan diri saat Baker meminta anaknya untuk dipulangkan ke Indonesia lagi. Meski harus dengan perjanjian resmi, kalau Akash akan selamanya menjadi dokter bedah rahasia.
Dan tempat ini pun, dipilihkan oleh orang-orang itu. Meski saat Shira memasuki area rumah sakit rahasia ini tampaknya seperti sepi tidak ada orang, akan tetapi, sebenarnya di titik-titik tertentu ada banyak mata yang mengintai, termasuk di ruangan mereka saat ini, karena CCTV pengawas, ada di mana-mana. Dan mengenai kedatangan Shira hari ini, Akash pun sudah izin terlebih dahulu kepada orang yang berkuasa atas dirinya.
“Aku tahu, kau kecewa padaku. Tapi, aku mohon kau jangan pernah meninggalkanku, Shira,” ucap Akash memeluknya semakin erat, seolah tidak ingin kehilangan.
Shira masih terlalu dalam isak tangisnya. Karena bagaimana pun sebagai seorang mahasiswa, sedikitnya ia tahu resiko apa saja jika suaminya itu menjalankan pekerjaan ini, dan ia juga tahu hal apa saja yang akan terjadi jika Akash memaksa keluar dari lingkup para mafia organ itu.
***
Jackson masih menunggu jawaban dari gadis yang ada di sampingnya.
Kalala tetap bungkam, ia bingung harus bagaimana. Jika jujur, Jackson pasti akan memaksanya lagi, tapi jika ia tidak jujur, entah harus berapa banyak kebohongan lagi yang harus ia buat kedepannya. Karena ia tahu, sekali berbohong, kedepannya pun akan ada kebohongan lain lagi.
“Sudah, lebih baik kau jujur saja. Dari diammu saja, aku sudah tahu, kau sedang memikirkan apa,” ucapnya tersenyum tipis, semakin mendekatkan wajahnya ke arah Kalala.
Kalala memundurkan kepalanya, menjauh dari jangkauan wajah Jackson.
Hatinya berdebar tidak karuan, ia menahan nafasnya, pun matanya yang semakin membeliak sempuarna saat Jackson mendekat padanya semakin intim.
“Stop!” Kalala berucap sambil memejamkan mata dan menutup bibir dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lalu ia kembali membuka matanya pelan, melihat wajah tampan Jackson yang tengah tersenyum meledek padanya.
“Apa aku harus melakukan cara ini agar kau bisa jujur padaku?”
“T-tidak, Tuan. Tidak perlu, a-aku akan jujur, a-aku memang tidak berpacaran dengan sekretaris Edwin, dan hubungan di antara kita berdua itu ha-hanya sandirwara,” ucap Kalala pelan dan gugup.
Kedua sudut bibir lelaki itu semakin melengkung ke atas, menciptakan sebuah senyuman yang jika di pandang cukuplah terlihat sangat manis.
“Jadi, kalau begitu, kau tidak punya alasan lain lagi ‘kan untuk menolak penawaranku?” tanya Jackson.
Kalala menatap bingung. “T-Tapi, Tuan. Pernikahan itu bukan hal yang bisa dipermainkan. Kalau aku tetap menjadi calon istri bohonganmu, kedepannya pun kalau misalkan ayah Tuan memaksa kita menikah, pernikahan itu pasti akan dilandasi dengan kebohongan. Dan apa-apa yang dilandasi atau dimulai dengan kebohongan, suatu saat nanti akan terbongkar, akan hancur!”
Jackson terdiam sejenak, memikirkan perkataan gadis polos yang ada di sampingnya. “Hm, begitu ya ....” Ia mengusap-usap dagu dengan jari-jemarinya. Lalu kembali mengalihkan padangannya ke pada Kalala.
“Kalau begitu, kita serius saja,” ucapnya begitu enteng.
.
.
.
Bersambung....
Mau lanjut gak nih? Ramaikan kolom komentarnya dulu dong....
__ADS_1