
Setelah melakukan penerbangan kurang lebih 1,5 jam, kini Kalala dan Jackson sudah sampai di Bandar Udara Internaional Juanda.
“Kemari, biar aku yang membawa tasmu,” ucap Jackson mengambil alih koper kecil berwarna hitam yang dibawa Kalala.
“T-tidak perlu, Tuan a—”
“Sudah tidak apa-apa. Ayo, ikuti aku, mobil yang menjemputku sudah menunggu di terminal sana,” ucap Jackson.
Kalala ingin menyahutinya dan bilang kalau sebenarnya bibinya akan menjemputnya, hanya saja sampai saat ini, bibinya itu belum bisa dihubungi juga.
“Pagi, Tuan Jackson,” ucap seorang sopir ramah dan baik hati bernama Pak Ari.
“Pagi juga, Pak Ari,” jawab Jackson begitu rumah.
“Kemari, Tuan, biar saya bantu masukan ke bagasi.” Pak Ari buru-buru mengambil alih dua koper yang dibawa oleh Jackson, lalu memasukannya ke dalam bagasi.
“Eh, tapi Tuan Jackson, aku ‘kan mau dijemput sama bibiku,” ucap Kalala, yang merasa tidak enak hati.
“Belum datang ‘kan? Udah, ayo masuk!” titah Jackson membukakan pintu mobil untuk Kalala.
“Ya ampun, Tuan, tidak perlu sampai membukakan pintu untukku juga, kali,” ucap Kalala semakin tidak enak karena sikap Jackson yang terlalu berlebihan.
“Tidak apa-apa, spesial hari ini paggil aku Jackson, jangan memanggilku Tuan. Karena kita di sini sebagai teman, bukan atasan,” ucap Jackson.
“Ini orang kenapa sih? Kok tiba-tiba kayak begini, biasanya kaku banget kayak kanebo kering,” batin Kalala menatapnya heran.
“Kenapa diam saja? Ayo masuk! Kau mau membuang-buang waktumu hanya karena diammu itu?”
“Ah, i-iya, baiklah.” Kalala pun masuk ke dalam mobil disusul Jackson yang duduk di sampingnya.
Pak Ari juga sudah duduk bersiap di depan untuk melajukan mobilnya.
“Pak, jangan langsung ke hotel, kita pergi ke toko oleh-oleh dulu ya,” pinta Jackson.
“Baik, Tuan.” Pak Ari yang paham langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang dipinta oleh tuannya.
__ADS_1
Kalala masih sibuk mengotak-atik ponselnya. Ia merasa kesal karena ponsel bibinya tidak juga aktif, padahal ia sudah memiscall-nya hingga puluhan kali, dan juga mengirimkan pesan dengan pertanyaan yang sama berkali-kali.
“Tujuanmu pergi ke mana?” tanya Jackson menoleh kepada Kalala.
“Hah?” Kalala menutup ponselnya. “A-aku akan pergi ke rumah bibiku.”
“Ya, maksud aku alamatnya di mana, biar sekalian aku antar kamu ke rumah bibimu.”
“Ah, tidak perlu, Tuan ak—”
“Jackson, bukan Tuan,” selanya.
“Ah, iya, tidak perlu, a-aku bisa turun di lampu merah depan sana.”
“Tidak, aku akan mengantarkanmu ke rumahmu. Kau memangnya mau jika Akash marah padaku, karena aku tidak mengantarkan kamu sampai ke rumah bibimu. Dia sudah menitipkan pelayan istrinya padaku, jadi aku harus mengemban amanah ini dengan baik,” jelasnya membuat Kalala tidak bisa beralasan lagi.
“Cepat katakan! Di mana alamatnya.”
Kalala menghela nafas, ia pun akhirnya mengatakannya kalau alamat rumah bibinya ada di perumahan Juanda City Park.
“Baiklah, setelah kita membeli oleh-leh untuk keluargamu, aku akan mengantarkanmu ke sana. Dan kalau perlu, aku ingin bertemu dengan orang tuamu dulu,” ucap Jackson tersenyum miring.
“Ya untuk kenalan lah! Aku penasaran orang tuamu seperti apa. Sekaligus aku pun ingin tahu, orang tuamu dulunya ngidam apa, sampai-sampai anaknya bisa punya kepribadian galak seperi ini,” ucapnya meledek.
“Kau bilang apa?!” tanya Kalala dengan kesal, seolah tidak terima.
“Nah, ‘kan, macan tutulnya keluar,” ucap Jackson terkekeh melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Kalala.
Kalau saja Kalala tidak terlalu galak, mungkin kedua pipi yang sedikit memerah milik Kalala itu udah ia cubit dan diunyel-unyel saking gemesnya. Hanya saja, jangannya menyentuh pipinya, sekalinya tersentuh atau tersenggol tangannya pun Kalala sudah cemberut sambil mengomel tidak jelas.
***
Tepat pukul 08.00 pagi, Edwin baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah Akash. Lelaki itu segera pergi, melenggangkan kakinya menginjak rumah mewah milik tuannya.
Di kedua tangannya terdapat masing-masing satu paper bag. Di tangan kanan, paper bag itu berisi toast roaster, roti yang dipadukan dengan berbagai macam sayuran, daging, sosis dan saus, ia sengaja membelikannya untuk Kalala. Dan di tangan kirinya, paper bag itu berisi lampu hias yang kemarin malam sempat di belinya.
__ADS_1
Tessa yang hendak pergi ke luar, ia menyambut kedatangan Edwin dengan senyum merekah yang tergambar di wajahnya.
“Nak Edwin,” ucap Tessa mendekat.
“Pagi, Nyonya.” Edwin membalas sapaan Tessa dengan begitu ramah dan sopan.
“Pagi-pagi banget ke sininya. Akashnya juga baru aja berangkat nganterin Shira ke kampus,” ucap Tessa memberi tahu.
“Tuan Akash mengantar Nona Shira ke kampus?” tanyanya mengulangi perkataan Tessa.
“Iya, soalnya Kalala lagi pergi ke Surabaya bareng sama Jackson, makanya hari ini Akash yang nemenin Shira ke kampusnya, takut ada apa-apa.”
“Kalala dan Jackson ke Surabaya?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulutnya, karena jujur saja, sejak kemarin ia penasaran akan soal kepergian Jakcson dan Kalala. Dan kenapa bisa bersamaan? Ada urusan apa mereka sampai harus pergi besama-sama.
“Iya, Kalala katanya mau nengokin mamanya, kalau Jackson pergi karena mau menangin tender.”
“Oh, begitu ya. Berapa lama mereka ke Surabayanya?”
“Kalau Kalala kemarin izinnya dua hari, kalau Jackson, saya kurang tahu, mungkin nanti sore atau malam pun dia pulang lagi,” ucap Tessa.
Edwin terdiam sambil mengangguk lemah.
Tessa pun menyuruh Edwin untuk masuk ke dalam rumah sambil menunggu Akash datang. Lalu Tessa pun pamit untuk pergi ke luar bersama dengan pak sopir.
Edwin terdiam memikirkan hal apa saja yang bisa Jackson lakukan untuk mencuri perhatian Kalala di sana nanti. Ia pun kembali membuka paper bag yang sengaja ia bawa untuk Kalala. Ada rasa pilu di dadanya, saat apa yang dicita-citakannya tidak terlaksana.
Padahal pagi ini Edwin berniat untuk mengajak Kalala sarapan bersama. Akan tetapi, rencananya ini gagal dengan kenyataan yang menyesakkan dada. Tahu, kalau Jackson pasti tengah berusaha mengambil perhatian Kalala.
“Tidak, aku tidak bisa diam saja, aku harus menyusulnya,” ucapnya begitu gundah dan langsung bergegas keluar menuju mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
Waduh... persaingan mulai ketat nih permirsah haha...
Mana pendukung Kalala Jackson. Mana juga pendukung Kalala Edwin, ayo ramaikan kolom komentarnya gaesss....