Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Pengepungan Berujung Pertarungan


__ADS_3

Wiiiuuuw.


Samar-samar suara sirine mobil polisi terdengar ditelinga mereka, tapi sepertinya mobil polisi itu masih jauh, penjahat bertopeng badut dan anak buahnya yang tengah melawan Baker, mereka sepertinya ketakutan. Tapi, sebisa mungkin Baker tetap menahan tangan pria yang masih berusaha menghunuskan pisau ke tubuhnya itu.


Pria bertopeng badut itu tampak kebingungan, setelah semua ini terjadi, tidak mungkin ia membawa mobil curiannya yang sduah rusak itu, apalagi sebentar lagi akan ada polisi yang datang. Tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan anak buahnya yang masih bertarung itu, belum lagi anak buahnya yang kakinya tertembak.


“Bos, tolong aku, Bos,” ucap pria yang berusaha bangkit meski kakinya tengah terluka parah.


“Mana pisaumu?” tanya pria bertopeng itu, lalu pria yang kakinya tertembak menunjuk ke arah sisi trotoar, di mana pisaunya tergeletak di sana.


Pria bertopeng itu mengambilnya, Baker yang tahu akan gerakan dari pria dibelakangnya, ia pun melepaskan pria yang tengah bergulat dengannya. Dan creb! Pisau yang dilayangkan oleh pria bertopeng itu melesat, dan malah mengenai pundak anak buahnya.


Sret! Pisau itu kembali di tarik, menampilkan darah bercecer di sisi bawahnya.


“Argh! Tanganku,” ucap anak buah itu kesakitan.


Pria bertopeng itu masih tidak menyerah, masih ada beberpa detik lagi agar ia bisa menghabisi pria tua itu. Dia pun berlari mengejarnya dan saat baker hendak menghindar, kakinya tersanjung oleh sebuah batu, sehingga membuatnya langsung terguling dengan posisi terlentang di atas aspal dan karena itu lah, penjahat bertopeng itu bisa dengan mudahnya menancapkan pisau itu tepat di perut Baker.


Creb!


“A-a-a ...." Baker langsung mengeluarkan cairan merah dari mulutnya. Pria bertopeng itu tampaknya sangat puas, namun suara sirine itu semakin terdengar jelas dan sudah terlihat mobil serta lampu polisi yang menyala-nyala di ujung jalan sana.


"Ayo kabur!” teriak pria bertopeng, ia dan anak buahnya yang tersabit pisau langsung lari tunggang langgang memasuki area perkebunan di sisi jalan, meninggalkan Baker serta dua penjahat disana.


“Tidak! Bos, jangan tinggalkan aku!” teriak pria yang kakinya terkena tembakan, dia tampak berusaha bangkit dan mencoba berjalan cepat sambil menggususur sebelah kakinya yang terluka.


Namun, polis terlanjur datang, dan penjahat yang kakinya tertembak itu langsung ditangkap, serta penjahat yang pingsan tidak sadarkan diri sejak tadi itu pun ikut di tangkap.


“Tuan, Tuan Baginda!” teriak pengawal Baker yang tadi ditugaskan untuk ikut dengan polisi.


Baker terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya, saat pengawalnya itu mengangkat tubuhnya ke lahunannya.


“Tuan, tolong bertahanlah, aku akan membawa Tuan ke rumah sakit, tolong bertahanlah, Tuan,” ucap pengawal itu begitu panik dan takut.


“Pak polisi, tolong bawa Tuan saya ke rumah sakit,” teriaknya.


Polisi pun langsung membantunya dan menggendong Baker lalu menidurkannya di jok belakang mobil.


“Pak, tolong satu mobil ini tetap jalan menuju alamat yang sudah saya cantumkan, kalau mereka sudah pergi tolong cari di area sana ya, Pak,” ucap pengawal itu semakin panik.


“Baiklah, kau tenanglah, Pak, kami akan menjalankan semuanya dengan cepat dan benar.” Pengawal itu mengangguk paham, lalu dua mobil polisi itu pun berpisah, yang satu pergi membawa Baker ke rumah sakit dan satu lagi pergi menuju alamat yang dituju untuk mengawasi Asten dan tidak lupa membawa dua penjahat yang berhasil mereka tangkap pun ikut di bawa.


Sementara itu, mobil milik Baker masih terparkir di sisi jalan, dengan Bram yang masih pingsan di dalamnya.


Benar-benar malang, pria gendut itu malah ditinggalkan dan terabaikan di dalam mobil sendirian.


***


Asten masih berada di dalam mobil, ia terus berkomunikasi dengan anak buahnya yang ia sewa untuk mencekal Akash nanti.


“Apa?! Ke jalan laut? Bersama Jackson juga?” tanya Asten berbicara lewat telepon.


“Benar, Nyonya.”


Asten tampak begitu kesal, karena Jacskon semakin membangkang padanya dan malah mendukung Akash dibanding dirinya.


“Kalau begitu, cegat mereka, dan bawa kabur istirnya yang sedang hamil itu!”


“Siap, Nyonya.”


Tut ... tut ... tut. Panggilan pun terputus.

__ADS_1


Asten menyeringai, menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “Ahahaha, habis sudah riwayatmu Akash! Aku tidak akan tinggal diam saja, aku pasti akan membayarkan semua kesengsaraan anakku malam ini juga!” gumamnya dalam hati, menatap tajam lurus ke depan, sambil meremas erat ponsel yang ada di tangannya.


“Pak, percepat lagi lajunya!” pinta Asten kepada sopir yang ada di depannya.


Sementara itu, jalanan yang Edwin anggap akan lancar-lancar saja, ternyata di depan sana tiba-tiba ada mobil terparkir yang langsung melaju, saat mereka melewatinya. Edwin menganggap itu hanyalah pengendara biasa. Dan tidak curiga sedikit pun.


Namun setelah mobil mereka melewatinya, tiba-tiba mobil tersebut seolah mengikutinya dan ingin menyalipnya, namun posisi menyalipnya sangat membahaykan sekali.


Cekiiittt....


Mobil yang mereka tumpangi langsung berhenti di sisi jalan. “Sialan! Ada masalah apa sih ini?” gumam Edwin begitu emosi saat mobil yang menyalipnya itu tiba-tiba melambat dan berhenti tepat sepuluh meter di depannya.


Akash menengok ke belakang, memastikan mobil milik Jacskon baik-baik saja. Namun, saat mobil milik Jackson hendak mendekat ke arah mobil Akash, tiba-tiba.


Duar!


Ledakan yang sangat dahsyat terdengar mengejutkan mereka semua, membuat Shira, Kalala dan Tessa yang mendengarnya langsung saling merangkul mengeratkan pelukan mereka saking takutnya.


“Sialan!” Jackson mengumpati ledakan ban mobilnya, dan langsung menyisikan mobilnya tepat di belakang mobil Akash.


“Brengsek! Pasti ini adalah orang-orang suruhan ibuku! Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakiti Akash,” batinnya kesal, langsung memukul kemudinya hingga tidak sengaja menimbulkan sauara klakson.


Lalu Jackson pun menurunkan kaca mobilnya, melihat ke belakang di mana ada dua mobil yang mengikuti dan berhenti tak jauh dari mobilnya.


Ia sebenarnya juga takut jika harus menghadapi para penjahat itu, karena Jackson sadar diri, ia tidak sehebat Akash dan Edwin yang terbiasa bertarung di saat keadaan seperti ini. Ia mengambil ponsel disakunya lalu segera menelepon ke nomor Edwin.


“Ya, ada apa, Tuan?” suara Edwin terdengar begitu sambungan telepon terhubung.


“Tetaplah di dalam mobil, jangan keluar dan pastikan lindungi para wanita, orang-orang suruhan ibuku sudah mengepung mobil kita. Kalau bisa, tetaplah melaju dan pergilah dari sini, aku akan mengurus dua mobil yang ada di belakang kita, sisanya kau urus mobil yang ada di depanmu itu.”


Edwin terdiam mengdengar ucapan Jackson, ada rasa khawatir yang semakin kuat dipikirannya.


“Tuan, suruhan nyonya Asten sudah mengepung mobil kita. Tuan Jackson memperingati kita dan menyuruh kita agar tidak keluar dari mobil, melainkan kita harus pergi dari sini.”


“Itu akan menjadi urusan Tuan Jackson, apa kita memang harus pergi dari sini dan meninggalkannya?” tanya Edwin.


Akash sebenarnya sangat bimbang, ia tahu betul kemampuan bertarung adiknya itu sangatlah buruk. Akash kemudian mengambil alih ponsel Edwin dan mencoba menyambungkan suaranya dengan Jackson.


“Jackson apa kau yakin, menyuruh kami untuk pergi?” tanay Akash.


“Benar, kau harus menyelamatkan ibu dan istrimu, pastikan para wanita tidak ada yang terluka, aku di sini akan mengurus dua mobil di belakangku.”


“Tapi, Jackson.”


“Tenanglah, Akash, aku membawa pisau di mobilku, aku akan merobek ban mobil mereka sehingga mereka tidak akan bisa mengejarmu.”


Akash terdiam sejenak. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi setelah kau berhasil melakukannya.”


“Hm.” Telepon pun ditutup, dan Jackson langsung turun kelaur dari mobilnya.


Ia mengusap sejenak sebelah rambutnya dengan gayanya yang sok cakep. Lalu berjalan santai menuju mobil yang dipastikan di dalamnya adalah para komplotan penjahat suruhan ibunya.


Dengan perasaan yang berdebar-debar dan sangat gugup, Jackson langsung berjongkok setelah ia sampai di samping mobil tersebut dan langsung mengeluarkan pisau yang ia selipkan di bagian lengan bajunya yang panjang.


"Apa yang mau dilakukan bocah ini?" gumam penjahat di dalam terheran-heran.


Bret! Bret! Bret! Seketika itu pula,ban mobil tersebut ruksak hanya dalam satu kali tusukan dan tarikan yang dilakukan oleh Jackson. Lalu setelahnya Jackson langsung mencabutnya dan berlari ke arah mobil yang kedua dan melakukan hal yang sama pada ban mobil tersebut.


Dan penjahat yang ada di dalam pun langsung keluar, bahkan penjahat yang dekat dengan Jackson, pria bertubuh tinggi dan besar serta kekar itu langsung menendang tubuh Jackson hingga Jackson terhempas ke aspal dengan entengnya.


“Bos, tenang bos! Jangan sakiti pria ini, dia anaknya nyonya Asten, kalau dia terluka nyonya Asten tidak akan memberikan bonusnya kepada kita,” ucap seorang pria yang merupakan salah satu anak buah dari komplotan penjahat itu.

__ADS_1


“Sialan! Dasar anak mami! Berani-beraninya ikut campur dan merusak ban mobil kita!” cerca penjahat bertubuh kekar itu. Membuat Jackson hanya bisa terdiam dalam rasa takutnya yang semakin besar.


Sementara itu, seseorang kini turun dan mendekat ke arah mobil Akash. Akash masih memperhatikan Jackson dan para penjahat itu, lewat kaca spion di mobil.


“Hey, keluar kalian!” ucap seseorang dengan songong di luar mobil, sambil menyalakan pematuk api dan menempelkan rokok di bibirnya lalu menyesapnya hingga rokok itu mengeluarkan asap.


“Tuan, bagaimana ini? Apa kita tetap pergi dan membiarkan Tuan Jackson di sana sendirian?” tanya Edwin sambil melirik sekilas ke arah orang yang ada di sisi pintu mobilnya.


“Edwin, sebaiknya kau pergi membawa mereka dari sini, aku akan menolong Jackson dan menyelesaikan urusanku dengan mereka. Karena, yang mereka inginkan adalah aku.”


“Tidak, Akash Ibu tidak mengizinkanmu!” seru Tessa dari belakang, tidak setuju dengan perintah anaknya itu.


“Iya, Sayang jangan pergi, tetaplah di sini bersama kami. Apa kau tidak khawatir kepada aku dan ibumu ini?” timpal Shira yang ikut panik.


“Shira ... Ibu, yang mereka inginkan itu hanya aku. Aku ingin kalian selamat, dan Edwin pasti akan bisa menjaga kalian.”


“Lalu, bagaimana kalau setelah kita pergi ternyata di ujung jalan sana masih ada yang mengepung kita? Bagaimaa jika itu terjadi Akash?!”


Akash terdiam, membenarkan perkiraan Shira. Bagaimana jika pengepungan ini bukan hanya berada di titik ini saja, melainkan di depan sana pun ada.


Akash dibuat dilema, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. “Ya sudah, kalau begitu mari kita pergi bersama dan biarkan Jackson sendirian di sini,” ucapnya. Edwin mengangguk, lalu ia menyalakan mesin mobilnya.


Dan orang yang ada di luar yang meminta mereka untuk keluar dari dalam mobil, dia terkejut karena bukannya Akash keluar dari mobil melainkan, mobil milik Akash malah akan melaju lagi.


“Woy! Keluar bangs*t!” teriak penjahat itu dari luar. Edwin tidak peduli, dan saat Edwin membelokkan mobilnya untuk melaju lagi, pria diluar itu menghalanginya.


“Tabrak saja!” titah Akash, dan tanpa segan, Edwin pun menginjak keras pedal gasnya, membuat pria diluar yang tengah mencegat itu langsung membeliakkan kedua matanya, lalu mencoba menghindar meski pada akhirnya ia terserempet juga oleh mobil dan membuatnya jatuh terguling ke aspal.


“Aish! Sial! Woy tembak mobilnya!” teriak penjahat itu.


Dan sebuah suara ledakan dari tembakan pun kembali nyaring terdengar memekik di telinga mereka.


Duar!


Mobil yang Edwin kendarai langsung oleng ke kanan dan ke kiri, dan berhenti tepat 50 meter dari tempat sebelumnya.


“Arghh!!!” Shira yang terombang-ambing di dalam mobil, ia sedikit merasakan sakit di perutnya.


“Argh, perutku,” ucapnya.


“Woy! Ayo, SEERAAAAANG!!!!!” teriak penjahat yang tadi sempat menendang Jackson. Dan ternyata masing-masing orang di dalam mobil itu, isinya hanya ada dua penjahat. Jadi jumlah penjahat yang ada saat ini adalah enam orang, dengan tiga mobil yang mereka kendarai.


Enam orang itu langsung berlari mendekati mobil Akash. Dan saat tahu akan ada penyerangan, Akash dan Edwin pun segera keluar dari mobil mereka, tidak lupa mereka pun saling menodongkan pistol untuk jaga-jaga.


Kini keadaan pun semakin terasa mencekam. Tessa, Kalala dan Shira semakin berpelukan erat saking ketakutan. Mereka bertiga hanya bisa berdoa sambil menangis, memohon kepada Sang-Pencipta agar mereka semua bisa selamat dari tragedi ini.


"Apa yang kalian inginkan dariku hah?!" teriak Akash menodongkan psitolnya dengan posisinya yang tetap siaga berjaga di dekat mobilnya.


Bos di antara penjahat itu tersenyum sinis, mendengar pertanyaan Akash. "Apa lagi, kalau bukan istrimu!" ucap pria itu. Lalu menoleh ke salah satu anak buahnya. "Cepat! Ambil wanita hamil itu di dalam mobil!" teriaknya memerintah.


.


.


.


Bersambung....


Maaf baru update. Kali ini isi babnya lebih panjang ya, tadinya mau author bagi jadi dua bab, tapi nanti babnya jadi tambah banyak lagi, makanya author satukan aja semuanya jadi satu bab.


Selamat over thinking wkwkwk... Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?

__ADS_1


Siapin hati dan mentalnya ya, kelanjutannya mungkin akan lebih dari ini. Haha....


Bye, Bye, jangan lupa like, komen dan votenya ya gaes. Terima kasih.


__ADS_2