Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Kembali Ke Kampus


__ADS_3

Hari ini adalah tepat enam hari Shira berada di kediaman Akash. Rumah mewah yang Shira anggap itu adalah milik orang yang kaya raya, yang belum ia ketahui siapa Tuannya.


Dan sejak kemarin malam, Shira tidak dapat bertemu dengan Akash, membuatnya sedikit gelisah, karena sejak kejadian kakinya yang terluka pagi itu, tiba-tiba Akash pergi begitu saja meninggalkan rumah bersama lelaki yang Shira ketahui adalah temannya Akash, teman yang pernah mengantarkan ia dengan Akash ke rumah mewah si Tuan Kaya Raya.


Dan pagi ini, ia harus memberanikan diri untuk bertanya kepada petugas keamanan yang selalu setia berdiri di dekat tangga menuju lantai dua.


“Pak, maaf mau tanya,” ucap Shira ragu-ragu. Lelaki setengah baya itu tidak bergeming.


Meski ragu, Shira tetap melanjutkannya. “Emh, kalau Akash, kenapa gak kelihatan ya? Apa dia tidak bekerja hari ini?” tanya Shira.


Lelaki berpakaian formal serba hitam itu, tidak menoleh sedikit pun pada Shira, masih dengan tatapannya yang lurus entah melihat apa.


Hening .....


Beberapa  saat kemudian, lelaki itu melirik lalu menjawabnya. “Tuan Akash sedang melakukan pekerjaannya,” jawabnya lantang dan tegas.


Shira mengernyit. “Tuan Akash?” gumamnya dalam hati.


“Em-maksudku, apa Akash tidak akan kembali ke rumah ini dalam waktu dekat?” Shira masih berusaha mencari jawaban.


“Siap, tidak!” jawabnya lagi semakin mempertegas.


Shira mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Pak. S-saya akan berangkat kuliah dulu ya, Pak,” ucap Shira, lalu pergi meninggalkan petugas keamanan tersebut.

__ADS_1


Shira berjalan menuju luar rumah. Wanita ini masih bingung dengan orang-orang yang selalu memanggil Akash dengan sebutan ‘tuan’.


“Apa memang di sini peraturannya, setiap orang harus memanggil dia Tuan? Atau mungkin karena dia adalah pekerja yang paling lama dan paling ditakuti di sini? Makanya dia diperlakukan khusus oleh pelayan-pelayan di sini?” batinnya terus menelisik memikirkan Akash.


Langkahnya kini terhenti di atas batu kerikil yang bertebaran di area halaman rumah. Ia membuka ponselnya sejenak, berharap akan ada pesan atau setidaknya panggilan tak terjawab dari Akash.


Bibirnya mencebik, seiring dengan wajahnya yang tampak kecewa. Ternyata tidak ada pesan atau panggilan satu pun dari Akash.


“Hm, dia itu sebenarnya kemana sih?” gumamnya dalam hati. Tidak ingin berlarut-larut memikirkan Akash yang tidak ada kabar, akhirnya Shira pun kembali melanjutkan langkahnya menuju gerbang luar. Ia juga memesan taksi online untuk mengantarnya ke tempat kuliahnya.


****


Setelah melewati masa libur semester, Shira kini baru bisa kembali menjejakkan kakinya di kampus. Meski sebenarnya ia sudah bolos selama dua hari kebelakang.


Sudah bukan hal mengejutkan lagi bagi Shira, karena ia tahu, mereka memandangnya seperti itu pasti karena kabar kebangkrutan keluarganya yang sudah menyebar ke mana-mana.


Shira baru saja mendudukan tubuhnya di atas bangku yang biasa ia duduki di kelasnya. Akan tetapi, ada seseorang yang menggebrak mejanya, dengan gayanya yang tampak sombong, mengangkat satu kaki di atas kursi dan sebelah tangannya, menggendong tasnya di belakang pundak.


“Hey kau ... pindah!” seru seorang wanita berbaju hoodie over size, memakai topi gaul, menyorotkan tatapan tajamnya, sambil mengulum permen loli di mulutnya.


Shira mendongak pelan, memandangnya dengan tatapan santai. “Kenapa harus pindah? Ini kan memang tempat dudukku,” ucap Shira seolah malas berbicara dengan orang seperti itu.


Wanita itu mencabut permen lolo di mulutnya, lalu berdecak kesal. “Heh! Mulai detik ini, tempat duduk ini akan jadi milik bos kami, dan kursi ini bukan milikmu lagi, jadi sekarang ... lebih baik kau pindah ke belakang!” seru gadis berwajah arogant tersebut.

__ADS_1


Shira hanya menarik nafas, mencoba mengabaikannya, tidak ingin peduli dan ia malah duduk dengan gaya santai di kursinya, lalu melipatkan kedua tangannya di dada.


“Kenapa bukan bosmu saja yang duduk di belakang?”


Seketika mimik wajah wanita arogant itu langsung berubah kesal, pun dengan tatapan beberapa teman yang ikut bersamanya dan berdiri di belakang wanita arogant tersebut.


“Sialan, lo!”


Brak! Wanita itu menggebrak bangku milik Shira.


Tiba-tiba, segerombolan mahasiswa perempuan lainnya memasuki ruang kelas. Berjalan di pimpin oleh seorang wanita berpakaian elegant, tetapi sok ngartis.


Dia berjalan mendekati bangku Shira, lalu menenangkan wanita arogant tadi yang menggebrak meja Shira.


“Sudah, biar aku yang urus,” ucapnya sok cantik.


Dia adalah Luna—teman sekelasnya Shira yang sudah menjadi perusak hubungan antara Shira dengan Haris.


"Heh, Shira! Pindah lo!" seru Luna tiba-tiba.


Bersambung...


Bantu like ya mentemen, makasih.

__ADS_1


__ADS_2