
Suara Shira tersebut, langsung menyita perhatian mereka semua, dan kini, semua mata mengarah kepada Shira yang tengah berjalan ke arah mereka.
Baker, sedikit keheranan, kenapa menantunya itu bisa mengetahui wanita yang baru datang ini. Dan memanggilnya seolah sudah sangat akrab.
Dan di saat yang bersamaan pula, Edwin dan Akash turun hendak menemui Kalala.
“Loh, kok rame, ada apa ini?” tanya Akash mendekat.
“Shira, jadi kamu sudah kenal dengan wanita ini?” tanya Baker tampa menghiraukan pertanyaan Akash barusan.
Sementara itu, tatapan Kalala kini tertuju kepada Edwin yang berdiri selangakah di belakang Akash. Wanita itu seolah memebrikan kode, bahwa ada kesalah pahaman di anatara mereka semua saat ini.
“Salah paham,” ucap Kalala mangap-mangap kaku, tanpa membunyikan suara ke arah Edwin.
“Salah makan?” tanya Edwin tanpa bersuara, yang gagal menangkap kode gerakan bibir dari Kalala.
Kalala mengibaskan lima jarinya, memberi tanda salah, kepada Edwin. Ia pun kembali mengulangi kata-kata di bibirnya. “Sa-lah pa-ham.” Gerak bibirnya dengan pelan.
“Hah? Salah paham?” tanya Edwin tanpa suara, dibalas anggukkan pelan oleh Kalala, sambil tetap waspada melirik ke arah lelaki tua yang berdiri di dekatnya itu.
“Ah iya, Yah. Dia teman kampus saya, namanya Kalala,” jawab Shira pelan.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ayah bertanya soal Kalala," batin Shira.
Kalala langsung membeliak, begitu mendengar Shira memanggil lelaki itu dengan sebutan ‘Yah’.
“Tunggu ... kenapa, Shira memanggil bapak-bapak ini dengan sebutan ‘ayah’?” batin Kalala kebingungan.
“Benarkah?” tanya Baker memastikan, dan dibalas anggukkan pelan penuh kesopanan oleh Shira.
“Suamiku juga kenal dia kok, Yah,” kata Shira, ikut memberi info agar meyakinkan ayah mertuanya itu.
Baker langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akash. “Benar itu, Akash?” tanyanya serius.
Akash mengangguk. “Iya, memangnya kenapa, Yah?” tanya Akash kebingungan.
Jackson dari hanya bisa mangap-mangap, ingin menjelaskan semuanya, tapi ia tidak bisa jika harus berbicara apalagi sampai menyela perkataan, Ayahnya.. Karena meskipun keluarga ini sedikit toxic, tapi adab di keluarga ini sangat dijunjung tinggi, hanya, kadang tidak berlaku untuk Baker yang membuat peraturannya.
“Hm, baguslah kalau di keluarga kita sudah ada yang mengenalnya,” ucapnya. Lalu kembali Baker menatap lurus ke arah Jackson, dan memegang sebelah bahu Jackson dengan serius.
“Jackson, dengarkan, Ayah ... lain kali, kalau kau ingin mengajak dia kemari , ajaklah secara resmi, jangan mendadak seperti ini,” ucap Baker serius, lalu mengembalikan tangannya ini ke belakang punggungnya.
“T-tapi, Ayah aku tidak—”
“Tidak usah malu-malu, lain kali Ayah harus berbicara serius dengannya,” ucap Baker, menoleh ke arah Kalala sambil tersenyum tipis.
Kalala yang melihatnya ia hanya bisa mengangguk sambil membalas senyuman lelaki tua itu dengan sopan.
"Ya Tuhan, apalagi ini?" batin Kalala meringis ketakutan saat Baker mengatakan ingin berbicara dengannya.
“Sudah, sekarang kau ikut Ayah ke ruang kerja, ada hal yang mau Ayah sampaikan padamu,” ajak Baker menepuk kembali bahu Jackson, lalu berjalan meninggalkan mereka semua.
Akash menatap heran kepada Jackson.
“Jackson, apa maksud semua ini?” tanya Akash dengan tatapan tajam yang sulit dijelaskan.
__ADS_1
“Akash, ayah salah paham dengan semua ini, dia meng—”
“Jackson!” panggilan keramat dari Ayahnya terdengar di kedua telinganya, membuat Jackson tidak bisa melanjutkan ucapannya.
“Akash, aku akan menjelaskannya nanti,” ucap Jackson buru-buru berlari mengejar langkah Ayahnya yang sudah menaiki anak tangga.
Dan kini, tatapan Akash, Shira dan Edwin langsung beralih kepada Kalala. Dan secara kompak mereka berucap.
“Kalala, jelaskan!” ucapnya bersama-sama.
“Ya, Tuhan, kenapa semuanya jadi begini sih!” batin Kalala kebingungan, seolah tidak kuasa dan ingin menghilang saja dari bumi ini secepatnya.
__
Kalala dan Shira kini duduk di sofa itu kembali, begitu pun dengan Edwin dan Akash yang ikut mendudukan tubuh mereka di sofa yang sama.
Kini, mereka semua sudah duduk mengelilingi satu meja yang ada di tengah.
“Ayo, cepat jelaskan! Kenapa Ayahku sampai berbicara seperti tadi?” titah Akash.
“Tunggu! Sebelum aku menjelaskan kesalah pahaman tadi, aku ingin tahu dulu, sebenarnya kamu itu siapanya Shira sih? Dan kamu juga Shira! Siapa sebenarnya lelaki ini, dan keluarganya ini?!” Kalala berkata begitu sangat serius.
Shira dan Akash saling berpadangan sejenak. Setelah menarik nafas, mereka berdua pun mengatakan kejujurannya.
Kalala begitu terkesiap bukan main saat mendengarnya. “Apa! Jadi kalian suami istri?” pekiknya sambil menutup mulutnya yang menganga itu dengan sebelah tangannya.
Shira pun kembali menjelaskan kenapa dirinya bisa menikah dengan Akash, akan tetapi ia tidak menjelaskan kalau pernikahan mereka didasari oleh sebuah perjanjian. Shira hanya mengatakan, kalau mereka menikah karena Akash sudah menolongnya dan sebagai imbalannya ia mau menjadi pengantinnya.
Kedua mata Kalala dibuat memebelalak sepanjang mendengar cerita Shira.
“T-tapi, aku mohon jangan kamu bilang sama teman-teman di kampus, ya,” pintanya memohon kepada Kalala.
Shira mengangguk pelan sambil menyengir, merasa tidak berdosa. “Ya lagi pula, kalau mereka tahu aku menikah sama kamu, bisa-bisa geger satu kampus gara-gara berita ini. Lagian, akhir-akhir ini aku sudah sering menjadi bahan gosip di kampus, orang-orang pasti akan membully aku kalau tahu aku sudah menikah di usia muda ini,” ucap Shira, tampak sedikti sedih.
“Siapa yang berani membullymu?” tanya Akash menantang.
Shira langsung terdiam, ia tahu seharusnya ia tidak berbicara seperti itu kepada Akash, karena jika tahu dirinya sering menjadi bahan bullyan di kampusnya, Akash pasti tidak akan tinggal diam.
“Ya ada lah, tapi bukan bully yang kejam kok, paling cuma digosipin, eh hehe,” kilahnya, memberi kode kepada Kalala, agar temannya itu jangan sampai memberti tahu masalah ini kepada Akash.
Kalala paham akan tatapan yang diberikan oleh Shira.
“Oya, jadi sekarang gilranmu, Kalala! Ayo, cepat ceritakan kenapa Ayah mertuaku bisa salah paham sama kamu!”
__
“Ah... jadi begitu ya,” ucap Shira yang masih terbahak menahan geli di perutnya saat mendengarkan cerita temannya itu.
Bahkan sepanjang Kalala bercerita menjelaskan semuanya, wanita itu tampak terbahak-bahak dan kegirangan sendiri mendengar kesalah pahaman temannya itu terhadap mertua dan iparnya.
“Ih... Shira!” Kalala mencebikkan bibirnya merasa kesal.
“Iya, iya, udah enggak kok, enggak bakal eketawa lagi,” ucap Shira mencoba berhenti dari tawanya.
“Terus, gimana dong ini!”
__ADS_1
“Ya udah, kamu jadi calonnya Tuan Jackson saja!” balas Edwin.
Kalala langsung menoleh tajam ke arah Jackson. “Apa kau bilang?! Minta di sumpel ya mulutmu itu hah!” serunya.
“Lah, barusan kau kan bilang harus gimana, ya udah jadi calon istri dia aja,” ulang Edwin semakin membuat Kalala merasa kesal.
“Iya benar, kau bisa juga menikah dengan adikku kalau kau mau,” timpal Akash dengan santainya berbicara seperti itu.
“Akash!” Shira langsung memelototkan kedua matanya, seolah memberi kode kepada Akash agar bisa lebih menjaga mulutnya dalam berbicara. Akash langsung teridam mengunci bibirnya dan menoleh ke arah Edwin dengan bingung.
“Ya sudah, begini saja, nanti kapan-kapan, aku akan menjelaskan semuanya kepada Ayah mertuaku.”
“Memangnya kau berani berbicara dengan ayah?” tanya Akash seolah meremehkan.
Karena jujur saja, aura Baker itu terlalu kuat, roman-roman menakutkan selalu terpasang di wajahnya itu. Jangankan untuk berbicara panjang lebar, sekalinya ditanya pun Shira terkadang gugup.
“Ya, dibantu kamu lah!” balas Shira.
“Dih! Enggak ya, aku enggak mau ikut campur masalah ini. Kau juga tahu ‘kan ayah orangnya seperti apa. Kalau ayah udah bilang A ya harus A. Kalau bilang B ya harus B.”
“Aduhhh... terus aku ini gimana, Shira? Mana tadi ayahmu itu bilang mau ngajak aku bicara lagi!” Kalala merengek tidak tenang.
Kini, tatapan Shira beralih ke arah Edwin yang sedari tadi hanya duduk santai memerhatikan Kalala yang bercerita kesusahan.
“Kalau begitu, gimana kalau Edwin pura-pura jadi pacar Kalala aja?”
“Loh?”
.
.
.
Bersambung....
Mau lanjut gak nih?
Jangan lupa kasih like, vote dan komennya di bawah ya gaes....
Kalia team siapa nih?
Kalala <3 Edwin atau Kalala <3 Jackson?
__ADS_1