Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Kediaman rumah besar milik Baker Atkinson.


Siang itu, Jackson disuruh oleh Baker untuk mengontrol salah satu perusahaan miliknya yang ada di luar kota. Jackson menurut saja, tanpa memprotes apa pun.


Sejak kejadian tadi pagi, Jackson terlihat sedikit murung dan minim berbicara.


Bahkan Asten pun merasa ada yang tidak beres dengan anaknya itu. Hanya saja, saat Asten ingin mengajak putra tunggalnya itu untuk berbicara, Jackson kerap kali menghindar darinya.


“Bu, Jackson berangkat dulu,” ucap Jackson kepada Asten, sebelum ia keluar dari rumah.


“Jackson tunggu!” Asten sedikit berlari kecil mengejar anaknya yang hampir memasuki mobil.


“Tunggu, ada sesuatu yang mau ibu tanyakan padamu.” Asten menahan lengan anaknya itu sambil menatap penuh heran.


“Apa, Bu?” tanya Jackson sedikit lemas.


“Kamu ... baik-baik saja ‘kan? Tidak ada masalah bukan dengan rencana kita?” tanya Asten, menatapnya sendu.


Jackson tersenyum simpul dengan tatapannya yang layu. “Masalah kita terlalu banyak, Bu. Untuk saat ini, Ibu jangan mengharapkan rencana kita akan berjalan lancar,” jawabnya pelan.


Asten mengerutkan dahinya. “Maksud kamu?”


Jackson manarik nafas seolah berat, jika mengingat bagaimana sikap ayahnya saat tahu kalau Akash tidak ada di Kanada. “Tidak apa-apa, Bu. Aku bilang seperti itu karena takut mengecewakan, Ibu,” ucapnya masih menutupi semuanya.


Meski begitu, ia tidak ingin membuat Ibunya  merasa sedih jika tahu kalau rencananya kali ini gagal kembali.


“Jackson ....” Kedua bola mata Asten seolah menunjukkan kecemasannya, ia seolah dapat merasakan kalau Jackson sedang dalam kebimbangan.

__ADS_1


“Bu.” Jackson kembali melayangkan senyuman teduhnya. Ia melepaskan tangan Asten yang masih melingkar di lenagnnya.


“Aku berangkat dulu ya, Ibu jangan banyak pikiran,” ucapnya lalu segera masuk ke dalam mobilnya, yang di dalamnya sudah ada sopir pribadi yang menunggunya sejak tadi.


Asten akhirnya hanya bisa membuang nafas pasrah. Ia tahu, kalau Jackson pasti terkena masalah, rencana mereka saat ini pasti juga bermasalah. Setelah melihat kepergian mobil Jackson yang sudah hilang dari pandangannya, Asten pun kembali masuk ke dalam rumah.


“Kau kenapa?” tanya Baker tiba-tiba.


“Hah? ... Oh, ini Jackson sepertinya sedang dirundung masalah,” ucap Asten dengan lemas.


“Apa karena masalah kepergian Akash dan istrinya dari Kanada?” tanya Baker sengaja.


Mimik wajah Asten langsung berubah. Wanita itu terkejut mendengar penuturan dari suaminya. “Maksudnya bagaimana?” tanya Asten yang kurang paham.


Baker menarik nafas pelan. “Tadi pagi dia mendapat kabar, kalau Akash dan istirnya tidak ada di hotel yang ia booking. Dan tadi pula ia menanyakan ke pengurusnya di sana, dan pengurusnya bilang, kalau Akash dan istrinya itu tidak pernah datang ke Kanada, yang datang adalah pelayannya saja.”


“Entahlah, mungkin Akash ingin mengajak istrinya pergi ke negara lain. Memangnya kenapa?” tanya Baker memancing.


“Suamiku, kenapa kamu tenang sekali? Bukankah ini hal yang sangat penting. Bagaimana kalau Akash dan istrinya itu kecelakaan?” tanya Asten memberi dugaan.


“Tidak mungkin, kemarin malam saja, Akash mengabari sekretarisnya, tidak mungkin ia kecelakaan,” jawab Baker.


Asten termenung, merasa ada yang aneh. “Loh, kalau begitu, berarti ... suamiku ini sudah tahu kalau sebenarnya Akash tidak ada di Kanada sejak awal,” batinnya.


“Apa sebegitu khawatirnya kamu terhadap anak sambungmu itu?” tanya Baker menatap serius.


“Tentu saja, Suamiku. Aku khawatir padanya, dia juga adalah anak kita,” jawabnya sambil tersenyum dipaksakan.

__ADS_1


“Tapi, syukurlah kalau memang dia tidak kecelakaan dan sudah memberi kabar kepadamu serta kepada sekretarisnya.”


“Hm.”


“Sialan! Jadi gara-gara suamiku ini anakku jadi murung seperti itu,” batin Asten begitu kesal.


“Oh ya, Suamiku. Kalau begitu, apa kamu tahu di mana Akash dan istirnya itu berada?” tanya Asten.


Baker sudah paham akan pertanyaan itu, dari pada mengambil resiko yang tidak-tidak, lebih baik ia berbohong, meski sebenarnya ia paling anti untuk berbohong. Ini terpaksa ia lakukan agar anak dan menantunya itu bisa honeymoon dengan tenang.


“Aku tidak tahu, dan aku tidak ingin mencari tahu. Yang aku tahu, mereka sedang menikmati waktu berduanya. Jadi, tak perlu kita mencemaskan mereka,” ucap Baker dengan tegas, mengakhiri obrolan itu dan pergi meninggalkan Asten sendirian di ruang tengah.


“Sialan! Berani-beraninya dia menyembunyikan sesuatu dariku,” batinnya kesal, melihat kepergian Baker yang sudah menjauh dari pandangannya.


.


.


.


Bersambung


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2