Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Bertanya Soal Semalam


__ADS_3

Sinar mentari pagi, perlahan membuat kedua mata Jackson. Ia menggeliat dari tudir panjangnya yang begitu lelap. Menguap, lalu merentangkan seluruh tubuhnya yang terasa sakit dan kaku dalam keadaan mata yang masih terpejam.


Dalam setengah sadar, ia pun membuka matanya perlahan, di mana sinar mentari yang cukup terik itu membuat matanya langsung silau. Ia pun segera bangun dan duduk di taman yang ditumbuhi jejukutan hijau.


“Ah, ****! Pantas saja tubuhku sakit, ternyata aku tidur di tanah,” gumamnya dalam hati, sambil menggaruk kepalanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Terlihat kaki Edwin yang menembus melewati batas tenda luar.


“Ah iya, semalam aku ‘kan mabuk dengan dia,” gumamnya, memegangi kepalanya yang cukup sakit akibat efek dari wine yang ia minum semalam.


Jackson pun memasuki ruang tengah, tidak ada Akash atau pun Shira di sana, kecuali para pengawal yang berjaga di dekat tangga dan pelayan wanita yang tengah sibuk merapikan bunga di meja.


“Jackson, kamu sudah bangun,” sapa Tessa yang baru saja keluar dari ruang makan.


Jackson pun menoleh lalu membalikkan badannya, menatap wanita setengah baya yang tengah tersenyum padanya.


“Iya, Tante. Akash di mana ya?” tanya Jackson.


“Oh ... Akash sepertinya masih tidur. Kamu sarapan dulu gih,” titah Tessa dengan ramahnya.


Karena meski pun Jackson hanya adik tiri dari anaknya, tapi Tessa sangatlah perhatian padanya, apalagi Tessa sangat tahu kalau Jackson termasuk anak yang sangat kekurangan perhatian orang tua.


Jackson hanya mengangguk, tidak enak hati. Karena ini adalah pertama kali baginya, menumpang makan di rumah Akash. Seumur-umur bahkan dirinya belum pernah menginap di rumah saudaranya ini.


“Tante, Kalala sama Shira juga udah sarapan. Kalau kamu mau sarapan, kamu tinggal pergi ke dapur saja ya, Tante mau siap-siap pergi ke rumah teman Tante,” ucap Tessa memberi tahu.


“Kalala dan Shira masih ada di ruang makan, Tan?”


Tessa yang tengah berjalan menuju tangga, kembali menghentikan langkahnya. “Udah selesai dari tadi, mereka buru-buru pergi ke kampus, katanya udah kesiangan,” jawabnya.


“Oh, begitu ya, Tan. Ya sudah, terima kasih, Tante, saya ke ruang makan dulu.” Tessa mengangguk senyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


***


Sore harinya, sepulang dari kampus, Kalala dan Shira mampir terlebih dahulu ke sebuah toko kue. Shira memesan beberapa dessert box yang tengah viral saat ini. Bahkan berbagai macam varian rasa pun ia beli.


“Kal, kamu mau rasa apa?” tanya Shira. Tapi, Kalala malah diam membisu tidak menjawabnya, dengan tatapan matanya yang kosong melihat ke arah etalase kue yang ada di depannya.


“Kal!” Shira menyenggol sikut Kalala, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


“Eh, iya apa, Shir?”


“Kamu mau rasa apa atau kue apa? Ayo pilih, dari tadi bengong aja!” gerutu Shira sambil cemberut, melihat Kalala yang sejak pagi seperti tengah banyak pikiran.


“Ah, aku mau cokies coklat aja, satu box,” ucapnya pada pelayan yang ada di depannya.


Kini mereka tengah berada di dalam mobil. Sopir khusus yang ada di keluarga Akash, kini selalu mengantar jemput Kalala dan Shira kemana pun mereka pergi. Tidak lupa, Shira juga selalu mengabari Akash setiap dua jam sekali. Meski terkadang, pesan yang ia kirimkan pada suaminya itu jarang di balas, karena alasan sibuk.


“Kamu kenapa sih, Kal? Dari pagi kok banyak bengong, ngelamunin apa sih?” tanya Shira penasaran, sambil menyantap satu dessert box rasa keju yang baru ia buka.


Kalala menggeleng lemah, melemparkan seyuman pada sahabatnya itu. “Enggak mikirin apa-apa kok.”


“Oh... jadi mau main rahasia-rahasiaan ya?” tanya Shira memasang wajah juteknya, karena Kalala tidak mau jujur padanya.


“Eh, bukan begitu Shira....”

__ADS_1


“Ya terus, apa dong! Kamu enggak biasanya loh kayak begini!” Shira menggerutu sambil menggigit sendok di tangannya.


“Duh, bumil belepotan banget sih makannya.” Kalala mengahapus sisa krim keju yang ada di sudut bibir Shira.


“Ih, jelasin sama aku enggak!” Shira mencebikkan bibirnya, sambil menepisa tangan Kalala dari wajahnya.


Kalala menarik nafas pelan, lalu mengembuskannya. “Iya, iya ... aku cuma kepikiran sama mamaku kok. Soalnya udah lama enggak ketemu,” jawabnya beralasan, padahal alasan yang sebenarnya ia sering bengong seperti itu bukan semata-mata karena mamanya, melainkan karena kejadian di tenda semalam.


Shira akhirnya mengerti, ia mengira kalau sahabatnya itu benar-benar tengah merindukan mamanya. “Ya sudah, kalau begitu kamu pergi ke Surabaya aja, tengokin mama kamu,” ucap Shira ikut sedih.


Kalala tertawa garing. “Ah, enggak usah, Shir. Lagi pula sebentar lagi kita ‘kan harus persiapan untuk sidang. Skripsi kita udah enam bulan mangkrak loh, Shir!”


“Ah, iya juga ya.”


"Maafkan aku, Shira, untuk kejadian kali ini aku tidak bisa mengatakannya padamu," batin Kalala merasa bersalah membohongi Shira.


_


Tepat pukul sembilan malam, Akash baru pulang dari rumah sakit rahasia tempatnya bekerja bersama Edwin. Selain itu, tadi Akash juga sempat pergi ke kediaman Baker. Bukan untuk memberi tahu kalau istrinya hamil, melainkan untuk memastikan kembali denda yang harus ia bayar jika dirinya ingin lepas dari jerat para mafia organ tubuh itu.


“Tuan, Anda baik-baik saja bukan?” tanya Edwin yang cukup cemas, mengkhawatirkan keadaan Akash hari ini. Karena, sejak pulang dari rumah Baker, Akash tampak terlihat sedih dan kecewa. Edwin tidak berani jika bertanya masalah pribadi Tuannya itu, ia hanya ingin memastikan kalau Tuannya akan baik-baik saja.


“Hm, kau hari ini menginap saja di sini, karena besok kita harus pergi pagi-pagi untuk menemui mereka.” Edwin mengangguk paham, lalu berjalan mengekori Tuannya itu.


Saat mereka berdua masuk ke dalam rumah, terdengar gelak tawa dari tiga wanita yang tengah berdiam di area ruang TV.


Melihat senyum dan tawa Shira serta Ibunya, membuat Akash sedikit menyunggingkan bibirnya, rasa risau di hatinya sedikit terobati. Lelaki itu pun melangkah penuh semangat menghampiri istri dan ibunya.


“Aku pulang,” ucap Akash sedikit mengeraskan suaranya, lalu memberi kecupan singkat di kening ibunya serta Shira secara bergantian.


“Udah,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.


“Serius? Kalau belum, ayo aku temani,” ucap Shira begitu semangat. Akash menggeleng pelan.


“Tidak usah, aku ingin ditemani olehmu di kamar saja, hari ini aku benar-benar lelah,” pinta Akash.


“Hm, baiklah. Oh ya, Bu, Kal, aku pamit duluan ya,” ucap Shira berdiri dari duduknya dan menggandeng lengan Akash, membawanya pergi menaiki anak tangga.


Kini di ruang TV, hanya ada Kalala, Edwin dan Tessa.


Kalala sejenak melirik ke arah Edwin yang masih setia berdiri di belakang sofa yang diduduki olehnya.


“Ya ampun, kenapa dia enggak pergi juga sih, malah diem di sini lagi,” gumam Kalala dalam hati, merasa risau saat teringat kejadian semalam.


“Oh ya, Nak Edwin kamu sudah makan?”


“Emh ... sudah, Nyonya,” jawabya.


“Serius?”


Edwin mengangguk ragu, karena sebenarnya sedari siang ia belum makan lagi. Dan di saat situasi seperti ini, tiba-tiba sebuah suara terdengar.


Gruwuuuk ....


Kalala dan Tessa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Edwin. Ternyata, bunyi itu adalah sinyal dari perut Edwin yang tengah menahan lapar.

__ADS_1


“Sial! Kenapa perutku malah keroncongan sih!” batinnya, dengan kedua pipi yang sedikit memerah menahan malu.


Tessa terkekeh kecil, melihat Edwin yang tengah menunduk menahan malu.


“Maaf, Nyonya, perut saya bunyi.”


Tessa tersenyum paham. “Sudah, tidak apa-apa. Lebih baik kamu sekarang makan dulu gih, di dapur ada Mbak—”


“Eh, iya lupa, Mbak yang masak ‘kan, tadi izin pergi ke minimarket ya.” Tessa  tampak kebingungan.


Lalu ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Kalala yang tengah sibuk menikmati cookies yang tadi sore sempat dibelinya.


“Nak Kalala, boleh minta tolong?” tanya Tessa ragu-ragu.


Kalala langsung menoleh, merasakan aura tidak mengenakan. “Iya, Bu, ada apa?”


“Kamu tolong hangatkan masakan buat Edwin ya, kasian dia belum makan,” pinta Tessa tersenyum penuh mohon.


Kalala sejenak melirik ke arah Edwin, namun buru-buru ia memalingkan kembali wajahnya, tidak ingin bertatap muka dengan lelaki dingin itu.


“Emh, ba-baik, Bu,” ucapnya langsung berdiri dan segera pergi menuju dapur.


Edwin menyusulnya. Sesampainya di dapur, Edwin memperhatikan Kalala yang tengah sibuk menghangatkan sebuah makanan di dalam microwave.


“Apa aku tanya sekarang ya?” gumam Edwin dalam hati, karena juju saja sedari siang ia kepikiran dengan hal yang ia alami dengan Kalala di tenda. Ia ingin memastikan itu nyata atau hanya sekedar bunga tidur saja.


Edwin mendekat ke arah Kalala. Kalala yang merasakan pergerakan Edwin, ia beralih tempat buru-buru membuka kulkas, padahal ia sendiri bingung entah apa yang akan di ambilnya di dalam kulkas itu.


Edwin pun mengikutinya.


“Aku ingin bertanya padamu,” ucap Edwin tiba-tiba, saat Kalala tengah berjongkok mengambil semangka potong yang ada di dalam kulkas.


Dug, deg, dug, deg. Jantung Kalala sudah berdetak tidak karuan. Wanita itu tidak langsung merespon, melainkan ia malah menggigit bibir bawahnya sambil mencoba untuk tenang dan bersikap bisa saja.


“Tenanglah Kalala, tenanglah. Kamu harus bersikap seperti bisa, jangan sampai terlihat mencurigakan,” batinnya meyakinkan diri.


Kalala pun berdiri lalu berbalik menatap Edwin tanpa segan, dan berusaha menampilkan ekspresi seperti biasanya, walau perasaan dan pikirannya sudah tidak tenang.


“Kalau mau bertanya ya bertanya saja!” cetusnya lalu mengambil piring di buffet.


“Beneran tanya apa enggak ya? Tapi, kalau aku bertanya mengenai itu, apa dia akan tersinggung?” batin Edwin, ia pun tampaknya ragu-ragu untuk menanyakan kebenaran atas kejadian semalam.


“Jadi bertanya atau tidak?!” seru Kalala berkata sedikit galak seperti biasanya.


“Baiklah, sepertinya lebih baik aku menanyakannya saja, aku juga tidak ingin kepikiran soal kajdian itu,” gumam Edwin dalam hati.


“Oh ya, semalam ....”


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Lanjut????


__ADS_2