
Edwin baru saja memutarkan mobilnya, hendak pergi meninggalkan kediaman Akash. Namun, dari pintu gerabang sana, tampak mobil milik tuannya tengah melaju mendekatinya. Dan dengan terpaksa Edwin pun menghentikan lajunya.
Setelah mobil milik Akash terparkir, orang yang ada di dalamnya pun keluar, ternyata Shira ikut kembali pulang ke rumah.
“Edwin,” panggil Akash dari luar mobil.
Edwin segera keluar menghampiri Tuannya itu.
“Iya, Tuan.”
“Kau kemari pagi-pagi sekali, aku ‘kan menyuruhmu untuk datang nanti siang,” ucap Akash.
“Sayang, aku duluan masuk ke dalam ya,” ucap Shira, menginterupsi obrolan mereka.
“Iya, kamu istirahat di kamar ya, jangan main handphone,” ucap Akash, tersenyum ke arah Shira. Shira pun mengangguk dan berjalan pelan dengan langkah gontai menaiki teras rumah.
“Nona Shira sedang sakit ya Tuan?” tanya Edwin, lupa tidak memberi penjelasan kepada Akash kenapa dirinya datang pagi-pagi.
“Iya, lagi kumat bawaat bayinya,” jawab Akash.
“Oh ya, apa ada sesuatu yang penting sehingga kau pagi-pagi ke mari?” tanya Akash, menatapnya heran.
Edwin terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Akash.
“Apa aku bilang saja ya kepada Tuan Akash, kalau aku ingin menyusul Kalala ke Surabaya?” gumamnya dalam hati.
“Oh ya, sepertinya hari ini aku tidak perlu datang ke sana. Lagi pula jadwal praktikku hari ini dan besok kosong, aku ingin menemani istriku untuk beristirahat di rumah,” ucap Akash yang terlalu lama menunggu jawaban dari Edwin.
“Ma-maksud Tuan, hari ini aku boleh libur?” tanya Edwin memastikan, dengan wajah sumringah dan semangat yang ditunjukkannya.
Akash mengangguk pelan. “Hm, kenapa memangnya? Apa kau kemari karena ingin mengatakan sesuatu?”
“I-iya, Tuan, sebenarnya saya ingin menanyakan soal Kalala, Tuan.”
Akash menautkan kedua alisnya menatap heran. “Kalala? ... Memangnya ada apa dengan gadis itu?” tanya Akash bingung.
“Saya ingin menanyakan alamat rumah Kalala yang di Surabaya, Tuan. Sa-saya ada urusan penting dengannya,” ucap Edwin memberi tahu, berharap Akash akan memberikan alamat Kalala atau setidaknya membantunya meminta alamat Kalala kepada Shira.
“Urusan penting?” tanya Akash menatap curiga, sambil tersenyum simpul menilik wajah Edwin dengan sebegitunya.
“Kau gelisah ya, tahu Kalala pergi dengan Jackson?” tanya Akash memancing, sambil menjentikkan kedua alisnya tersenyum mesem.
Blush ....
Kedua pipi Edwin langsung memerah layaknya tomat matang. Lelaki itu langsung menunduk malu, melipat kedua bibirnya ke dalam, menahan senyumannya.
Akash pun terkekeh melihat tingkah sekretarisnya yang cukup dirasa begitu lucu. Apalagi ia pun baru melihat wajah Edwin yang memerah menahan malu karena masalah wanita. Karena seringnya, Akash selalu melihat kekakuan di wajah sekretarisnya itu.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menanyakannya kepada istriku, kau ikutlah,” ajak Akash.
Dan dengan semangat 45, Edwin pun mengekori langkah kaki Tuannya itu. Dengan perasaan senang yang menggebu di hatinya. Karena tidak lama lagi ia akan menyusul pujaan hatinya itu ke Surabaya.
“Pokoknya, aku harus memperjuangkannya, aku tidak ingin membiarkan rasa ini berlalu begitu saja, aku harus memberi tahu semuanya kepada Kalala nanti di sana,” ucapnya penuh tekad.
***
Pak Ari menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana dua tingkat, yang diketahui kalau itu adalah rumah milik bibinya Kalala.
“Akhirnya, sampai juga,” ucap Pak Ari dengan lega, lalu segera turun, membukakan pintu mobil untuk Jackson dan Kalala.
Di depan teras sana, terlihat Ardian yang baru saja hendak keluar membuka pintu rumah.
“Kalala!” pekik Ardian dengan semangat, langsung menghampiri Kalala dan memeluknya dengan erat.
Ardian adalah anak dari bibinya Kalala. Mereka sejak kecil memang sangat dekat, bahkan dari TK hingga SMP mereka selalu bersama-sama. Meski umur mereka terbilang sama dan sama-sama sudah dewasa. Tapi Ardian selalu menganggap Kalala sebagai saudarinya, jadi saat berpelukan pun tidak ada kata segan di antara mereka.
“Gila... lo makin cungkring aja sih, Kal!” Ardian melepaskan pelukannya sambil mengacak pelan rambut Kalala.
“Ih... body sahming mulu! Mata kamu tuh rabun, orang udah segede gini masih dikatain cungkring!” Kalala mencebikkan bibirnya dengan kesal.
Ardian terkekeh melihat kerabatnya yang sudah lama ia rindukan. Ia pun merangkul Kalala, lalu menoleh ke arah Jackson yang sejak tadi berdiri di dekat mobil memperhatikan mereka.
Mata Ardian kini menilik seluruh penampilan Jackson, mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
“Lo, bawa mafia ke sini, Kal?” tanya Ardian berbisik.
Ardian langsung membeliakkan kedua matanya saat mengetahui kalau lelaki yang berpenampilan sangat rapi dan terlihat roman-roman seperti mafia itu adalah seorang bos.
“Pacarnya Kalala ya?” tanya Ardian tiba-tiba menatap dengan wajah songongnya.
Kalala yang berdiri di samping Ardian, ia tidak segan menginjak kencang sebelah kaki Ardian, hingga lelaki itu mengaduh kesakitan dan memegangi jempol kakinya yang terinjak oleh sepatu tebal milik Kalala.
“Gila lo ya! Main nginjek kaki gue seenaknya!” gerutu Ardian masih menagduh keskitan.
“Emh, Tuan, eh maksudnya, Jackson, maaf ya dia mulutnya memang enggak terkontrol,” ucap Kalala tidak enak hati sambil menyengir kaku.
“Tidak apa-apa, sebentar lagi kau kan akan jadi—”
“Kalala!” teriakan seseorang itu menghentikan ucapan Jackson.
“Pacarku,” sambung Jackson pelan, tidak terdengar siapa-siapa. Sambil melenguh karena ia gagal menggombali Kalala.
“Bibi!” pekik Kalala langsung berpelukan dengan wanita berusia 40 tahun itu.
“Heh Ardian, kamu kok masih di sini! Cepat beli camilan, Kalala udah datang juga,” titah Nissa—ibunya Ardian.
__ADS_1
“Iya Ma, ini juga mau berangkat,” ucapnya lalu pamit dari sana, namun sebelum pergi Ardian melirikkan dengan tajam matanya ke arah Jackson. Seolah menyiratkan arti terdalam antar sesama pria.
“Itu siapa, La?” tanya Nissa.
Jackson tersenyum ke arah wanita setengah baya itu. Sambil mengangguk dengan sopan lalu berjalan mendekati.
“Saya, Jackson, Tante,” ucapnya memperkenalkan diri.
Nissa masih termenung, memandang penampilan Jackson dari atas sampai bawah, hampir sama tatapannya seperti tatapan yang diberikan oleh Ardian tadi.
“Pacar Kalala ya?” tanya Nissa menyengir.
“Waduh, ibu dan anak ini sama-sama rombeng mulutnya,” batin Kalala, terkejut mendengar tebakan bibinya.
“Bukan, dia Cuma temanku kok, Bi,” ucap Kalala menjelaskan dengan mimik wajah yang sudah tidak nyaman.
“Masa sih, cuma teman kok nganter sampai sini?”
“Udah ah, Bi. Kita masuk ya ke dalam ya, gerah nih diluar mulu dari tadi.”
“Ah, i-iya ayo-ayo masuk-masuk,” ajak Nissa dengan ramah kepada Jackson. Jackson hanya mengangguk senyum tipis, lalu berjalan mengikuti dua wanita yang ada di depannya.
“Duduklah dulu, Bibi mau panggilkan mamamu dulu ya,” ucap Nissa menaiki anak tangga menuju kamar Mamanya Kalala.
“Maaf ya, kalau rumahnya sempit,” ucap Kalala tidak enak, karena jujur saja, ruang tamu rumah bibinya ini mungkin hanya 1 per 5 bagian dari ruang tamu milik Jackson. Jauh lebih kecil dan sempit dengan ukuran hanya 4 meter x 4 meter.
“Tidak apa-apa, aku nyaman kok,” ucap Jackson.
Kini matanya beralih ke arah nakas yang ada di sampingnya. Lalu matanya tertuju akan sebuah foto berukuran 10r yang ada di dekatnya.
Di foto tersebut terlihat seorang gadis kecil dengan lelaki seumuran di sampingnya tengah memegang boneka.
“Ini, fotomu pas lagi kecil ya?” tanya Jackson menunjuk ke arah foto yang ada di nakas.
Kalala terkejut, buru-buru tangannya menjangkau foto itu, mendempet tubuh Jackson secara tidak sadar, saking paniknya.
Dan saat ia berhasil membalikkan foto itu jadi telungkup, ia baru sadar kalau posisinya sekarang sangat dekat dekat Jackson, bahkan jarak wajah di antara mereka pun sangat-sangat dekat, yaitu berkisar hanya 10 cm saja.
Netra keduanya saling bertautan, dengan perasaan berdebar yang memompa jantung berpacu lebih cepat.
“Kalala.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Waduh waduh waduh, gawat nih, siapa yang muncul ya?"