
“Iya, Tuan. Baik, Tuan, saya akan segera ke sana,” ucap Edwin begitu ia mendapat panggilan telepon dari Akash.
“Ayo! Cepat habiskan makananmu, setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Edwin.
Kalala pun mengangguk dan segera menghabiskan makanannya. Dan setelah selesai mereka pun bergegas pergi memasuki mobil kembali.
Jalanan siang ini cukup padat. Edwin terlihat begitu kesal karena sudah hampir 10 menit ia terjebak di dalam kemacetan ini.
“Duh, gimana sih ini! Lama banget.” Edwin menggerutu melihat mobil di depannya tidak maju sedikit pun.
“Ya sabar, namanya juga macet,” jawab Kalala.
“Heh! Aku gak ngomong sama kamu ya,” ucap Edwin menoleh sinis. Membuat Kalala langsung mencibir, sambil mengerucutkan bibirya merasa sebal.
“Dih, terus siapa yang dia ajak omong, batu?” batin Kalala lebih baik menoleh ke kirim melihat ke samping jalan.
Edwin pun menurunkan kaca mobilnya dan mengawasi ke luar, berharap ada orang proyek yang bisa ditanya olehnya.
Dan kebetulan, seorang lelaki setengah baya, yang ternyata dia adalah salah satu pekerja dalam poyek pembangunan jalan itu, melewat ke dekat mobil Edwin.
“Pak, Pak,” panggil Edwin.
Si bapak yang memakai rompi hijau menyala itu menoleh ke arah Edwin.
“Pak, ini macetnya sampai ke mana ya?” tanya Edwin.
“Oh, ini macet sampai ke pertigaan di depan, Mas. Perbaikan jalan ke arah Boulevard,” jawab si Bapak tersebut.
“Oh, tapi kalau selain ke arah Boulevard macet enggak, Pak?”
“Enggak terlalu sih, Mas. Soalnya titik pebaikannya juga Cuma arah yang ke Boulevard.”
“Oh, begitu ya, ya sudah makasih, Pak,” ucap Edwin kembali menutup pintu kaca mobil dan mengalihkan pandangannya ke arah Kalala.
“Jalan ke kost-anmu tuh yang bikin macet,” ucap Edwin.
“Ah ya ampun, k-kalau begitu, nanti aku biar turun di depan aja, aku bisa cari ojek lain aja,” ucap Kalala tidak enak hati.
“Kau tidak trauma apa naik ojek terus?” tanya Edwin.
Kalala tampak kebingungan, sebenarnya ia juga takut kalau harus pulang menggunakan ojek lagi. Masih ada rasa trauma apalagai ketakutan yang terbenam di pikirannya jika mengingat kejadian semalam.
“Emh, sebenarnya takut sih. Tapi, enggak apa-apa lah, ini juga udah siang kok, asal bukan malem aja,” jawab Kalala tersenyum kaku.
Edwin tidak lagi menjawab, lelaki itu hanya fokus melihat lurus ke depan. Seolah tidak mendengarkan ucapan Kalala.
__ADS_1
“Ish, dia ini, bertanya tapi pas aku jawab dia tidak menghiarukanku sama sekali,” gumamnya dalam hati. Dan ia pun kembali memilih untuk membuang pandangannya ke sisi jendela. Dari pada melihat ke sisi Edwin si manusia rasa es batu, mending Kalala melihat ke jalan saja, sudah jelas, jalan cuma aspal datar saja.
***
“Oh ya, Akash,” panggil Shira yang tengah merapikan barang oleh-oleh di kopernya.
“Apa?”
“Apa aku boleh bertemu Kalala hari ini?” tanya Shira. “Aku sangat merindukannya, udah lama banget aku enggak ketemu dia. Dia kalau tahu aku bawakan oleh-oleh sabanyak ini, pasti dia akan seneng,” ucap Shira begitu semangat.
Akash tersenyum mendengarnya. “Hm, boleh, tapi nanti tunggu Edwin jemput kita dulu, pulang ke rumah kita, baru setelah itu kau boleh menemuinya.”
“Benarkah?” tanya Shira memastikan. Akash mengangguk mengiyakan.
“Tapi ... ada syaratnya,” gumam Akash penuh maksud, tersenyum lalu mendekat ke arah Shira.
“Syarat?” tanya Shira pura-pura polos, padahal ia juga sudah paham, apalagi melihat tatapan Akash yang penuh damba padanya.
Dan Akash pun menarik Shira agar berdiri berhadapan dengannya, memeluk pinggulnya, merekatkannya dengan tubuhnya dan meletakan sebelah tangan Shira di pundaknya. Keduanya saling menatap, lalu memejamkan mata sambil mendekatkan wajah dan sentuhan bibir di antara keduanya pun kembali terjadi.
Jujur saja, semenjak pergi honeymoon, kedekatan dari keduanya jadi lebih intim, lebih bisa merasakan kenyamanan yang selama ini sama-sama belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Dan ciuman itu, kini tampak sedikit memanas, karena keduanya sudah bermian lidah. Saling menyesap dan membalas luma*tan mereka berulang kali.
Sepertinya, juniornya Akash ingin kembali melakukan kunjungan ke goa basah milik Shira.
“Ekhem!”
Akhirnya Shira dan Akash pun melepaskan ciumannya. Dan ternyata, mereka lupa kalau pintu kamar mereka tidak di tutup sepenuhnya. Bahkan separuh terlihat ke luar.
“Ehem! Cuaca siang ini, kayaknya panas banget ya, bikin gerah,” ucap Jackson yang tiba-tiba muncul di luar kamar sana.
“Jackson ... ada apa kau kemari?” tanya Akash, sementara Shira, gadis itu hanya bisa memundurkan langkahnya dan membelakangi Jackson, karena merasa tidak enak hati.
“Tidak, aku hanya ingin menyapa kalian saja ... pengantin yang sedang berbahagia,” tegasnya.
“Silakan, kalian lanjutkan saja lah, aktivitas panas kalian. Tapi, nanti aku ingin berbicara denganmu empat mata, Akash,” ucap Jackson menyeringai tajam, lalu berlalu begitu saja meninggalkan area kamar Akash.
Akash menautkan kedua alisnya merasa heran. “Empat mata? Ingin berbicara apa dia denganku?” gumamnya penasaran.
Ia menegrjap, tidak ingin peduli dengan perkataan Jackson barusan. Dan kini ia pun memilih untuk menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya.
Lalu kembali menghampiri Shira yang masih mematung di tempatnya. Akash mendekat, lalu memeluk tubuhnya dari belakang sambil memebenakan wajahnya di tengkuk putih milik istrinya.
“Akash ... kenapa tadi kita ceroboh sekali sih! Aku kan jadi enggak enak sama sodaramu itu,” ucap Shira mencebik kesal.
__ADS_1
“Sudah, tidak apa-apa. Biarkan saja dia mengiri dengan kemesraan kita,” ucap Akash lalu membalikkan tubuh Shira agar berhadapan dengannya.
“T-tapi ‘kan ak—” Belum sempat Shira melanjutkan keluhannya, Akash terlebih dahulu membungkamnya dengan bibirnya. Kembali melanjutkan aktivitas mereka yang selama beberapa menit lalu terganggu.
Dan akhirnya, kini mereka berdua pun sudah terjatuh di atas ranjang, merasakan kembali kenikmatan dunia yang tiada tara, yang membuat perasaan mereka seolah terbang ke angkasa, menikmati indahnya asa yang dirajut bersama.
Namun, lagi dan lagi, di tengah aktivitas panas mereka, yang sedang panas-panasnya, dering ponsel Akash, membuat fokus keduanya terganggu.
Drrt... drrtt... drrtt....
Suara getaran ponsel di atas nakas itu, sungguh benar-benar mengganggu.
Shira yang tengah mendesah di bawah kungkungan tubuh Akash, Ia pun menyuruh suaminya itu unutk mengangkat teleponnya dulu. Mau tidak mau, tangah Akash yang awalnya tengah pergegangan di baju ranjang, kini haru sidikit dijulurkan panjang ke arah nakas, meraih benda pipih yang masih berbunyi itu.
“Edwin?” gumam Akash, tanpa mengentikan gerakannya, lelaki itu langsung mengangkat panggilan suara dari sekretarisnya.
“Tuan, saya sudah berada di depan halaman rumah, Tuan,” suara Edwin terdengar di balik ponsel.
“Hm, ah ... tunggu 15 menit lagi,” ucap Akash langsung mematikan ponselnya.
Di sisi lain, Edwin termenung demi mendengarkan samar-samar suara desah wanita dari dalam ponselnya. Pikirannya langsung tertuju pada Akash dan Shira. Sudah dipastikan kini pikiran Edwin pun ikut taravelling gara-gara itu.
“Sial! Bisa-bisanya tuanku itu mengangkat telepon di tengah aktivitasnya yang sedang begituan,” gumam Edwin dalam hati.
“Kau kenapa?” tanya Kalala yang duduk di samping Edwin, tidak jadi diturunkan di pertigaan dan malah ikut dengannya ke mari.
“Apa memangnya? Aku tidak kenapa-napa,” jawab Edwin sewot.
“Tidak kenapa-napa, tapi wajahmu itu memerah loh,” ucap Kalala terkekeh kecil.
Edwin langsung membuang pandangannya dari Kalala, ia tidak boleh katahuan kalau sebenarnya ia tengah merasakan gejolak hasrat yang membuatnya sedikit malu dan tidak nyaman.
“Dih, kenapa dia?” batin Kalala memandang aneh ke arah Edwin.
__ADS_1