
Dan saat merasakan sentuhan di tangannya, jantungnya pun semakin berdisko kencang. Terasa jedak-jeduk yang semakin dahsyat.
“Apa ini? Kenapa dia menahan tanganku?” batin Kalala deg-degan tidak karuan.
“Kenapa, menahanku?” Kalala menoleh sambil bertanya.
“Tolong, matikan lampunya,” ucap Edwin simple, lalu melepaskan kembali tangan Kalala dan lelaki itu langsung memejamkan matanya begitu saja bersiap untuk tidur.
Seketika bibir Kalala berubah. Mengerucut seperti keong India. Entah kenapa, debaran itu langsung hilang dan berubah menjadi rasa kesal yang menggondok di hatinya.
“Ku kira ada apa, sampai menahan tanganku. Ternyata minta matiin lampu. Huft, kenapa gak sekalian aja aku matikan orangnya,” batinnya menggerutu tidak jelas.
Setelah mematikan lampu kamar, Kalala pun keluar dari kamar tersebut, pergi ke kamar di lantai satu yang dulu pernah di tempati oleh Shira.
Sementara itu, setelah Kalala keluar dari kamarnya, Edwin kembali membuka sebelah matanya, karena sebelahnya lagi masih lengket dan sakit.
“Sial! Kenapa jantungku jadi deg-degan gini sih,” gumamnya pelan.
Ia mengusap wajahnya pelan. Menggelengkan kepalanya, menyangkal akan perasaan di dada yang sekarang tengah ia rasakan.
Akan tetapi, pikirannya yang liar, mengingatkannya pada sentuhan dada Kalala yang secara tidak sengaja mengenai sikut tangannya. Bahkan, naik turun deru nafas wanita itu masih terbayang, terasa menerpa di wajah tampannya. Serta sentuhan lembut dari tangan Kalala, hampir saja membuat Edwin terlena dibuainya.
“Tidak, tidak boleh,” batinnya, mencoba membuyarkan bayangan Kalala dari dalam pikirannya.
“Jangan, Edwin, jangan berlebihan memikirkannya.”
***
Pagi ini, Akash dikejutkan dengan hadirnya Tessa yang tiba-tiba datang tanpa memberitahu sebelumnya.
“Loh, ibu!” pekiknya, saat melihat wanita setengah baya itu sudah ada di di depan teras rumah, saat Akash membuka pintu, hendak ke luar.
__ADS_1
“Akash, mau berangkat kerja?” tanya Tessa.
“Iya, Bu.”
“Sendiri?”
Akash kembali mengangguk.
“Loh, sekretarismu itu kemana?”
“Mata dia sedang sakit, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat di kamar. Ibu kenapa enggak bilang dulu kalau mau kemari?” Giliran Akash yang bertanya.
Tessa tersenyum, lalu mengusap sebelah lengan anaknya itu. “Sengaja. Kemarin, Ibu dengar istrimu itu sakit, makanya Ibu buru-buru ke sini mau nengok.”
Tidak berapa lama, Kalala keluar dari kamarnya, melihat seorang ibu-ibu yang belum ia ketahui identitasnya.
Begitu pun dengan Tessa, ia sedikit terkejut saat melihat ada perempuan lain di rumah ini, selain Shira dan para pelayan.
“Oh, dia temannya Shira, dia yang nemenin Shira kalau aku lagi kerja,” jawab Akash.
“Oh, syukurlah, Ibu kira, siapa!”
Akash pun mengajak Ibunya untuk masuk, Kalala dengan senang hati menyambut kedatangan wanita setengah baya yang tengah melemparkan senyum padanya.
Setelah menyalami Tessa, Kalala pun diajak berbincang sebentar oleh Tessa.
“Syukurlah, dari kemarin saya khawatir, takut enggak ada yang nemenin mantu saya di sini, kalau suaminya lagi kerja,” ucap Tessa.
__ADS_1
Kalala mengangguk sopan, sambil tersenyum. “Iya, Bu.”
Lalu, Kalala pun mengajak Tessa untuk pergi ke kamar Shira di lantai dua. Sementara Akash, lelaki itu izin untuk pergi ke tempat kerjanya, di rumah sakit rahasia. Karena hari ini, jadwal operasi bedah cukup banyak, jadi ia pun harus ceppat-cepat pergi ke sana, sebelum orang yang paling berkuasa itu meneleponnya.
***
Edwin membuka matanya, ia baru saja bangun, ketika matahari sudah memancarkan sinar terangnya.
Edwin meregangkan seluruh otot di tubuhnya. Setelah sekian lama, bahkan mungkin entah sudah berapa bulan ia tidak merasakan nyenyaknya tidur, dan kali ini, ia bisa kembali merasakan nikmatnya tidur pulas, bahkan sampai bangun di jam 10 pagi.
“Hoam....” Edwin menguap, menutup mulut dengan sebelah punggung tangannya.
“Ah, sial! Sebelah mataku masih sulit dibuka,” gumamnya.
Ia pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan mata sekaligus mandi.
Sementara itu, Shira dan Kalala hari ini izin tidak masuk kelas. Karena keadaan Shira yang cukup semakin parah. Wanita itu sejak pagi meriang dan panas dingin, padahal semalam keadaannya cukup baik-baik saja.
“Ibu panggilkan dokter saja ya,” ucap Tessa penuh khawatir.
“Enggak usah, Bu. Nanti juga aku sembuh sendiri. Ini cuma demam biasa kok,” jawabnya.
“Udah jangan ngeyel! Pokoknya ibu mau panggilkan dokter buat kamu.”
Tiba-tiba ....
“Hoek!”
__ADS_1