Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Perdebatan Wanita-Wanita Bar-bar


__ADS_3

“Oh ... jadi dia bos kalian?” Shira bertanya seolah ingin tertawa, tidak percaya.


Luna duduk di atas meja milik Shira dengan tidak sopan. “Memangnya kenapa hah? Kau iri, karena kini anak-anak di sini lebih memujiku dari pada dirimu?” Luna tergelak tawa, diiringi oleh anak-anak yang lainnya yang ikut menertawakan Shira, padahal tidak ada hal lucu untuk ditertawakan.


Shira tersenyum kecut, sambil menggeleng kepala pelan. “Dasar badut! Enggak ada yang lucu, kok malah ketawa,” cibir Shira, pelan, hingga tidak terdengar karena suara ketawa anak-anak yang terlalu keras.


Luna menghentikan tawanya seketika. “Eh, eh, eh ... kalian semua udah tahu ‘kan, gimana kondisi dia sekarang? Kayaknya, kalau dilihat-lihat ... orang miskin tidak cocok untuk duduk di bangku paling depan ya, benar bukan?” Luna berbicara dengan sombong kepada anak-anak sekelas.


“Eh iya benar, rumah dan harta dia ‘kan, sudah disita sama lintah darat,” ucap salah seorang teman yang ada di kelas.


Shira mencebikan bibirnya merasa kesal kepada lelaki yang baru saja mengucapkan kata-kata tidak pantas itu.


“Tuh ‘kan, udah deh ... sana pindah ke belakang!” seru Luna semakin puas. “Dasar, miskin!” hinanya.


Tiba-tiba ... “Diam kau lonthai!”


Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara, di mana suara tersebut berasal dari mulut seorang gadis bernama Kalala.


“Kala,” ucap Shira pelan, saat teman sekelas serempak berbalik badan menghindar, membuat Shira bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang tengah berdiri di ambang pintu kelas.


Kalala berjalan dengan penuh amarah, menghampiri Luna yang duduk bersender di atas meja Shira. Lalu tiba-tiba Kalala menarik lengan Luna, hingga membuat Luna hampir terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan benar.


“Tidak sepantasnya, wanita PHO sepertimu menghina Shira!” seru Kalala penuh emosi.


Shira terperangah melihat keberanian Kalala yang tengah membelanya. Dia baru tahu, kalau temannya yang sedikit culun itu ternyata punya keberanian yang luar biasa jika membela kebenaran.


“Dasar, Culun! Beraninya kau berkata seperti itu padaku!” teriak Luna merasa emosi.

__ADS_1


“Memangnya kenapa hah? Bukankah kau memang PHO (Perusah Hubungan Orang) yang rela mengorbankan tubuhmu demi merebut Haris dari Shira!” Kalala berucap tak terkontrol.


Luna membeliakan kedua matanya saat wanita itu berbicara seenak jidat padanya. Begitu pun anak-anak yang lain, yang cukup terkejut mendengar pernyataan Kalala.


Sebagian  mahasiswa segera mengeluarkan ponsel mereka dari sakunya, bersiap untuk merekam adegan berdebatan Kalala, Shira, Luna dan gengnya.


"Wah sepertinya akan ada drama besar pagi ini di kelas kita," ucap salah seorang mahasiswi yang ada di kelas.


"Iya, benar, sepertinya adu mulut mereka akan berbuntut panjang. Ini akan seru sekali."


Kalala menatap penuh tantang pada Luna. “Kenapa kau hah? Kau terkejut, kau kira aku tidak akan tahu? Kau kira aku tidak akan berani berkata semua fakta ini padamu?!” Kalala semakin menantangnya.


Semua orang di sana semakin dibuat terkejut mendengar penuturan Kalala. Terlebih mereka sedikit shock melihat sikap Kalala yang jauh dari biasanya. Karena yang mereka tahu selama ini, Kalala adalah salah satu mahasiswa culun dan pendiam, yang kerap kali mereka hina sebagai babunya Shira, karena Kalala yang selalu saja menempel pada Shira dan menuruti kemauan Shira.


Padahal, Kalala berlaku seperti itu pada Shira, karena Shira juga yang sudah banyak membantunya, bahkan Kalala dapat merasakan kalau Shira adalah orang baik yang tulus dan termasuk teman yang setia kawan, dan tak pandang buluk.


“Ya ampun Kalala, apa pemikiranmu sedangkal itu? Tidak mungkin lah Luna kita murahan seperti itu,” ucap seorang wanita yang ada di pihak Luna.


“Iya benar, tidak mungkin Luna seperti itu. Huh dasar babu!” hina seorang wanita lain yang mendukung Luna.


“Aha ha ha ....” gelak tawa Shira kini mencuri perhatian semua orang.


“Kau merasa Kala memfitnahmu, Luna? Ahahaha ... apa kau lupa dengan kejadian di apartemen Haris waktu itu? Bukannya aksimu semakin liar saat tahu aku memergoki kalian.” Shira kini berdiri dengan tatapan penuh jijik kepada Luna. Membuat Luna menunduk malu, saat Shira mengatakan kebenarannya.


“Kasihan sekali kalau Haris tahu kau melupakan kejadian itu,” ungkap Shira sambil terkekeh puas.


“Dasar wanita perebut!” cerca Kalala dengan kesal.

__ADS_1


Wajah Luna sudah memerah, dengan sorotan matanya yang tampak menahan amarah.


“Tidak! Aku tidak merebut Haris dari Shira. Haris sendiri yang mendekatiku, karena di sudah bosan dengan Shira!” belanya agar tidak terlalu malu.


Alih-alih mendapat pujian atau belaan, ia malah semakin dipermalukan.


“Lalu? Kau bangga jadi singgahannya di saat dia bosan?” Kalala bertanya penuh ejek. Membuat Luna hanya bisa menunduk malu mendengar pertanyaan yang tak bisa ia jawab.


"Sial! Kenapa si culun ini sangat berani padaku!" batin Luna, merasa malu.


Kriiiiiiing ....


Tiba-tiba, bel masuk pun terdengar, dan kebetulan dosen saat itu sudah datang. Membuat mereka yang berkumpul langsung berpencar ke kursinya masing-masing, dan pada akhirnya Luna tetap harus duduk di belakang, di kursi yang biasa ia tempati sebelumnya.


“Dasar, rendahan!” ucap Kalala pelan, saat Luna melewati tempat duduknya.


Luna semakin dibuat geram, ingin rasanya Luna menjambak rambut Kalala yang diikat berbentuk buns itu, mencekiknya dan memecahkan kaca mata yang selalu terpasang di pangkal hidungnya Kalala, akan tetapi dosen sudah ada di depan, membuatnya harus menahan gejolak emosi pada Kalala saat itu juga.


“Awas kalian!” geram Luna mengepalkan kedua tangannya begitu kesal.


Bersambung....


Hai teman-teman semuanya, maaf ya baru upload, lagi kurang semangat nih, kasih semangat buat author dong biar authornya gak lemes.


Mau minta do'anya juga dari teman-teman semuanya, semoga sore ini Dela dapat kabar baik. Kalau Dela dapat kabar baik, nanti Dela kasih kejutan buat kalian ya. Hehe, makasih.


Enjoy... di hari weekend mentemen.

__ADS_1


__ADS_2