Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Shira Hamil?


__ADS_3

Gemerlap bintang di kota Paris malam ini sangatlah indah, cuaca malam pun terasa semakin dingin. Sedingin hati Shira yang saat ini tengah dilanda rasa kesal.


Sejak tadi sore hingga malam ini, Akash masih tidak peka akan keinginannya. Lelaki itu tampak lebih ekspresif dari biasanya. Terus berusaha bersikap romantis kepada Shira, tapi sebaliknya, Shira malah bersikap biasa saja dan terkadang dia bungkam enggan berbicara.


Sampai pada akhirnya, Akash pun baru menyadari, ada yang aneh dengan gerak-gerik Shira.


“Shira, kamu mau ice cream?” tanya Akash.


“Mana ice creamnya?” tanya Shira memancing, barangkali dengan pertanyaan itu Akash akan mengajaknya pergi ke luar.


“Ya ada di toko, lah, ayo kita keluar.”Itu lah contoh perkataan ajakan yang ingin Shira dengar dari mulut Akash.


Akan tetapi, pada kenyataannya Akash malah menjawab. “Aku akan memesannya. Tunggu sebentar,” jawab Akash sambil sibuk mengotak-atik ponselnya, langsung menghubungi bagian hotel agar membawakan ice cream ke kamar mereka.


Lagi dan lagi, Shira dikecewakan oleh harapannya. Ia mencebikkan bibirnya merasa semakin kesal. “Udah, enggak usah. Aku kira kau akan mengajakku keluar,” ucapnya, berusaha memberi kode keras.


“Ya enggak lah, Shira. Kalau kita keluar hanya untuk membeli ice cream ya untuk apa. Capek-capek saja, mending kita istirahat, nonton, sambil menikmati waktu kita berdua,” ucap Akash sambil tersenyum penuh maksud, dan menggeser tubuhnya semakin duduk rapat dengan Shira.


Shira langsung menghindar, ia kembali fokus ke arah TV menonton film yang sebenarnya tidak ia sukai sejak tadi.


“Dasar! Sudah dikode sekeras batu pun dia masih tidak peka!” batinnya menggerutu kesal bahkan sangat-sangat kesal.


“Udah ah, aku ngantuk mau tidur,” ucapnya cemberut lalu beranjak pergi menuju tempat tidur.


Akash menoleh bingung. “Loh, jangan dulu tidur, nanti ice creamnya gimana?” tanya Akash yang masih duduk di sofa.


“Kau makan saja sendiri!” serunya langsung meringkukkan diri di atas kasur, dan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut putih.


Akash terheran-heran, memandang perilaku Shira yang sedikit agak berbeda sejak tadi sore. “Kenapa dia? Kok kayak marah-marah dan sensi gitu ya?” gumamnya dalam hati.


Tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Akash pun kembali memfokuskan pandangannya ke arah TV besar yang ada 3 meter di depannya.


“Ya Tuhan, sampai sekarang pun dia tidak peka akan perilaku yang aku tunjukkan padanya!” gerutu Shira yang kini tengah berada di dalam selimut.


Shira menggigit kuku ibu jarinya karena merasa kesal, ia jadi berpikir, kalau lelaki dingin semacam Akash memang tidak tahu cara membahagiakan pasangannya.


“Dasar, dia memang payah dalam urusan romantis. Apa-apa selalu saja to the point. Masa, aku ingin keluar pun harus aku dulu yang ngajak! Jauh-jauh ke Paris, cuma numpang tidur dan makan doang! Ishhhh ....” Shira menjejakkan kakinya menendang-nendang selimutnya dengan kesal.


Ketika ekor mata Akas tidak sengaja melihat sesuatu yang bergera-gerak di atas kasur sana, membuatnya langsung menoleh.


“Loh, Shira, kamu belum tidur?” tanya Akash dengan polosnya.


Seolah tidak tahan, Shira langsung menarik kasar selimutnya, duduk di tengah-tengah ranjang dengan wajah yang sudah tidak terkontrol dan rambut yang sedikit acak-acakkan.


“Kenapa memangnya kalau aku belum tidur? Kamu terganggu hah?” tanya Shira tidak santai, langsung membuat kedua mata Akash membelalak keheranan.


“Shira ....” Akash langsung berdiri tertegun di tempatnya. “Are you okay?”


“Are you okay, are you okay! No! I’am not okay!” serunya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi sambil menutupkan pintu kamar mandi sekencang mungkin.


Akash semakin dibuat terkejut melihat perilaku Shira yang jauh dari biasanya.


“Kenapa dia? Kok malah marah-marah sama aku? Memang aku salah apa ya sama dia?” gumam Akash berpikir keras, mengingat perlakuannya pada Shira hari ini, mulai dari pergulatan di atas ranjang tadi siang, terus saat makan sore di balkon, saat bercanda dan mengobrol sambil nonton. Ia kembali memikirkannya baik-baik.


“Sepertinya sikapnya berubah sejak aku mengajaknya menonton,” gumamnya.

__ADS_1


“Apa dia marah karena tidak suka filmnya ya?” pikirnya lagi. Saat sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba.


Tok, tok, tok.


Pintu kamar tedengar diketuk, buru-buru Akash membukakan pintu kamarnya, dan ternyata seorang lelaki pengantar ice cream datang membawakan uda cup ice cream untuk Shira dan Akash.


“Okay, thank you,” ucap Akash menerima ice cream tersebut, lalu tidak lupa memberikan beberapa lembar uang kepada lelaki pengantar ice cream tersebut. Dan setelah itu ia pun kembali menutup pintu kamar dan membawa ice cream itu ke tempat nonton.


Kini, dua cup besar ice cream dengan toping buah-buahan di atasnya itu ia simpan di atas meja bundar yang ada di dekat sofa.


Lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi, berdiri di depan pintunya sambil mengetuk dan memanggil nama istrinya berulang kali.


“Shira, kau sedang apa? Keluarlah, ice creamnya sudah datang.”


“Shira.”


“Shira.”


Sudah tiga kali ia memanggil tapi tidak ada sahutan dari Shira sepatah kata pun.


Akash jadi panik. “Shira kau baik-baik saja di dalam kan?”


“Shira? Jawab aku, atau aku—”


Ceklek.


“Atau kamu apa hah?” Shira menatapnya sinis, saat ia membuka pintunya.


“Shira ... kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Akash khawatir, langsung mengapit kedua pipi Shira dengan tangannya.


Shira menjauhkan tangan Akash dari pipinya, lalu pergi duduk di sofa, mengambil satu cup ice cream dan melahapnya dengan tidak santai.


Akash pun ikut duduk di samping istrinya, beberapa kali ia mencoba mengajak Shira mengobrol akan tetapi Shira hanya menjawabnya dengan simple, padat dan jelas, seolah malas berbicara dengannya.


Kini, Akash meraih ponsel miliknya lalu mencari di google, kenapa wanita berubah jadi sensi dan marah-marah.


Dan di pencarian google pun ada beberapa rekomendasi jawaban dari apa yang ditanyakannya.


Diantaranya :


Wanita sensi dan marah-marah saat pramenstruasi?


Kenapa wanita suka marah saat datang bulan.


Ciri-ciri wanita hamil.


Wanita hamil sering marah dan sensi.


Dan di antara rekomendasi yang ada di pencarian google Akash membacanya sambil berpikir.


“Kalau pramenstruasi, dia ‘kan udah selesai datang bulannya,” batinnya.


“Apa jangan-jangan ... dia hamil? Tapi, kita ‘kan berhubungannya juga baru semalam, masa sudah jadi sih,” batin Akash menduga-duga.


Tapi karena penasaran akhirnya ia pun mengklik blog yang berjudul 'Ciri-ciri wanita hamil'.

__ADS_1


Ia membacanya, sambil mengira-ngira apa yang dituliskan di blog tersebut ada kaitannya dengan apa yang dialami Shira atau tidak.


Semakin membaca, semakin terkejut pula Akash mengatahuinya. Ada senang di hatinya saat mengetahui apa yang Shira tunjukkan pada Akash hari ini termasuk ke dalam ciri-ciri yang dituliskan di blog tersebut.


Mulai dari, mood yang berubah-ubah, pilih-pilih makanan, dan tiba-tiba.


“Hoek!” Shira memutahkan sesuatu dari mulutnya, menahannya dengan tangannya, lalu berlari ke kamar mandi saat itu juga.


“Astaga! Berarti benar ... dia hamil!” pekiknya langsung berdiri dengan wajah yang tampak terkejut bahagia.


Shira pun keluar dari kamar mandi sambil mengelap bibir dengan punggung tangannya.


“Shira, kamu hamil?” tanya Akash dengan semangat.


Shira yang baru saja memuntahkan ice cream itu, ia langsung menatap Akash dengan aneh.


“Hamil apa?” tanya Shira menautkan kedua alisnya.


“Kamu hamil, Shira!” pekiknya langsung melangkah memeluk Shira dengan erat.


Shira memberontak. “Akash! Lepaskan aku, aku tidak hamil!” serunya.


Akash yang tengah senang dan memeluknya erat, ia pun perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap Shira dengan penuh kebahagiaan. “Kamu hamil Shira! Barusa kamu muntah dan itu artinya kamu hamil,” jelasnya dengan semangat empat lima yang membara.


Shira tercenung mendengarnya. “Kau ini ada-ada saja, aku muntah bukan berarti aku hamil, tapi ice cream yang aku makan barusan ada selai nanasnya dan aku tidak suka nanas, makanya aku memuntahkannya.”


“Kau ini ada-ada saja, mana ada orang hamil dalam semalam! Kita melakukannya baru semalam dan tadi siang, tidak mungkin spermaamu itu langsung berubah jadi janin di rahimku!” seru Shira menjelaskan dengan akal dan logika.


"T-tapi--"


Akash terdiam, termenung dengan pikirannya sendiri. Apa memang dirinya sebodoh itu?


“Benarkah?” tanya Akash dengan wajahnya yang polos.


“Iya! ... Lagian mana ada orang hamil dalam hitungan jam!” cetusnya menggerutu tidak jelas. Lalu, Shira pun kembali ke tempat duduknya yang tadi.


Akash mematung di tempatnya memikirkan semuanya. “Wah, berarti penulis blog yang tadi, sudah membodohiku, di tulisannya dia menyebutkan ciri-ciri orang hamil, tapi kenyataannya meski tandanya ada pada istirku, istriku tidak hamil. Ah, tidak akurat!” gerutunya pelan, menyalahkan blog halaman yang sudah dibacanya tadi.


.


.


.


Bersambung....


Waduh, Bang Akash bagaimana sih? Apakah dia setidak tahu itu akan soal kehamilan? Haha.


Mohon bantuan vote dan like, komennya ya mentemen, terima kasih.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2