Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Terpaksa Mengambil Jalan Pintas


__ADS_3

Cinta seorang ibu, adalah cinta yang paling murni yang pernah kau rasakan ~~ Kalala 


***


Jarum jam terus berputar sesuai arahnya. Detik demi detik terasa semakin tidak tenang. Ada hati yang kini tengah gundah, bimbang dan penuh ketakutan.


Kalala berulang kali menengok ke jendela, melihat mamanya yang masih terbaring di ruang ICU.


Setelah proses operasi jantung selesai, mamanya Kalala di pindah tempatkan ke ruang ICU, karena beliau belum tersadar juga setelah 3 jam operasai selesai.


Kalala masih menunggu dengan harap-harap cemas. Ia begitu bimbang dan tidak tenang akan keadaan ibunya. Ia pun duduk termenung di kursi tunggu yang berjajar di depan ruang sana.


"Ya Tuhan, selamatkan mamaku, semoga mamaku cepat pulih, Tuhan," gumamnya berdoa dalam hati, sambil mengepalkan kedua tangannya di dada.


Selagi duduk termenung menutup wajah dengan kedua tangannya, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh di bahunya.


"Hey," panggil seorang lelaki yang kini sudah berdiri di samping Kalala.


Kalala melepaskan tangan di wajahnya, lalu mendongak perlahan melihat sesosok lelaki yang dikenalnya berdiri dengan mengembangkan senyuman manis padanya.


"Kamu?" Kalala menatapnya heran.


"Kalala 'kan ya?" tanya lelaki itu. Kalala mengangguk pelan, lalu segera menghapus buliran bening di kedua sudut matanya yang sejak tadi berair.


"Kenapa Boy ada di sini?" gumam Kalala dalam hati.


"Bolehkan aku duduk di sini?" tanya Boy dengan ramah, Kalala kembali menganggukkan kepalanya pelan, memberi izin kepada Boy untuk duduk di sebelahnya.


Boy pun mendudukan tubuhnya di samping Kalala, lelaki itu kemudian menoleh, menatap Kalala dengan tatapan teduh.

__ADS_1


"Siapa yang sakit?" tanya Boy membuka pembicaraan.


Lagi, Kalala mengelap air mata sekaligus memencet hidungnya sejenak. "Emh, mamaku," jawabnya.


"Oh, mamamu ya." Boy mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Kamu, kenapa ada di sini?" Giliran Kalala yang bertanya.


Boy kembali mengembangkan senyumannya. "Aku di sini karena adikku, penyakitnya lagi kambuh," jawab Boy tersenyum getir


"Sakit apa memangnya?"


"Sakit jantung."


"Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


Boy menarik nafas pelan, seolah berat jika menhingat perjuangan adiknya yang melawan sakitnya yang cukup keras itu.


Kalala dapat memahami apa yang tengah dirasakan Boy saat ini. Lelaki itu pasti tengah dirundung dengan berbagai dilema di hati dan pikirannya.


Hening ... tidak ada lanjutan obrolan dari mereka.


Boy pun kembali menoleh ke arah Kalala. "Mamamu sakit apa?" tanyanya.


"Hah? Oh, mamaku juga sakit jantung, jantung bocor, dan tadi baru selesai operasi untuk pemasangan cincin," jawab Kalala.


"Beruntung banget ya kamu, bisa menangani semuanya dengan cepat," ucap Boy, seolah membandingkan dirinya dengan Kalala.


"Iya, aku beruntung karena bantuan sahabatku."

__ADS_1


"Sahabtmu?" tanya Boy penasaran.


Kalala mengangguk. "Iya, karena Shira lah yang membantu mendanai operasi mamaku. Aku juga tidak tahu bagaimana jadinya jika Shira tidak membantuku. Karena aku pun bukanlah orang berada yang memiliki banyak uang," tuturnya dengan jelas.


Tiba-tiba, sekelebat tawaran itu kembali terlintas di benak Boy. Lelaki itu sempat ditawari sebuah pekerjaan lanjutan oleh seseorang. Akan tetapi, pekerjaan itu jelaskan bukan pekerjaan baik, akan tetapi imbalan yang ditawarkannya pun tidak main-main. Hanya saja, tawaran itu terhubung dengan seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang baru saja ia ketahui kalau orang itu adalah orang yang sangat baik.


"Apa aku terima saja tawaran itu ya?" pikirnya begitu kacau.


Di sisi lain ia sangat membutuhkan uang untuk operasi adiknya, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin menjadi seorang penjahat. Akan tetapi jika di pikir-pikir kembali ia tidak mempunyai jalan instan selain mengambil tawaran itu.


"Emh, Kalala aku pamit dulu ya. Kamu yang sabar ya, semoga mamamu cepat siuman," ucap Boy lalu pergi meninggalkan Kalala sendirian di sana.


Kini Boy sudah berdiri di luar gedung rumah sakit. Ia memilih untuk melimpir ke area yang lebih sepi dan gelap tanpa ada siapa-siapa di sana.


Lalu, Boy pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya. Menghubungi nomor seseorang yang pernah bekerja sama dengannya.


"Hallo, Tuan." Boy menempelkan benda pipih itu di dekat daun telinganya.


"Iya, saya bersedia dengan tawaran yang Anda berikan, tetapi ada syaratnya."  Boy tampak serius berbicara dengan seseorang di balik ponselnya itu.


"Pertama, biayai terlebih dahulu operasi jantung adikku, dan yang kedua, Anda harus menjamin kalau saya tidak akan terkena hukuman penjara," ucapnya serius penuh tekad.


Setelah beberapa saat, Boy pun mengakhiri panggilannya. Wajahnya kini tampak bingung, karena denagn terpaksa ia harus mengambil pekerjaan kotor ini.


"Tuhan, aku tahu aku akan sangat berdosa, akan tetapi jangan sampai engkau memberikan karma kepada adikku, cukup aku yang menanggung semuanya, Tuhan," ucapnya pasrah, mengacak rambut lalu berjongkok merasa frustrasi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2