
“Tunggu!” Pinta Edwin menahan lengan Kalala.
“Apa!”
“Kau mau kemana?” tanya Edwin, terbaring menatap Kalala.
“Ya keluar lah!” jawab Kalala begitu ketus.
“Tidak boleh! Kau belum mengobati mataku.”
“Kau obati saja sendiri!” jawabnya lagi seolah cuek.
“Mana bisa!”
“Udah ah, lepasin tanganku aku!” ucap Kalala mencoba menepiskan tangan Edwin dari pergelangan tangannya.
“Enggak! Obati aku dulu!”
“Enggak mau!” jawabnya lantang.
Kalala masih berusaha melepaskan tangan Edwin, namun genggaman pria itu justru semakin erat melingkar di tangannya.
“Lepasin gak?!” Kalala memelototkan kedua matanya, berharap Edwin akan melepaskannya.
“Obati mataku dulu, atau kau ....” Edwin menggantungkan perkataannya, seolah hendak memebrikan sebuah ancaman pada Kalala.
Kalala menatap tajam “Atau apa hah!” tantangnya.
Keduanya masih terpaku, berkutat pada keegoisannya masing-masing.
“Berhenti melawan, Nona Cheetah!”
“Berhenti memanggilku Nona Cheetah, aku Kalala, bukan Cheetah!”
__ADS_1
“Ya sudah, kalau begitu obati mataku dulu!”
“Aku sudah bilang, aku ti—”
Bruk!
Kalala terjatuh tepat di atas dada bidang Edwin, keduanya saling menatap begitu lekat, dengan tangan Kalala yang masih ada dalam genggaman Edwin.
Pria itu terlalu kesal, hingga ia dengan refleks menarik lengan Kalala, berniat agar wanita itu langsung duduk di sampingnya. Namun, siapa sangka, tarikannya itu malah membuat gadis itu terjatuh kedalam dekap hangat tubuhnya.
Dug deg, dug, deg.
Jantung keduanya masing-masing memompa begitu cepat, bahkan detak jantungnya seakan ingin meledak saking kagetnya. Dan tanpa disadari, keduanya sudah saling berbagi oksigen satu sama lain dalam jarak sangat intim.
Satu detik, dua detik, hingga 10 detik berlalu, Kalala akhirnya tersadar dari tatap maut lelaki yang ada di dekatnya. Ia langsung bangun, dan berdiri membelakangi Edwin.
Begitu pun dengan Edwin, lelaki itu jadi merasa serba salah, ia ikut bangun dan terduduk di tempat tidurnya.
“Sial! Kenapa malah kewalahan, sampai dia jatuh kedalam dekapanku,” batin Edwin merasa tidak enak hati.
Hening ....
“Bagaimana ini? Apa aku harus meminta maaf padanya?” batin Edwin. “Argh... sial! Bennar-benar menyebalkan!” gumamnya dalam hati.
“Ma-maaf, aku tidak bermaksud menarikmu sekencang itu,” ucap Edwin pelan.
Kalala mengangguk pelan, dan tanpa menoleh ia pun menjawab, “Tidak apa-apa, a-aku akan keluar sekarang,” ucapnya buru-buru.
Namun, lagi dan lagi, saat Kalala hendak memutar gagang pintu kamar, tiba-tiba sudah ada tangan Edwin yang menahan di pintu.
“Tolong, bantu obati mataku,” ucapnya pelan.
Kalala tidak bisa menolak, ia hanya bisa bernafas pasrah, lagi pula, ia harus ingat akan tragedi semalam, Edwin menjadi seperti sekarang pun itu karena kecerobohannya.
__ADS_1
“Ba-baiklah,” jawabnya pelan.
Mereka pun kembali ke atas tempat tidur, dan kembali mengulangi aktivitas pengobatan seperti seamlam. Hanya saja, saat ini suasana diantara keduanya jauh berbeda dibanding semalam. Jika semalam, hanya ada debar-debar kecil, sekarang semua berganti menjadi debar dahsyat sekaligus hawa panas serta pikiran yang semakin tidak terkontrol kemana-mana.
Kalala kembali menyimpan obat tetes dan salep mata itu ke atas nakas. Lalu pergi meninggalkan Edwin.
“Terima kasih,” ucap Edwin, saat Kalala membuka pintu.
Langkah gadis itu terhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia kembali menjawab, “Hm, sama-sama. Aku pergi dulu, sarapannya tolong dihabiskan,” jawab Kalala langsung menutup pintu kamar, dan bergegas kembali menemui Shira di kamarnya.
Dan ternyata, dokter yang sempat ia telepon sudah ada di kamar Shira, Shira tengah berbaring diperiksa oleh dokter tersebut.
“Jadi, gimana kondisi menantu saya ini, Dok?” tanya Tessa merasa khawatir.
“Sepertinya, harus melakukan tes urine,” jawab Dokter.
“Tes urine?”
.
.
.
Bersambung....
Lanjut lagi enggak nih?
__ADS_1