
Langit malam ini dipenuhi dengan gemerlap cahaya bintang dan bulan. Cuaca yang sedikit dingin dan berangin, seolah mendukung acara yang tengah diadakan oleh Akash dan keluarga kecilnya.
Kepulan asap dari pemanggang barbaque, menghantarkan wangi yang menggugah selera di indera penciuman.
Kalala masih sibuk membolak-balikkan sosis, jagung, paprika serta daging barbaque di atas pemanggang itu.
“Kemari, biar aku saja yang melanjutkannya,” ucap Jackson yang berdiri di samping Kalala, hendak mengambil pencapit daging.
“Memangnya kau bisa?” tanya Kalala meragukannya.
Jackson terdiam sejenak, karena jujur saja selama hidupnya ia tidak pernah memasak atau ikut barbaque seperti ini, yang ia tahu hanya siap santap saja.
“Bisa lah, masa gini aja enggak bisa,” jawabnya penuh percaya diri.
Edwin memeprhatikan keduanya dari kejauhan. “Tumben banget Tuan Jackson mau ikut bakar-bakar begini,” gumam Edwin, karena ia juga tahu, kalau Jackson itu anti dengan masak-masak.
“Jackson, apa yang kau lakukan?” tanya Akash yang baru datang dari dapur membawa satu botol wine di tangannya.
“Ya membakar daging lah,” jawabnya.
Akash tidak menjawabnya lagi, lelaki itu tampaknya sedikit terkejut melihat prilaku Jackson saat ini. Apa yang membuat dia sampai seperti itu? Gerangan apa yang sudah terjadi? Apa mungkin adik tirinya itu kerasukan jin koki?
“Kal, kau tadi mengobrol dengan Jackson bukan?” tanya Shira sedikit kepo, sambil mendekat ke arah Kalala yang tengah menyiapkan minuman dingin di atas meja panjang yang tersedia di taman.
“Kenapa memangnya?” Kalala melirik bingung.
“Kau berbicara apa dengannya, sampai-sampai iparku jadi bertingkah aneh seperti itu?”
Kalala dan Shira kembali melirik ke arah Jackson, yang tengah senyum-senyum sendiri sambil membolak-balikkan sosis dan daging di atas pemanggang.
“Entahlah, aku pun tidak tahu.”
Shira yang masih kepo, ia terus saja menelisik ingin tahu ucapan apa sahabatnya itu katakan, hingga bisa membuat Jackson jadi seperti itu. Karena, tadi saat Jackson datang, dirinya masih seperti biasanya, minim bicara, tatapan dingin dan muka jutek. Akan tetapi, setelah mengobrol dengan Kalala, Jakcson jadi tampak senyum-senyum sendiri seperti orang kurang waras.
“Emh, masa ... kau pasti memberinya harapan ya?” tanya Shira menggodanya.
Kalala langsung menegrucutkan bibirnya dengan gemas. “Ih... Shira apaan sih!” gerutunya tidak terima.
“Sudahlah Kalala ... kalau kau memang tertarik dengannya, bisa kali kamu ajarin dia biar jadi bener,” lanjut Shira sambil cengar-cengir menyesap potongan lemon di tangannya.
Kalala memilih diam tidak menjawab perkataan sahabatnya itu, karena ia tahu, kalau sudah begini, Shira pasti akan memperpanjang obrolannya.
Kini mata Kalala pun kembali mengarah ke arah Jackson, lelaki itu tampak terlihat sedikit menggemaskan apalagi saat jagung yang tengah ia balikan malah jatung menggelinding ke tanah.
“Ya ampun, dia membalikan jagung saja tidak benar,” gumam Kalala tersenyum malu, sambil membuang wajah. Namun, saat ia membuang pandangannya ke arah lain, matanya malah tertuju pada seorang lelaki yang sejak tadi masih duduk berdiam di dekat tenda, tengah memperhatikannya.
“Apa!” Kalala berucap tidak bersuara ke arah Edwin, yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin.
“Hm, sepertinya sekarang aku tahu, alasan Tuan Jackson berlama-lama ada di sini,” gumam Edwin memperhatikan Kalala dengan Jackson secara bergantian.
***
“Shira, udah kamu lebih baik tidur di kamar aja ya, enggak baik kalau kamu tidur di tenda, kamu ‘kan lagi ham—” ucapan Tessa terhenti, saat Shira memeberi kode kepada mertuanya itu agar tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Eh, iya maaf, Ibu lupa kalau di sini ada Jackson,” jawab Tessa pelan sambil tersenyum kikuk.
“Iya engga apa-apa, Bu. Ibu bisa tidur duluan aja nanti kalau api unggunnya udah padam, aku sama Akash akan ke kamar kok, enggak bakalan tidur di sini,” jawab Shira.
“Ya sudah, tapi bener ya, nanti kamu sama Akash tidurnya di kamar, jangan di tenda,” ucap Tessa kembali meyakinkan.
“Iya, Bu ... Ibu cepat istirahat udah lewat jam 1 ini,” ucap Shira, mengembangkan senyuman manisnya.
Tessa pun bergegas masuk ke dalam kamar dan pergi menuju kamarnya.
Sementara Shira, ia masih menikmati hangatnya api unggun dengan Kalala yang sejak tadi sudah terbaring di sisinya, karena mengantuk. Dan Akash, mereka bertiga masih sibuk bermain kartu di atas meja bundar sana bersama Jackson dan Edwin. Keadaan mereka bertiga kini tengah dibuat mabuk karena habis berpesta wine.
Meski Tessa dan Shira sudah melarang Akash untuk tidak meminum wine, tapi lelaki itu tetap meminumnya meski hanya satu gelas kecil.
“Sayang ... mainnya udah ya,” ucap Shira memegang bahu Akash.
“Tapi masih seru, Sayang,” jawabnya dengan mata yang sudah menyipit lima watt.
“Ah... udah, aku kedinginan nih, kita ke kamar aja ya,” rengek Shira.
Akash yang sebenarnya masih sangat asyik bermain kartu bersama sekretaris dan adik tirinya itu, ia pun terpaksa menghentikannya, karena ia ingat ada dua nyawa yang harus ia lindungi sekarang.
“Ya sudah, ayo,” ajak Akash. Merangkul Shira dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Sementara Kalala, gadis itu masih terbaring di depan tenda, dengan tubuhnya yang hanya beralaskan matras.
“Kau kalah, Tuan Jackson!” ucap Edwin sedikit melantur.
“Aish.... sial! Kenapa aku selalu kalah sih? Kepintaran kalah, kekayaan kalah, kasih sayang pun kalah, aku memang rajanya kalah, ah ha ha ha.” Jackson berbicara melantur kemana saja.
“Haha apa aku terlihat semenyedihkan itu?” ucap Jackson bertanya balik.
Keduanya kembali tergelak tawa, lalu menuangkan kembali wine yang yang masih tersisa di botol hitam itu dan meneguknya bersamaan.
Kalala terbangun dari tidur singkatnya, ia menyipitkan kedua matanya melihat ke arah Edwin dan Jackson yang masih memainkan kartu dengan kepala mereka yang sudah terdampar di atas meja.
“Ya ampun, mereka pasti mabuk berat,” gumam Kalala, ia pun bangkit dan meneguk segelas orange juice sebagai penyegar untuk tubuhnya.
“Hey, Tuan-Tuan, cepat kembali ke tenda!” seru Kalala berkacak pinggang di dekat mereka.
Jackson dan Edwin yang setengah sadar, mereka mendongak memperhatikan Kalala.
“Hei Nona Cheetah, jangan galak-galak seperti itu!” ucap Edwin berbicara meelantur sambil tersenyum menatap Kalala.
“Benar, kau jangan galak-galak! Nanti aku semakin susah mengetuk hatimu,” timpal Jackson sambil terkekeh kecil.
Kalala hanya mendengus pelan, sambil menggelengkan kepalanya.
“Cepat bangun dan pergi ke tenda! Kalau tidak, nanti kalian akan digigit nyamuk! Memangnya kalian mau digigit nyamuk?!” seru Kalala, masih berusaha memerintah mereka agar berpindah ke tenda.
“Lebih baik digigit nyamuk dari pada digigit wanita galak sepertimu, begitu bukan Tuan Jackson?” tanya Edwin tertawa tidak jelas.
“Kau benar, Edwin. Lihatlah, aku semakin takut melihat wanita galak ini.” Jackson memelukkan kedua tangannya ke tubuhnya, seolah menggambarkan ia sedang ketakutan.
__ADS_1
Edwin dan Jackson semakin tertawa keras. Sementara Kalala, wanita itu semakin memasang wajah garangnya, menatap mereka dengan tatapan maut yanng mematikan.
“Aduh, aduh, aku benar-benar takut, lihatlah matanya, hampir mau keluar,” ucap Jackson bercanda setengah tidak sadar.
“Hey Kalala, kalau kau tetap galak kepadaku, aku akan semakin—”
“Banyak bicara sekali kalian ini! Sudah, ayo cepat aku bawa kalian ke tenda!” Kalala yang tidak ingin mendengar ucapan Edwin, ia pun langsung memapah Edwin dan membawanya ke tenda. Meski jalan mereka berdua terlihat sangat berat.
“Ya ampun, kau ini makan batu atau baja sih! Berat banget,” keluh Kalala, masih memapah tubuh Edwin yang cukup besar itu.
Perlahan dan semakin dekat, kini mereka berdua sudah sampai di depan tenda kosong berwarna orange. Kalala menjatuhkan tubuhnya dengan tubuh Edwin di depan tenda.
“Cepat, masuk ke sana!” titah Kalala yang merubah posisi duduknya jadi jongkok.
“Baiklah, aku akan menurutimu, Nona Cheetah,” jawabnya dengan mata yang semakin layu seperti lampu lima watt.
Edwin pun terbaring di dalam tenda. Kalala sejenak memperhatikan kepala Edwin yang tidak beralaskan apa pun. Matanya melihat ke arah pojok tenda, di mana sebuah bantal kecil tergeletak di sana.
Kalala pun berinisiatif untuk mengambilkan bantal itu dan mengganjalkannya di kepala Edwin.
“Tuan, angkat kepalamu,” ucap Kalala yang sudah memegang bantal di tangannya.
Edwin membuka matanya pelan, ia tersenyum memandang wajah Kalala yang ada di depannya.
“Hai Nona Cheetah,” ucapnya pelan, mengembangkan senyuman manisnya, yang sejenak membuat Kalala terpaku melihatnya.
Edwin pun bangun. Dan duduk berhadapan dengan Kalala.
“Kau datang ke dalam mimpiku?” tanya Edwin yang tiba-tiba menangkup kedua pipi Kalala dengan tangannya.
Dan dalam seketika, pipi Kalala langsung bersemu kemerahan, atmosfer udara yang ada di dalam tenda pun sedikit memanas.
Sambil tersenyum, Edwin semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Kalala.
“Kau memang benar-benar cantik, Kalala,” ucapnya pelan, memandang Kalala dengan tatapan yang jauh dari biasanya. Tatapan hangat dengan senyum manis yang menggetarkan jiwa.
Jantung Kalala berpacu semakin cepat, ia tidak bisa mengontrolnya. Keadaan pun semakin membuatnya mati kutu di hadapan Edwin.
“Tu-tuan, lepaskan tanganmu, Tuan,” ucap Kalala sedikit grogi, karena untuk yang kedua kalinya ia berada dalam radius yang sangat dekat dengan Edwin.
Namun, bukannya melepaskan tangan dari wajah Kalala, Edwin malah semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Kalala. Matanya kini, mengarah ke bibir tipis yang berwarna merah milik Kalala.
Kalala menutup matanya rapat-rapat, kedua tangannya meremas erat bantal yang ada di pangkuannya, semakin kencang jantungnya berdetak, semakin tegang pula seluruh tubuhnya.
Dan dalam hitungan detik, kehangatan pun langsung menjalar di seluruh tubuhnya saat bibir Edwin berhasil mendarat di bibirnya. Lembut, manis dan sedikit hangat, itu yang Kalala rasakan saat ini.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Waduh waduh, apa ini Kalala sama Edwin?
Jangan lupa taburin like, komen dan votenya ya gaes...