Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Sadarlah Jackson


__ADS_3

Waktu pun berlalu begitu cepat. Tidak terasa, sudah 10 hari, Kalala dan Edwin menjaga Jakcson di rumah sakit di Singapura. Mereka berdua setiap harinya selalu berjaga bergantian, berharap Jackson agar segera sadar dan pulih dari masa kritisnya. Namun, sepertinya sampai hari ini pun belum ada tanda-tanda sadar dari Jackson.


Dan pagi ini, Kalala dikabarkan kalau nanti sore Baker dan Shira serta Tessa akan segera datang ke sini untuk menjenguk Jackson, berhubung kesehatan tuan Baker sudah cukup membaik, dan beliau pun sudah mulai bisa jalan dengan normal lagi.


Sementara itu, mengenai kabar Asten, dua hari yang lalu Akash sudah mendapat kabar dan putusan dari pengadilan, kalau kasus yang Asten perbuat termasuk ke dalam pembunuhan berencana dan terkena hukuman yang di atur dalam pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati. Namun, karena naik banding dan adanya beberapa pembelaan serta rekayasa yang dibuat oleh Asten dan pengacaranya, dengan dalih kalau Asten tidak berniat untuk membunuh mereka melainkan hanya ingin menyakiti karena dendam tertentu, dan ada tindak pidana lainnya, akhirnya putusan dari jaksa pun jatuh dengan pasal pembunuhan, disertai tindak pidana lain yang diatur dalam pasal 339 KUHP dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun.


Dan saat persidangan pun, sedikit terjadi huru-hara karena terjadi pembantahan dari Asten mengenai pembunuhan berencana yang menimpa suaminya. Karena jujur saja, pembegalan yang menimpa Baker waktu itu bukanlah rencana Asten, tapi memang murni karena pembegalan orang-orang jahat.


Meski begitu, Asten tetap dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Dan wanita itu pun menangis menjerit-jering di aula persidangan. Membuat siapa pun yang melihatnya merasakan kalau wanita tuda itu sudah gila.


Bahkan Asten memohon dan bersimpuh di hadapan Akash, agar dia sedikit mau meringankan masa hukumannya. Tapi, Akash tidak berkutik sedikit pun, bahkan ia sampai memanggil pihak lain untuk menyingkirkan Asten dari hadapannya.


Dan kini, wanita itu pun sudah mendekam di dalam penjara yang di dalam selnya hanya ada dirinya seorang. Bahkan saat ini pun ia tengah meraung menangis, bahkan sudah dua hari ini ia tidak mau makan.


“Jackson ... maafkan, ibu, Jackson ....” Asten masih merintih sambil duduk di sudut ruangan yang kedap udara itu.


“Jackson ... tolong ibu, Jackson ....” Matanya bagai terkena kemarau, kering tidak mampu lagi mengeluarkan air mata di saat sedih seperti ini.


Dan semua yang terjadi padanya, memang patut ia terima dan sudah seharusnya ia mendekam di penjara akibat dari semua perbuatan jahat yang ia lakukan.


***


Sore itu, Baker datang bersama Shira dan Tessa, serta Akash yang menunggu di luar ruangan. Mereka semua memasuki ruang rawat milik Jackson, sementara Kalala dan Edwin, keduanya keluar dari ruangan tersebut karena bagaimana pun mereka harus mematuhi protokol dan aturan di rumah sakit tersebut yang tidak membolehkan orang menjenguk lebih dari tiga orang di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


“Apa masih tidak ada perubahan?” tanya Akash saat Edwin dan Kalala keluar dari ruangan tersebut.


Keduanya menggeleng pelan. Akash hanya bisa mengembuskan nafas sambil menunduk pasrah. Padahal ia setiap hari berdoa selalu untuk kesembuhan Jackson. Bahkan, ia juga sangat berharap kalau Jackson akan segera sadar dan pulih kembali.


Sebenarnya, ada satu rahasia yang belum sempat Akash ceritakan kepada Baker, Shira, Edwin, Kalala atau pun kepada Tessa, ia masih merahasiakannya sendirian, karena ia takut kalau mereka akan tambah sedih jika mengetahui rahasia ini.


Bakar memandang sendu anaknya yang terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuhnya. Wajah Jackson yang sangat terlihat pucat, serta beberapa balutan kain kasa yang terlihat melilit di bagian tubuhnya, sungguh benar-benar membuat hatinya sangat rapuh.


Ini untuk pertama kalinya Baker melihat Jackson dalam keadaan sangat menyedihkan seperti ini. Ia memeluk pelan tubuh anaknya tersebut sambil sesekali menciumi kening Jackson. Bahkan tidak sedikit air matanya yang menetes membasahi wajah anaknya itu.


Tessa mengusap pelan punggung Baker, mencoba menenangkannya, begitu pun dengan Shira, ia sudah terisak melihat keadaan adik iparnya yang sangat menyedihkan itu. Bahkan, Shira pun merasa sangat bersalah, karena bagaimana pun semua ini terjadi karena ulahnya pula.


“Jackson ... maafkan aku, Jackson. Aku benar-benar bodoh karena sudah menempatkamu dalam situasi bahaya, aku benar-benar menyesal, Jackson. Bangunlah ... sadarlah Jacskon,” ucap Shira menangis tersedu-sedu. Sambil memegang pelan tangan Jackson.


“Tapi, Bu ... a-aku—” Shira tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terus menangis tersedu-sedu. Merasakan berat dan sesaknya perasaannya saat ini.


Namun selagi menangis haru seperti itu, tiba-tiba, jari telunjuk kanan milik Jackson bergerak-gerak, seiring dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut mata kirinya.


“Ayah! Jackson!” pekik Shira terkejut, langsung membuat Tessa dan Baker mendongak menatap menantunya tersebut.


“Ayah, Ibu, Ja-Jackson bergerak, lihat air matanya!”


Haru biru pun merasuki perasaan mereka. Baker langsung berteriak memanggil dokter dan mengatakan kalau anaknya sadar. Akash, Edwin dan Kalala yang ada di luar pun ikut panik saat tahu kalau Jackson sadar.

__ADS_1


Kini dokter sudah ada di dalam ruangan. Semua orang keluar dari ruangan tersebut kecuali Baker, karena ia tidak ingin jauh-jauh dari Jackson.


Dokter kembali mengecek keadaan Jackson, menyuntikkan beberapa cairan ke dalam tubuh Jackson, serta menstabilkan detak jantung Jackson. Dan hanya dalam hitungan tiga menit akhirnya Jackson bisa membuka matanya, bahkan ia mengehela seperti orang yang kehabisan nafas. Dan selang oksigen pun kembali di pasang di hidup Jackson.


“Jackson! Anakku ... akhirnya kamu sadar, Nak,” ucap Baker langsung menangis meneteskan air matanya, lalu mengusap pelan kepala Jackson dan menciumi keningnya.


Dokter pun menyampaikan beberapa kata kepada Baker, agar Jackson bisa dibiarkan dan istirahat dulu selama beberapa menit ke depan, jangan dulu mengajukan pertanyaan kepada pasien, serta orang-orang yang diluar jangan dulu untuk masuk. Baker mengangguk memahaminya, lalu dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


Akash mencegat dokter tersebut dan menanyai keadaan Jackson. Dokter pun kembali menjelaskannya sama seperti saat ia menjelaskannya kepada Baker tadi. Dan semua orang pun dapat memahaminya.


Akash langsung memeluk Shira dengan erat, saking bahagianya tahu kalau Jackson sudah sadar. Begitu pun dengan Edwin dan Kalala yang saling mengeratkan pegangan tangannya ikut berbahagia.


“A-A-Ayah,” ucap Jackson sangat pelan dan terbata-bata.


“Iya, Jackson. Ayah di sini,” ucap Baker terharu. “Ayah sangat bahagia akhirnya kamu sadar, Jackson.”


Jackson hanya bisa tersenyum, sambil kembali meneteskan air matanya dengan pelan. Ia tidak mampu berucap, karena saat ini pita suaranya seolah menghilang entah kemana. Dan sebenarnya, pikiran Jackson pun belum sepenuhnya pulih. Lelaki itu belum bisa mengingat apa-apa, selain mengetahui bahwa orang yang ada di depannya adalah Ayahnya yang tengah menangis entah sedang menangisi apa.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2