Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Tepat pukul 20.00 malam, Shira, Akash, Kalala dan Edwin sudah sampai di depan rumah milik tuan Baker. Mereka berempat memasuki rumah mewah tersebut, dan disambut oleh para pelayan yang ada di sana.


Jackson sudah menunggu kedatangan mereka sejak satu jam yang lalu. Tampilan Jackson kali ini sangat berbeda sekali. Terlihat lebih rapi dan gagah dengan kemeja kotak-kotak yang dipakainya.


Karena biasanya, kalau tidak memakai jas, Jackson suka memakai kaos berkerah. Dan saat ini, baru pertama kali Akash dan Shira melihat Jackson memakai kemeja kotak-kotak.


Namun, berbeda dengan Kalala, wanita itu tampaknya tidak asing dengan kemeja yang dipakai oleh Jackson, seolah dia pernah melihatnya.


“Kemeja itu?” Kalala tengah berpikir. Lalu ia pun ingat akan kemeja miliknya yang ia tinggalkan di rumah bibinya.


“Ah iya, kemeja itu, persis dengan kemeja kesukaan punyaku,” gumam Kalala dalam hati. “Tapi, kenapa dia memakai kemeja yang sama persis denganku ya?” batin Kalala.


“Ah, sudahlah, tidak perlu dipikirkan.”


Jackson mendekat ke arah Akash dan Shira, dia pun berkata. “Ayah sudah menunggu di ruang makan,” ucapnya simple.


“Menunggu? Sejak kapan?” tanya Akash, karena ia merasa begitu tidak enak hati jika sampai Ayahnya yang menunggu kedatangannya di ruang makan.


“Baru saja. Tenang saja, kamu hanya telat satu menit kok,” ucap Jackson.


Jackson pun mengajak Akash dan Shira serta Kalala menuju ruang makan. Sementara Edwin, ia ditahan dan di suruh untuk menunggu di luar pintu.


“Kau hanya bisa menunggu di sini. Kalau tidak mau, kau bisa pulang, makan malam akan berlangsung selama dua jam,” ucap Jackson.


“Saya datang karena saya sudah siap menunggu di sini, Tuan,” jawab Edwin begitu dingin.


Jackson melengkungkan bibirnya ke bawah. “Hm.” Lalu masuk menghampiri anggota keluarganya yang sudah duduk rapi di meja makan.


Asten sejak tadi menatap heran ke arah Kalala. Wanita asing yang baru pertama kali ia temui.


“Siapa wanita ini? Kenapa dia bisa ada di sini?” gumam Asten dalam hati, menatap Kalala dengan heran. Sedangkan Kalala, wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum sopan kepada Baker dan juga Asten.


Baker cukup terheran-heran dengan kehadiran Kalala di sana. Karena sebelumnya, Jackson bilang kalau wanita itu sulit untuk di ajak ke rumah ini. Tapi anehnya, malam ini wanita itu malah hadir dan ikut untuk makan malam bersama mereka.


“Selamat ya menantuku, akhirnya kamu lulus juga jadi sarjana,” ucap Baker sambil menyodorkan  sebuah kotak hitam di atas meja makan.


“Terima kasih, Ayah,” ucap Shira tersenyum malu.


“Ini, pakaiakan olehmu,” ucap Baker kepada Akash.


“Apa ini, Ayah?” tanya Akash menautkan kedua alisnya, dengan heran, memandang kotak hitam kecil yang ada di depannya.


“Buka saja.”


Akash pun meraihnya, ia dan Shira sama-sama terkejut begitu kotak hitam itu dibuka ternyata di dalamnya terdapat sebuah kalung liontin yang sangat indah. Liontin berlian berwarna ungu dan sedikit kemerahan itu bernar-benar begitu cantik, bahkan baru kali ini Shira melihat ada liontin berlian bermodel bunga mawar. Pasti sangat sulit untuk mendapatkannya. Bahkan, sudah dapat di tebak, harga liontin berlian ini pasti mencapai angka miliyar-an.


“Ayah, i-ini untuk aku?” tanya Shira gugup, saat suaminya mengangkat kalung itu ke depan matanya.


“Tentu saja, Ayah memebelikannya khusus untuk menantu, Ayah. Anggap saja ini hadiah atas kelulusanmu,” ucap Baker tersenyum tipis.


Asten yang baru tahu kalau suaminya itu akan memberikan liontin berlian semahal itu kepada menantunya, ia sedikit shock, bahkan tidak menyangka kalau suaminya akan memberikan Shira hadiah yang sangat mewah. Karena Asten sebelumnya hanya mengira kalau Baker akan membelikan kalung emas biasa untuk menantunya itu, tapi ternyata kenyataannya jauh berbeda dari ekspetasi yang ia bayangkan.

__ADS_1


“Pakaikan,” titah Baker pada Akash.


Akash ikut tersenyum senang, lalu menuruti perintah Ayahnya, dan ia pun segera bangkit dari duduknya lalu berdiri di belakang Shira dan mengalungkan liontin berlian itu di leher putih istrinya.


Sungguh, liontin berlian itu sangat-sangat cocok digunakan oleh Shira. Bahkan aura yang terpancar semakin membuat Shira tampil lebih elegant dan cantik.


“Cantik,” puji Akash dan Kalala secara bersamaan tidak sengaja.


Shira semakin melebarkan senyuman cantiknya sambil memegang liontin berlian itu. “Terima kasih, Ayah, aku sangat menyukainya,” ucap Shria begitu bahagia.


“Dasar bisa-bisanya suamiku membelikan dia liontin sebagus dan semewah itu! Padahal ini hanya perayaan kelulusannya saja, tapi suamiku malah membelikan dia barang-barang mewah! Sedangkan aku, sejak dulu aku tidak pernah diberi liontin sebagus itu. Mana designnya sangat jarang banget lagi!” gerutu Asten di dalam hati.


Asten bukannya tidak pernah dibelikan liontin mewah oleh Baker, hanya saja, liontin yang dimiliki Asten, designnya terbilang biasa dan tidak secantik milik Shira saat ini.


Wanita tua itu, sepertinya memang mempunyai penyakit hati, dia seolah tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Rasa iri yang tertanam di dirinya membutakan pikiran bersihnya dan membuat kedua matanya selalu memandang apa-apa dengan nilai kemewahan dan kecantikan. Di mana, jika ada orang yang memiliki sesuatu hal yang lebih bagus atau lebih mewah darinya, ia pasti akan iri, termasuk sekarang ini.


Asten menilik satu persatu orang-orang yang ada di ruang makan tersebut, mulai dari Baker, Akash, Shira, Jackson dan satu orang wanita yang tidak dikenalnya. Ia benar-benar semakin kesal.


“Aish! Ornag-orang di sini memang benar-benar selalu membuat aku muak!” batin Asten. Apalagi saat mereka semua tengah asyik berbincang membicarakan Tessa yang tidak datang.


“Kenapa suamiku masih selalu menanyakan kabar mantan istrinya sih! Dia memang tidak peduli dengan perasaanku, padahal aku ada di sisinya!”


Asten melirik ke arah pelayang yang baru datang membawakan minuman pembuka, sebelum makanan inti resmi datang.


Pelayang itu pun menyajikan minuman-minuman pembuka itu di atas meja, di masing-masing orang.


Asten tampak tengah memastikan sesuatu. Ia pun berdiri dari duduknya, menyita perhatian semua orang.


“Kau mau kemana Asten?” tanya Baker dengan heran.


Sementara itu, Kalala tampak curiga akan gerak-gerik yang dilakukan oleh Asten—ibunya Jackson. Dia jadi ingat akan pesan dari Edwin, kalau ia harus sebisa mungkin mengawasi Asten. Karena dia termasuk orang yang berbahaya, apalagi di acara-acara seperti ini, wanita itu pasti tidak akan lengah dan selalu memanfaatkan kesempatan.


“Apa yang dilakukan oleh Ibunya Jackson? Apa perlu aku mengikutinya? Tapi ... kalau aku mengikutinya, pasti orang-orang akan curiga,” gumam Kalala kebingungan.


Ia pun perlahan mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang ada di sampingnya. Ia hendak mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya itu agar Edwin bisa mencari tahu soal Asten yang tengah pergi keluar dari ruang makan.


Namun, baru saja ia menunduk untuk mengetik pesan, tiba-tiba suara Baker mengejutkannya.


“Putri Kalala Miraela, gerangan apa yang membuatmu bisa datang kemari?” tanya Baker dengan suanya yang terdengar ngebass dan cukup berat.


Kalala langsung mendongak. “Hah?” Ia malah cengo.


“Saya dengar, kamu sekarang bekerja sebagai pengawal menantu saya, apa itu benar?” tanya Baker menatapanya serius, sedikit membuat Kalala meringsut ketakutan.


“Hah? I-iya betul, Tuan. S-saya bekerja untuk mengawal Shira,” jawab Kalala gugup. Karena sejak mereka datang, ini baru pertama kalinya Baker mengajaknya berbicara seseirus ini padanya.


“Kau bisa datang hari ini apa karena Shira sebagai alasannya?” tanya Baker penasaran, sambil sejenak menatap Jackson dan Kalala bergantian.


Kalala mengangguk mengiyakan.


“Lantas, saat anak saya mengajak kamu datang ke rumah ini, kenapa kamu menolaknya?” tanya Baker to the poin.

__ADS_1


Kalala dan Jackson langsung saling menoleh, berpandangan satu sama lain.


“Hah? I-i-itu ....” Kalala kebingungan untuk menjawabnya.


“Ya ampun, kenapa Ayah malah membahas soal itu di sini sih,” batin Jackson, merasa tidak nyaman.


“Waduh, gawat! Apa alasannya ya, masa ia sih aku harus jujur dan menyombongkan soal hubunganku dengan Edwin di depan mertuanya Shira,” batin Kalala, kebingungan.


“Are you single?” tanya Baker, yang langsung membuat semua orang terkejut mendengar pertanyaan dari lelaki tua berwibawa itu.


“Hah? S-s-saya—”


“Edwin? Sekretaris Edwin pacarmu ‘kan?” tanya Baker.


Kalala dan yang lainnya lagi-lagi dibuat terkejut mendengar ucapan dari Baker.


“Ya Tuhan, kenapa Tuan menakutkan ini bisa tahu kalau aku pacaran sama Edwin?” batin Kalala.


Shira dan Akash pun saling memandang terheran-heran.


“A-ayah, bagaimana bisa Ayah tahu kalau dia sudah punya pacar?” tanya Jackson gugup.


Baker menatap Kalala dan Jackson bergantian. Lelaki itu tiba-tiba menggelegarkan tawanya. “Ahahahaha.”


“Apa kau lupa siapa Ayahmu ini? Bukankah mencari tahu soal seseorang sangat mudah bagi, Ayah, kamu maupun Akash?” tanya Baker.


Jackson mengangguk membenarkan ucapan Ayahnya. Pasti, Ayahnya sudah menyelidiki soal Kalala dan keluarganya. Karena Baker tidak akan semata-mata menerima orang lain di hidupnya, termasuk dalam memilih menantu.


“Putri Kalala Miraela, kalau saya melamarkan kamu untuk putra kedua saya, apa kamu mau?”


Deg ....


Jantung Kalala serasa copot dari tempatnya. Semua orang membulatkan matanya dengan serius. Mereka yang ada di dalam ruangan sangat-sangat terkejut.


“Tunggu, ini bukan mimpi ‘kan?” batin Kalala, semakin berdebar ketakutan.


“Gimana ini? Apa yang harus aku jawab?” Pikiran Kalala kini tengah sibuk untuk merangkai kata, ia tidak mungkin menolak langsung mentah-mentah tawaran dari Baker, karena ia sangat tahu siapa lelaki tua yang ada di depannya itu, dan seberapa penguasanya lelaki itu.


“Tenanglah, tenanglah, Kalala, atur strategimu. Jangan sampai kamu salah ucap,” batinnya mencoba terus berpikir mencari jawaban yang sekiranya tepat.


“Maaf, Tuan tapi saya mencintai pacar saya yang sekarang.”


.


.


.


Bersambung...


Waduh, belum juga makan udah di skak mat sama Tuan Baker nih si Kalala.

__ADS_1


Btw maaf ya baru bisa update lagi, kerjaan kemarin lagi banyak banget. Maunya semalam update tapi baru dapat dikit. Oh ya yang mau lihat visual pemeran di novel ini bisa cek ig aku ya @dela.delia25


Oh ya aku juga punya novel baru judulnya "Noda Pengantin" masih on going dan update setiap hari, kalau berkenan kalian bisa mampir ya. Insyaallah ceritanya akan tamat di NT enggak akan sampai gantung. terima kasih.


__ADS_2