
Nashira terbangun, ia merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia menutup dan membuka matanya berulang kali, mencoba untuk bangun, tetapi tidak bisa.
Kini pandangannya mulai tampak jelas, ia melihat langit-langit berplafon putih yang berbeda dari biasanya.
“Aku di mana?” gumamnya pelan. Ia pun mencoba bangkit, dan akhirnya berhasil duduk di atas kasur empuk itu, mendesisi pelan merasakan sakit di kepalanya yang terasa begitu luar biasa.
Ia mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru ruangan, di sana pintu kamar tidak tertutup. Dan ia terkejut saat melihat dua orang lelaki bertubuh besar, terkapar di lantai.
"Ya ampun, ada apa ini?" gumamnya begitu terkejut.
Jelas, ini bukan di kediaman tuan Hellboy, ia seolah tahu kamar ini dan melihat interior ruangannya Shira merasakan kalau ini bagai de javu saat melihat kaca rias yang ada di kamar.
Ia pun mencoba melangkah pergi dari sana, perlahan tapi pasti. Dan saat keluar dari kamar, ia sadar, kalau dirinya ada di rumah milik pamannya. Rumah yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi.
Samar-samar suara rintihan terdengar dari dalam kamar pamannya. Shira berjalan menuju ke kamar tersebut, dan semakin dekat, rintihan itu semakin terdengar jelas di kedua telinga milik Shira.
Nashira langsung membuka pintu yang kebetulan pintu itu tidak terkunci. Dan begitu sangat terkejutnya Shira, saat mendapati sebuah pemandangan yang jauh dari perkiraannya.
“Bibi!” pekik Shira, saat melihat wanita berusia 36 tahun itu tengah di ikat di atas kursi kayu dengan kedua tangannya yang diikat ke belakang serta mulutnya yang tertutup rapat oleh lakban hitam.
Wanita itu menatap penuh amarah ke arah Shira. Matanya menyorot tajam, pun urat-urat di kening yang tampak menonjol, menunjukkan seberapa emosinya dia saat melihat kehadian Shira di sana.
Nashira berlari menghampirinya lalu dengan cepat membuka selotip hitam yang menutup mulut bibinya.
“Bibi apa yang terjadi?” tanya Shira panik.
Saat selotip itu berhasil terbuka. Tiba-tiba wanita bernama Merlin itu langsung meludahi Nashira.
“Cuih! Pergi kau wanita terkutuk! Aku tidak sudi disentuh olehmu!” teriaknya histeris dengan sisa-sisa air mata yang sudah kering, tergambar di wajahnya.
Shira sepontan mundur, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Bibinya. Dan ludah itu tepat mengenai baju Shira. Shira bergeming di tempatnya, ia tidak mengerti akan maksud dari perlakuan Bibinya tersebut.
“Bibi, kenapa Bibi malah meludahiku? Sebenarnya apa yang terjadi, Bibi?” Shira terkejut pun kebingungan.
“Tidak perlu kau berpura-pura bodoh dan tidak tahu! Dari dulu keluargamu memang pembawa sial! Dan sekarang kau juga membawa sial bagi kami. Tidak seharusnya aku membiarkan suamiku untuk ikut campur urusanmu dengan lintah darat itu, dasar bangs**t!”
Nashira semakin kebingungan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bibinya itu. Shira hendak mendekat, namun Merlin langsung berteriak, agar Shira tidak mendekatinya.
“Pergiiiii ... jangan mendekatiku!” teriaknya penuh amarah. “Lebih baik kau urus saja orang-orangmu itu!” teriaknya lagi.
__ADS_1
“Orang-orangku?” Shira terdiam tak mengerti, ia semakin dibuat bingung oleh ucapan yang dikatakan Bibinya.
"Tapi, Bibi, tanganmu akan kesakitan kalau tetap dalam keadaan terikat seperti itu, biarkan aku melepaskan dulu, Bibi."
"Tak perlu kau memperdulikanku, sekarang juga kau pergi!!!" Ia semakin berteriak menjadi-jadi.
Shira tidak bisa berupaya lebih jika keadaan Bibinya sudah seperti itu.
“Pergiiii!!!” Karena Merlin terus-terusan meneriakinya untuk pergi, akhirnya Shira pun pergi dari sana, membiarkan keadaan Merlin yang masih terikat di bangku kayu itu.
Shira menuruni anak tangga, ia terkejut saat melihat ada darah yang berceceran di lantai di ruang tengah. Tidak banyak, tapi cukup membuat Nashira ketakutan.
Berjalan pelan sambil mengedarkan pandangan dengan waspada. Tiba-tiba, kedua telinganya yang jeli itu mendengar suara, grasak-grusuk dari arah dapur. Shira perlahan berjalan menuju sana, dengan perasaan yang sudah tidak tenang dan jantung yang kian berdebar, Shira melangkah dengan penuh kehati-hatian.
Pelan, dan sangat pelan. Kedua matanya masih celingukan waspada mengawasi sekitar. Kedua tangannya pun mengusap pelan dinding, yang menuju dapur.
Perasaannya semakin tidak terasa enak. Pikirannya semakin membayangkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan.
dan sepanjang jalan menuju dapur, tetas darah itu juga terpapar di lantai.
Meski tubuhnya kini kian bergetar, Shira tetap berjalan mengikuti arah tetesan darah itu. Hingga pada akhirnya ....
“Jangan biarkan Shira tahu semua ini. Dan kau, sebaiknya kau urus semua ini dengan aman, jangan biarkan orang disekitar sini mengetahui semua hal ini. Aku akan ke atas dulu, untuk membawa Shira pergi dari sini.”
Akash menyimpan pisau yang ada di tangannya ke atas meja bar. Tangan lelaki itu tampak dipenuhi dengan noda merah segar, pun di bawahnya banyak darah yang berceceran. Serta anak buahnya Akash yang tengah fokus melilitkan tali di karung putih, yang entah barang apa yang ada di dalam karung itu, tapi karung itu sama-sama mengeluarkan darah.
Shira benar-benar ketakutan. Seluruh tubunya semakin bergetar, pompa jantungnya semakin tidak terkendali, ia merasakan lemas di bagian lututnya.
"Ya Tuhan, apa yang Akash lakukan di sini? Dan darah apa ini? Apakah dia sudah membunuh seseorang di rumah ini?" gumamnya dalamm hati, masih dengan kedua tangan yang memebap mulutnya, pun air mata yang tiba-tiba menggenag di pelupuk matanya.
Shira pelan-pelan memundurkan langkahnya, pelan sekali dan sangat hati-hati. Dengan kedua matanya yang masih memantau, agar Akash tidak berbalik dan tidak memergokinya.
Tapi, tiba-tiba ... prang!!!
Satu gelas kaca yang ada di atas meja hias di lorong menuju dapur, tidak sengaja tersenggol oleh Shira. Membuat Akash dan Shira sama-sama terkejut, apa lagi saat kedua mata mereka saling bertautan, membulat tidak percaya.
“Shira!” ucap Akash pelan.
Shira langsung memundurkan langkah kakinya, pikirannya yang sudah melayang-layang kemana-mana, semakin membuat dirinya takut pada sosok lelaki yang berada sepuluh meter di depannya.
__ADS_1
“Tidak Akash, ja-jangan sakiti aku,” pintanya memohon ketakutan.
Akash pun bergegas menghampiri Shira, akan tetapi saking takutnya, Shira langsung berlari mencoba kabur dari Akash.
Kini, air mata Shira sudah berjatuhan, ia terus berlari mencoba keluar dari rumah ini. Meski pandangannya yang sedikit buram karena air mata yang menggenang. Wanita itu terus berteriak sambil meminta tolong, membuat Akash panik karena teriakan Shira pasti akan menimbulkan kecurigaan bagi tetangga sekitar.
“Shira, berhenti!” teriak Akash, semakin memperkencang langkah kakinya mengejar Shira.
Jantung Shira semakin berdetak kencang, ia benar-benar takut, kepalanya yang masih terasa pening kembali ia rasakan, dan tubuhnya yang masih lemah itu, tak mampu ia ajak untuk bergerak cepat.
"Tidak Shira, kamu harus kabur, jangans sampai Akash menangkapmu," gumamnya, tetap mencoba untuk melangkah, meski kedua kaki kini semakin terasa lemah.
Hingga pada akhirnya Shira tak mampu mempercepat langkahnya, dan Akash pun berhasil menangkap Shira.
Shira memberontak dan terus berteriak meminta tolong, akan tetapi semua itu terasa sia-sia, saat mulutnya langsung dibekap oleh tangan Akash yang penuh darah. Shira yang takut dengan darah, ia semakin dibuat histeris saat mencium bau anyir dari tangan Akash.
Hingga pada akhirnya, jeritan dari mulut Shira melenyap seiring dengan tubuhnya yang sudah terkulai lemas.
Shira kembali pingsan, tidak sadarkan diri. Dan di saat ini lah, Akash harus segera mengambil tindakan, untuk menjalankan apa yang seharusnya ia jalankan.
“Maafkan aku, Shira,” ucap Akash memangkunya, lalu bergegas memasuki mobil, dan membaringkan Shira di jok belakang. Akash pun bergegas melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan, dering ponselnya kembali terdengar, satu panggilan masuk dari nomor Edwin.
"Ya," katanya saat benda pipih itu ia dekatkan di daun telinga kanannya.
"Bagaimana dengan mayat ini, Tuan?" suara Edwin dari balik ponsel.
"Buang anjing itu ke laut, dan bersihkan rumah itu, jangan sampai kalian meninggalkan jejak di sana. Serta pisau yang aku pakai tadi, buanglah berjauhan dengan anjing itu. Pastikan orang-orang di sekeliling rumah tidak ada yang mencurigainya," titah Akash begitu serius.
"Hm, baik, Tuan."
Bersambung...
Maaf baru update malam, semoga kalian tidak bosan ya dengan ceritanya.
Kira-kira ada yang bisa tebak kelanjutannya akan seperti apa?
Jangan lupa, like, komen dan vote sebanyak mungkin untuk mendukung karya author. Terima kasih.
__ADS_1